LPPMD Unpad: Arisan Literasi
Tampilkan postingan dengan label Arisan Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arisan Literasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2020

#ArisanLiterasi - Evergreening: Kapitalisasi Dunia Kesehatan
Sumber: Médecins sans Frontières


Ditulis oleh Arby Ramadhan*
Disunting oleh Kevin Aprilio**


Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dibutuhkan manusia untuk menjalani hidup agar kegiatan dan aktivitasnya dapat dijalankan dengan baik dan produktif. Kebutuhan akan kesehatan dapat disejajarkan dengan kebutuhan manusia akan makan, minum, serta kebutuhan primer lain. Ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan kesehatan, maka obat adalah solusinya. Hal ini menjadikan obat bagi manusia sebagai kebutuhan pokok. Tetapi apa jadinya jika obat dijadikan komoditas untuk meraup keuntungan bagi segelintir orang dan menjadi mahal sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin?

Farmasi di zaman ini tak ubahnya merupakan korporasi kapitalis yang mengkomodifikasi bidang kesehatan untuk meraup keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya. Kapitalisasi oleh perusahaan farmasi ini terlihat dari monopoli obat yang dilakukan lewat hak paten atas produksi obat yang menjadikan obat sebagai barang mahal yang tidak dapat dimiliki secara merata. Padahal, seperti yang kita tahu, kesehatan adalah kebutuhan yang menyangkut nyawa orang banyak.

Pemberian hak paten oleh negara diatur dalam Undang-undang no. 14 tahun 2001 tentang Paten, yang kemudian direvisi menjadi Undang-undang no. 13 tahun 2016 yang mengatur masa berlaku paten di Indonesia menjadi 20 tahun. Pada jangka tahun tersebut, pemegang paten memiliki hak eksklusif untuk melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya untuk membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten. Ini berdampak langsung pada harga obat terhadap konsumen.

Melanggengkan Monopoli melalui Evergreening

Evergreening adalah upaya perusahaan farmasi untuk memperpanjang masa hak paten yang "hanya" 20 tahun agar dapat melanggengkan monopoli. Upaya ini dilakukan dengan cara memodifikasi bentuk kimia, bentuk sediaan, dan modifikasi-modifikasi minor lain yang sebetulnya tidak memberikan signifikansi atau efektivitas baru dibandingkan obat terdahulunya. Dengan cara ini, farmasi dapat terus memperbarui hak patennya. Ketika tidak ada pesaing lain yang menciptakan obat yang sama, maka perusahaan farmasi tersebut dapat bertindak sebagai price-maker. Dengan jalan inilah farmasi dapat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang sakit karena tidak adanya pilihan lain.

Dampak lain dari perpanjangan hak paten yang terus-menerus adalah tertundanya keberadaan obat-obat generik yang lebih mudah didapat dan harganya lebih terjangkau. Pun jika biaya obat paten ditanggung oleh pemerintah melalui program seperti Jaminan Kesehatan Nasional, perusahaan farmasi dapat meningkatkan lagi harga jual obat tersebut sesuai yang dikehendaki sehingga terjadi pemborosan anggaran dan rentan akan praktik korupsi. Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa masyarakat akan tetap membayar biaya obat paten yang mahal tersebut secara tidak langsung melalui pajak dan iuran premi program jaminan kesehatan peperintah.

Salah satu contoh kasus evergreening adalah kasus Novartis di India pada tahun 2013. Kasus ini berlangsung sejak tahun 1997 yang melibatkan lobi tingkat tinggi mafia-mafia farmasi untuk tetap dapat memonopoli obat untuk leukemia. Kasus ini sangat unik karena dampaknya yang besar bagi akses obat bagi orang-orang miskin di dunia. Mahkamah Agung India menyatakan bahwa Gleevec --imatinib mesylate, obat yang dimaksud dalam kasus ini-- hanyalah bentuk modifikasi minor yang tidak memberikan signifikansi atau peningkatan efektivitas dari obat yang ada sebelumnya (imatinib freebase, yang sudah habis masa patennya), sehingga tidak dapat diberikan hak paten. Bukti dari Novartis bahwa Gleevec larut dan diabsorpsi 30% lebih baik tidak mampu meyakinkan Mahkamah Agung bahwa peningkatan tersebut berdampak signifikan terhadap efikasi obat tersebut. Kini, Gleevec dapat diakses dengan harga 20 kali lebih murah oleh orang-orang yang membutuhkan di India.

Meniru Keberanian India dalam Memerangi Evergreening

Kasus Novartis di India seharusnya menjadi acuan bagi kita bahwa evergreening hanya dapat dilawan oleh negara sebagai pemilik kekuasaan tertinggi atas pembuat kebijakan. Negara seharusnya memiliki kuasa lebih untuk menghapus dominasi perusahaan farmasi serta mengontrol perusahaan farmasi dan keberadaan obat-obatan. Langkah berani India dalam menolak paten dan monopoli obat harus kita jadikan acuan, sebab salah satu tugas negara ialah menjamin kesehatan warga negaranya. Kesehatan warga negara hanya akan terjamin apabila keberadaan obat-obatan mampu diakses oleh semua kalangan terutama warga miskin.

Di samping itu, mengingat kondisi negara Indonesia dengan India yang sama-sama merupakan negara dunia ketiga sebetulnya tidak jauh berbeda. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika kita berasumsi bahwa Indonesia akan menjadi target pasar mafia farmasi dunia berikutnya. Dari tahun 2011-2016, rata-rata pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia mencapai 20,6% tiap tahunnya. Ada sekitar 239 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia, namun 92% bahan baku obat-obatan yang digunakan masih berasal dari impor. Untuk itu, sejak saat ini negara seharusnya tegas akan keberpihakannya terhadap dunia kesehatan. Jika negara ingin melawan dominasi perusahaan farmasi dan berpihak pada rakyat, maka negara harus meniru keberanian India dalam melawan evergreening.


*Arby Ramadhan adalah kader LPPMD angkatan XXXVIII dan mahasiswa Administrasi Publik angkatan 2019 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Padjadjaran.
**Kevin Aprilio adalah kader LPPMD angkatan XXXVI dan mahasiswa Farmasi angkatan 2018 di Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran.


Tulisan ini bukan merupakan nasihat medis. Silakan hubungi dokter atau tenaga medis lainnya untuk informasi medis lebih lanjut, terutama terkait pemilihan obat-obatan yang Anda gunakan.

Referensi

https://www.kompasiana.com/amp/ris.tan/kasus-novartis-evergreening-dan-monopoli-raksasa-farmasi_552fc0e46ea83448308b4589

https://www.tirto.id/mengendalikan-perangkap-monopoli-obat-paten-cmyJ

Kamis, 21 November 2019

#ArisanLiterasi - Senyum Karyamin Mengkritik Soeharto?

Sumber: https://images.app.goo.gl/9nZEAZjyvSajgJS47

 
Oleh: Dinda Adistia Meliani


Resensi Cerpen

Cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari menceritakan kehidupan seorang pengumpul batu sungai bernama Karyamin. Karyamin adalah seorang pengumpul batu sungai profesional. Ia mampu menyeimbangkan berat beban dan tubuhnya pada saat mengangkat batu dari tepi sungai ke pangkalan material.

Namun pada hari itu, tubuhnya tidak seperti biasanya, fokusnya hilang, ia jadi lebih sering tergelincir dan jatuh. Di tempat kerjanya, ia tidak sendirian. Ia ditemani beberapa rekannya yang juga bekerja sebagai pengumpul batu. Melihat Karyamin tergelincir, mereka lebih senang menertawakannya. Hiburan, katanya. Berkali-kali Karyamin membawa batu dari tepi sungai ke pangkalan material, ada saja yang membuatnya tergelincir dan jatuh. Terutama burung paruh udang. Ingin sekali ia membabat burung itu, namun niatnya diurungkan.

Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa melakukan hal itu di saat kondisi matanya berkunang-kunang, perutnya kelaparan dan kepalanya pusing, sampai-sampai ia tidak begitu menggubris celotehan rekannya mengenai perempuan yang sedang menyebrang, “Ikan putih-putih sebesar paha”. Seperti biasa, ia hanya tersenyum. Baginya senyum dan tawa adalah hal yang sama, sama-sama sebuah alat pertahanan terakhir.

Setelah cukup lama terdiam, Karyamin beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia tahu bahwa keranjangnya tak penuh terisi batu, hanya mencapai seperempat kubik, tapi ia tetap memutuskan untuk pulang. Ia tahu bahwa di rumahnya pun tidak akan ada makanan, bayarannya yang lalu belum juga dibayar oleh tengkulak, tapi ia tetap memutuskan untuk pulang untuk menemani isterinya yang sedang meriang.

Karyamin pulang dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan, bibirnya membiru dan kedua telapak tangannya pucat. Melihat kondisi itu, Bu Saidah, seorang penjual pecel lele, menawarkan makan pada Karyamin. Namun, Karyamin langsung menolaknya dan ia hanya meminta minum. Setelah meneguk segelas air, tenggorokan dan lambungnya terasa hangat.

Karyamin melanjutkan perjalanannya ke rumah. Di perjalanan, ia melihat beberapa buah yang berserakan di tanah. Salak, salah satunya.  Karyamin mengambilnya, lalu menggitanya. Namun baru saja gigitan pertama, dilemparkannya buah tersebut. Seperti air tuba rasanya. Mentah. Karyamin mempercepat langkahnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia melihat dua buah sepeda jengki terparkir di halaman rumahnya. Makin terpikirlah kondisi isterinya yang pasti tidak akan mampu membayar hutang-hutang itu.  Tetapi, ia juga merasa tidak akan bisa menolong isterinya menghadapi dua penagih hutang tersebut. Pelan-pelan Karyamin membalikan tubuhnya, siap untuk pergi menjauh dari rumahnya. Dengan tidak sengaja, seorang laki-laki yang menggunakan batik dan kopeah berdiri tak jauh darinya. Pak Pamong namanya. Karyamin dipanggil dan ditagihnya sumbangan uang dana Afrika. Secara tidak sadar, Karyamin menyunggingkan senyum. Pak Pamong marah melihat senyum itu, ia pikir itu adalah ejekan untuknya.  Sekali lagi, Pak Pamong menangih iuran tersebut pada Karyamin. Tawa Karyamin tiba-tiba meledak yang menyebabkan keseimbangan tubuhnya goyah dan jatuhlah Karyamin ke dalam lembah. Sayang, Pak Pamong gagal menyelamatkannya.

Emosi yang Dibangun

Pembangunan emosi dalam cerpen ini membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh utama, Karyamin. Dengan menggunakan objek burung paruh udang dan tindakan bu Sadri, pembaca jadi ikut merasakan bagaimana kesulitan hidup Karyamin. Burung paruh udang digambarkan memberikan kesialan pada tokoh utama. Karyamin sebagai tokoh utama pun mengaggap objek tersebut sebagai pengganggu. Namun dengan berjalannya waktu, sang tokoh utama dapat menerima dan mengambil hikmah dari burung paruh udang yang di awal memberikannya kesialan. Lalu, pembangunan emosi di sini ada pada saat Karyamin meneguk air minum yang ia minta kepada Bu Saidah. Kalimat “Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya” merupakan kalimat yang memberikan perasaan kasih sayang. Pembaca dibuat nyes, betapa kelaparannya Karyamin.

Satire terhadap Orde Baru

Dalam cerita ini dijumpai beberapa objek yang cukup menarik perhatian. Objek-objek yang dirasa menujuk pada keadaan masyarakat dimasa rezim Soeharto. Hal ini menarik karena terlihat adanya kritik tersirat dari penulis kepada salah satu kebijakan Soeharto pada masa orde baru.

Objek senyum memiliki banyak sekali penafsiran. Secara representament senyum menggambarkan suasana hati. Namun secara interpretament pemaknaan senyum menjadi beragam, ia dapat sebagai alat perlindungan atau pertahanan terakhir (terdapat dalam teks cerita), sebuah objek yang dijadikan frame dalam menggambarkan kesatuan cerita atau inti cerita, dan yang paling menarik ialah persepsi objek senyum menggambarkan “The Similling General”, Soeharto. Bahwa senyum yang paling monumental pada masa orde baru ialah senyum sang jendral, yaitu Jendral Seoharto. The Smilling General ini merupakan julukan yang diberikan oleh seorang penulis asal Jerman Barat, O. G. Roeder, yang menulis buku biografi Soeharto dengan judul “The Smilling General”. Dalam pengkaitannya ini tidak semata-mata hanya objek “senyum” itu sendiri. Penafsiran ini muncul dikarenakan berkaitan dengan perkiraan latar waktu kejadian dalam cerpen Senyum Karyamin.

Dana Afrika dalam Pusaran Kemiskinan dan Hutang

Cerita ini diperkirakan berlatar waktu tahun 1985. Sebagaimana di dalam cerita terdapat kalimat “… hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana….”. Dana Afrika adalah suatu program Soeharto yang ia cetuskan dalam pidatonya di FAO (Food and Agriculture Organization) pada 14 November 1985, di Roma, Italia. Sebenarnya program tersebut tidak bernama Dana Afrika, melainkan bantuan 100 ribu ton beras. Di balik frasa Dana Afrika ini, ada kritik yang tersirat yaitu kritik kepada pemerintah yang melakukan bantuan kepada negara lain tapi tidak mempedulikan masyarakat di negara sendiri, meminta bantuan dari orang kelaparan untuk membantu orang kelaparan. Namun ada yang mengganjal juga. Pidato Soeharto di FAO merupakan pidato yang merujuk pada petani, namun dalam cerita ini Karyamin bukanlah seorang petani, melaikan seorang pengumpul batu sungai.

Kemudian, objek hutang. Hutang di sini memberikan dua makna. Yang pertama, hutang yang dimaksud adalah hutang Karyamin. Hutang yang hadir akibat kemiskinan yang melanda hidup sang tokoh utama. Lalu yang kedua, pemaknaan hutang ini menunjuk pada hutang Indonesia yang begitu menumpuk pada zaman pemerintahan Soeharto. Dalam cerita pun diulas mengenai Karyamin yang pergi meninggalkan rumahnya pada saat ada dua penagih hutang datang ke rumahnya yang menimbulkan persepsi Indonesia memilih untuk “kabur” dari hutang-hutangnya.

Cerpen karya Ahmad Tohari ini berhasil mengungkap realitas rakyat kecil yang memiliki beban kerja yang berat dan penuh resiko. Selain beban kerja, kondisi kelaparan dan kemiskinan pun turut menghantui sang tokoh utama dari cerpen ini. Kerja untuk mendapatkan makanan dengan kondisi kelaparan, sambil menunggu uang bayaran dari tengkulak yang tidak kunjung cair. Satu-satunya hal yang bisa rakyat kecil lakukan adalah tersenyum. Betapa getirnya senyum Karyamin ketika ia harus membayar ‘dana Afrika’ untuk disumbangkan kepada orang-orang miskin dan kelaparan di Afrika. Sungguh, hebatnya senyuman The Smiling General []