Konflik Antaragama - LPPMD Unpad

Jumat, 04 April 2014

Konflik Antaragama


Oleh: Aldo Fernando

“Bukankah kita hidup di Bumi, Bumi yang sama, dunia yang sama?”
 -Lirik dari Police Militia-
Pendahuluan
“Kamilah yang benar! Kamilah yang paling benar, oleh karena itu Yang Lain dari kami haruslah dihabisi.” Kira-kira demikianlah klaim kebenaran angkuh dari para ekstremis agama. Mereka menahbiskan (aliran) agama merekalah yang benar, seolah-olah agama lain sebagai agama yang salah secara mutlak.
Konflik. Kehidupan manusia tak pernah mampu dilepaskan daripada konflik dan juga perang. Hal itu seperti sudah inheren dalam perjalanan hidup manusia. Reza pernah menulis dalam Dunia Dalam Gelembung:
Konflik dan perang memang tak bisa dipisahkan dari hidup manusia. Seluruh tata dunia sekarang ini juga lahir dari perang dan konflik berdarah antar manusia. Karena perang, negara lahir. Karena perang, perjanjian dibuat, dan tata dunia pun terbentuk.”[1]

Di sini saya akan mencoba membahas mengenai konflik antaragama yang terjadi di Indonesia. Konflik Sampang, Maluku, Poso, penganiayaan atas jemaah Ahmadiyah, pembakaran gereja ditambah sejumlah kasus lainnya menjadi contoh dari perwujudan atas klaim kebenaran mutlak dari para ekstremis agama di negara kita, Indonesia. Konflik-konflik antaragama yang terjadi di Indonesia semakin meresahkan kita. Apa sih penyebabnya?
Di dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan masalah konflik antaragama di Indonesia dengan membagi tulisan menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama, saya akan mencoba mengajak para pembaca yang budiman untuk bersama-sama memahami penyebab konflik antaraagama. Kedua, kita akan mencoba menyelami pertanyaan siapa itu yang lain?. Dan ketiga, saya akan memberikan beberapa tawaran perspektif mengenai masalah konflik antaragama di Indonesia.
1.      Penyebab Konflik Antaragama
Konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia memilik motif yang bermacam-macam, mulai dari perbedaan pandangan, ekonomi-politik dan bahkan sebagai sebuah manifestasi kesalehan seseorang atas nama agamanya. Di bagian ini, saya akan mencoba menyoroti dua faktor sebagai penyebab pertikaian antaragama di Indonesia. Pertama, saya akan membahas mengenai kegagalan  mengenal yang lain.  Pada faktor ini, saya akan mengacu pada pemikiran Budi Hardiman dalam buku Massa, Teror dan Trauma (2011). Kedua, saya akan fokus pada aspek kesalehan yang mana saya akan mengacu pada pemikiran Reza Wattimena dalam buku Dunia Dalam Gelembung (2013).

A.                 Kegagalan Mengenal Yang Lain
Para ekstremis agama yang dengan mudahnya mencoba melenyapkan kelompok agama lain menunjukkan adanya sebuah gejala dari kegagalan mengenal yang lain. Mereka menganggap Yang Lain sebagai yang berbeda dengan sang “aku”[2]. Yang Lain adalah “kamu” yang bukan bagian dari “aku”. “Kamu” merupakan hasil konstruksi dari sang “aku”.[3] Yang lain sebagai “kamu” di sini dikontruksi secara sewenang-wenang oleh “aku” yang egosentris; “aku” yang selalu ingin mendominasi secara penuh atas proses pengenalan dengan sang “kamu”. “Kamu” bukanlah manusia. “Aku”-lah yang manusia, jadi, “aku”-lah yang mutlak berkuasa atas proses pengenalan dengan “kamu”. “Aku” berharap untuk menyingkirkan “kamu”, Yang Lain,  yang berbeda dengan Yang Sama, yaitu “aku”. Sang “aku” ingin membasmi keberlainan dan menggantinya dengan Yang Sama.
Kegagalan mengenali Yang Lain sebagai manusia yang utuh, sebagai manusia yang sama dengan sang “aku” inilah yang berpotensi menyebabkan suatu konflik antaragama. Hardiman menulis,
“Dengan yang dianggap sebagai sesama manusia tidak akan melakukan kekerasan karena dirinya tercermin di dalam yang sama itu. ‘Yang sama mengenal yang sama,’ demikian tulis Empedokles dua setengah milenium yang silam. Kalau demikian, kekerasan dilakukan bukan terhadap yang sama, melainkan yang lain. Korban dipersepsi dengan cara yang khas sedemikian rupa sehingga di hadapan pelaku tampil dalam sosoknya yang terasing. Dia asing bukan sekadar sebagai penduduk, warga negara atau pengikut sebuah kelompok, melainkan-lebih dari itu-asing sebagai manusia. Dengan kata lain, korban didehumanisasikan dan didepersonalisasikan sampai pada status obyek.”[4]

Yang Lain adalah sesuatu Yang Asing. Yang Lain dihapuskan ciri kemanusiaannya dan kemudian dijadikan objek yang berada dalam konstruksi totaliter sang “aku”. Dalam bentuk kebencian yang sangat ekstrim terhadap Yang Lain, kita bisa meminjam kalimat terkenal milik Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme Perancis. Ia mengatakan, “Orang lain adalah neraka.”
                                    
B.                  Cita-cita untuk Menjadi Saleh
Pada bagian ini saya akan mendasarkan diri pada alur pemikiran Reza Wattimena dalam buku Dunia dalam Gelembung (2013). Menurut Reza, terdapat sebuah paradoks kesalehan pada diri seseorang: ketika seorang saleh  mencoba memberi welcome kepada yang lain, yang berbeda dengan agamanya (ataupun aliran agamanya), ia akan terancam menjadi tidak saleh.
“Setiap agama memiliki versi kesalehannya sendiri, yang seringkali tidak cocok dengan agama lainnya. Pada titik inilah masalahnya muncul; orang-orang saleh religius dikutuk untuk tidak bisa hidup bersama, karena mereka terperangkap dalam versi kesalehannya masing-masing. [...] Dan setiap tradisi religius, agama, memiliki sikap tertutupnya masing-masing, terutama untuk mempertahankan keunikan ciri identitasnya. Pada titik ini, kita juga menemukan paradoks; semakin orang saleh dalam satu agama, semakin ia sulit untuk hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda, maka semakin ia tidak saleh.
                                                              
Saya menyebutnya sebagai paradoks kesalehan, yakni semakin orang saleh, maka ia semakin kehilangan kesalehannya. Masalah ini semakin terasa, ketika kita hidup di dalam masyarakat multikultur. Dalam arti ini, kultur adalah bentuk-bentuk cara hidup, dan multikultur berarti ada banyak bentuk-bentuk cara hidup yang tersebar di dalam suatu masyarakat. Di dalam suatu masyarakat dengan beragam bentuk-bentuk cara hidup, orang-orang saleh akan sulit untuk menjadi ‘saleh’.”[5]

Salah satu faktor yang mampu menyebabkan suatu umat beragama mengalami apa yang Reza sebut sebagai paradoks kesalehan ini adalah suatu penerapan atas sikap ekslusif dan dogmatis atas agamanya sendiri. Para ekstremis agama memandang dirinya sebagai satu-satunya penerima wahyu yang memiliki kebenaran mutlak dari Tuhan sehingga menganggap Yang Lain (aliran dan umat agama yang berbeda dengannya) sebagai Yang Tak Sama dan kemudian harus disingkirkan atau di-sama-kan. Hal ini bisa jadi salah satu titik tolak cita-cita untuk menjadi saleh dari kaum ekstremis agama tersebut.  Reza Wattimena menulis dalam karyanya, Dunia Dalam Gelembung (2013: 79):
“[...] sikap biadab itu tidaklah melulu berakar pada kejahatan manusia, melainkan pada niatnya untuk menjadi saleh. Orang-orang yang menyiksa, membunuh, dan membakar atas nama agama justru adalah orang-orang yang bercita-cita untuk menjadi orang saleh.”

                                                          
2.      Siapa Itu Yang Lain?
Pada bagian pertama kita seringkali membahas mengenai Yang Lain. Pada bagian ini kita akan bersama-sama menyelami kedalaman laut Yang Lain. Yang Lain adalah sesuatu yang berbeda dengan Yang Sama. Yang Lain memiliki suatu ciri khusus yang eksklusif yang membuatnya tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori Yang Sama. For instance: si Bono adalah fans dari Barcelona, klub sepakbola asal Catalan (Spanyol). Dalam pandangan para fans Real Madrid, yang notabene musuh bebuyutan Barcelona, Bono tidak akan pernah bisa dianggap sebagai Yang Sama (menjadi fans Real Madrid) karena ia memiliki ciri-ciri khusus yang tidak ada di Real Madrid, seperti Ia sering memakai Jersey biru-merah bergaris yang merupakan jersey khas punggawa Barcelona, ia sering mengalungkan syal bertuliskan “FC Barcelona” di lehernya ketika nonton bareng pertandingan sepakbola Barcelona, dst. Secara otomatis, ia pun tidak memiliki ciri-ciri khusus dalam diri fans Real Madrid: memakai jersey putih khas Real Madrid, memakai jaket berlambang Real Madrid, dst.
 Saya tertarik untuk memberikan sebuah deskripsi mengenai Yang Lain dari Slavoj Žižek, seorang filsuf kontemporer Slovenia dan Emmanuel Levinas, seorang filsuf-moralis Perancis. Pertama, saya akan memaparkan mengenai Slavoj Žižek. Saya akan mengacu pada tulisan milik Reza Wattimena dalam penafsirannya terhadap Žižek dalam buku Dunia Dalam Gelembung. Ia menulis,
“Orang lain,” demikian tulisnya, “sejatinya, selalu berbeda, dan selalu mengancam cara hidup dan gaya berpikir kita dengan keberbedaannya tersebut. [...] Orang lain adalah suatu realitas yang unik, yang tak dapat kita kurung dalam harapan ataupun pikiran yang kita punya. Orang lain adalah realitas yang nyata, yang tak dapat kita hindari dengan ilusi-ilusi harapan yang kita punya tentangnya.”[6]        

Menurut Žižek, Yang Lain adalah The Real. The Real adalah orang lain dengan segala kelemahan, keanehan, dan kesalahan traumatik yang kapan saja dapat mengganggu dan memecah rutinitas keseharian kita. Di sini, kaum ekstremis agama kurang siap —jika tidak dikatakan tidak siap— menghadapi Yang Lain sebagai The Real yang mengganggu ke-sama-an dan kebenaran mereka. Bagi mereka,  karena The Real akan mengancam kenyamanan dan misi mereka, The Real harus dimasukkan ke dalam sebuah karung dan lalu dimasukkan ke nyala api yang membara!
Kedua, mengenai pemikiran Levinas saya akan mengacu pada tulisan Felix Baghi dalam buku miliknya, Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan (2012). Menurut penafsiran Felix, filsafat Levinas memusatkan diri pada realitas Yang Lain atau filsafat heteronomi. Felix menulis,
“Filsafat heteronomi tidak berbicara tentang Yang lain sebagai objek eksternal di luar kesadaran manusia. Ia berbicara tentang Yang Lain sebagai yang heteronom dan dicirikan oleh aspek transendensi. Transendensi di sini dapat dimengerti sebagai suatu keberanian radikal yang melampaui sekadar pemahaman yang ontologis. Ia memiliki dimensi dari atas. [...] Kebenarannya datang dari atas. Dia melampaui segala.”[7]
Levinas dalam karyanya, Totalité et Infiniti,  seringkali menggunakan kata “yang tak berhingga” dan “yang melampaui”. Dua dimensi tersebut merujuk pada suatu realitas Yang Lain, realitas yang berada diseberang: yang transenden. (Baghi, 2012) Levinas ingin mengkritik bangunan filsafat barat yang dimulai dengan cogito Descartes yang menurutnya menumbuhkan benih-benih subur filsafat totalitas.[8] Hal ini membuat filsafat melupakan Yang Lain.
Menurut Levinas, Yang Lain adalah Yang lemah, Yang datang dengan kerentanannya untuk menggugah tanggung jawab “aku”. Definsi Yang Lain menurut Levinas, berdasarkan penelitian Felix (2012), yakni, (1) Yang Lain sebagai Yang Eksterior, (2) Yang Lain sebagai Yang Heteronom, dan (3) Yang Lain sebagai Yang Tidak Berhingga. Saya akan mencoba menjelaskannya secara singkat. Pertama, Yang Lain sebagai Yang Eksterior bukanlah realitas yang berada lepas dari kesadaran, melainkan merujuk pada suatu realitas transenden, yang melampaui sang “aku”  yang berada di seberang sana.
“[...] apabila melihat dari tujuan filsafat Levinas, arti term yang eksterior sesungguhnya merujuk pada suatu realitas yang transenden, yaitu realitas yang melampaui dunia kesadaranku. Ia adalah realitas di luar dari sebagai konteks pemahamanku. Hal seperti ini tentu mengandung kemungkinan untuk tidak dapat dinegasi begitu saja. Dalam filsafat Levinas, tidak ada yang dinamakan penyangkalan eksterioritas –négation d’exteriorité. Yang ada hanyalah afirmasi eksterioritas (afirmation d’exteriorité) sebagai jalan untuk pengakuan.[9]

Kedua, Yang Lain sebagai Yang Heteronom. Menurut Felix (2012), Yang Lain bukanlah suatu bentuk objek, Yang Lain adalah fakta heteronom —dengan segala keberlainannya— yang niscaya yang tidak bisa dibantah dan dengan mudah kita reduksi dan kita dominasi secara penuh-diri. Ketiga, Yang Lain sebagai Yang Tidak Berhingga (infiniti). Maksudnya adalah bahwa Yang Lain sebagai realitas ketidakberhinggaan tidak dapat digapai sepenuhnya oleh pikiran, meskipun pikiran mempunyai ide tentangnya —karena keberlainan Yang Lain melampaui ide tentang dirinya sebagai Yang Tidak Berhingga itu! (Baghi, 2012: 31).
3.      Beberapa Tawaran Perspektif
Kita telah memasuki bagian terakhir dari pembahasan kita dalam tulisan ini. Pada bagian awal, kita telah mencoba menganalisis faktor-faktor penyebab konflik antaragama melalui bantuan pemikiran Budi Hardiman dan Reza Wattimena. Kemudian, kita mencoba memahami Yang Lain dengan memaparkan pemikiran dua orang filsuf, Slavoj Žižek dan Emmanuel Levinas via bantuan dari Reza Wattimena dan Felix Baghi. Pada bagian ini saya akan mencoba menawarkan beberapa tawaran perspektif untuk mencoba merefleksikan apa yang terjadi dan mengajak kita untuk memahami Yang Lain (umat agama lain). Pertama, dimulai dengan sebuah tawaran untuk menjadi umat yang moderat dan memiliki prinsip toleransi pemikiran, dan kemudian saya akan meminjam kembali penelitian Reza Wattimena untuk mencoba membahas tawaran perspektif mengenai Yang Lain (The Real) dari Slavoj Žižek.
Menjadi Moderat dan Ber-Prinsip Toleransi Pemikiran
Permasalahan fundamental dari konflik antaragama terdapat pada kegagalan dalam proses pengenalan dengan Yang Lain. Yang lain dianggap sebagai yang harus dipaksa untuk menyingkir dan harus dibasmi. Hal ini karena kaum ekstremis agama memegang nilai-nilai ekskusif agama dengan membabi-buta, dengan dogmatis, dan akhirnya melupakan yang Lain, mereduksi Yang Lain.
Pertama, saya ingin menawarkan sebuah perspektif untuk menjadi umat beragama yang moderat, yakni umat beragama yang memegang nilai-nilai agama tanpa harus mereduksi umat agama lain. Umat beragama yang mampu ber-apropriasi, yakni sebuah kemampuan untuk memahami dan mengambil perspektif atau pun ide dari Yang Lain tanpa hanyut ke dalam aliran pemikirannya (karena bisa saja kita menuju muara yang banyak buaya ganas!). Hal ini dapat dilakukan dengan mencoba mendengarkan ucapan atau argumen umat agama lain, memberi tempat untuk umat lain mengisi hidupnya, dan berelasi antar sesama manusia, serta bersiap mendengarkan kritik yang dilontarkan dari umat agama lain itu. Ingat, kritik bukan melulu mengenai destruksi. Kritik bukanlah sebuah ejekan, celaan, hinaan. Kritik adalah suatu tanggapan mendalam (secara sistematis dan runtut) terhadap sesuatu dengan disertai pertimbangan yang jelas (baik ataupun buruk).
Kritik yang baik ialah kritik yang memperhatikan keberadaan yang lain, tidak melontarkan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang pribadi seseorang tersebut, misalnya, ketika ia memiliki pemikiran filsafat manusia yang buruk, kita tidak boleh mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena kehidupan orang itu suram, keluarganya hancur, berasal dari almamater yang rendah, dlsb) dan mempunyai dasar yang jelas dan sistematis.
Kedua, saya ingin mengajukan perspektif mengenai sebuah prinsip toleransi pemikiran. Saya akan meminjam analisis Hardiman (2012) terhadap pemikiran Norberto Bobbio, seorang filsuf Italia, mengenai distingsi atas toleransi dan intoleransi dalam pembahasannya mengenai negara. Di sini, kita akan fokus pada pembedaan murni antara toleransi intoleran. Ia menulis dalam artkelnya bahwa Bobbio membagi dua macam toleransi dan dua macam intoleransi.
Yang pertama mengenai toleransi. Toleransi memiliki dua pembedaan kutub, (1) kutub positif dan (2) kutub negatif. Contoh untuk kutub pertama, menurut Hardiman adalah ketika seseorang respek terhadap orang-orang yang memiliki iman, pemikiran, atau keturunan yang berbeda. Lalu, untuk toleransi dalam artian negatif, yakni (masih meminjam Hardiman) suatu sikap pembiaran ataupun ketidakpedulian terhadap kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan terhadap mereka yang berbeda.
Lalu, kedua mengenai intoleransi. Intoleransi pun dapat dibagi menjadi dua macam, dalam arti positif dan negatif. Dalam arti positif ini intoleransi adalah sikap tegas (tidak memihak pada golongan, kelompok, atau umat beragama tertentu dalam memutuskan keadilan), konsekuen, atau taat asas. Dan dalam arti negatif, for instance, seperti aksi-aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam bentuk pembakaran tempat ibadah, pembubaran ibadah, ataupun penganiayaan.
Dengan berbekal pengetahuan mengenai distingsi antara toleransi dan intoleransi di atas, saya —seperti yang sedari tadi dijelaskan— ingin menawarkan sebuah prinsip toleransi pemikiran. Apa itu prinsip toleransi pemikiran? Adalah sebuah prinsip yang memiliki dasar toleransi dan intoleransi dalam arti positif, yakni memberikan ruang bagi umat lain untuk membangun suatu diskursus yang komunikatif dan bebas dominasi (meminjam Habermas), mampu ber-apropriasi dengan baik dan tegas dalam hal keadilan dan pluralitas.
Menjadi umat beragama yang moderat dan ber-prinsip toleransi pemikiran. Setujukah engkau, kawan?

Bersiap Kecewa Untuk Menghadapi The Real
Pada bagian terakhir ini saya akan menawarkan sebuah prinsip-berani-kecewa dari seorang Slavoj Žižek. Seperti yang telah dijelaskan di atas saya akan mengacu pada tulisan Reza Wattimena dalam buku Dunia dalam Gelembung (2013) untuk memaparkan pemikiran sang filsuf.
Berhubungan dengan Yang Lain butuh sebuah prinsip berani kecewa. Terdengar sedikit pesimis, namun yang dimaksud Žižek mengenai hal ini ialah bahwa Yang Lain sebagai The Real merupakan yang traumatis, yang tidak bisa “aku” kontruksikan semau-“ku”. Mencintai (ataupun berhubungan) Yang lain bukanlah melulu pada sisi positifnya. Kita perlu memahami dan bersiap untuk menyelami sisi negatif dari Yang Lain itu. Reza menulis dalam penafsirannya atas pemikiran Žižek,
“Mencintai orang lain berarti mencintai tidak hanya sisi-sisi baiknya, tetapi juga sisi-sisi traumatis yang tak terduga, yang terkandung di dalam dirinya. Mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya. Mencintai baru bisa dianggap sungguh mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun keinginan kita.”[10]
Berdasarkan pemaparan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk berhubungan, untuk mencintai Yang Lain dibutuhkan sikap berani kecewa karena Yang Lain tidak bisa dengan mudah kita reduksi dalam kontruksi pikiran kita. Yang Lain adalah yang otonom. Dengan memiliki sikap berani kecewa tersebut kita akan mampu mendalami dan ber-apropriasi dalam perspektif Yang Lain untuk mencapai pemahaman bersama dan menjalani kehidupan bersama dengan menjunjung kerukunan dan sikap saling menghormati dalam iklim multikulturalisme di negeri ini. Well, untuk menutup tulisan ini izinkan saya untuk meminjam kalimat milik Jozef Pieniazek, “Manusia menjadi manusia melalui manusia lain.”[11]


















DAFTAR PUSTAKA

Baghi, Felix. Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan, Maumere: Ledalero, 2012.
Budi Hardiman, F. Massa, Teror dan Trauma, Maumere: Ledalero dan Yogyakarta: Lamalera, 2011.
 Wattimena, Reza AA.  Dunia Dalam Gelembung, Jakarta: Evolitera, 2013.

Website:
Budi Hardiman, F, “Toleransi atas Intoleransi”, dalam Http://nasional.kompas.com/-read/2012/05/30/02030461/Toleransi.atas.Intoleransi (diakses pada 04/04/2014 pukul 12:02)



[1] Lih. Reza AA. Wattimena, Dunia Dalam Gelembung (Jakarta: Evolitera, 2013), hlm. 39.
[2] “Aku” di sini dianggap sebuah representasi dari Yang Sama (dalam tulisan ini, kelompok ekstremis agama).
[3] Lih. F. Budi Hardiman, Massa, Teror dan Trauma, (Maumere: Ledalero dan Yogyakarta: Lamalera, 2011), hlm. 113.
[4] Loc. cit.
[5] Lih. Wattimena, Dunia Dalam Gelembung, op cit., hlm. 79-80.
[6]Ibid., hlm. 121.
[7] Lih. Felix Baghi, Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan, (Maumere: Ledalero, 2012), hlm. 28.
[8] Ibid., hlm. 18.                                        
[9] Ibid., hlm. 29.
[10] Lih.  Wattimena, Dunia Dalam Gelembung, op cit., hlm. 120.
[11] Baghi, Alteritas, op.cit., hlm. Vii.

Tidak ada komentar: