Oleh:
Aldo Fernando Nasir, kader
LPPMD Unpad
“Semua
evaluasi dibentuk dari suatu perspektif tertentu...”
—Nietzsche
“Tuhan
telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya”
—Nietzsche
Friedrich Wilhelm
Nietzsche (1844-1900)
Tulisan pendek ini
barangkali hanya akan menjadi semacam tulisan “parasit”—atau meminjam bahasa
biologi, tulisan-“parasit obligat”, i.e.
ia hanya bisa “hidup” dalam sebuah tulisan yang “hidup”—untuk essay milik Mr. Roy Voragen[1], Art of Living as a Tragic Fate: An autobigraphical
reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo, yang dipublikasikan di Jurnal
Melintas Universitas Katolik Parahyangan edisi 25.3.2009 (hlm. 313-338).
Di dalam tulisan ini saya
hanya akan mencoba menyoroti sejumlah titik “pinggiran” yang ada di dalam
tulisan Mr. Roy karena keterbatasan waktu dan tempat (serta karena tulisan ini
barangkali—mengulangi kalimat di muka—hanya akan menjadi tulisan parasit).[2]
***
Roy Voragen mengawali
tulisannya dengan menyatakan sejumlah motif dan pertanyaan dasar mengapa ia
menulis sebuah tulisan mengenai Nietzsche (1844-1900). Ia menulis, di dalam
kalimat awal, bahwa ia ingin memaknai kembali setiap pembacaan (personal) dan
pengajarannya mengenai Nietzsche (di masa ketika ia menulis essai tersebut)
dengan jalan menulis essai mengenai pembacaan personalnya atas Ecce Homo[3]
milik Nietzsche—dan ia mengaku bahwa ia telah sekitar satu dekade (dan akan
terus berlanjut) membaca, menulis, berpikir mengenai (dan bersama) Nietzsche.[4]
Baik, langsung to the point.
Tulisan
sebagai pergulatan personal. Bagi Roy, Nietzsche
merupakan seorang filsuf yang mengedepankan tulisan sebagai suatu usaha
personal (Voragen, 2009: 313). Dengan jalan menulis dan membaca seseorang akan
mampu terus bergerak mengatasi dirinya, menciptakan sejumput makna baru.
Menulis merupakan kekuatan personal dalam diri sang aku yang harus
dimaksimalkan dengan keutuhan kehendak. Barangkali, ini adalah salah satu hal
yang menginspirasi Roy dalam setiap pergulatannya bersama Nietzsche.
Gadis
asal Dresden dan pertemuan pertama dengan “Nietzsche”. Roy
mengaku bahwa ia pertama kali berkenalan dengan pemikiran Nietzsche sewaktu ia
bertemu dengan seorang gadis asal Dresden di Israel. Namun, oleh karena ia
tidak familiar—dan tidak memiliki resonansi pemikiran—dengan Nietzsche waktu
itu, ia merasa sulit untuk memahami Nietzsche.
Nietzsche:
sebuah multitafsir. Nietzsche merupakan pemikir yang unik,
idosinkratik, dan cerdas. Ia adalah seorang nabi kesepian yang mau “memekakkan
telinga” orang-orang di zamannya, zaman modern. Ia menulis dengan gaya bahasa
yang indah, kritik-kritik tajam, penuh paradoks, penuh olok-olok sekaligus
penuh kesucian. Karya-karyanya mulai dari The
Birth of Tragedy sampai The Will to
Power merupakan bentuk pengejewantahan-diri; rangkaian karya seni yang
mencoba memaknai hidup secara “Ya”—kumpulan saripati pemikiran yang kaya akan
pengalaman hidup yang sepi, gelap dan mengerikan. Dengan gaya menulis yang
non-akademis—penuh aforisme yang indah dan putik—seperti yang tertuang di dalam
sejumlah besar karya-karyanya membawa Nietzsche menjadi sebuah multitafsir: Ia
menginspirasi Michel Foucault (seorang pemikir Perancis yang sering dilabeli
poststrukturalis. Foucault mengaku menimba gagasan genealogi milik Nietzsche yang ia gunakan di sejumlah karya
besarnya), Gilles Deleuze (seorang poststrukturalis Perancis. Deleuze merupakan
sahabat Michel Foucault. Deleuze merupakan salah seorang pemikir garis Nietzschean
yang jenius dan dahsyat. Ia menulis buku bagus mengenai Nietzsche, Nietzsche and Philosophy [1962]),
Jacques Derrida (seorang pemikir Perancis yang mahsyur dengan dekonstruksi dan différance-nya), Gianni Vattimo (seorang pemikir postmo Italia), Richard
Rorty (neo-pragmatis Amerika), eksistensialis (Albert Camus—sang penulis The Stranger, Sampar—dan Jean-Paul
Sartre, salah seorang guru filsuf
kontemporer Prancis; penulis traktat Being
and Nothingness, Nausea), bahkan tulisannya menghasilkan tafsiran “salah
kaprah” seperti yang dilakukan NAZI—dan dibantu oleh Elisabeth Forster, saudara
perempuan Nietzsche.
Pengalaman
sakit sebagai bentuk pemaknaan-diri bersama Nietzsche. Roy
bercerita mengenai pengalaman pahitnya ketika di Amsterdam, Belanda. Ia menulis
bahwa ia pernah dihajar tanpa alasan hingga menyebabkan ia cedera raham bawah,
yang membuatnya harus mengerang kesakitan, berdiet dan beristirahat sejenak
dari aktivitas akademis selama beberapa waktu. Pengalaman itu membuatnya
dihantu kecemasan dan ketakutan. Ia kemudian menulis lusinan puisi untuk
memaknai angst-nya itu. Ia mencoba
memahami gagasan Nietzsche mengenai penguasaan-diri (self-mastery), belas-kasihan (pity),
amor fati (cintailah nasib!),
kehendak untuk berkuasa (will to power),
kekembalian yang sama secara abadi (the
eternal recurrence of the same). Dan lalu ia menulis, “Pity is a form of appropriation.
It is lack of self-sufficiency to need suffering of others. According
Nietzsche, it is a virtue to overcome pity. So why did I need pity? Clearly a
lack of self-mastery” (Ibid.,
2009: 321).
Ketidakpastian
Ontologis. Nietzsche adalah seorang filsuf yang mewanti-wanti
orang untuk menyadari bahwa ketidakpastian
ontologis dapat menyebabkan kecemasan eksistensial bahkan sejenis kekerasan
tertentu. Karenanya, kita harus melibatkan-diri, demikian Roy menafsirkan
gagasan Nietzsche, ke dalam “kontingensi, pertentangan, indeterminasi,
inkonsistensi, inkoherensi, ketidakharmonisan, ambivalensi, heterogenitas,
kejamakan, opasitas, paradoks, risiko,
dan ketidakpastian” (Ibid.,
2009: 316).
Kritik atas Plato(n). “Plato itu pengecut di hadapan realitas,
karenanya ia melarikan diri menuju yang-ideal...”Demikian kata Nietzsche ketika
ia mengkritik Plato(n) yang ia anggap sebagai sang pendamba stabilitas-pejal,
kebenaran-akhir, ketepatan, kejernihan dari segala hal! Plato tidak berani
menghadapi realitas yang sungguh chaos (kacau), kata Nietzsche. Realitas yang
kaotik di-kosmos-kan oleh manusia, yang
mengintervensi dan menata realitas chaos lewat konsep-konsep pemikiran yang
manusia punyai. Konsep, bagi Nietzsche, adalah upaya mengidentikkan sesuatu
yang tidak identik. Semacam suatu pemaksaan (forcing, kalau meminjam istilah
Alain Badiou sebagaimana yang dielaborasi oleh Bung Martin Suryajaya lewat
bukunya, 2011) ke dalam realitas.
Kritik atas Kant.. Kant berpikir bahwa kita
bisa sadar akan semua intensi dan insting kita, karenanya Kant memiliki suatu pandangan
yang mengafirmasi kehendak bebas (free will).
Nietzsche mengkritik pandangan Kantian itu. Menurut Nietzsche kita tidak bisa memisahkan
antara pemikiran rasional dengan insting dan hasrat di dalam dunia yang sensibel. Drive kita mewujud ke dalam bentuk kehendak kuasa (will to power)
di dalam kehadiran dunia di sini dan sekarang, bukan dunia yang penuh dengan malaikat
dan Tuhan berjenggot yang keberadaannya
entah di mana.
Zarathustra
pun bersabda: “Aku mohon kepada kau, saudara-saudaraku,
tetaplah setia kepada bumi dan janganlah
percaya kepada mereka yang bicara padamu mengenai harapan-harapan di luar bumi!
Mereka itulah pencampur racun, sengaja atau tidak sengaja.”
Katakan
“Ya” pada hidup! Menurut pandangan Roy, Nietzsche
mengajarkan kepada kita untuk mengafirmasi hidup, untuk mengatakan “ya!” di
hadapan gejolak kehidupan. Nietzsche mengajak kita untuk mencintai nasib kita—“amor fati!”
kata Nietzsche—dengan apa adanya (tetapi tidak pasif di hadapan nasib—atau
fatalistik—melainkan bersikap aktif dengan mengubahnya secara penuh kewaspadaan
dan penuh “ya”; berani mencipta dan mentransfigurasi pelbagai hal di dalam realitas); untuk menari dengan aktif di tepi jurang tak
berdasar. Nietzsche mau kita menerima apa yang datang di hadapan kita secara
polos dan waspada sehingga kita dapat mengenali secara jernih dan penuh
keingintahuan apa yang hadir sebagai realitas di depan kita (saya dalam hal ini
sedang mengafirmasi tafsiran Romo Setyo [Dr. A. Setyo Wibowo] atas Nietzsche di
dalam karyanya yang sangat bernas, Gaya
Filsafat Nietzsche [2004]). Roy menulis bahwa “aku menjadi aku sebagaimana adanya” (subjudul Ecce Homo) bukan berarti aku yang selalu mengupayakan sejumlah hal
baik, dan yang menendang apa saja yang buruk, yang lemah—atau meminjam bahasa
Nietzsche—yang dekaden, akan tetapi aku yang menerima secara afirmatif segala
hal yang menghampar di “wajah”-ku: kebaikan,
kejahatan, dosa, kesalahan, keburukan, penderitaan, kenikmatan, kejayaan,
kesenangan, kegagalan, kesakitan. Nietzsche juga menginginkan kita menerima
tragedi dengan mengucap “Ya”—Nietzsche mengatakan bahwa tragedi sebagai salah
satu bagian seni kehidupan yang tak bisa dinafikan begitu saja. Saya kutip
kalimat milik Roy: “We should, according
to Nietzsche, devote ourselves to tragedy, because it teaches us the art of
living through affirming all aspects of life, including our suffering”
(Ibid., hlm. 322).
Menurut Roy, amor fati milik Nietzsche merupakan
sebuah afirmasi tak-bersyarat di
hadapan realitas. Dengan demikian, kita dituntut untuk tidak mengutuki realitas
secara terburu-buru dan penuh kelemahan kehendak. Singkatnya, kita harus
mencipta secara aktif, penuh kemenjadian,
untuk menghadapi realitas yang chaos. “To create is our fate,” demikian tulis
Roy.
***
[1]
Roy Voragen adalah seorang dosen filsafat di Universitas Katolik Parahyangan.
Ia adalah seorang berdarah Belanda yang pindah ke Indonesia, tepatnya di
Bandung—ia menjelaskan mengenai alasan kepindahannya ke Bandung dalam beberapa
baris kata di dalam tulisannya yang akan saya coba sedot pada kesempatan kali ini. Roy menulis: “If the painter R.E. Hartanto would not have been my neighbor in
Amsterdam, I would not have moved to Bandung. My fate, my lucky fate.” Lih.
Roy Voragen. 2009. Art of Living as a Tragic Fate:
An autobigraphical reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo. Jurnal Melintas edisi 25.3.2009.
Hlm. 322.
[2] Dan, untuk
sedikit menegaskan, oleh karena
Nietzsche telah mengajarkan kita mengenai perspektivisme, saya pun berpikir
bahwa tulisan ini hanyalah sebuah perspektif terbatas atas jalinan tulisan yang
lain, dalam hal ini tulisan Mr. Roy.
[3]
Ecce Homo (Lihatlah Manusia) merupakan
sebuah karya autobiografis milik
Nietzsche yang indah, narsistik, dan cerdas—atau meminjam bahasa Roy—,
sebuah “self-proclamation” dari Nietzsche. Ecce Homo ditulis oleh Nietzsche pada tahun 1888 dan diterbitkan
setelah kematiannya pada 1908. Ecce Homo
berisi sejumlah penafsiran Nietzsche terhadap perkembangan pemikiran dan
karya-karyanya. Lih. Walter Kaufmann, “Editor's
Introduction” in Ecce Homo, in
Friedrich Nietzsche. 1989. On The
Genealogy of Morals and Ecce Homo (edited and translated by W. Kaufmann and
R.J. Hollingdale; and with commentary by
W. Kaufmann). New York: Vintage Books. Pages 201.
[4]
“For a decade or so I have struggled with
Nietzsche; I read his books, I wrote essays and I taught on Nietzsche.”
Lih. Ibid., hlm. 313-4.

Tidak ada komentar: