FANA, Sepintas Cerita - LPPMD Unpad

Rabu, 10 Juni 2015

FANA, Sepintas Cerita



Oleh: Rachmadi Rasyad, Sastra Indonesia 2012
                                                       
Kendaraan-kendaraan saling mendahului pagi ini. Makian-makian terdengar beberapakali saja. Semuanya demi kedisiplinan atau bentuk penghargaan pada waktu yang tak kenal ampun. Asap kendaraan besar beroda empat yang berwarna hitam pun ikut mengusik kesabaran. Wajah-wajah yang telah dihiasi sedemikian rupa akhirnya hanya berhiaskan keringat. Bau parfum yang sebelumnya menyengat digantikan pula oleh bau khas orang jalanan. Semua menjadi sama, kecuali mereka yang duduk di kendaraan yang dilindungi kaca.
Menuju kampus. Poster-poster kegiatan seolah meminta perhatian untuk dipelototi. Tapi hari masih pagi! Terpelajar-terpelajar melintas memikul tas yang tampak menggelembung karena diisi buku-buku. Langkah mereka seperti biasanya tanpa keraguan. Seolah telah siap benar menyongsong kebahagiaan setelah lulus. Aktivis-aktivis pun telah tampak dengan almamater ditubuhnya, bersiap untuk bersuara di hadapan orang yang akan mereka tuntut. Demi rakyat! Spanduk-spanduk bertuliskan tuntutan yang berwarna merah-hitam dan berlatar putih dikibas-kibaskan pula. Juga, terdengar orasi sesaat dari seseorang berisikan ajakan dan makian pada mereka yang terlalu patuh pada akademik.
Sementara, terpelajar yang lain masih sibuk mengisi perut. Pedagang-pedagang berlomba mematut dagangannya agar tampak menarik. Poster-poster bertuliskan larangan berjualan di pinggir jalan diabaikan. Juga, poster mengenai kesehatan yang ditempeli di tembok-tembok oleh terpelajar Fakultas Kedokteran. Pengemis-pengemis pun masih tertidur tanpa beralaskan apapun di depan sebuah warung. Raut wajahnya mengisyaratkan perjuangan yang melebihi semua! Membutuhkan perjuangan keras untuk meminta sedikit rezeki dari orang yang kelebihan hartanya, apalagi di zaman modern seperti ini. Di mana tiap orang saling berebut untuk jadi nomor satu. Ah, terlalu individualistis.
Gedung megah tempat berkumpulnya pejabat kampus masih sepi. Beberapa penjaga saja yang telah tampak di beberapa tempat mengatur jalan. Kendaraan-kendaraan mewah melintas beberapakali, membuat siapapun terkagum tanpa berpikir darimana asal uang untuk membeli itu. Bunga-bunga di pelataran gedung disirami agar mekar dan membuat nyaman penglihatan. Semua peraturan di kawasan ini berasal dari otak pejabat yang ada di gedung itu. Kelahiran terpelajar pembaik dan penghancur pula!
Bendera merah-putih masih berkibar di depan gedung megah itu seolah pengamat yang setia memperhatikan tiap kejadian yang ada disitu. Jika dapat berkata, apa yang akan dikatakannya? Mungkin ia hanya akan mengeluh tentang makna kehadirannya, karena hanya saat-saat tertentu saja ia memiliki makna. Rentang waktu hingga ia bermakna terlalu jauh. Lantas, mengapa dibiarkan? Lebih baik diturunkan jika benda mati itu memang dihormati!
Para pekerja kebersihan mengayun-ngayunkan sapu menyisikan sisa daun gugur kemarin siang. Obrolan-obrolan tentang masa depan terdengar dari mulut mereka. Atau bahkan tentang masa kini, ketika kelaparan, pendidikan anak, dan perabot rumah tangga mengingati di setiap ayunan sapu. Orang-orang melintas membuang sisa makanan dari kendaraan. Mereka berlari, begitu cekatan demi membuat nyaman penglihatan orang-orang yang sebenarnya telah buta. Dan kelelahan mendera walau hari masih pagi. Air minum diteguk beberapakali. Yang lainnya bahkan tertidur pulas di sudut gedung tempat pencarian ilmu pengetahuan. Matahari mulai menampakkan wujudnya dengan sinar kekuningan. Mereka terbangun, berlari-lari lagi menyisikan sisa daun gugur atau sisa makanan-minuman yang dibuang. Begitu seterusnya berpuluh, beratus, atau beribu tahun mendatang.
Pembangunan disekitaran kampus makin ramai. Lahan-lahan pertanian diratakan. Masyarakat sekitar mengantri di sana demi perbaikan nasib. Kian kemari, yang dipecat darisana pun semakin ramai pula. Mencari tanah lagi, menyesali, dan mengutuki slogan pembangunan yang tak pernah berhenti. Zaman reformasi pun adalah zaman persaingan modal. Tak memiliki modal berarti disisihkan atau dianggap penghambat pembangunan.
Para aktivis pun makin bersuara memecah keramaian untuk melakukan pembelaan. Namun, peluru yang ditembakkan itu tak berhenti di titik tengah. Menyamping, jauh menyamping, karena mereka pun korban pembangunan. Atau karena idealisme yang semu: kapalsuan suara yang didasari dari kepentingan pemilik modal! Sehingga pendidikan bukan lagi dimaksudkan untuk memanusiakan manusia. Semuanya demi uang saja. Ya, manusia memang membutuhkan itu dan menyampingkan peradaban – nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Kampus semakin hidup. Para aktivis keagamaan menyerukan kebenaran yang mendamaikan. Ayat-ayat dalam kitab diucapkan beberapakali untuk meyakinkan. Sementara, diskusi-diskusi ilmu pengetahuan menggerogoti otak mereka yang mengikutinya. Buku-buku dari berbagai bidang keilmuan dirujuk sebagai gagasan untuk meyakinkan pula. Akal dan akhlak. Namun, penghisapan darah manusia oleh manusia terus berlangsung. Kematian dan kehidupan. Apa sesungguhnya tujuan dari hidup?
Hari-hari yang gelisah. Realistis atau kritis. Seolah jalan hanya antara kanan dan kiri. Langit pun tak pernah memberi kepastian, sehingga manusia mesti berdiri di atas kakinya sendiri. Dan langit akhirnya menangis. Semua aktivitas yang mulai hidup tadi dibubarkan oleh tangisnya. Walau adapula yang masih di tempat melawan tangisan langit. Rambut dan pakaian yang basah seolah tak menggubris keluarnya kata-kata dari mulut. Wajah-wajah dengan kerutan di kening, wajah-wajah yang menderita. Mereka itukah yang sedang menuju kebenaran hakiki?

Tidak ada komentar: