LPPMD Unpad

Minggu, 19 Februari 2017

Ulasan Singkat Novel Narcissus dan Goldmund


*Oleh Viona Mahardika Harjuni


Sumber: bukusosial.com


Judul Novel: Narcissus dan Goldmund
Penulis: Hermann Hesse
Penerbit: Pustaka BACA
Tahun: 2012
ISBN: 9789792462364


Narcissus dan Goldmund merupakan novel karya Hermann Hesse, sang peraih penghargaan Nobel sastra yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1930. Narcissus dan Goldmund termasuk salah satu karya besar diantara karya-karya besar lainnya, seperti Demian, Siddharta, Steppenwolf, Perjalanan ke Timur dan Magister Ludi. Novel ini menceritakan dua tokoh spiritual, yakni Narcissus dan Goldmund, dimana keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda, namun keduanya merasa sangat terhubung satu sama lain dan menjalin persahabatan. Narcissus, sosok yang berdiri pada kehidupaan keagamaan serta hidup dalam tatanan dan ketertiban dipertemukan dengan Goldmund, sosok yang memiliki jiwa bebas, seorang pengembara yang menempuh jalan indrawi dan menampilkan pengalaman dan penglihatannya melalui gambar dan pahatan. Buku dengan setting pada abad pertengahan ini merupakan karya berjenis fiksi filosofis.
Goldmund yang dikirimkan ayahnya untuk belajar di biara Mariabronn dan mengawali hidupnya untuk menjadi seorang cendekiawan, bertemu dengan seorang guru muda Narcissus yang tanpa disadari telah memberikan gambaran kepada Goldmund tentang jalan hidupnya yang sangat berbeda dengan diri Narcissus. Karakter yang berlawanan antara Narcissus dan Goldmund ini dipengaruhi juga oleh teori Friedrich Nietzsche tentang karakter Apollonian dan Dionysian dalam karyanya The Birth of Tragedy. Narcissus yang individualis dan memiliki hidup yang terstruktur dalam tatanan merupakan pendekatan karakter Apollonian, sementara itu Goldmund yang berjiwa pengembara, bebas, lebih suka memuaskan nafsu akan dunia sensualnya merujuk pada karakter Dionysian. Dalam buku ini, Hesse menghadirkan tema utama yang tidak jauh berbeda seperti karya-karya lainnya, yakni pencarian makna kehidupan, baik secara keseluruhan maupun makna kehidupannya sendiri. Seperti novel Hesse sebelumnya, "Demian", yang dipengaruhi teori alam bawah sadar kolektif dari C.G Jung, karyanya yang berjudul "Narcissus dan Goldmund" pun dipengaruhi teori C.G Jung, perpaduan kutub Jungian yang berlawanan (Mysterium Coniunctionis). Hal ini terletak pada polarisasi karakter utamanya, Goldmund mewakili seni dan alam serta "pemikiran feminin", sedangkan Narcissus mewakili ilmu pengetahuan dan logika serta Tuhan dan "Pemikiran Maskulin". Kualitas "feminin" dan "maskulin diambil dari struktur archetypal Jungian. Narcissus tampak sebagai pria untuk pikiran dan Goldmund sebagai pria untuk cinta.
Dalam biara Mariabronn terdapat seorang abbas yang begitu dihormati, biasa dipanggil sebagai abbas Daniel. Ia merupakan sosok yang sederhana dan bijaksana, begitu dihormati di biara tersebut meskipun ia bukan seorang cendekiawan. Abbas Daniel sering memikirkan sosok Narcissus yang masih begitu muda, namun pemikirannya tidak seperti anak laki-laki seusianya. Sering terdapat perselisihan antara cendekiawan yang lebih tua dan Narcissus. Narcissus sering dianggap tidak mematuhi para petinggi biara yang lebih tua darinya karena pemikiran-pemikirannya. Narcissus merasa dirinya akan tinggal dan mengabdikan diri di biara selamanya, karena ia tahu bahwa ia memiliki suatu kemampuan, yaitu perasaan terhadap karakter dan tujuan hidup manusia, tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk setiap orang lainnya. Hal ini tepat seperti apa yang ia lakukan kepada Goldmund, ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang besar pada diri Goldmund, dan ia juga lah yang menunjukkan jalan itu kepada Goldmund.
Narcissus yang merupakan guru muda berbakat, berdedikasi pada pikiran dan memiliki kemampuan dalam membaca wajah manusia, merupakan sosok yang dikagumi Goldmund setibanya ia di biara. Sosok guru muda ini, yang bahkan usianya tak jauh dari Goldmund tidak sama sekali tampak seperti laki-laki di usianya, wajahnya tegas dan bicaranya tenang, membuat Goldmund begitu kagum pada sosok Narcissus. Goldmund mengagumi dedikasi Narcissus pada kehidupan spiritualnya, dan berharap suatu saat bisa menjadi seorang cendekiawan. Di sisi lain, Goldmund anak muda yang tampan, disenangi banyak orang di biara, ternyata sangat menjadi perhatian Narcissus yang diam-diam memikirkan Goldmund kecil.
Persahabatan antara Narcissus dan Goldmund dimulai. Persahabatan ini memang tampak sulit, dimana Narcissus merupakan seorang guru dan Goldmund adalah murid di biara itu. Narcissus melihat sesuatu yang hilang dari Goldmund dan menyadari bahwa Goldmund tidak akan menjadi seorang cendekiawan ataupun biarawan. Sering mereka menghabiskan waktu untuk bicara, Narcissus menyadari sesuatu yang hilang dari Goldmund, yakni sosok ibunya. Narcissus memberitahu Goldmund bahwa ia tidak akan pernah menjadi seorang cendekiawan, dan membangunkan Goldmund dengan mengembalikan ingatan tentang ibunya. Ayah Goldmund yang selama ini mencoba menekan Goldmund atas ingatan ibunya, hanya menjadikan Goldmund dihantui oleh imaji dari sosok ibu. Goldmund seolah-olah bangun dari mimpinya dan menyadari bahwa ia dilahirkan mewarisi jiwa ibunya. Goldmund hanya memikirkan ibunya saat itu, ia selalu bertanya tentang sosok dan imaji dari sang ibu, serta berusaha mendengarkan panggilan sang ibu. Narcissus merasa perannya dalam hal ini sudah selesai, jalan mereka berdua terpisah. Narcissus memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan biara untuk meditasi dan berpuasa. Suatu hari Pater Anselmus, dokter biara, meminta tolong Goldmund untuk membawakannya beberapa tanaman obat dari ladang, Goldmund menikmati perjalanannya dan disaat itu ia bertemu wanita, Lise si gipsi, yang memperkenalkan Goldmund pada rasa cinta dan kenikmatan sensualitas, dan di saat itulah Goldmund menyadari bahwa ia tidak akan pernah menjadi seorang biarawan. Goldmund memilih untuk meninggalkan biara dan mengembara, ia menerima undangan wanita gipsi cantik tersebut untuk bermalam bersama.
Dalam pengembaraannya ia bertemu wanita ke wanita, desa ke desa, sampai ia menemukan dirinya sebagai seorang seniman, diawali sebuah patung Madonna yang ia temui di sebuah biara, ia melihat kenyerian sekaligus kebahagiaan dalam wajahnya, dengan mudah Goldmund melihat emosi yang terdapat dalam diri patung tersebut, dan hal ini memanggil jiwanya untuk mencari sang pemahat, yakni Master Niklaus. Ia mencari tempat tinggal Master Niklaus dan berharap bisa mendapatkan ajaran dari sang pemahat tersebut. Ia diterima oleh Master Niklaus, dan mulai membuat patung Santo Yohanes. Ia sangat mendedikasikan dirinya untuk pengerjaan patung tersebut. Dalam pengerjaannya, ia merasa, "Bukan dia yang berdiri disana, menciptakan gambar kehendaknya sendiri. Itu adalah orang lain; adalah Narcissus yang memanfaatkan tangan seniman untuk melangkah keluar dari transisi sekilas kehidupan, untuk mengekspresikan citra murni dari dirinya.". Begitulah cara seni sejati muncul, dengan cara inilah patung Madonna yang agung itu dibuat oleh master Niklaus. Goldmund berharap suatu hari nanti ia mampu membuat sebuah patung dari sosok ibu, kali ini sosok tersebut bukanlah murni sosok ibunya, melainkan sosok ibu bumi, sosok ibu Hawa yang merupakan ibu dari semua manusia.
Dalam hal ini, Goldmund terus membiarkan dirinya dibimbing oleh sosok ibunya, ia tidak mengikuti cara seni, melainkan ia mengikuti panggilan ibunya. Goldmund merasa bahwa kesempurnaan dalam seni (seperti representasi master Niklaus) justru mengarah ke ketenaran dan reputasi, ke uang dan kehidupan mapan, dan ke pengeringan dan pengerdilan indra batin seseorang, hanya kepada misteri yang bisa diakses. Bagi Goldmund, warna keemasan di mata ikan mas, keperakan tipis manis di tepi sayap kupu-kupu, jauh lebih indah, lebih hidup, dan lebih berharga daripada satu ruangan penuh berisi karya seni.
Goldmund berhasil menyelesaikan patung Santo Yohanes nya dan master Niklaus sangat menyukainya. Master Niklaus meminta agar Goldmund menerima tawaran menjadi anggota serikat seniman dan menikahi putri cantiknya, Lisbeth. Goldmund menolak dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya.
Pada pengembaraan selanjutnya ia dihadapkan oleh wabah Blackdeath yang menyerang setiap desa yang ia tuju. Ia menyaksikan kegilaan sekaligus penderitaan yang terjadi pada penduduk desa, Mayat yang tak dikubur tergeletak di tiap rumah petani, penduduk desa yang terkena wabah dibakar hidup-hidup karena hanya akan menyusahkan penduduk warga lainnya, orang Yahudi yang dibakar, serta penduduk yang menyalahkan satu sama lain atas munculya wabah mematikan ini. Di sisi lain, penduduk yang dihadapkan bersama nafsu kengerian untuk hidup, menghabiskan waktunya untuk minum minuman keras, berdansa, berpesta pora, serta berzina saat malaikat maut memainkan biola. 
Setelah kengerian yang ia lihat selama perjalanannya kali ini, dalam hati Goldmund berkata, "Yang terburuk adalah justru mereka yang masih selamat, yang tampaknya telah kehilangan mata di jiwa mereka akibat kengerian dan ketakutan atas kematian.".
Goldmund yang dalam perjalanannya berjalan bersama malaikat maut yang diam-diam selalu mengikuti di balik perjalanannya, dan melihat kematian dimana-mana. Atas naluri akan bimbingan sosok ibunya, ia beranggapan bahwa malaikat maut yang mungkin bagi beberapa orang seperti seorang pejuang, atau algojo, seorang ayah yang tegas, bagi dirinya malaikat maut adalah juga seorang ibu dan seorang gundik; seruannya adalah panggilan untuk kawin, sentuhannya adalah getaran cinta.
Goldmund kembali ke kota, berniat mencari master Niklaus, namun yang ia dapati adalah kematian master Niklaus. Di kota, ia bertemu seorang wanita, ia adalah selir dari Count Heinrich, diam-diam mereka berhubungan, dan sampai dimana Goldmund tertangkap di dalam kastil karena disangka pencuri dan dijatuhi hukuman mati oleh Heinrich yang kejam. Tak disangka di saat yang sudah dekat dengan kematian Goldmund, datang Narcissus dan mengajaknya untuk kembali ke biara Mariabronn. Narcissus yang sekarang menjadi abbas di biara Mariabronn telah dikenal sebagai abbas Yohanes. Setibanya di biara Mariabronn, Goldmund mendapati bengkel untuk bekerja, dan memulai memahat karya-karya barunya.
Muncul dialog yang panjang antara Narcissus dan Goldmund, Goldmund tidak menyukai abstraksi melainkan ia hidup dalam imajinasi, Narcissus menceritakan kembali perbedaan yang terdapat diantara keduanya, ia mengatakan, "Berpikir dan berimajinasi tidak punya persamaan apapun. Berpikir dilakukan tidak dalam imaji, tetapi dengan konsep dan formula. Pada saat tertentu saat imaji berhenti, giliran filsafat dimulai. " . Narcissus selalu mengatakan bahwa Goldmund tidak terlahir untuk menjadi seorang pemikir, akan tetapi hal ini bukanlah sebuah kekurangan, karena sebagai gantinya, Goldmund adalah master dalam imaji. Jika Goldmund menjadi seorang pemikir maka ia hanya akan menjadi seorang mystic, seorang dengan jiwa yang memiliki kualitas seni namun jatuh ke dalam dunia pikiran.
Goldmund menyelesaikan karya agung lainnya, setelah patung Santo Yohanes, yakni patung Maria yang menyerupai sosok Lidya, wanita yang ia cintai saat ia bekerja menjadi penerjemah Latin di kastil seorang ksatria. Saat melihat patung Maria tersebut, Narcissus mengetahui siapa sosok Goldmund sebenarnya. Narcissus tidak mengetahui sosok dibalik patung Maria yang dibuat oleh temannya itu, akan tetapi ia melihat bahwa sosok gadis tersebut sudah tinggal dalam hati Goldmund. "Akan tetapi, lebih benar daripada suami yang setia, Goldmund membawa figur perempuan itu bersama jiwanya. Goldmund menjaga citranya sampai akhirnya, mungkin setelah bertahun-tahun dia belum pernah melihat lagi, Goldmund bisa membuat patung indah dan menyentuh berupa gadis dan menangkap di wajahnya, bantalannya, di tangannya, semua kelembutan, kekaguman, dan kerinduan tentang cinta mereka."
Goldmund pergi meninggalkan biara dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya. Kepergian Goldmund meninggalkan keresahan terhadap diri Narcissus dan muncul keraguan dalam hatinya. Narcissus berkata dalam hatinya, keidupan di biara, keimaman resminya, kehidupan ilmiahnya, area pemikirannya yang telah dibangun dengan baik, kehidupan berupa ketertiban dan pelayanan ketat, suatu pengorbanan tanpa akhir, suatu perjuangan yang harus diperbarui demi kejelasan dan keadilan, hal tersebut,dalam sudut pandang biara, dalam sudut pandang nalar dan moralitas tentu dinilai lebih benar, lebih teratur, jauh lebih murni dari  kehidupan seniman, gelandangan, dan seorang perayu perempuan. Tersisa pertanyaan dalam diri Narcissus, "Namun demikian, dilihat dari atas, dengan mata Tuhan, apakah kehidupan teladan berupa ketertiban dan disiplin, berupa penolakan atas dunia dan sukacita indrawi ini, berupa keterpencilan dari kotoran dan darah ini, berupa penarikan diri ke dalam filsafat dan meditasi ini, lebih baik dari kehidupan Goldmund? Apakah manusia benar-benar telah diciptakan untuk menjalani kehidupan yang diatur, dengan jam-jam dan tugas-tugas yang diindikasikan oleh lonceng doa? Apakah manusia benar-benar diciptakan untuk mempelajari Aristoteles dan Santo Thomas, untuk mempelajari bahasa Yunani, untuk memadamkan indranya, untuk melarikan diri dari dunia? Apakah Tuhan tidak menciptakannya dengan indra dan naluri, dengan kegelapan berwarna darah, dengan kapasitas untuk melakukan dosa, melampiaskan nafsu,dan putus asa?". Tampak Goldmund telah sangat mempengaruhi temannya, melalui kehidupannya yang serba terbalik dari kehidupan Narcissus.
Tiba saat Goldmund kembali ke biara, ia kembali dalam keadaan yang sangat lemah dan menyedihkan. Ia mengalami sakit keras, sering ia dapati dadanya terasa sakit. Di hari mendekati kematiannya Goldmund menceritakan Narcissus tentang ibunya, bagaimana ia terus menggenggamkan jari-jarinya di jantungnya. Dalam keadaan yang begitu menyedihkan Goldmund meneruskan pembicaraannya dan Narcissus setia mendengarkan. "Selama bertahun-tahun, sesuatu yang paling aku hargai, impian rahasiaku, adalah membuat patung ibu. Dia, bagi aku, adalah yang paling suci dari semua gambar-gambar; aku selalu membawanya dalam diriku, yakni sosok yang penu cinta dan misteri. Hanya beberapa saat lalu, tak tertahankan bagi aku untuk berpikir bahwa aku untuk berpikir bahwa aku akan mati tanpa mengukir patungnya; hidup akan tampak tak berguna lagi bagi aku. Sekarang, lihat betapa anehnya hal-hal telah berubah. Bukan tanganku yang akan membentuk tubuhnya, melainkan tangan dialah yang membentuk aku. Dia sedang mengatupkan jari-jarinya di jantungku, dia melonggarkannya, dia mengosongkan aku; dia merayuku untuk mati. Bersama aku, mati pula mimpi-mimpiku, patung indah itu, gambar besar ibu-Hawa. Aku masih bisa melihatnya;dan jika memiliki kekuatan di tangan, aku bisa mengukirnya. Akan tetapi dia tidak menginginkannya;dia tidak ingin aku membuka rahasianya. Dia lebih ingin aku untuk mati. Aku senang mati;dia membuatnya mudah bagiku." Goldmund menganggap jiwanya tidak akan diambil oleh kematian, melainkan oleh ibunya. Goldmund senang untuk mati, ia menganggap bahwa kematian merupakan panggilan ibunya yang akan membawanya kembali bersama ibunya menuju ketakberadaan dan ketidakbersalahan. Sosok ibu baginya adalah alasan bagi dirinya untuk menjalani kehidupan dan mencintai, dan kematian merupakan panggilan dari sang ibu, merupakan kerinduan untuk mencintai dan kembali bersama sang ibu.
Mendekati kematiannya, Goldmund yang hanya terbaring diatas tempat tidurnya ditemani sahabatnya yang begitu mencintainya, ia begitu menyesal pada Narcissus sambil berusaha mengatakan, "Akan tetapi, bagaimana kau akan mati bila waktumu sudah datang, Narcissus, karena kau tidak memiliki ibu? Tanpa ibu, seseorang tidak dapat mencintai. Tanpa ibu, orang tidak bisa mati".Goldmund yang merekam sosok ibu begitu dalam, kini memilih untuk mengikuti panggilan sang ibu, ibu-Hawa, ibu seluruh manusia. 


***
Novel ini memberikan pembaca pandangan yang luas, melalui karakter Narcissus dan Goldmund yang berlawanan, bukan berarti bahwa kedua karakter tersebut tidak bisa disandingkan bersama. Dalam hal ini, perbedaan karakter tidaklah untuk digabungkan, adanya perbedaan karakter disini lebih menunjukan keduanya untuk memahami satu sama lain, mengenal dan menghargai kontradiksi yang ada sehingga keduanya melengkapi satu sama lain.  Polarisasi karakter yang ada merupakan gambaran suatu harmoni, keseimbangan,dimana semua eksistensi yang ada tampak didasarkan pada dualitas dan kontras.

Keduanya memiliki tujuannya yang sama, yakni pada perjalanan spiritualnya. Dalam novel ini jelas menegaskan bahwa setiap orang dilahirkan memiliki jalannya sendiri, tidak nampak superioritas pada perbedaan jalan yang ada. Semuanya memiliki tujuannya masing-masing, Goldmund yang menuangkan jiwanya melalui seni ataupun Narcissus yang berada dalam jalan pikiran. 


*Penulis saat ini menjabat sebagai anggota divisi media LPPMD Unpad periode 2016-2017. Ia sedang berusaha menjalankan studi di Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Bisa dihubungi melalui akun instagram: vionamahardika

Sabtu, 24 September 2016

Jokowi dan Sejumlah Hal yang Penting untuk Dicatat



Oleh: Aldo Fernando*



       Judul Buku: Jokowi, Sangkuni, Machiavelli
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: September, 2016
Tebal: 216 halaman



Jokowi adalah sebuah fenomena: bermula dari menaklukkan Solo, lalu menuju Jakarta untuk menantang sejumlah pendekar politik—kemudian memenangkan pertarungan—hingga akhirnya mencapai kursi RI 1—dan, tentu saja, memainkan peranan pentingnya dalam menjalankan roda pemerintahan.
Wajah Jokowi yang dianggap merakyat dan merepresentasikan rakyat kecil  menjadi salah satu daya tariknya dalam panggung politik—selain, tentu saja, gaya blusukannya. Jokowi dianggap sebagai media darling atau orang yang dicintai media massa (hlm. 19). Dalam kerangka tersebut, Jokowi bukanlah Joko Widodo, sebagai manusia riil. Ia adalah Jokowi sebagai konstruksi media (hlm. 20). Ia dikemas oleh media massa sedemikian rupa (encoding: pemberian kode) sehingga menjadi karakter yang dicintai pembaca dan pemirsa. Tentu, untuk mampu menelaah Jokowi secara kritis baik sebagai figur yang dipoles oleh media massa sekaligus sebagai sosok riil diperlukan upaya pemecahan kode (decoding).
Demikianlah, sekelumit pandangan Seno Gumira Ajidarma mengenai Jokowi dan politik Indonesia akhir-akhir ini dalam kumpulan kolom-kolom politiknya yang ditulis dalam rentang waktu 2013-2016, yang kemudian dibukukan dan diberi judul Jokowi, Sangkuni, Machiavelli (2016).
Buku yang berisi empat puluh tujuh tulisan pendek SGA (demikian sang penulis akrab disebut) tersebut merupakan kumpulan pandangan, obrolan, dan komentar sang penulis “atas peristiwa-peristiwa politik secara kronologis, dalam batas rata-rata 5.000 karakter (with space)” (hlm. 13). Tulisan-tulisan tersebut berawal dari tawaran Koran Tempo kepada SGA untuk bersedia menulis “kolom politik” dalam kurun waktu 2014-2016. Mulanya, SGA tidak langsung menyanggupinya. Namun, karena (1) mempertimbangkan pandangannya bahwa politik dapat dilihat dari segi manapun yang ia ketahui dan karena (2) Kelik M. Nugroho, sebagai pengasuh rubrik “Pendapat” mampu meyakinkan SGA, akhirnya SGA mau menulis kolom-kolom politik untuk Koran Tempo (ibid.).
Menurut Seno, yang “bukan murid Mirriam” (lih. Catatan Penulis, hlm. 11), berbicara mengenai politik berarti berusaha “mencari kejelasan persoalan” dengan jalan “menarik kesimpulan umum dari peristiwa-peristiwa konkret” yang tidak perlu disebutkan secara langsung. Namun, dengan ini bukan berarti SGA berjarak dingin atas persoalan yang ia selami. Sesuai pengakuannya sendiri, ia merasa sesekali tenggelam dalam perkara yang ia telaah dan kemudian, secara tak terelakkan, menunjukkan keberpihakannya (ibid.).
Di dalam buku terbarunya ini SGA mencoba mengambil sudut pandang yang beragam dan kaya untuk membedah kondisi politik di negeri ini: (dengan menyebut beberapa poin) mulai dari (1) membicarakan sekaligus menyangkal argumen yang mendukung nepotisme dan kroniisme dengan jalan mendasarkan diri pada konsep praduga kejatuhan (presumption of fallibility); (2) membahas kecerdikan politik Sangkuni, yang berkaitan dengan oposisi Politik Manusiawi vs Politik Ilahi; (3) menyejajarkan popularitas antara Jokowi dan Prabowo dengan Cristiano Ronaldo dan Messi; (4) mendiskusikan militer yang menjadi subplot di panggung politik; (5) mengaitkan Jokowi sebagai presiden (baru) dengan lakon wayang Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Raja); (6) Kesan SGA atas keteguhan hati Suciwati (istri Munir) dan pembunuhan Munir setelah mengunjungi Omah Munir; (7) perihal radikalisme sektarian, totaliterisme, taktik catur dalam politik, kaitan Machiavelli dan korupsi politis, hingga realisme politik dan fenomena Ahok.
Selain itu, SGA dalam bukunya tersebut, juga menulis beberapa kolom politik yang menyiratkan sejumlah makna yang samar-samar (artinya, perlu dibedah dan dianalisis lebih  jauh): misalnya, ketika ia merujuk Ghandari, istri dari Drestharastra (yang buta), sebagai determinan dalam tatanan politik Hastina yang diceritakan dalam kisah Mahabharata (hlm. 113-116). Ghandari yang, boleh dikatakan, berada di luar puncak kekuasaan namun mampu memainkan alur “Mahabharata menuju pertumpahan darah”.  Entah siapa yang SGA maksud dengan Ghandari di dalam tulisannya yang terbit pada 26 Januari 2015 (yang berarti, parcapelantikan Jokowi sebagai presiden) tersebut. Nampaknya, SGA menggunakan jalan memutar dengan jernih sekaligus subtil dalam hal ini. Ia tidak ingin mengatakan pendapatnya secara langsung. Mengenai hal itu, SGA menulis dalam pengantar singkat untuk kolom mengenai Ghandari tersebut: “Enam belas tahun setelah Reformasi, saya masih berbicara secara tak langsung. Namun kiranya wayang cukup jelas, bagi yang menjadi sasaran.” Dalam hal ini, pembaca yang budiman boleh menafsirkan siapapun yang mungkin berkaitan dengan Gandhari dalam tatanan politik hari ini—tentu saja, dengan syarat: harus mampu mempertanggungjawabkan klaim!
***
Walaupun ditulis dengan gaya populer, kolom-kolom politik SGA dalam buku ini tidak kehilangan kedalaman dan kekayaan analisisnya. Malahan, itu menunjukkan penguasaan SGA dalam menggunakan dan mendialogkan berbagai teori dan alat analisis  di setiap catatan-catatan (kolom politik) dalam buku Jokowi, Sangkuni Machiavelli tersebut. Selain itu, penulis merasa bahwa upaya SGA untuk mengajak pembaca mendialogkan politik hari ini dengan khasanah dunia wayang menjadi salah satu nilai lebih—dan salah satu ciri khasnya—buku terbarunya ini.
Akhir kata, selamat menikmati karya terbaru SGA ini. Semoga dapat menambah daya kritis sekaligus melebarkan horizon pemahaman kita akan realitas politik dalam negeri. Salam Pembebasan!


*Penulis saat ini menjabat sebagai Ketua Umum LPPMD Unpad periode 2015-2016. Ia sedang berusaha menyelesaikan studi di Agroteknologi Fakultas Pertanian Unpad. Bisa dihubungi melalui twitter @aldofernandons