Oleh: Aldo Fernando
“Bukankah kita hidup di Bumi, Bumi yang
sama, dunia yang sama?”
-Lirik
dari Police Militia-
Pendahuluan
“Kamilah yang benar! Kamilah yang paling benar,
oleh karena itu Yang Lain dari kami haruslah dihabisi.” Kira-kira demikianlah
klaim kebenaran angkuh dari para ekstremis agama. Mereka menahbiskan (aliran)
agama merekalah yang benar, seolah-olah agama lain sebagai agama yang salah
secara mutlak.
Konflik. Kehidupan manusia tak pernah mampu
dilepaskan daripada konflik dan juga perang. Hal itu seperti sudah inheren
dalam perjalanan hidup manusia. Reza pernah menulis dalam Dunia Dalam
Gelembung:
“Konflik dan perang
memang tak bisa dipisahkan dari hidup manusia. Seluruh tata dunia sekarang ini
juga lahir dari perang dan konflik berdarah antar manusia. Karena perang,
negara lahir. Karena perang, perjanjian dibuat, dan tata dunia pun terbentuk.”[1]
Di sini saya akan mencoba membahas mengenai
konflik antaragama yang terjadi di Indonesia. Konflik Sampang, Maluku, Poso,
penganiayaan atas jemaah Ahmadiyah, pembakaran gereja ditambah sejumlah kasus lainnya
menjadi contoh dari perwujudan atas klaim kebenaran mutlak dari para ekstremis
agama di negara kita, Indonesia. Konflik-konflik antaragama yang terjadi di
Indonesia semakin meresahkan kita. Apa sih penyebabnya?
Di dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan masalah
konflik antaragama di Indonesia dengan membagi tulisan menjadi tiga bagian. Pada
bagian pertama, saya akan mencoba mengajak para pembaca yang budiman untuk
bersama-sama memahami penyebab konflik antaraagama. Kedua, kita akan mencoba
menyelami pertanyaan siapa itu yang lain?.
Dan ketiga, saya akan memberikan beberapa tawaran perspektif mengenai masalah
konflik antaragama di Indonesia.
1. Penyebab Konflik Antaragama
Konflik antaragama yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia
memilik motif yang bermacam-macam, mulai dari perbedaan pandangan,
ekonomi-politik dan bahkan sebagai sebuah manifestasi kesalehan seseorang atas
nama agamanya. Di bagian ini, saya akan mencoba menyoroti dua faktor sebagai
penyebab pertikaian antaragama di Indonesia. Pertama, saya akan membahas
mengenai kegagalan mengenal yang lain. Pada faktor ini, saya akan mengacu pada
pemikiran Budi Hardiman dalam buku Massa, Teror dan Trauma (2011). Kedua, saya
akan fokus pada aspek kesalehan yang
mana saya akan mengacu pada pemikiran Reza Wattimena dalam buku Dunia Dalam
Gelembung (2013).
A.
Kegagalan Mengenal Yang Lain
Para ekstremis agama yang dengan mudahnya mencoba melenyapkan
kelompok agama lain menunjukkan adanya sebuah gejala dari kegagalan mengenal
yang lain. Mereka menganggap Yang Lain sebagai yang berbeda dengan sang “aku”[2].
Yang Lain adalah “kamu” yang bukan bagian dari “aku”. “Kamu” merupakan hasil
konstruksi dari sang “aku”.[3]
Yang lain sebagai “kamu” di sini dikontruksi secara sewenang-wenang oleh “aku”
yang egosentris; “aku” yang selalu ingin mendominasi secara penuh atas proses pengenalan
dengan sang “kamu”. “Kamu” bukanlah manusia. “Aku”-lah yang manusia, jadi,
“aku”-lah yang mutlak berkuasa atas proses pengenalan dengan “kamu”. “Aku”
berharap untuk menyingkirkan “kamu”, Yang Lain,
yang berbeda dengan Yang Sama, yaitu “aku”. Sang “aku” ingin membasmi
keberlainan dan menggantinya dengan Yang Sama.
Kegagalan mengenali Yang Lain sebagai manusia yang utuh,
sebagai manusia yang sama dengan sang “aku” inilah yang berpotensi menyebabkan
suatu konflik antaragama. Hardiman menulis,
“Dengan yang dianggap sebagai sesama manusia tidak akan melakukan
kekerasan karena dirinya tercermin di dalam yang sama itu. ‘Yang sama mengenal
yang sama,’ demikian tulis Empedokles dua setengah milenium yang silam. Kalau
demikian, kekerasan dilakukan bukan terhadap yang sama, melainkan yang lain.
Korban dipersepsi dengan cara yang khas sedemikian rupa sehingga di hadapan
pelaku tampil dalam sosoknya yang terasing. Dia asing bukan sekadar sebagai
penduduk, warga negara atau pengikut sebuah kelompok, melainkan-lebih dari
itu-asing sebagai manusia. Dengan kata lain, korban didehumanisasikan dan
didepersonalisasikan sampai pada status obyek.”[4]
Yang Lain adalah sesuatu Yang
Asing. Yang Lain dihapuskan ciri kemanusiaannya dan kemudian dijadikan objek
yang berada dalam konstruksi totaliter sang “aku”. Dalam bentuk kebencian yang
sangat ekstrim terhadap Yang Lain, kita bisa meminjam kalimat terkenal milik
Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme Perancis. Ia mengatakan, “Orang lain
adalah neraka.”
B.
Cita-cita untuk Menjadi
Saleh
Pada bagian ini saya akan mendasarkan diri pada alur
pemikiran Reza Wattimena dalam buku Dunia dalam Gelembung (2013). Menurut Reza,
terdapat sebuah paradoks kesalehan pada diri seseorang: ketika seorang
saleh mencoba memberi welcome kepada yang lain, yang berbeda
dengan agamanya (ataupun aliran agamanya), ia akan terancam menjadi tidak
saleh.
“Setiap agama memiliki versi kesalehannya sendiri, yang seringkali
tidak cocok dengan agama lainnya. Pada titik inilah masalahnya muncul;
orang-orang saleh religius dikutuk untuk tidak bisa hidup bersama, karena
mereka terperangkap dalam versi kesalehannya masing-masing. [...] Dan setiap
tradisi religius, agama, memiliki sikap tertutupnya masing-masing, terutama
untuk mempertahankan keunikan ciri identitasnya. Pada titik ini, kita juga menemukan
paradoks; semakin orang saleh dalam satu agama, semakin ia sulit untuk hidup
bersama dengan orang-orang yang berbeda, maka semakin ia tidak saleh.
Saya menyebutnya sebagai paradoks kesalehan, yakni semakin orang saleh,
maka ia semakin kehilangan kesalehannya. Masalah ini semakin terasa, ketika
kita hidup di dalam masyarakat multikultur. Dalam arti ini, kultur adalah
bentuk-bentuk cara hidup, dan multikultur berarti ada banyak bentuk-bentuk cara
hidup yang tersebar di dalam suatu masyarakat. Di dalam suatu masyarakat dengan
beragam bentuk-bentuk cara hidup, orang-orang saleh akan sulit untuk menjadi ‘saleh’.”[5]
Salah satu faktor yang mampu menyebabkan suatu
umat beragama mengalami apa yang Reza sebut sebagai paradoks kesalehan ini adalah suatu penerapan atas sikap ekslusif
dan dogmatis atas agamanya sendiri. Para ekstremis agama memandang dirinya
sebagai satu-satunya penerima wahyu yang memiliki kebenaran mutlak dari Tuhan
sehingga menganggap Yang Lain (aliran dan umat agama yang berbeda dengannya)
sebagai Yang Tak Sama dan kemudian harus disingkirkan atau di-sama-kan. Hal ini
bisa jadi salah satu titik tolak cita-cita untuk menjadi saleh dari kaum
ekstremis agama tersebut. Reza Wattimena menulis dalam
karyanya, Dunia Dalam Gelembung (2013: 79):
“[...] sikap biadab itu tidaklah melulu berakar
pada kejahatan manusia, melainkan pada niatnya untuk menjadi saleh. Orang-orang
yang menyiksa, membunuh, dan membakar atas nama agama justru adalah orang-orang
yang bercita-cita untuk menjadi orang saleh.”
2. Siapa Itu Yang Lain?
Pada bagian pertama
kita seringkali membahas mengenai Yang
Lain. Pada bagian ini kita akan bersama-sama menyelami kedalaman laut Yang Lain. Yang Lain adalah sesuatu yang
berbeda dengan Yang Sama. Yang Lain memiliki suatu ciri khusus yang eksklusif
yang membuatnya tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori Yang Sama. For instance: si Bono adalah fans dari
Barcelona, klub sepakbola asal Catalan (Spanyol). Dalam pandangan para fans
Real Madrid, yang notabene musuh bebuyutan Barcelona, Bono tidak akan pernah
bisa dianggap sebagai Yang Sama (menjadi fans Real Madrid) karena ia memiliki
ciri-ciri khusus yang tidak ada di Real Madrid, seperti Ia sering memakai Jersey biru-merah bergaris yang
merupakan jersey khas punggawa Barcelona, ia sering mengalungkan syal
bertuliskan “FC Barcelona” di lehernya ketika nonton bareng pertandingan sepakbola Barcelona, dst. Secara
otomatis, ia pun tidak memiliki ciri-ciri khusus dalam diri fans Real Madrid:
memakai jersey putih khas Real Madrid, memakai jaket berlambang Real Madrid,
dst.
Saya tertarik untuk
memberikan sebuah deskripsi mengenai Yang Lain dari Slavoj Žižek, seorang filsuf kontemporer Slovenia dan Emmanuel Levinas, seorang
filsuf-moralis Perancis. Pertama, saya akan memaparkan mengenai Slavoj Žižek. Saya akan mengacu pada tulisan milik Reza Wattimena dalam penafsirannya terhadap Žižek dalam buku
Dunia Dalam Gelembung. Ia menulis,
“Orang lain,” demikian tulisnya, “sejatinya, selalu berbeda, dan
selalu mengancam cara hidup dan gaya berpikir kita dengan keberbedaannya
tersebut. [...] Orang lain adalah suatu realitas yang unik, yang tak dapat kita
kurung dalam harapan ataupun pikiran yang kita punya. Orang lain adalah
realitas yang nyata, yang tak dapat kita hindari dengan ilusi-ilusi harapan
yang kita punya tentangnya.”[6]
Menurut Žižek, Yang Lain
adalah The Real. The Real
adalah orang lain dengan segala kelemahan, keanehan, dan kesalahan traumatik
yang kapan saja dapat mengganggu dan memecah rutinitas keseharian kita. Di
sini, kaum ekstremis agama kurang siap —jika tidak dikatakan tidak siap—
menghadapi Yang Lain sebagai The Real yang
mengganggu ke-sama-an dan kebenaran mereka. Bagi mereka, karena The
Real akan mengancam kenyamanan dan misi mereka, The Real harus dimasukkan ke dalam sebuah karung dan lalu
dimasukkan ke nyala api yang membara!
Kedua, mengenai pemikiran Levinas
saya akan mengacu pada tulisan Felix Baghi dalam buku miliknya, Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas,
Persahabatan (2012). Menurut penafsiran Felix, filsafat Levinas memusatkan diri
pada realitas Yang Lain atau filsafat heteronomi. Felix menulis,
“Filsafat heteronomi tidak
berbicara tentang Yang lain sebagai objek eksternal di luar kesadaran manusia.
Ia berbicara tentang Yang Lain sebagai yang heteronom dan dicirikan oleh aspek
transendensi. Transendensi di sini dapat dimengerti sebagai suatu keberanian
radikal yang melampaui sekadar pemahaman yang ontologis. Ia memiliki dimensi
dari atas. [...] Kebenarannya datang dari atas. Dia melampaui segala.”[7]
Levinas dalam karyanya, Totalité et Infiniti, seringkali menggunakan kata “yang tak
berhingga” dan “yang melampaui”. Dua dimensi tersebut merujuk pada suatu
realitas Yang Lain, realitas yang berada diseberang: yang transenden. (Baghi, 2012)
Levinas ingin mengkritik bangunan filsafat barat yang dimulai dengan cogito Descartes yang menurutnya
menumbuhkan benih-benih subur filsafat totalitas.[8] Hal ini membuat filsafat
melupakan Yang Lain.
Menurut Levinas, Yang Lain adalah
Yang lemah, Yang datang dengan kerentanannya untuk menggugah tanggung jawab
“aku”. Definsi Yang Lain menurut Levinas, berdasarkan penelitian Felix (2012),
yakni, (1) Yang Lain sebagai Yang Eksterior, (2) Yang Lain sebagai Yang
Heteronom, dan (3) Yang Lain sebagai Yang Tidak Berhingga. Saya akan mencoba
menjelaskannya secara singkat. Pertama,
Yang Lain sebagai Yang Eksterior bukanlah realitas yang berada lepas dari
kesadaran, melainkan merujuk pada suatu realitas transenden, yang melampaui
sang “aku” yang berada di seberang sana.
“[...] apabila melihat
dari tujuan filsafat Levinas, arti term yang eksterior sesungguhnya merujuk
pada suatu realitas yang transenden, yaitu realitas yang melampaui dunia
kesadaranku. Ia adalah realitas di luar dari sebagai konteks pemahamanku. Hal
seperti ini tentu mengandung kemungkinan untuk tidak dapat dinegasi begitu
saja. Dalam filsafat Levinas, tidak ada yang dinamakan penyangkalan
eksterioritas –négation d’exteriorité. Yang
ada hanyalah afirmasi eksterioritas (afirmation
d’exteriorité) sebagai jalan untuk
pengakuan.”[9]
Kedua, Yang Lain sebagai Yang Heteronom. Menurut Felix (2012), Yang
Lain bukanlah suatu bentuk objek, Yang Lain adalah fakta heteronom —dengan
segala keberlainannya— yang niscaya yang tidak bisa dibantah dan dengan mudah
kita reduksi dan kita dominasi secara penuh-diri. Ketiga, Yang Lain sebagai Yang Tidak Berhingga (infiniti). Maksudnya adalah bahwa Yang
Lain sebagai realitas ketidakberhinggaan tidak dapat digapai sepenuhnya oleh
pikiran, meskipun pikiran mempunyai ide tentangnya —karena keberlainan Yang
Lain melampaui ide tentang dirinya sebagai Yang Tidak Berhingga itu! (Baghi,
2012: 31).
3. Beberapa Tawaran Perspektif
Kita telah memasuki bagian terakhir
dari pembahasan kita dalam tulisan ini. Pada bagian awal, kita telah mencoba
menganalisis faktor-faktor penyebab konflik antaragama melalui bantuan
pemikiran Budi Hardiman dan Reza Wattimena. Kemudian, kita mencoba memahami Yang
Lain dengan memaparkan pemikiran dua orang filsuf, Slavoj Žižek dan Emmanuel Levinas via bantuan dari Reza Wattimena dan
Felix Baghi. Pada bagian ini saya akan mencoba menawarkan beberapa tawaran
perspektif untuk mencoba merefleksikan apa yang terjadi dan mengajak kita untuk
memahami Yang Lain (umat agama lain). Pertama, dimulai dengan sebuah tawaran
untuk menjadi umat yang moderat dan memiliki prinsip toleransi pemikiran, dan kemudian
saya akan meminjam kembali penelitian Reza Wattimena untuk mencoba membahas
tawaran perspektif mengenai Yang Lain (The
Real) dari Slavoj Žižek.
Menjadi Moderat dan Ber-Prinsip Toleransi Pemikiran
Permasalahan fundamental dari
konflik antaragama terdapat pada kegagalan dalam proses pengenalan dengan Yang
Lain. Yang lain dianggap sebagai yang harus dipaksa untuk menyingkir dan harus
dibasmi. Hal ini karena kaum ekstremis agama memegang nilai-nilai ekskusif
agama dengan membabi-buta, dengan dogmatis, dan akhirnya melupakan yang Lain,
mereduksi Yang Lain.
Pertama, saya ingin menawarkan
sebuah perspektif untuk menjadi umat beragama yang moderat, yakni umat beragama
yang memegang nilai-nilai agama tanpa harus mereduksi umat agama lain. Umat
beragama yang mampu ber-apropriasi, yakni sebuah kemampuan untuk memahami dan
mengambil perspektif atau pun ide dari Yang Lain tanpa hanyut ke dalam aliran
pemikirannya (karena bisa saja kita menuju muara yang banyak buaya ganas!). Hal
ini dapat dilakukan dengan mencoba mendengarkan ucapan atau argumen umat agama
lain, memberi tempat untuk umat lain mengisi hidupnya, dan berelasi antar
sesama manusia, serta bersiap mendengarkan kritik yang dilontarkan dari umat
agama lain itu. Ingat, kritik bukan melulu mengenai destruksi. Kritik bukanlah
sebuah ejekan, celaan, hinaan. Kritik adalah suatu tanggapan mendalam (secara
sistematis dan runtut) terhadap sesuatu dengan disertai pertimbangan yang jelas
(baik ataupun buruk).
Kritik yang baik ialah kritik
yang memperhatikan keberadaan yang lain, tidak melontarkan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang pribadi seseorang
tersebut, misalnya, ketika ia memiliki pemikiran filsafat manusia yang buruk,
kita tidak boleh mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena kehidupan orang itu
suram, keluarganya hancur, berasal dari almamater yang rendah, dlsb) dan
mempunyai dasar yang jelas dan sistematis.
Kedua, saya ingin mengajukan perspektif mengenai sebuah prinsip
toleransi pemikiran. Saya akan meminjam analisis Hardiman (2012) terhadap
pemikiran Norberto Bobbio, seorang filsuf
Italia, mengenai distingsi atas toleransi
dan intoleransi dalam pembahasannya mengenai negara. Di sini, kita akan fokus
pada pembedaan murni antara toleransi intoleran. Ia menulis dalam artkelnya
bahwa Bobbio membagi dua macam toleransi dan dua macam intoleransi.
Yang pertama mengenai toleransi. Toleransi memiliki
dua pembedaan kutub, (1) kutub positif dan (2) kutub negatif. Contoh untuk
kutub pertama, menurut Hardiman adalah ketika seseorang respek terhadap orang-orang yang memiliki iman,
pemikiran, atau keturunan yang berbeda. Lalu, untuk toleransi dalam artian
negatif, yakni (masih meminjam Hardiman) suatu sikap pembiaran ataupun
ketidakpedulian terhadap kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan terhadap
mereka yang berbeda.
Lalu, kedua mengenai intoleransi. Intoleransi
pun dapat dibagi menjadi dua macam, dalam arti positif dan negatif. Dalam arti
positif ini intoleransi adalah sikap tegas (tidak memihak pada golongan,
kelompok, atau umat beragama tertentu dalam memutuskan keadilan), konsekuen,
atau taat asas. Dan dalam arti negatif, for
instance, seperti aksi-aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam
bentuk pembakaran tempat ibadah, pembubaran ibadah, ataupun penganiayaan.
Dengan berbekal pengetahuan mengenai
distingsi antara toleransi dan intoleransi di atas, saya —seperti yang sedari
tadi dijelaskan— ingin menawarkan sebuah prinsip toleransi pemikiran. Apa itu
prinsip toleransi pemikiran? Adalah sebuah prinsip yang memiliki dasar toleransi
dan intoleransi dalam arti positif, yakni memberikan ruang bagi umat lain untuk
membangun suatu diskursus yang komunikatif dan bebas dominasi (meminjam
Habermas), mampu ber-apropriasi dengan baik dan tegas dalam hal keadilan dan
pluralitas.
Menjadi umat beragama yang moderat dan
ber-prinsip toleransi pemikiran. Setujukah engkau, kawan?
Bersiap Kecewa Untuk Menghadapi The Real
Pada bagian
terakhir ini saya akan menawarkan sebuah prinsip-berani-kecewa dari seorang
Slavoj Žižek. Seperti yang telah
dijelaskan di atas saya akan mengacu pada tulisan Reza Wattimena dalam buku
Dunia dalam Gelembung (2013) untuk memaparkan pemikiran sang filsuf.
Berhubungan
dengan Yang Lain butuh sebuah prinsip berani kecewa. Terdengar sedikit pesimis,
namun yang dimaksud Žižek mengenai hal
ini ialah bahwa Yang Lain sebagai The Real merupakan yang traumatis, yang tidak
bisa “aku” kontruksikan semau-“ku”. Mencintai (ataupun berhubungan) Yang lain
bukanlah melulu pada sisi positifnya. Kita perlu memahami dan bersiap untuk
menyelami sisi negatif dari Yang Lain itu. Reza menulis dalam penafsirannya
atas pemikiran Žižek,
“Mencintai orang lain berarti mencintai tidak hanya sisi-sisi baiknya,
tetapi juga sisi-sisi traumatis yang tak terduga, yang terkandung di dalam
dirinya. Mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita
sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya. Mencintai baru bisa dianggap sungguh
mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat
kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun
keinginan kita.”[10]
Berdasarkan
pemaparan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk berhubungan, untuk
mencintai Yang Lain dibutuhkan sikap berani kecewa karena Yang Lain tidak bisa
dengan mudah kita reduksi dalam kontruksi pikiran kita. Yang Lain adalah yang
otonom. Dengan memiliki sikap berani kecewa tersebut kita akan mampu mendalami
dan ber-apropriasi dalam perspektif Yang Lain untuk mencapai pemahaman bersama
dan menjalani kehidupan bersama dengan menjunjung kerukunan dan sikap saling
menghormati dalam iklim multikulturalisme di negeri ini. Well, untuk menutup
tulisan ini izinkan saya untuk meminjam kalimat milik Jozef Pieniazek, “Manusia
menjadi manusia melalui manusia lain.”[11]
DAFTAR PUSTAKA
Baghi, Felix. Alteritas: Pengakuan,
Hospitalitas, Persahabatan, Maumere: Ledalero, 2012.
Budi Hardiman, F. Massa, Teror dan Trauma, Maumere:
Ledalero dan Yogyakarta: Lamalera, 2011.
Wattimena, Reza AA. Dunia
Dalam Gelembung, Jakarta: Evolitera, 2013.
Website:
Budi
Hardiman, F, “Toleransi atas Intoleransi”,
dalam Http://nasional.kompas.com/-read/2012/05/30/02030461/Toleransi.atas.Intoleransi
(diakses pada 04/04/2014 pukul 12:02)
[1] Lih.
Reza AA. Wattimena, Dunia Dalam Gelembung
(Jakarta: Evolitera, 2013), hlm. 39.
[2] “Aku” di
sini dianggap sebuah representasi dari Yang Sama (dalam tulisan ini, kelompok
ekstremis agama).
[3] Lih. F.
Budi Hardiman, Massa, Teror dan Trauma, (Maumere:
Ledalero dan Yogyakarta: Lamalera, 2011), hlm. 113.
[4] Loc. cit.
[5] Lih.
Wattimena, Dunia Dalam Gelembung, op
cit., hlm. 79-80.
[6]Ibid.,
hlm. 121.
[7] Lih.
Felix Baghi, Alteritas: Pengakuan, Hospitalitas,
Persahabatan, (Maumere: Ledalero,
2012), hlm. 28.
[8]
Ibid., hlm. 18.
[9] Ibid.,
hlm. 29.
[10] Lih. Wattimena, Dunia
Dalam Gelembung, op cit., hlm. 120.
[11] Baghi, Alteritas, op.cit., hlm. Vii.
Tidak ada komentar: