Percikan Pemikiran Michel Foucault Perihal Kuasa: Sejenis Corat-coret - LPPMD Unpad

Rabu, 10 Juni 2015

Percikan Pemikiran Michel Foucault Perihal Kuasa: Sejenis Corat-coret



Oleh: Aldo Fernando, Kader LPPMD Unpad

1. Michel Foucault (1926-1984) adalah seorang filsuf Prancis kontemporer garis Nietzschean yang sangat rumit.
2. Ia menulis dengan bahasa yang powerful, abstrak, dan dahsyat, yang membuat kita perlu mencerna buku-bukunya secara hati-hati dan pelan-pelan untuk dapat sedikit memahami alur pemikirannya.
3. Foucault adalah seorang pemikir yang orisinal, yang memiliki gagasan-gagasan yang menantang. Gaya filsafatnya antikodrat. Argumentasi-argumentasi yang ia uraikan di setiap karyanya membuat ia menjadi filsuf yang kontroversial dan sering disalahpahami (bahkan Paul Rabinow dan H.L. Dreyfus, dua komentator Foucault, pada awalnya menduga Foucault adalah strukturalis Prancis, yang dikemudian hari mereka harus merevisi kategori strukturalis yang mereka lekatkan kepada Foucault).
4. Foucault memiliki pemikiran berdaya jelajah yang kuat dan luas. Minatnya terhadap sejarah pemikiran, sejarah ilmu pengetahuan, tertuang dalam karya-karyanya seperti Madness and Civilization, The Birth of Clinic, The Order of Things, The Archaeology of Knowledge, sampai pada tiga jilid The History of Sexuality.
5. Ia menganggap dirinya sebagai, saya meminjam perspektif Dr. Haryatmoko, "pengamat sejarah". Salah satu kutipannya yang seringkali muncul mengenai sejarah adalah "Saya bukan seorang sejarawan profesional. Tak ada seorang pun yang sempurna."
6. Ia menggunakan metode arkeologi dan genealogi (yang ia timba dari sumur pemikiran Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang ia kagumi) untuk menelaah sejarah suatu masa.
7. Menurutnya, sejarah bukanlah sejarah yang berjalan linear, bukanlah sejarah kemajuan: suatu gerak tunggal menuju telos yang tunggal pula (inilah pengaruh Nietzsche dalam pemikiran Foucault). Ia juga mengkritik gagasan sejarah sebagai dialektika yang pernah dilontarkan oleh G.W.F Hegel.
8. Menurutnya, saya kembali meminjam uraian Dr. Haryatmoko, filsafat sejarah sebelumnya terlalu mendasarkan diri pada sistem. Ia juga menolak metode pembahasan filsafat sejarah.
9. Konsepsi sejarah Foucault selalu berupaya memperhatikan dan menelaah setiap keterputusan, kontradiksi, diskontinuitas gagasan sejarah yang mengeram di dalam suatu zaman.
10. Gagasan Foucault yang paling menarik adalah mengenai kekuasaan (saya sampai nomor terakhir akan menimba gagasan Dr. Haryatmoko mengenai Foucault).
11. Kekuasaan bagi Foucault bukanlah kekuasaan yang dipahami oleh kebanyakan orang: kekuasaan seseorang/kelompok terhadap yang lain; kekuasaan sang tuan terhadap sang budak.
12. Menurut Foucault, kekuasaan bukanlah sebuah hubungan subjektif searah, melainkan merupakan suatu "strategi kompleks dalam suatu masyarakat dengan perlengkapan, manuver teknik, dan mekanisme tertentu" (Haryatmoko, 2002, Foucault dan Kekuasaan, Majalah Basis No. 01-02, Th ke-51, Januari-Februari: hlm. 12).
13. Foucault menulis dalam Surveiller et punir (1975: 35, dikutip Haryatmoko, loc.cit), "Secara umum harus diakui bahwa kekuasaan lebih beroperasi daripada dimiliki. Kekuasaan tidak merupakan hak istimewa yang didapat atau dipertahankan kelas dominan, tetapi akibat dari keseluruhan posisi strategisnya, akibat yang menunjukkan posisi mereka yang didominasi".
14. Kekuasaan itu tersebar di mana-mana: di keluarga, sekolah, kampus, kantor, penjara, misalnya. Kekuasaan bekerja di segala tempat yang di dalamnya terdapat sejumlah aturan, regulasi, sistem, relasi, susunan. Kekuasaan, bagi Foucault, tidaklah bersifat menindas, represif, melainkan bersifat produktif, menormalisasi.
15. Di mana ada kekuasaan, di situ ada pengetahuan, kata Foucault.
16. Nah, inilah yang menarik dari Foucault. Ia menghubungkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Ia mengatakan bahwa strategi kekuasaan selalu melekat pada kehendak untuk mengetahui. Dan kehendak untuk mengetahui akan masuk ke dalam ranah pengetahuan melalui wacana (Haryatmoko, loc. cit).
17. Pengetahuan tidaklah bersumber pada subjek tertentu, tidaklah datang dari subjek tertentu--pengetahuan bersumber dari relasi-relasi kekuasaan (Haryatmoko, ibid., hlm. 12-13).
18. "Kekuasaan menghasilkan pengetahuan. . . Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait. . . tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan" (Surveiller et punir: 36, dikutip Haryatmoko, ibid., hlm. 13).
19. Terhadap wacana represi seks, terhadap pelarangan "tindakan seksual yang tidak terkait dengan tujuan prokreasi", Foucault bertanya—namun tanpa berpretensi ingin menunjukkan bahwa gagasan seks yang represif itu keliru: ia hanya "ingin menempatkan wacana tentang seks dalam situasi masyarakat modern, di mana rezim kekuasaan-pengetahuan juga menjangkau kelangsungan hidup (kenikmatan) yang paling intim—, "Dari mana kita bisa sampai menyatakan bahwa seks disangkal, menunjukkan bahwa seks disembunyikan, mengatakan bahwa seks dibungkam, dan ini dengan merumuskan seks dalam kata-kata yang lebih tersurat, dengan berusaha memperlihatkan seks dalam realitasnya yang paling telanjang, dengan menyatakan bentuk yang bisa diraba dari kekuasaannya dan akibat-akibatnya" (Histoire de la sexualité. La Volonté de savoir, 1976, hlm. 16, dikutip oleh Haryatmoko, ibid., hlm. 18).
19. "Jangan tanya siapa aku dan jangan memintaku untuk selalu sama," demikian Foucault yang ingin selalu berubah.

Tidak ada komentar: