Si Putih Tanpa Merahnya - LPPMD Unpad

Minggu, 06 April 2014

Si Putih Tanpa Merahnya


Bolehlah, kiranya saya memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan.
“Apa salah si putih? Hingga mereka berkata “NO” padanya?”
Banyak literatur juga media menamai si putih ini dengan sebutan ‘golongan putih’ atau, disingkat dengan ‘Golput’. Sebutan ini selalu hadir mewarnai ramainya, yang kata orang “Pesta Demokrasi’ di Indonesia sekarang ini.  Dimana, untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah salah satu negara yang pro terhadap Demokrasi kita melakukan pemilihan raya untuk menentukan pemimpin negara kita selama lima tahun sekali.
Demokrasi, yang katanya adalah suara rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat nampak jelas tercermin di tiap kurun waktu lima tahun sekali ini. Demokrasi jari kelingking, kalau saya boleh menyebutnya seperti itu. Karena, bagi bangsa ini demokrasi adalah tentang memilih sendiri ‘pilihan’ calon pemimpin yang telah ada. Dan, suara rakyat yang menentukannya dengan tanda jari kelingking yang bernoda tinta sebagai buktinya. Lalu, demokrasi akan muncul kembali dengan penjelmaan dalam wujud pemilu selanjutanya, di lima tahun yang akan datang. Itulah, demokrasi Indonesia di mata saya. Hanya sekedar itu.
Lalu, mengapa muncul istilah si putih, atau Golongan putih ini? Singkatnya,si putih adalah mereka yang tidak ikut meramaikan jari kelingkingnya untuk dicelupkan ke dalam tinta pada tanggal 9 April, maupun 9 Juli 2014 mendatang untuk memilih pemimpin untuk lima tahun kedepan. Mereka tidak memberikan suara mereka untuk pemimpin masa depan mereka. Baik itu, dikarenakan kesalahan administrasi oleh si pemilih tersebut atau juga karena memang si pemilih sudah berkeyakinan untuk tidak turut serta memilih siapapun di tanggal tersebut.
Golput, atau perilaku tidak memilih ini pertama kali dipeloporkan oleh Arief Budiman (1971) sebagai gerakan protes pada orde baru dengan tidak memilih pada pemilu, dan ide golput ini bertahan sebagai ‘kritik pasif’ di masa orde baru tersebut. Yang kemudian golput ini dijadikan stereotip oleh orde baru kepada siapapun yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pemilu, dan sekarang istilah golput ini berkembang menjadi istilah generik yang digunakan oleh media untuk mempresentasikan perilaku tidak memilih.[1]
Karenanya, di mata sebagian golongan lain yang sangat bersemangat menyambut pesta demokrasi jari kelingking ini, keputusan si putih sangatlah disayangkan. Bagi mereka satu suara adalah perubahan! Siapa pemimpin masa hadapan ada di banyaknya contrengan kecil di atas kertas pemilu itu. Dan, bagi siapa saja yang merasa peduli terhadap kemajuan bangsa dan negara diharapkan berpartisipasi untuk mencelupkan jari kelingkingnya di tanggal tersebut. Apapun pilihannya, yang penting coblos. Siapapun pilihan calonnya, mereka yang tak dikenal. Siapapun pilihan partainya, mereka yang penuh sensasi bukan lagi hal penting. Yang penting, coblos saja dulu.
“Golput, berarti menyerah terhadap perubahan bangsa yang lebih baik”
“Katakan NO pada Golput”
Slogan-slogan anti golput dan ajakan pemerintah untuk memilih seperti contoh diatas tersebar di seluruh penjuru mata selama masa pemilu sekarang ini. Karenanya, saya bertanya dalam hati. “Apa salah si putih ini?”
Bagi saya, jika ingin berbicara tentang warna dan melihat fenomena pemilu sekarang ini,  yang seharusnya terbayang di kepala kita tentang Indonesia adalah warna bendera kita. Merah putih. Dan, memang sangat disayangkan jika si putih hadir tanpa merahnya, seperti bendera negara kita, Indonesia.
Si putih, tanpa merahnya. Disini saya menganalogikan sikap tidak memilih seharusnya seperti warna bendera Indonesia. Merah sebagai suatu perjuangan kebebasan. Sikap kritis, dan berani ‘berontak’. Jika pilihan putih itu hadir jangan lupakan merahnya. Memilih untuk tidak memilih akan menjadi salah satu bentuk partisipasi politik bagi mereka yang tidak melupakan ‘merahnya’, yaitu argumen kuat akan pilihan tidak memilih mereka. Landasan kritis dan berani untuk mengenal dan mengkritisi calon-calon pemimpin itu, baik prestasi mereka untuk bangsa bahkan sejarah pengkhianatan-pengkhianatan mereka kepada bangsa. Sehingga keputusan pilihan untuk mencelupkan jari kelingking atau tidak, berawal dari kesadaran kuat akan perubahan.
Jadi, mereka yang memilih untuk tidak memilih dengan sadar seharusnya bukan dikarenakan alasan malas memilih atau berujar, “Emang calonnya ada yang bener?” dan selesai dipertanyaan skeptis tersebut sehingga hanya berlanjut kepada sikap apatis terhadap perubahan. Karena sikap kritis tanpa dilanjutkan dengan analisa yang tepat tak akan menghadirkan solusi perubahan. Maka, partisipasi yang diharapkan pun hanyalah harapan semata.
Karena, yang diharapkan dari  mereka yang berdiri digaris si putih adalah jangan lupakan ‘merah’ nya. Itulah mengapa, hal terpenting untuk menyambut pesta demokrasi ini adalah bagaimana semua pihak mulai belajar kembali ‘Apa itu demokrasi? Sesuatu yang  hanya lima tahun sekali kah?’, ‘siapa itu pemimpin? Politisi karbitankah, atau memang seorang negarawan? Siapa yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini?’, sehingga partisipasi aktif dan nyata untuk bangsa Indonesia yang lebih demokratis bukan lagi hanya tentang pemilu yang lima tahun sekali ini.




[1]Diambil dari infografi “Apa itu Golput?” yang dikeluarkan oleh Poligrabs. 

Tidak ada komentar: