Oleh: Rachmadi Rasyad, Sastra Indonesia 2012
Kendaraan-kendaraan
saling mendahului pagi ini. Makian-makian terdengar beberapakali saja. Semuanya
demi kedisiplinan atau bentuk penghargaan pada waktu yang tak kenal ampun. Asap
kendaraan besar beroda empat yang berwarna hitam pun ikut mengusik kesabaran.
Wajah-wajah yang telah dihiasi sedemikian rupa akhirnya hanya berhiaskan
keringat. Bau parfum yang sebelumnya menyengat digantikan pula oleh bau khas
orang jalanan. Semua menjadi sama, kecuali mereka yang duduk di kendaraan yang dilindungi
kaca.
Menuju
kampus. Poster-poster kegiatan seolah meminta perhatian untuk dipelototi. Tapi
hari masih pagi! Terpelajar-terpelajar melintas memikul tas yang tampak
menggelembung karena diisi buku-buku. Langkah mereka seperti biasanya tanpa
keraguan. Seolah telah siap benar menyongsong kebahagiaan setelah lulus. Aktivis-aktivis
pun telah tampak dengan almamater ditubuhnya, bersiap untuk bersuara di hadapan
orang yang akan mereka tuntut. Demi rakyat! Spanduk-spanduk bertuliskan
tuntutan yang berwarna merah-hitam dan berlatar putih dikibas-kibaskan pula.
Juga, terdengar orasi sesaat dari seseorang berisikan ajakan dan makian pada
mereka yang terlalu patuh pada akademik.
Sementara,
terpelajar yang lain masih sibuk mengisi perut. Pedagang-pedagang berlomba
mematut dagangannya agar tampak menarik. Poster-poster bertuliskan larangan
berjualan di pinggir jalan diabaikan. Juga, poster mengenai kesehatan yang
ditempeli di tembok-tembok oleh terpelajar Fakultas Kedokteran. Pengemis-pengemis
pun masih tertidur tanpa beralaskan apapun di depan sebuah warung. Raut
wajahnya mengisyaratkan perjuangan yang melebihi semua! Membutuhkan perjuangan
keras untuk meminta sedikit rezeki dari orang yang kelebihan hartanya, apalagi
di zaman modern seperti ini. Di mana tiap orang saling berebut untuk jadi nomor
satu. Ah, terlalu individualistis.
Gedung
megah tempat berkumpulnya pejabat kampus masih sepi. Beberapa penjaga saja yang
telah tampak di beberapa tempat mengatur jalan. Kendaraan-kendaraan mewah
melintas beberapakali, membuat siapapun terkagum tanpa berpikir darimana asal
uang untuk membeli itu. Bunga-bunga di pelataran gedung disirami agar mekar dan
membuat nyaman penglihatan. Semua peraturan di kawasan ini berasal dari otak
pejabat yang ada di gedung itu. Kelahiran terpelajar pembaik dan penghancur
pula!
Bendera
merah-putih masih berkibar di depan gedung megah itu seolah pengamat yang setia
memperhatikan tiap kejadian yang ada disitu. Jika dapat berkata, apa yang akan
dikatakannya? Mungkin ia hanya akan mengeluh tentang makna kehadirannya, karena
hanya saat-saat tertentu saja ia memiliki makna. Rentang waktu hingga ia
bermakna terlalu jauh. Lantas, mengapa dibiarkan? Lebih baik diturunkan jika
benda mati itu memang dihormati!
Para
pekerja kebersihan mengayun-ngayunkan sapu menyisikan sisa daun gugur kemarin
siang. Obrolan-obrolan tentang masa depan terdengar dari mulut mereka. Atau
bahkan tentang masa kini, ketika kelaparan, pendidikan anak, dan perabot rumah
tangga mengingati di setiap ayunan sapu. Orang-orang melintas membuang sisa
makanan dari kendaraan. Mereka berlari, begitu cekatan demi membuat nyaman
penglihatan orang-orang yang sebenarnya telah buta. Dan kelelahan mendera walau
hari masih pagi. Air minum diteguk beberapakali. Yang lainnya bahkan tertidur
pulas di sudut gedung tempat pencarian ilmu pengetahuan. Matahari mulai
menampakkan wujudnya dengan sinar kekuningan. Mereka terbangun, berlari-lari
lagi menyisikan sisa daun gugur atau sisa makanan-minuman yang dibuang. Begitu
seterusnya berpuluh, beratus, atau beribu tahun mendatang.
Pembangunan
disekitaran kampus makin ramai. Lahan-lahan pertanian diratakan. Masyarakat
sekitar mengantri di sana demi perbaikan nasib. Kian kemari, yang dipecat
darisana pun semakin ramai pula. Mencari tanah lagi, menyesali, dan mengutuki
slogan pembangunan yang tak pernah berhenti. Zaman reformasi pun adalah zaman
persaingan modal. Tak memiliki modal berarti disisihkan atau dianggap
penghambat pembangunan.
Para
aktivis pun makin bersuara memecah keramaian untuk melakukan pembelaan. Namun,
peluru yang ditembakkan itu tak berhenti di titik tengah. Menyamping, jauh
menyamping, karena mereka pun korban pembangunan. Atau karena idealisme yang
semu: kapalsuan suara yang didasari dari kepentingan pemilik modal! Sehingga
pendidikan bukan lagi dimaksudkan untuk memanusiakan manusia. Semuanya demi
uang saja. Ya, manusia memang membutuhkan itu dan menyampingkan peradaban –
nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Kampus
semakin hidup. Para aktivis keagamaan menyerukan kebenaran yang mendamaikan. Ayat-ayat
dalam kitab diucapkan beberapakali untuk meyakinkan. Sementara, diskusi-diskusi
ilmu pengetahuan menggerogoti otak mereka yang mengikutinya. Buku-buku dari
berbagai bidang keilmuan dirujuk sebagai gagasan untuk meyakinkan pula. Akal dan
akhlak. Namun, penghisapan darah manusia oleh manusia terus berlangsung.
Kematian dan kehidupan. Apa sesungguhnya tujuan dari hidup?
Hari-hari
yang gelisah. Realistis atau kritis. Seolah jalan hanya antara kanan dan kiri.
Langit pun tak pernah memberi kepastian, sehingga manusia mesti berdiri di atas
kakinya sendiri. Dan langit akhirnya menangis. Semua aktivitas yang mulai hidup
tadi dibubarkan oleh tangisnya. Walau adapula yang masih di tempat melawan
tangisan langit. Rambut dan pakaian yang basah seolah tak menggubris keluarnya
kata-kata dari mulut. Wajah-wajah dengan kerutan di kening, wajah-wajah yang
menderita. Mereka itukah yang sedang menuju kebenaran hakiki?
Tidak ada komentar: