Oleh: Aldo Fernando, Kader LPPMD Unpad
1. Michel Foucault (1926-1984)
adalah seorang filsuf Prancis kontemporer garis Nietzschean yang sangat rumit.
2. Ia menulis dengan bahasa yang
powerful, abstrak, dan dahsyat, yang membuat kita perlu mencerna buku-bukunya
secara hati-hati dan pelan-pelan untuk dapat sedikit memahami alur
pemikirannya.
3. Foucault adalah seorang
pemikir yang orisinal, yang memiliki gagasan-gagasan yang menantang. Gaya
filsafatnya antikodrat. Argumentasi-argumentasi yang ia uraikan di setiap karyanya membuat ia menjadi filsuf yang kontroversial dan
sering disalahpahami (bahkan Paul Rabinow dan H.L. Dreyfus, dua komentator
Foucault, pada awalnya menduga Foucault adalah strukturalis Prancis, yang
dikemudian hari mereka harus merevisi kategori strukturalis yang mereka
lekatkan kepada Foucault).
4. Foucault memiliki pemikiran
berdaya jelajah yang kuat dan luas. Minatnya terhadap sejarah pemikiran,
sejarah ilmu pengetahuan, tertuang dalam karya-karyanya seperti Madness and
Civilization, The Birth of Clinic, The Order of Things, The Archaeology of
Knowledge, sampai pada tiga jilid The History of Sexuality.
5. Ia menganggap dirinya
sebagai, saya meminjam perspektif Dr. Haryatmoko, "pengamat sejarah".
Salah satu kutipannya yang seringkali muncul mengenai sejarah adalah "Saya
bukan seorang sejarawan profesional. Tak ada seorang pun yang sempurna."
6. Ia menggunakan metode
arkeologi dan genealogi (yang ia timba dari sumur pemikiran Nietzsche, seorang
filsuf Jerman yang ia kagumi) untuk menelaah sejarah suatu masa.
7. Menurutnya, sejarah bukanlah
sejarah yang berjalan linear, bukanlah sejarah
kemajuan: suatu gerak tunggal menuju telos yang tunggal pula (inilah pengaruh
Nietzsche dalam pemikiran Foucault). Ia juga mengkritik gagasan sejarah sebagai
dialektika yang pernah dilontarkan oleh G.W.F Hegel.
8. Menurutnya, saya kembali
meminjam uraian Dr. Haryatmoko, filsafat sejarah sebelumnya terlalu mendasarkan
diri pada sistem. Ia juga menolak metode pembahasan filsafat sejarah.
9. Konsepsi sejarah Foucault
selalu berupaya memperhatikan dan menelaah setiap keterputusan, kontradiksi,
diskontinuitas gagasan sejarah yang mengeram di dalam suatu zaman.
10. Gagasan Foucault yang paling
menarik adalah mengenai kekuasaan (saya sampai nomor terakhir akan menimba
gagasan Dr. Haryatmoko mengenai Foucault).
11. Kekuasaan bagi Foucault
bukanlah kekuasaan yang dipahami oleh kebanyakan orang: kekuasaan
seseorang/kelompok terhadap yang lain; kekuasaan sang tuan terhadap sang budak.
12. Menurut Foucault, kekuasaan
bukanlah sebuah hubungan subjektif searah, melainkan merupakan suatu
"strategi kompleks dalam suatu masyarakat dengan perlengkapan, manuver teknik, dan mekanisme tertentu"
(Haryatmoko, 2002, Foucault dan Kekuasaan, Majalah Basis No. 01-02, Th ke-51,
Januari-Februari: hlm. 12).
13. Foucault menulis dalam
Surveiller et punir (1975: 35, dikutip Haryatmoko, loc.cit), "Secara umum
harus diakui bahwa kekuasaan lebih beroperasi daripada dimiliki. Kekuasaan
tidak merupakan hak istimewa yang didapat atau dipertahankan kelas dominan,
tetapi akibat dari keseluruhan posisi strategisnya, akibat yang menunjukkan
posisi mereka yang didominasi".
14. Kekuasaan itu tersebar di
mana-mana: di keluarga, sekolah, kampus, kantor, penjara, misalnya. Kekuasaan
bekerja di segala tempat yang di dalamnya terdapat sejumlah aturan, regulasi,
sistem, relasi, susunan. Kekuasaan, bagi Foucault, tidaklah bersifat menindas,
represif, melainkan bersifat produktif, menormalisasi.
15. Di mana ada kekuasaan, di
situ ada pengetahuan, kata Foucault.
16. Nah, inilah yang menarik
dari Foucault. Ia menghubungkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Ia mengatakan bahwa strategi kekuasaan selalu melekat
pada kehendak untuk mengetahui. Dan kehendak untuk mengetahui akan masuk ke
dalam ranah pengetahuan melalui wacana (Haryatmoko, loc. cit).
17. Pengetahuan tidaklah
bersumber pada subjek tertentu, tidaklah datang dari subjek
tertentu--pengetahuan bersumber dari relasi-relasi kekuasaan (Haryatmoko,
ibid., hlm. 12-13).
18. "Kekuasaan menghasilkan
pengetahuan. . . Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait. . . tidak ada
hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan,
dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan serta tidak membentuk
sekaligus hubungan kekuasaan" (Surveiller et punir: 36, dikutip
Haryatmoko, ibid., hlm. 13).
19. Terhadap wacana represi
seks, terhadap pelarangan "tindakan seksual yang tidak terkait dengan
tujuan prokreasi", Foucault bertanya—namun tanpa berpretensi ingin
menunjukkan bahwa gagasan seks yang represif itu keliru: ia hanya "ingin
menempatkan wacana tentang seks dalam situasi masyarakat modern, di mana rezim
kekuasaan-pengetahuan juga menjangkau kelangsungan hidup (kenikmatan) yang
paling intim—, "Dari mana kita bisa sampai menyatakan bahwa seks disangkal, menunjukkan bahwa seks disembunyikan, mengatakan bahwa
seks dibungkam, dan ini dengan merumuskan seks dalam kata-kata yang lebih
tersurat, dengan berusaha memperlihatkan seks dalam realitasnya yang paling
telanjang, dengan menyatakan bentuk yang bisa diraba dari kekuasaannya dan
akibat-akibatnya" (Histoire de la sexualité. La Volonté de savoir, 1976,
hlm. 16, dikutip oleh Haryatmoko, ibid., hlm. 18).
19. "Jangan tanya siapa aku
dan jangan memintaku untuk selalu sama," demikian Foucault yang ingin
selalu berubah.
Tidak ada komentar: