*Oleh Viona Mahardika Harjuni
Penulis: Hermann Hesse
Penerbit: Pustaka BACA
Tahun: 2012
Tahun: 2012
ISBN: 9789792462364
Narcissus dan Goldmund merupakan novel karya Hermann
Hesse, sang peraih penghargaan Nobel sastra yang pertama kali diterbitkan pada
tahun 1930. Narcissus dan Goldmund termasuk salah satu karya besar diantara
karya-karya besar lainnya, seperti Demian, Siddharta, Steppenwolf, Perjalanan
ke Timur dan Magister Ludi.
Novel ini menceritakan dua tokoh spiritual, yakni Narcissus dan Goldmund,
dimana keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda, namun keduanya merasa
sangat terhubung satu sama lain dan menjalin persahabatan. Narcissus, sosok
yang berdiri pada kehidupaan keagamaan serta hidup dalam tatanan dan ketertiban
dipertemukan dengan Goldmund, sosok yang memiliki jiwa bebas, seorang
pengembara yang menempuh jalan indrawi dan menampilkan pengalaman dan
penglihatannya melalui gambar dan pahatan. Buku dengan setting pada abad pertengahan ini
merupakan karya berjenis fiksi filosofis.
Goldmund yang dikirimkan ayahnya untuk belajar di
biara Mariabronn dan mengawali hidupnya untuk menjadi seorang cendekiawan,
bertemu dengan seorang guru muda Narcissus yang tanpa disadari telah memberikan
gambaran kepada Goldmund tentang jalan hidupnya yang sangat berbeda dengan diri
Narcissus. Karakter yang berlawanan antara Narcissus dan Goldmund ini
dipengaruhi juga oleh teori Friedrich Nietzsche tentang karakter Apollonian dan
Dionysian dalam karyanya The
Birth of Tragedy. Narcissus yang individualis dan memiliki hidup yang
terstruktur dalam tatanan merupakan pendekatan karakter Apollonian, sementara
itu Goldmund yang berjiwa pengembara, bebas, lebih suka memuaskan nafsu akan
dunia sensualnya merujuk pada karakter Dionysian. Dalam buku ini, Hesse
menghadirkan tema utama yang tidak jauh berbeda seperti karya-karya lainnya,
yakni pencarian makna kehidupan, baik secara keseluruhan maupun makna
kehidupannya sendiri. Seperti novel Hesse sebelumnya, "Demian", yang
dipengaruhi teori alam bawah sadar kolektif dari C.G Jung, karyanya yang
berjudul "Narcissus dan Goldmund" pun dipengaruhi teori C.G Jung,
perpaduan kutub Jungian yang berlawanan (Mysterium Coniunctionis). Hal
ini terletak pada polarisasi karakter utamanya, Goldmund mewakili seni dan alam
serta "pemikiran feminin", sedangkan Narcissus mewakili ilmu
pengetahuan dan logika serta Tuhan dan "Pemikiran Maskulin". Kualitas
"feminin" dan "maskulin diambil dari struktur archetypal Jungian. Narcissus
tampak sebagai pria untuk pikiran dan Goldmund sebagai pria untuk cinta.
Dalam biara Mariabronn terdapat seorang abbas yang
begitu dihormati, biasa dipanggil sebagai abbas Daniel. Ia merupakan sosok yang
sederhana dan bijaksana, begitu dihormati di biara tersebut meskipun ia bukan
seorang cendekiawan. Abbas Daniel sering memikirkan sosok Narcissus yang masih
begitu muda, namun pemikirannya tidak seperti anak laki-laki seusianya. Sering
terdapat perselisihan antara cendekiawan yang lebih tua dan Narcissus.
Narcissus sering dianggap tidak mematuhi para petinggi biara yang lebih tua
darinya karena pemikiran-pemikirannya. Narcissus merasa dirinya akan tinggal
dan mengabdikan diri di biara selamanya, karena ia tahu bahwa ia memiliki suatu
kemampuan, yaitu perasaan terhadap karakter dan tujuan hidup manusia, tak hanya
untuk dirinya sendiri, tetapi untuk setiap orang lainnya. Hal ini tepat seperti
apa yang ia lakukan kepada Goldmund, ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang besar
pada diri Goldmund, dan ia juga lah yang menunjukkan jalan itu kepada Goldmund.
Narcissus yang merupakan guru muda berbakat,
berdedikasi pada pikiran dan memiliki kemampuan dalam membaca wajah manusia,
merupakan sosok yang dikagumi Goldmund setibanya ia di biara. Sosok guru muda
ini, yang bahkan usianya tak jauh dari Goldmund tidak sama sekali tampak
seperti laki-laki di usianya, wajahnya tegas dan bicaranya tenang, membuat
Goldmund begitu kagum pada sosok Narcissus. Goldmund mengagumi dedikasi
Narcissus pada kehidupan spiritualnya, dan berharap suatu saat bisa menjadi
seorang cendekiawan. Di sisi lain, Goldmund anak muda yang tampan, disenangi
banyak orang di biara, ternyata sangat menjadi perhatian Narcissus yang
diam-diam memikirkan Goldmund kecil.
Persahabatan antara Narcissus dan Goldmund dimulai.
Persahabatan ini memang tampak sulit, dimana Narcissus
merupakan seorang guru dan Goldmund adalah murid di biara itu. Narcissus
melihat sesuatu yang hilang dari Goldmund dan menyadari bahwa Goldmund tidak
akan menjadi seorang cendekiawan ataupun biarawan. Sering mereka menghabiskan
waktu untuk bicara, Narcissus menyadari sesuatu yang hilang dari Goldmund,
yakni sosok ibunya. Narcissus memberitahu Goldmund bahwa ia tidak akan pernah
menjadi seorang cendekiawan, dan membangunkan Goldmund dengan mengembalikan
ingatan tentang ibunya. Ayah Goldmund yang selama ini mencoba menekan Goldmund
atas ingatan ibunya, hanya menjadikan Goldmund dihantui oleh imaji dari sosok
ibu. Goldmund seolah-olah bangun dari mimpinya dan menyadari bahwa ia
dilahirkan mewarisi jiwa ibunya. Goldmund hanya memikirkan ibunya saat itu, ia
selalu bertanya tentang sosok dan imaji dari sang ibu, serta berusaha
mendengarkan panggilan sang ibu. Narcissus merasa perannya dalam hal ini sudah
selesai, jalan mereka berdua terpisah. Narcissus memutuskan untuk menarik diri
dari kehidupan biara untuk meditasi dan berpuasa. Suatu hari Pater Anselmus,
dokter biara, meminta tolong Goldmund untuk membawakannya beberapa tanaman obat
dari ladang, Goldmund menikmati perjalanannya dan disaat itu ia bertemu wanita,
Lise si gipsi, yang memperkenalkan Goldmund pada rasa cinta dan kenikmatan
sensualitas, dan di saat itulah Goldmund menyadari bahwa ia tidak akan pernah
menjadi seorang biarawan. Goldmund memilih untuk meninggalkan biara dan
mengembara, ia menerima undangan wanita gipsi cantik tersebut untuk bermalam
bersama.
Dalam pengembaraannya ia bertemu wanita ke wanita,
desa ke desa, sampai ia menemukan dirinya sebagai seorang seniman, diawali
sebuah patung Madonna yang ia temui di sebuah biara, ia melihat kenyerian
sekaligus kebahagiaan dalam wajahnya, dengan mudah Goldmund melihat emosi yang
terdapat dalam diri patung tersebut, dan hal ini memanggil jiwanya untuk
mencari sang pemahat, yakni Master Niklaus. Ia mencari tempat tinggal Master
Niklaus dan berharap bisa mendapatkan ajaran dari sang pemahat tersebut. Ia
diterima oleh Master Niklaus, dan mulai membuat patung Santo Yohanes. Ia sangat
mendedikasikan dirinya untuk pengerjaan patung tersebut. Dalam pengerjaannya,
ia merasa, "Bukan dia yang berdiri disana, menciptakan gambar kehendaknya
sendiri. Itu adalah orang lain; adalah Narcissus yang memanfaatkan tangan
seniman untuk melangkah keluar dari transisi sekilas kehidupan, untuk
mengekspresikan citra murni dari dirinya.". Begitulah cara seni sejati
muncul, dengan cara inilah patung Madonna yang agung itu dibuat oleh master
Niklaus. Goldmund berharap suatu hari nanti ia mampu membuat sebuah patung dari
sosok ibu, kali ini sosok tersebut bukanlah murni sosok ibunya, melainkan sosok
ibu bumi, sosok ibu Hawa yang merupakan ibu dari semua manusia.
Dalam hal ini, Goldmund terus membiarkan dirinya
dibimbing oleh sosok ibunya, ia tidak mengikuti cara seni, melainkan ia
mengikuti panggilan ibunya. Goldmund merasa bahwa kesempurnaan dalam seni
(seperti representasi master Niklaus) justru mengarah ke ketenaran dan
reputasi, ke uang dan kehidupan mapan, dan ke pengeringan dan pengerdilan indra
batin seseorang, hanya kepada misteri yang bisa diakses. Bagi Goldmund, warna
keemasan di mata ikan mas, keperakan tipis manis di tepi sayap kupu-kupu, jauh
lebih indah, lebih hidup, dan lebih berharga daripada satu ruangan penuh berisi
karya seni.
Goldmund berhasil menyelesaikan patung Santo
Yohanes nya dan master Niklaus sangat menyukainya. Master Niklaus meminta agar
Goldmund menerima tawaran menjadi anggota serikat seniman dan menikahi putri
cantiknya, Lisbeth. Goldmund menolak dan memutuskan untuk melanjutkan
pengembaraannya.
Pada pengembaraan selanjutnya ia dihadapkan oleh
wabah Blackdeath yang menyerang setiap desa yang ia tuju. Ia menyaksikan
kegilaan sekaligus penderitaan yang terjadi pada penduduk desa, Mayat yang tak
dikubur tergeletak di tiap rumah petani, penduduk desa yang terkena wabah
dibakar hidup-hidup karena hanya akan menyusahkan penduduk warga lainnya, orang
Yahudi yang dibakar, serta penduduk yang menyalahkan satu sama lain atas
munculya wabah mematikan ini. Di sisi lain, penduduk yang dihadapkan bersama
nafsu kengerian untuk hidup, menghabiskan waktunya untuk minum minuman keras, berdansa,
berpesta pora, serta berzina saat malaikat maut memainkan biola.
Setelah kengerian yang ia lihat selama
perjalanannya kali ini, dalam hati Goldmund berkata, "Yang terburuk adalah
justru mereka yang masih selamat, yang tampaknya telah kehilangan mata di jiwa
mereka akibat kengerian dan ketakutan atas kematian.".
Goldmund yang dalam perjalanannya berjalan bersama
malaikat maut yang diam-diam selalu mengikuti di balik perjalanannya, dan
melihat kematian dimana-mana. Atas naluri akan bimbingan sosok ibunya, ia
beranggapan bahwa malaikat maut yang mungkin bagi beberapa orang seperti
seorang pejuang, atau algojo, seorang ayah yang tegas, bagi dirinya malaikat
maut adalah juga seorang ibu dan seorang gundik; seruannya adalah panggilan
untuk kawin, sentuhannya adalah getaran cinta.
Goldmund kembali ke kota, berniat mencari master
Niklaus, namun yang ia dapati adalah kematian master Niklaus. Di kota, ia
bertemu seorang wanita, ia adalah selir dari Count Heinrich, diam-diam mereka
berhubungan, dan sampai dimana Goldmund tertangkap di dalam kastil karena
disangka pencuri dan dijatuhi hukuman mati oleh Heinrich yang kejam. Tak
disangka di saat yang sudah dekat dengan kematian Goldmund, datang Narcissus
dan mengajaknya untuk kembali ke biara Mariabronn. Narcissus yang sekarang
menjadi abbas di biara Mariabronn telah dikenal sebagai abbas Yohanes.
Setibanya di biara Mariabronn, Goldmund mendapati bengkel untuk bekerja, dan
memulai memahat karya-karya barunya.
Muncul dialog yang panjang antara Narcissus dan
Goldmund, Goldmund tidak menyukai abstraksi melainkan ia hidup dalam imajinasi,
Narcissus menceritakan kembali perbedaan yang terdapat diantara keduanya, ia
mengatakan, "Berpikir dan berimajinasi tidak punya persamaan apapun.
Berpikir dilakukan tidak dalam imaji, tetapi dengan konsep dan formula. Pada
saat tertentu saat imaji berhenti, giliran filsafat dimulai. " . Narcissus
selalu mengatakan bahwa Goldmund tidak terlahir untuk menjadi seorang pemikir,
akan tetapi hal ini bukanlah sebuah kekurangan, karena sebagai gantinya,
Goldmund adalah master dalam imaji. Jika Goldmund menjadi seorang pemikir maka
ia hanya akan menjadi seorang mystic,
seorang dengan jiwa yang memiliki kualitas seni namun jatuh ke dalam dunia
pikiran.
Goldmund menyelesaikan karya agung lainnya, setelah
patung Santo Yohanes, yakni patung Maria yang menyerupai sosok Lidya, wanita
yang ia cintai saat ia bekerja menjadi penerjemah Latin di kastil seorang
ksatria. Saat melihat patung Maria tersebut, Narcissus mengetahui siapa sosok
Goldmund sebenarnya. Narcissus tidak mengetahui sosok dibalik patung Maria yang
dibuat oleh temannya itu, akan tetapi ia melihat bahwa sosok gadis tersebut
sudah tinggal dalam hati Goldmund. "Akan tetapi, lebih benar daripada
suami yang setia, Goldmund membawa figur perempuan itu bersama jiwanya.
Goldmund menjaga citranya sampai akhirnya, mungkin setelah bertahun-tahun dia
belum pernah melihat lagi, Goldmund bisa membuat patung indah dan menyentuh
berupa gadis dan menangkap di wajahnya, bantalannya, di tangannya, semua kelembutan,
kekaguman, dan kerinduan tentang cinta mereka."
Goldmund pergi meninggalkan biara dan
memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya. Kepergian Goldmund meninggalkan
keresahan terhadap diri Narcissus dan muncul keraguan dalam hatinya. Narcissus
berkata dalam hatinya, keidupan di biara, keimaman resminya, kehidupan
ilmiahnya, area pemikirannya yang telah dibangun dengan baik, kehidupan berupa
ketertiban dan pelayanan ketat, suatu pengorbanan tanpa akhir, suatu perjuangan
yang harus diperbarui demi kejelasan dan keadilan, hal tersebut,dalam sudut
pandang biara, dalam sudut pandang nalar dan moralitas tentu dinilai lebih
benar, lebih teratur, jauh lebih murni dari kehidupan seniman,
gelandangan, dan seorang perayu perempuan. Tersisa pertanyaan dalam diri
Narcissus, "Namun demikian, dilihat dari atas, dengan mata Tuhan, apakah
kehidupan teladan berupa ketertiban dan disiplin, berupa penolakan atas dunia
dan sukacita indrawi ini, berupa keterpencilan dari kotoran dan darah ini,
berupa penarikan diri ke dalam filsafat dan meditasi ini, lebih baik dari
kehidupan Goldmund? Apakah manusia benar-benar telah diciptakan untuk menjalani
kehidupan yang diatur, dengan jam-jam dan tugas-tugas yang diindikasikan oleh
lonceng doa? Apakah manusia benar-benar diciptakan untuk mempelajari
Aristoteles dan Santo Thomas, untuk mempelajari bahasa Yunani, untuk memadamkan
indranya, untuk melarikan diri dari dunia? Apakah Tuhan tidak menciptakannya
dengan indra dan naluri, dengan kegelapan berwarna darah, dengan kapasitas untuk
melakukan dosa, melampiaskan nafsu,dan putus asa?". Tampak Goldmund telah
sangat mempengaruhi temannya, melalui kehidupannya yang serba terbalik dari
kehidupan Narcissus.
Tiba saat Goldmund kembali ke biara, ia kembali
dalam keadaan yang sangat lemah dan menyedihkan. Ia mengalami sakit keras,
sering ia dapati dadanya terasa sakit. Di hari mendekati kematiannya Goldmund
menceritakan Narcissus tentang ibunya, bagaimana ia terus menggenggamkan
jari-jarinya di jantungnya. Dalam keadaan yang begitu menyedihkan Goldmund
meneruskan pembicaraannya dan Narcissus setia mendengarkan. "Selama
bertahun-tahun, sesuatu yang paling aku hargai, impian rahasiaku, adalah
membuat patung ibu. Dia, bagi aku, adalah yang paling suci dari semua
gambar-gambar; aku selalu membawanya dalam diriku, yakni sosok yang penu cinta
dan misteri. Hanya beberapa saat lalu, tak tertahankan bagi aku untuk berpikir
bahwa aku untuk berpikir bahwa aku akan mati tanpa mengukir patungnya; hidup
akan tampak tak berguna lagi bagi aku. Sekarang, lihat betapa anehnya hal-hal
telah berubah. Bukan tanganku yang akan membentuk tubuhnya, melainkan tangan
dialah yang membentuk aku. Dia sedang mengatupkan jari-jarinya di jantungku,
dia melonggarkannya, dia mengosongkan aku; dia merayuku untuk mati. Bersama aku,
mati pula mimpi-mimpiku, patung indah itu, gambar besar ibu-Hawa. Aku masih
bisa melihatnya;dan jika memiliki kekuatan di tangan, aku bisa mengukirnya.
Akan tetapi dia tidak menginginkannya;dia tidak ingin aku membuka rahasianya.
Dia lebih ingin aku untuk mati. Aku senang mati;dia membuatnya mudah
bagiku." Goldmund menganggap jiwanya tidak akan diambil oleh kematian,
melainkan oleh ibunya. Goldmund senang untuk mati, ia menganggap bahwa kematian
merupakan panggilan ibunya yang akan membawanya kembali bersama ibunya menuju
ketakberadaan dan ketidakbersalahan. Sosok ibu baginya adalah alasan bagi
dirinya untuk menjalani kehidupan dan mencintai, dan kematian merupakan
panggilan dari sang ibu, merupakan kerinduan untuk mencintai dan kembali
bersama sang ibu.
Mendekati kematiannya, Goldmund yang hanya
terbaring diatas tempat tidurnya ditemani sahabatnya yang begitu mencintainya,
ia begitu menyesal pada Narcissus sambil berusaha mengatakan, "Akan
tetapi, bagaimana kau akan mati bila waktumu sudah datang, Narcissus, karena
kau tidak memiliki ibu? Tanpa ibu, seseorang tidak dapat mencintai. Tanpa ibu,
orang tidak bisa mati".Goldmund yang merekam sosok ibu begitu dalam, kini
memilih untuk mengikuti panggilan sang ibu, ibu-Hawa, ibu seluruh
manusia.
***
Novel ini memberikan pembaca pandangan yang luas,
melalui karakter Narcissus dan Goldmund yang berlawanan, bukan berarti bahwa
kedua karakter tersebut tidak bisa disandingkan bersama. Dalam hal ini,
perbedaan karakter tidaklah untuk digabungkan, adanya perbedaan karakter disini
lebih menunjukan keduanya untuk memahami satu sama lain, mengenal dan
menghargai kontradiksi yang ada sehingga keduanya melengkapi satu sama lain.
Polarisasi karakter yang ada merupakan gambaran suatu harmoni,
keseimbangan,dimana semua eksistensi yang ada tampak didasarkan pada dualitas
dan kontras.
Keduanya memiliki tujuannya yang sama, yakni pada
perjalanan spiritualnya. Dalam novel ini jelas menegaskan bahwa setiap orang
dilahirkan memiliki jalannya sendiri, tidak nampak superioritas pada perbedaan
jalan yang ada. Semuanya memiliki tujuannya masing-masing, Goldmund yang
menuangkan jiwanya melalui seni ataupun Narcissus yang berada dalam jalan
pikiran.
*Penulis saat ini menjabat sebagai
anggota divisi media LPPMD Unpad periode 2016-2017. Ia sedang berusaha
menjalankan studi di Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Bisa dihubungi
melalui akun instagram: vionamahardika