Gambar: Wikipedia, Teller Report
Ditulis oleh: Raffyanda Muhammad Indrajaya
“Aku berdoa dengan penuh kekuatanku. Tapi tuhan tidak berbuat apa-apa.”
--Shusaku Endo, Silence (halaman 264).
“Ia Tuhan, Zat yang Maha Kuasa, tapi Tak Berdaya”
Bagi mereka yang meyakini adanya Tuhan, dewa-dewi, ataupun entitas maha agung lainnya. Kehidupan manusia dan takdir-takdir yang mengikatnya, hanyalah satu kesatuan yang harus diterima sebagai bagian dari gerak semu alam semesta. Dengan Tuhan menjabat sebagai ‘arsitek’ dari segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan menimpa kita.
Kita didogma untuk menerima bahwa ‘kebenaran’ ada dan hanya bersumber pada Tuhan. Dimana kebijaksanaan dan welas asihnya, bersifat tak terhingga serta kekal menyertai kita. Lantas begitu, mengapa Tuhan membiarkan adanya penderitaan maupun ketidakadilan? Dan meski kita telah ‘diperintahkannya’ untuk berdoa, mengapa ia hanya berdiam diri?
Sekiranya ada banyak jawaban untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, mulai dari ‘keapatisan’ Tuhan sebagai suatu kebijaksanaannya tersendiri, hingga sanggahan sinis yang meneriakan bahwa semua ini merupakan bukti tidak adanya Tuhan, dan semisalnya pun ‘Ada’, hal itu malah menjadi bukti bahwa Tuhan adalah entitas sadistik yang menciptakan semua penderitaan untuk hiburannya semata.
Apapun itu jawabannya, penulis disini tidak dalam kapasitas untuk menjawab kedua pertanyaan tadi. Selain karena penulis bukan ahli teologi, penulis tidak sekurang kerjaan itu untuk memulai perdebatan teolog amatir.
Kembali pada pertanyaan di awal, sekiranya kalimat pemantik tadi benar-benar penulis lontarkan dengan rasa penasaran yang tulus. Tanpa ada niat sedikitpun untuk menghardik mereka yang menempatkan keyakinan pada konsep ketuhanan. Semuanya diawali oleh pertemuan penulis dengan sebuah novel fiksi-sejarah karya penulis Jepang, Shusaku Endo, yang berjudul “Hening”. Sebuah novel yang mengantarkan penulis untuk mempertanyakan kembali makna ‘iman’ dan ‘mengimani’.
Mengangkat latar belakang Jepang di abad ke-17, tepatnya pada masa-masa awal implementasi kebijakan Sakoku (Isolasi) oleh pemerintahan Keshogunan Tokugawa yang baru saja menang kudeta. Hening berfokus pada persekusi kaum Kristiani Jepang yang terjadi di era tersebut.
Mengambil sudut pandang seorang misionaris Yesuit Portugis bernama Rodrigues. Hening diawali dengan perjalanan Rodrigues ke Jepang setelah mendengar kabar bahwa mentornya, seorang misionaris senior yang ditugaskan ke Jepang, telah disiksa dan kemudian memilih murtad.
Ketidakpercayaanya pada berita tersebut mendorong Rodrigues untuk langsung pergi ke Jepang dan bertemu Gurunya. Pikirnya, “tidak mungkin seseorang yang teramat soleh dan baik hati memilih murtad hanya karena disiksa”. Selain itu, dia yang merasa mengenal sang Guru lebih dari orang lain, berteguh bahwa kabar yang ada hanyalah suatu kebohongan. Dengan begitulah, perjalanan Rodrigues yang dipenuhi siksaan fisik dan spiritual dimulai.
Penulis tidak akan banyak memberikan ringkasan mengenai nasib Rodrigues atau Guru terkasih yang sedang dicarinya. Namun sekiranya penulis akan cukup membahas mengenai topik besar yang terus menerus diulang dalam novel ini. Topik utama yang diwakili oleh sebuah pertanyaan sederhana, “Bagaimana seseorang memaknai heningnya tuhan?”.
Bagi masyarakat Jepang yang menganut ajaran Kristiani saat itu, hidup dipenuhi kesulitan dan marabahaya. Ajaran Kristiani dipandang dapat menodai nilai-nilai luhur bangsa Jepang, dan penganutnya disebut-sebut sebagai agen dari imperialisme bangsa Barat. Orang-orang Jepang yang telah melakukan konversi ke ajaran Katolik segera ditangkap, disiksa, dan dipaksa murtad. Para misionaris Eropa yang telah bermukim pun diperintahkan untuk pergi dari Jepang.
Beberapa yang menolak perintah murtad harus mengalami siksaan bertubi-tubi, tidak sedikit bahkan, yang dalam prosesnya mati sebagai martir. Tak terkecuali bagi para rohaniawan Eropa yang tidak kabur, dan secara sembunyi-sembunyi terus menjalankan tugasnya di tanah Jepang. Semua ini menjadi ujian yang besar bagi kaum Kristiani Jepang saat itu. Terlebih ketika doa-doa yang mereka lanturkan dalam misa-misa tertutup hanya dijawab dengan 'hening'.
Tulisan Endo menjelajahi keraguan-keraguan terdalam kita akan hakikat Tuhan. Endo tidak menunjukan rasa malu atau upaya menahan diri untuk menempatkan Tuhan di kursi terdakwa dalam pengadilan yang penuntutnya adalah umat manusia. Mengejutkannya, Shusaku Endo sendiri merupakan seorang pengikut ajaran Katolik yang taat. Namun, hal ini tidak menghentikannya untuk melayangkan berbagai pertanyaan dan tuduhan yang memberatkan superioritas moral Tuhan. Tetapi tentunya Endo tidak menulis buku hanya untuk menyudutkan Tuhan saja. Karena dalam novel ini Endo berperan sebagai penuntut, sekaligus pembela bagi ‘terdakwa’.
“Dekonstruksi Iman: Mempertanyakan dan Memahaminya Kembali”
Endo sendiri sebenarnya tidak melakukan pembelaan terhadap Tuhan melalui pemberian jawaban eksplisit atas paradoks yang dia berikan. Pembelaan Endo justru berada pada dekonstruksinya atas iman. Anna Głąb (2018) dalam tulisannya, “Moral Dilemmas, The Tragic And God’s Hiddenness. Notes On Shusaku Endo’s Silence”, menggunakan pemikiran Søren Aabye Kierkegaard untuk membagi perjalanan spiritual yang dihadapi oleh Rodrigues ke dalam tiga pembabakan. Namun sebelum lebih lanjut, penulis hendak memperkenalkan terlebih dahulu pembaca pada konsep yang digunakan oleh Głąb. Kierkegaard sendiri merupakan filsuf eksistensialisme asal Denmark yang terkenal akan upayanya dalam mengeksplorasi makna dari hakikat iman dan kehidupan. Dalam salah satu upayanya tersebut, Kierkegaard memperkenalkan kita “tiga tahapan kehidupan”.
Tahap pertama dikenal sebagai tahap aesthetic, pada tahap ini kehidupan dijalankan oleh seseorang, baik secara sadar maupun tidak sadar, hanya untuk memenuhi ‘kenikmatan’ lahirnya semata; Tahap kedua adalah tingkatan ethic, tahap ini terjadi ketika seseorang telah memiliki kesadaran akan tuntutan ethic, yang kemudian mendorongnya untuk mengikuti logika dalam memaknai apa yang baik dan apa yang buruk; Terakhir adalah tahap religius atau tahap iman. Dalam tingkatan tertinggi ini, manusia berserah diri kepada Tuhan dan telah melaksanakan apa yang Kierkegaard sebut sebagai leap of faith atau ‘lompatan iman’. Iman dalam pemaknaan Kierkegaard bukanlah hanya sekedar mempercayai belaka, karena iman lebih dari itu. Jika ‘mempercayai’ mengisyaratkan akan perlunya suatu bukti atau alasan rasional (tidak peduli apakah bukti tersebut benar atau tidak), iman tidak butuh bukti sama sekali. Keberadaannya ada begitu saja tanpa butuh fondasi apapun selain subjek di mana iman tersebut ditempatkan.
Ketiga tahap tadi menurut Kierkegaard dijalankan seseorang manusia untuk mencapai ‘kelengkapan’ eksistensial. Mereka yang berada dalam tahap estetika tidak akan memiliki nilai-nilai ethic, dan mereka yang telah mencapai tahap ethic, meski memiliki nilai yang ada pada tahapan estetika, belum memiliki keimanan murni yang berada pada tahap religius. Dengan begitu, hanya mereka lah yang berada di tahapan religius yang telah menjadi manusia ‘utuh’.
Kembali pada pembahasan seputar Hening. Bagi Głąb awal perjalanan yang dilakukan oleh Rodrigues diisi konsepsi atas iman yang bersifat sempit. Ia melihat iman sebagai sesuatu yang heroik dan dipenuhi oleh anggapan bahwa dirinya hadir sebagai ‘juru selamat’. Dalam dirinya, Rodriguez berusaha mengimitasi hidup dari Kristus. Dia berusaha hidup layaknya Kristus yang dikelilingi penderitaan. Awal perjalanannya ini dapat kita lihat sebagai perwujudan dari tahap estetika. Karena Rodrigues sekiranya tidak benar-benar memiliki ‘iman’, Ia menjalankan perjalanannya semata-mata untuk memuaskan egonya sendiri. Rodrigues kemudian mencapai tahap ethic ketika Ia mulai mempertanyakan keadilan Tuhan dari semua persekusi yang dialami oleh kaum Kristiani Jepang. Rodrigues merasakan pertanggungjawaban karena keteguhannya untuk tidak murtad ketika dipaksa, menyebabkan tahanan lainnya disiksa dan dieksekusi. Namun, seperti yang dituturkan oleh Głąb, pada tahap tersebut Rodrigues masih belum sanggup untuk melakukan lompatan iman. Batinnya masih disiksa oleh berbagai asumsi-asumsi atas iman yang berfondasikan ego, dan kesadarannya akan segala penderitaan yang disebabkan olehnya.
Siksaan batin yang dialami oleh Rodrigues ini kemudian berubah menjadi batu lompatan untuk proses menuju tahap religius. Dalam tidur-tidurnya yang dipenuhi erangan kesakitan, berbagai lamunan dan bisikan mengisi kupingnya dengan pertanyaan untuk Tuhan. Ia bertanya dan terus bertanya akan makna dari semua bencana dan penderitaan ini. Titik puncaknya adalah ketika pada suatu malam, Rodrigues diangkat dari tempat tidurnya menuju lapangan. Pembaca mungkin akan menebak bahwa tahap ketiga, atau lompatan iman bagi Rodrigues akan terjadi ketika Ia memilih untuk menjadi martir dan meninggal di tanah Jepang. Namun, ekspektasi ini sekiranya dibalik oleh Endo, karena Rodrigues tidak mati.
Di lapangan tersebut Ia diminta untuk menginjak fumi-e, sebuah ukiran kayu bergambar salib, di mana jika diinjak maka Ia akan dianggap murtad. Hal ini sebenarnya telah menjadi rutinitas yang terjadi sejak awal Rodrigues ditangkap oleh pemerintah Jepang. Namun yang berbeda untuk kali ini adalah keteguhan ‘lain’ yang telah mengendap dalam dirinya. Ketika dihadapkan dengan fumi-e, Ia tidak menolaknya begitu saja. Kali ini, terdapat suara dalam kepalanya yang memintanya untuk menginjak salib beserta wajah Kristus tersebut. Suara di kepalanya terasa seperti percakapan personal dengan Tuhan. Dalam pikirnya, Tuhan berkata bahwa Ia memahami semua keresahan Rodrigues, Ia memahami semua penderitaan umatnya, dan Ia--dalam wujud Kristus--ada untuk diinjak-injak oleh manusia. Dengan begitulah, lompatan iman bagi Rodrigues tidak terjadi melalui kematiannya sebagai martir, justru ‘kemurtadannya’ yang dilakukan dengan perasaan berat hati dan berserah diri, menjadi suatu leap of faith tersendiri.
Ketiga proses tahapan yang turut dielaborasikan oleh Głąb tersebut mengantarkan Rodrigues mencapai titik baru dalam memahami keheningan Tuhan dan iman. Ia mulai memahami bahwa kisah dari Kristus bukanlah kisah maskulin yang dipenuhi ego dan pertunjukan heroik. Kristus tidak hanya menyaksikan penderitaan, tetapi juga hidup dan menjalankan penderitaan tersebut bersama manusia. Ia kini memahami iman, sebagai perasaan berserah diri, sesuatu yang pada hakikatnya berada dalam jiwa, dan bukan sesuatu yang dapat ditunjukan secara fisik maupun diteriakan secara lantang. Dalam momen kakinya menginjak fumi-e tersebut, terjadi suatu koneksi intim antara Ia dengan Tuhan. Hal ini mengantarkan Rodrigues kepada tingkatan iman yang murni dan jauh dari belenggu-belenggu lahiriah.
Melalui pembacaan tersebut, kita dapat memahami bahwa eksplorasi Endo terhadap keheningan Tuhan dijawabnya melalui pertanyaan akan makna dari iman. Bagi Endo, kita melihat Tuhan sebagai entitas yang bisu, karena kita ‘memilih’ untuk melihatnya sebagai entitas yang bisu. Semua keheningan ilahiah tersebutm menurut Endo, hanya dapat terjawab ketika kita memahami Tuhan sebagai zat yang intim sekaligus tersembunyi. Akan tetapi, di luar jawaban Endo dan analisis yang disampaikan Głąb, apakah ‘melompat’ hanya satu-satunya jalan yang dapat ditempuh dalam memahami heningnya Tuhan?
“Camus dan Alternatif Ketiga”
Sekiranya pertanyaan perihal iman tidak dapat ditanggapi sebagai suatu permasalahan 'mempercayai’ semata. Karena untuk dapat menggugat keimanan dan mendekonstruksikannya, kita secara tidak langsung juga tengah mengeksplorasi hakikat dari kehidupan itu sendiri. Maka dari itu, pertanyaan akan “apakah ‘melompat’ hanya satu-satunya jalan yang dapat ditempuh dalam memahami heningnya Tuhan?”, sejatinya merupakan pertanyaan eksistensial. Dengan demikian, penulis disini akan mencoba untuk menyajikan sebuah ‘jalan ketiga’, suatu jalan yang dapat saja kita bayangkan dipilih oleh Rodrigues ketika tengah melamun dalam sel tahanannya.
Salah satu konsep yang akan membatu penulis dalam mengelaborasikan jalan alternatif ini hadir dalam pemikiran Albert Camus, khususnya dalam tulisan “The Myth of Sisyphus”. Di dalamnya, Camus memperkenalkan kita dengan konsep ‘absurditas’. Absurditas sendiri dapat dipahami sebagai kehampaan yang terdapat dalam pencarian manusia akan makna kehidupan. Suatu pencarian yang sia-sia, karena seperti halnya diskusi Rodrigues dengan Tuhan yang sebelumnya dibahas, semua pertanyaan yang ada hanya akan dijawab oleh keheningan.
Lantas, apa yang dapat dilakukan? Dalam rangka menghadapi keheningan tersebut, maka Camus menawarkan kita tiga jalan. Jalan pertama adalah jalan paling sederhana sekaligus paling muram, bunuh diri secara fisik; Jalan kedua adalah bunuh diri secara filosofis, di mana seseorang melakukan ‘lompatan’ pada jurang absurditas dalam rangka memberikan penjelasan kepada semua keheningan yang ada; Terakhir, Jalan ketiga, manusia memiliki pilihan untuk, tidak lagi mencari arti maupun penjelasan, melainkan menyadari semua keabsurdan ini dengan lapang dada. Penjelasan Camus bagi pilihan terakhir tersebut dielaborasikannya melalui pengisahan kembali mitos dari Sisfus. Dalam mitologi Yunani, Sisifus dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu ke atas bukit, yang mana kemudian batu tersebut kembali menggelinding ke dasar, dan Sisifus harus kembali mendorongnya sampai ke atas. Tragedi yang terdapat pada mitos Sisifus bukanlah hukuman yang harus dideritanya, melainkan kesadaran Sisifus sendiri pada penderitaan tak bermakna yang akan terus dihadapinya. Kisah tadi menjadi semacam analogi dari kehidupan manusia dan segala penderitaan absurd. Akan tetapi, Camus tidak melihat semua kesadaran akan penderitaan ini sebagai sesuatu yang mengerikan, justru sebaliknya. Dengan menyadari sifat dari kehidupan dan alam semesta yang absurd, maka seseorang menjadi bebas dari semua rantai-rantai yang mengikat kita untuk mencari atau mengharapkan makna. Manusia yang ‘sadar’ ini tidak lagi terkekang pada konsepsi makna yang kaku, seseorang dapat dengan bebas membangun makna untuk dirinya sendiri. Dan dalam aksinya, orang tersebut telah memberikan perlawanan kepada ‘keabsurdan’ kehidupan.
Dalam pembahasan seputar pilihan yang dapat diambil oleh Rodrigues, sekiranya alternatif ketiga yang penulis maksud ada dalam penerimaan terhadap keabsurdan. Dalam sel tahanannya, berkali-kali Rodrigues berkontemplasi terhadap makna dari kesunyian Tuhan. Pada tahap ini, sebenarnya Rodrigues secara tidak langsung berada pada proses untuknya menyadari segala keabsurdan dari penderitaan yang dirinya dan seluruh pengikut ajaran Kristianitas di Jepang hadapi. Rodrigues bahkan beberapa kali sempat mempertanyakan hakikat dari kehidupan yang dipenuhi kesedihan dan kesia-siaan. Akan tetapi, Dia selalu gagal untuk mencapai jalan alternatif ini karena satu hal. Dia bukannya tidak sadar akan posisinya yang berhadapan langsung dengan kehampaan. Rodrigues gagal karena ia terus menerus mencari makna, dan makna tersebut ia ‘dapatkan’ melalui kaki yang ‘melompat’ ketika harus menginjak salib dan wajah Kristus.
“Kita dan Tuhan Yang Bisu”
Melihat semua ini melalui perspektif Camus, jawaban yang didapatkan oleh Rodrigues tidak berbeda jauh dengan secara sengaja membutakan diri dari hakikat kehidupan. Jika Rodrigues memilih menggunakan jalan ketiga, sekiranya dia tetap akan memilih untuk menginjak fumi-e dan mendapatkan ketenangan hati karena telah memahami absurdnya semua keadaan sulit yang dihadapinya. Namun, penulis tidak dalam posisi untuk mendiktekan apa jalan terbaik yang dapat diambil seseorang dalam menghadapi keabsurdan ini. Bagi beberapa pihak, pertanyaan akan keheningan Tuhan perlu dimakani melalui dekonstruksi iman dan sebuah lompatan. Di sisi lain, keheningan Tuhan justru bukan menjadi sesuatu yang harus dicari maknanya, melainkan sebagai sebuah pertanda untuk menciptakan makna bagi kita sendiri.
Bagi kalian yang dari tadi menunggu jawaban melegakan dari paradoks ini, sayangnya harus dipuaskan dengan kenyataan bahwa penulis tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Endo sendiri memberikan ruang terbuka terhadap interpretasi bagi paradoks kebisuan Tuhan melalui tokoh-tokoh yang terdapat dalam novelnya. Kita dibiarkan untuk menghakimi para tokoh, mulai dari mereka yang menganggap diri layaknya nabi, hingga para ‘pengecut’ yang murtad berkali-kali. Bagi penulis personal, seluruh dialog dan pertanyaan yang Endo hadirkan terasa bagai percakapan satu arah antara penulis dengan Tuhan pada malam-malam yang sunyi. Suatu percakapan, yang meski pada awalnya diarahkan pada Nya, sejatinya ditujukan pada diri penulis sendiri. Dan jawaban-Nya yang dipenuhi keheningan, ada sebagai sesuatu yang perlu dinikmati.
*Raffyanda Muhammad Indrajaya merupakan kader LPPMD angkatan XXXIX dan mahasiswa Hubungan
Internasional angkatan 2019 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Padjadjaran
Tidak ada komentar: