Percikan Tulisan Roy Voragen mengenai Nietzsche - LPPMD Unpad

Kamis, 11 Juni 2015

Percikan Tulisan Roy Voragen mengenai Nietzsche



Oleh: Aldo Fernando Nasir, kader LPPMD Unpad

“Semua evaluasi dibentuk dari suatu perspektif tertentu...”
                                                                  —Nietzsche
“Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya”
—Nietzsche                   

                           
Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)

Tulisan pendek ini barangkali hanya akan menjadi semacam tulisan “parasit”—atau meminjam bahasa biologi, tulisan-“parasit obligat”, i.e. ia hanya bisa “hidup” dalam sebuah tulisan yang “hidup”—untuk essay milik Mr. Roy Voragen[1], Art of Living as a Tragic Fate: An autobigraphical reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo, yang dipublikasikan di Jurnal Melintas Universitas Katolik Parahyangan edisi 25.3.2009 (hlm. 313-338).
Di dalam tulisan ini saya hanya akan mencoba menyoroti sejumlah titik “pinggiran” yang ada di dalam tulisan Mr. Roy karena keterbatasan waktu dan tempat (serta karena tulisan ini barangkali—mengulangi kalimat di muka—hanya akan menjadi tulisan parasit).[2]
***
Roy Voragen mengawali tulisannya dengan menyatakan sejumlah motif dan pertanyaan dasar mengapa ia menulis sebuah tulisan mengenai Nietzsche (1844-1900). Ia menulis, di dalam kalimat awal, bahwa ia ingin memaknai kembali setiap pembacaan (personal) dan pengajarannya mengenai Nietzsche (di masa ketika ia menulis essai tersebut) dengan jalan menulis essai mengenai pembacaan personalnya atas Ecce Homo[3] milik Nietzsche—dan ia mengaku bahwa ia telah sekitar satu dekade (dan akan terus berlanjut) membaca, menulis, berpikir mengenai (dan bersama) Nietzsche.[4]
Baik, langsung to the point.
Tulisan sebagai pergulatan personal. Bagi Roy, Nietzsche merupakan seorang filsuf yang mengedepankan tulisan sebagai suatu usaha personal (Voragen, 2009: 313). Dengan jalan menulis dan membaca seseorang akan mampu terus bergerak mengatasi dirinya, menciptakan sejumput makna baru. Menulis merupakan kekuatan personal dalam diri sang aku yang harus dimaksimalkan dengan keutuhan kehendak. Barangkali, ini adalah salah satu hal yang menginspirasi Roy dalam setiap pergulatannya bersama Nietzsche.
Gadis asal Dresden dan pertemuan pertama dengan “Nietzsche”. Roy mengaku bahwa ia pertama kali berkenalan dengan pemikiran Nietzsche sewaktu ia bertemu dengan seorang gadis asal Dresden di Israel. Namun, oleh karena ia tidak familiar—dan tidak memiliki resonansi pemikiran—dengan Nietzsche waktu itu, ia merasa sulit untuk memahami Nietzsche.
Nietzsche: sebuah multitafsir. Nietzsche merupakan pemikir yang unik, idosinkratik, dan cerdas. Ia adalah seorang nabi kesepian yang mau “memekakkan telinga” orang-orang di zamannya, zaman modern. Ia menulis dengan gaya bahasa yang indah, kritik-kritik tajam, penuh paradoks, penuh olok-olok sekaligus penuh kesucian. Karya-karyanya mulai dari The Birth of Tragedy sampai The Will to Power merupakan bentuk pengejewantahan-diri; rangkaian karya seni yang mencoba memaknai hidup secara “Ya”—kumpulan saripati pemikiran yang kaya akan pengalaman hidup yang sepi, gelap dan mengerikan. Dengan gaya menulis yang non-akademis—penuh aforisme yang indah dan putik—seperti yang tertuang di dalam sejumlah besar karya-karyanya membawa Nietzsche menjadi sebuah multitafsir: Ia menginspirasi Michel Foucault (seorang pemikir Perancis yang sering dilabeli poststrukturalis. Foucault mengaku menimba gagasan genealogi milik Nietzsche yang ia gunakan di sejumlah karya besarnya), Gilles Deleuze (seorang poststrukturalis Perancis. Deleuze merupakan sahabat Michel Foucault. Deleuze merupakan salah seorang pemikir garis Nietzschean yang jenius dan dahsyat. Ia menulis buku bagus mengenai Nietzsche, Nietzsche and Philosophy [1962]), Jacques Derrida (seorang pemikir Perancis yang mahsyur dengan dekonstruksi dan différance-nya), Gianni Vattimo (seorang pemikir postmo Italia), Richard Rorty (neo-pragmatis Amerika), eksistensialis (Albert Camus—sang penulis The Stranger, Sampar—dan Jean-Paul Sartre, salah seorang guru filsuf kontemporer Prancis; penulis traktat Being and Nothingness, Nausea), bahkan tulisannya menghasilkan tafsiran “salah kaprah” seperti yang dilakukan NAZI—dan dibantu oleh Elisabeth Forster, saudara perempuan Nietzsche.
Pengalaman sakit sebagai bentuk pemaknaan-diri bersama Nietzsche. Roy bercerita mengenai pengalaman pahitnya ketika di Amsterdam, Belanda. Ia menulis bahwa ia pernah dihajar tanpa alasan hingga menyebabkan ia cedera raham bawah, yang membuatnya harus mengerang kesakitan, berdiet dan beristirahat sejenak dari aktivitas akademis selama beberapa waktu. Pengalaman itu membuatnya dihantu kecemasan dan ketakutan. Ia kemudian menulis lusinan puisi untuk memaknai angst-nya itu. Ia mencoba memahami gagasan Nietzsche mengenai penguasaan-diri (self-mastery), belas-kasihan (pity), amor fati (cintailah nasib!), kehendak untuk berkuasa (will to power), kekembalian yang sama secara abadi (the eternal recurrence of the same). Dan lalu ia menulis, “Pity is a form of appropriation.  It is lack of self-sufficiency to need suffering of others. According Nietzsche, it is a virtue to overcome pity. So why did I need pity? Clearly a lack of self-mastery” (Ibid., 2009: 321).
Ketidakpastian Ontologis. Nietzsche adalah seorang filsuf yang mewanti-wanti orang untuk menyadari bahwa ketidakpastian ontologis dapat menyebabkan kecemasan eksistensial bahkan sejenis kekerasan tertentu. Karenanya, kita harus melibatkan-diri, demikian Roy menafsirkan gagasan Nietzsche, ke dalam “kontingensi, pertentangan, indeterminasi, inkonsistensi, inkoherensi, ketidakharmonisan, ambivalensi, heterogenitas, kejamakan, opasitas, paradoks, risiko,  dan ketidakpastian” (Ibid., 2009: 316). 
Kritik atas Plato(n). “Plato itu pengecut di hadapan realitas, karenanya ia melarikan diri menuju yang-ideal...”Demikian kata Nietzsche ketika ia mengkritik Plato(n) yang ia anggap sebagai sang pendamba stabilitas-pejal, kebenaran-akhir, ketepatan, kejernihan dari segala hal! Plato tidak berani menghadapi realitas yang sungguh chaos (kacau), kata Nietzsche. Realitas yang kaotik di-kosmos-kan oleh manusia, yang mengintervensi dan menata realitas chaos lewat konsep-konsep pemikiran yang manusia punyai. Konsep, bagi Nietzsche, adalah upaya mengidentikkan sesuatu yang tidak identik. Semacam suatu pemaksaan (forcing, kalau meminjam istilah Alain Badiou sebagaimana yang dielaborasi oleh Bung Martin Suryajaya lewat bukunya, 2011) ke dalam realitas.
Kritik atas Kant.. Kant berpikir bahwa kita bisa sadar akan semua intensi dan insting kita, karenanya Kant memiliki suatu pandangan yang mengafirmasi kehendak bebas (free will). Nietzsche mengkritik pandangan Kantian itu. Menurut Nietzsche kita tidak bisa memisahkan antara pemikiran rasional dengan insting dan hasrat di dalam dunia yang sensibel. Drive kita mewujud ke dalam bentuk kehendak kuasa (will to power) di dalam kehadiran dunia di sini dan sekarang, bukan dunia yang penuh dengan malaikat dan Tuhan berjenggot yang keberadaannya entah di mana.
Zarathustra pun bersabda: “Aku mohon kepada kau, saudara-saudaraku, tetaplah setia kepada bumi dan janganlah percaya kepada mereka yang bicara padamu mengenai harapan-harapan di luar bumi! Mereka itulah pencampur racun, sengaja atau tidak sengaja.”
Katakan “Ya” pada hidup! Menurut pandangan Roy, Nietzsche mengajarkan kepada kita untuk mengafirmasi hidup, untuk mengatakan “ya!” di hadapan gejolak kehidupan. Nietzsche mengajak kita untuk mencintai nasib kita—“amor fati!” kata Nietzsche—dengan apa adanya (tetapi tidak pasif di hadapan nasib—atau fatalistik—melainkan bersikap aktif dengan mengubahnya secara penuh kewaspadaan dan penuh “ya”; berani mencipta dan mentransfigurasi pelbagai  hal di dalam realitas); untuk menari dengan aktif di tepi jurang tak berdasar. Nietzsche mau kita menerima apa yang datang di hadapan kita secara polos dan waspada sehingga kita dapat mengenali secara jernih dan penuh keingintahuan apa yang hadir sebagai realitas di depan kita (saya dalam hal ini sedang mengafirmasi tafsiran Romo Setyo [Dr. A. Setyo Wibowo] atas Nietzsche di dalam karyanya yang sangat bernas, Gaya Filsafat Nietzsche [2004]). Roy menulis bahwa “aku menjadi aku sebagaimana adanya” (subjudul Ecce Homo) bukan berarti aku yang selalu mengupayakan sejumlah hal baik, dan yang menendang apa saja yang buruk, yang lemah—atau meminjam bahasa Nietzsche—yang dekaden, akan tetapi aku yang menerima secara afirmatif segala hal yang menghampar di “wajah”-ku: kebaikan, kejahatan, dosa, kesalahan, keburukan, penderitaan, kenikmatan, kejayaan, kesenangan, kegagalan, kesakitan. Nietzsche juga menginginkan kita menerima tragedi dengan mengucap “Ya”—Nietzsche mengatakan bahwa tragedi sebagai salah satu bagian seni kehidupan yang tak bisa dinafikan begitu saja. Saya kutip kalimat milik Roy: “We should, according to Nietzsche, devote ourselves to tragedy, because it teaches us the art of living through affirming all aspects of life, including our suffering” (Ibid., hlm. 322).
Menurut Roy, amor fati milik Nietzsche merupakan sebuah afirmasi tak-bersyarat di hadapan realitas. Dengan demikian, kita dituntut untuk tidak mengutuki realitas secara terburu-buru dan penuh kelemahan kehendak. Singkatnya, kita harus mencipta secara aktif, penuh kemenjadian, untuk menghadapi realitas yang chaos. To create is our fate,” demikian tulis Roy.
                                                                          ***


[1] Roy Voragen adalah seorang dosen filsafat di Universitas Katolik Parahyangan. Ia adalah seorang berdarah Belanda yang pindah ke Indonesia, tepatnya di Bandung—ia menjelaskan mengenai alasan kepindahannya ke Bandung dalam beberapa baris kata di dalam tulisannya yang akan saya coba sedot pada kesempatan kali ini. Roy menulis: “If the painter R.E. Hartanto would not have been my neighbor in Amsterdam, I would not have moved to Bandung. My fate, my lucky fate.” Lih. Roy Voragen. 2009. Art of Living as a Tragic Fate: An autobigraphical reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo. Jurnal Melintas edisi 25.3.2009. Hlm. 322.
[2] Dan, untuk sedikit menegaskan, oleh karena Nietzsche telah mengajarkan kita mengenai perspektivisme, saya pun berpikir bahwa tulisan ini hanyalah sebuah perspektif terbatas atas jalinan tulisan yang lain, dalam hal ini tulisan Mr. Roy.
[3] Ecce Homo (Lihatlah Manusia) merupakan sebuah karya  autobiografis milik Nietzsche yang indah, narsistik, dan cerdas—atau meminjam bahasa Roy—, sebuah  self-proclamation” dari Nietzsche. Ecce Homo ditulis oleh Nietzsche pada tahun 1888 dan diterbitkan setelah kematiannya pada 1908. Ecce Homo berisi sejumlah penafsiran Nietzsche terhadap perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. Lih. Walter Kaufmann, “Editor's Introduction” in Ecce Homo, in Friedrich Nietzsche. 1989. On The Genealogy of Morals and Ecce Homo (edited and translated by W. Kaufmann and R.J. Hollingdale; and with commentary by  W. Kaufmann). New York: Vintage Books. Pages 201.
[4]For a decade or so I have struggled with Nietzsche; I read his books, I wrote essays and I taught on Nietzsche.” Lih. Ibid., hlm. 313-4.

Tidak ada komentar: