Oleh Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD UNPAD
Modernisasi
entah telah mencapai puncaknya atau pun belum. Aku tak peduli. Keramaian di
antara orang-orang yang sedang berkegiatan pun tidak kupedulikan. Aku masih
juga berada dalam keheningan, ketiadaan. Namun, otakku masih berpikir tentang
manusia. Pertanyaan-pertanyaan mengupasi tema-tema sederhana yang muncul dalam
otak. Semua makin membuatku berada di dalam keheningan. Semakin membuat
ketidakinginan melakukan apapun, terutama seperti apa yang dilakukan mereka.
Aku jelas berbeda dari semua yang tampak. Aku adalah aku. Seorang yang
menginginkan berinteraksi dengan jiwa dan menjalani hidup penuh kebebasan.
Sesuai dengan kehendak dari jiwa yang berbicara, yang selama ini terasing di
antara ilusi.
Pohon
tua besar menemani keheningan ini dengan suara gemericiknya karena diterpa
angin. Ia bertanya padaku,”Mengapa tiap manusia berebut untuk menebangku?
Apakah aku merupakan halangan bagi mereka? Mengapa tiap makhluk hidup tidak
dibiarkan hidup hingga saatnya mati sesuai kehendak Illahi?”. Dan aku
menjawab,”Tak pernah ada keabadian dalam hidup. Bahkan, manusia yang kau takuti
itu sesungguhnya saling membunuh pula. Jika kau ingin hidup lebih lama,
lawanlah manusia itu dengan cara yang harus kau pikirkan setelah aku memberitahumu.
Berilah mereka penderitaan!”.
Langit
yang ditemani matahari menerpa sebagian kaki, tangan dan wajahku. Ia pun
bertanya,”Mengapa manusia menyerangku dari bawah sana dengan teknologinya?
Asap-asap yang ditimbulkannya membuat keluasan dan keabadian yang mestinya
kumiliki jadi tak berarti. Jika aku mati dan jatuh di antara mereka, mereka pun
akan mati. Namun, bagaimana nasibnya bumi yang indah ini? Manusia seolah
makhluk yang paling merusak di antara makhluk yang lain. Jangan biarkan aku
mati, aku memiliki kekuasaan atas pula atas kematian manusia,”. Dan aku
menjawab,”Kau harus melawan kesewenang-wenangan mereka, Wahai Langit. Berilah
mereka penderitaan dengan apapun yang bisa kau lakukan. Maafkan mereka dan
bertahanlah dari penderitaanmu”.
Seperti
Nabi atau Tuhan aku memerintah mereka. Hingga aku tersadar kembali bahwa aku
adalah aku. Keheningan berganti menjadi keramaian kembali. Beberapa langkah
saja dari tempatku bentakan-bentakan terdengar dan cepat berganti menjadi suara
pukulan. Perkelahian sedang berlangsung, tangan beradu dengan wajah. Di
sekelilingnya semua tampak memperhatikan dengan serius setiap gerakan. Semua
sedang belajar berkelahi. Kudengar pula di media massa bahwa pertikaian
antar-manusia yang dikotak-kotakkan diprediksi akan berlangsung dalam waktu
dekat. Semua sedang berlatih untuk membunuh demi menjadi pemenang. Walaupun, di
antara perkelahian itu masih kudengar lantunan ayat kitab suci. Ah, bukankah
antarkitab suci itu pun akan berusaha untuk saling menjadi pemenang?
Kepanasan
mendera. Buku-buku yang telah kusam kuambil satu dan kubacai. Debu pun
berhamburan tak beraturan. Itu tampak melalui sinar cahaya yang menembusi celah
jendela. Buku itu ditulis oleh seorang pengarang besar yang begitu meninggikan
nilai-nilai kemanusiaan dalam tiap karyanya. Dia menganalisa dengan cermat tiap
ketidakadilan yang berlangsung, sekaligus melakukan pembelaan. Pengarang itu
telah tiada. Dan apa yang akan dikatakannya sekarang? Ketika yang dituliskannya
ternyata tak berarti apapun? Senjata! Ternyata manusia belum bisa mengendalikan
barang itu. Seolah jika manusia sudah memegangnya, maka semua yang baik tak
berarti. Sifat dasar membunuhnya muncul. Satu sifat yang dipertanyakan oleh
malaikat ketika penciptaannya.
Aku
mesti ikut membunuh. Kupersiapkan alat apapun yang kupunya untuk berlatih. Di depan
sana, sebagian besar masih berdiri tegak memegang senjata dan sebagian kecilnya
telah tumbang terjerembab di tanah. Seorang yang berdiri lebih tinggi dari yang
lain – mungkin seorang panglima perang– menyatakan bahwa dirinya tak
membutuhkan orang-orang yang lemah! Dia membutuhkan orang-orang yang kuat
terkena bazooka sekalipun! Mendengar
itu, aku mundur kembali ke tempat semula. Dalam pikiranku, perang berarti
dilakukan bersama-sama yang hanya sekedar menimbulkan darah di tubuh musuh. Tak
ada kemungkinan untuk kehilangan nyawa sendiri. Namun, aku baru berpikir pula
bahwa perang berarti saling berbalas. Ada yang dibunuh, pastilah ada yang
terbunuh.
Kudengar
suara kicauan burung yang khawatir terbang di langit sana. Pembidik mengarahkan
senjata ke arahnya. Dar! Satu tembakan dan burung itu pun jatuh ke tanah.
Kekhawatiran yang sesaat saja dirasakannya seolah berarti juga pembenaran akan
terjadinya sesuatu terhadapnya. Pembidik memakan bangkai itu tanpa digoreng atau
dibakar. Kelaparan memang menjadi kebiasaan disaat keadaan sebelum perang
seperti ini. Ketika semua harta dan kekayaan dijual demi senjata dan peluru.
Semua berpikir bahwa kemenangan lebih penting daripada perut yang kosong. Tapi,
nyatanya kelaparan juga penting. Sepanjang penglihatan tampak orang-orang
berebut memakan bangkai hewan atau manusia sekalipun. Semua yang berpikir
tampak tidak pernah berpikir.
Yang
paling bersemangat dalam perang adalah si miskin. Walaupun hanya bersenjatakan
pisau dan tombak, mereka berlatih tanpa takut mati. Kudengar di media massa,
mereka berperang dengan tujuan untuk meruntuhkan dominasi si kaya, tidak
berkepentingan membela wilayah atau apapun. Mereka ingin mencapai kesamarataan
manusia. Semuanya mesti dimulai lagi dari awal, karena kesenjangan sekarang ini
telah begitu menyengsarakan. Yang bermodal terlalu bebas melahap semua yang
tersedia. Mereka telah lelah ditipu dengan dijadikan bawahan. Maka, dengan
pernyataan mereka itu media massa beranggapan bahwa perang kali ini akan sangat
menarik untuk diliput, karena akan banyak orang dengan macam-macam kepentingan
yang terlibat. Selanjutnya, kudengar lagi dari kabar angin bahwa media massa
yang meliput pernyataan di miskin itupun akhirnya kantornya dibakar karena si
miskin beranggapan media massa pun tempat berkumpulnya si kaya.
Perang
dengan berbagai kepentingan pun berlangsung. Suara ledakan terdengar di semua
penjuru. Aku berlindung di samping sebuah lemari yang telah rapuh.
Teriakan-teriakan bayi dan wanita terdengar beberapakali juga. Panglima perang
menyerukan “Bunuh! Bunuh musuhmu!”. Aku pun tersentak dan berjalan menuju depan
menatap langit dan pohon yang masih juga diam. Kuharap pembalasan segera mereka
lakukan sekarang, ketika keadaan manusia sedang goyah seperti ini.
Langit
mendung, suara pohon tumbang. Semua orang menengadah ke langit dan menunjukkan
wajah kebingungan. Hujan pun turun disertai petir. Beberapa orang tersambar
petir dan tertimpa pohon yang tumbang. Perang dihentikan sejenak untuk memahami
apa yang sedang terjadi di luar mereka. Ketika itu, panglima perang tampak
menangis dan ia berkata,”Yang kuasa sedang mengamuk! Ada yang lebih kuasa!”.
Dan senjata-senjata yang baru sesaat saja digunakan itu terlepas dari genggaman.
Semua orang melihat dan merenungi keadaan yang telah porak-poranda.
Mayat-mayat
dikesampingkan. Perang diputuskan untuk dihentikan. Semua orang digerayangi
ketakutan yang sangat dahsyat. Mereka baru saja lupa atas kekuatan yang lebih
besar, yang dipercayainya sejak beribu-ribu tahun lampau. Senyuman pun kembali
tampak menghiasi wajah tiap orang. Keadaan yang sempat porak-poranda mulai di
tata-ulang kembali. Tema “Revolusi” menghiasi pula di berbagai media massa.
Orang-orang mulai menata kembali yang sempat hilang.
Tapi
kehidupan yang mulai ditata itu tidak dibarengi dengan kemunculan kembali
pepohonan dan sinar matahari. Mereka seolah tidak mau lagi singgah di bumi.
Semua orang merindukan mereka, sumber kehidupan. Tapi tak pernah ada
tanda-tanda kemunculannya puluhan tahun mendatang. Manusia hidup dalam
kegelapan. Ribuan manusia telah mati dan pembalasan masih juga berlangsung.
Kita
memang akan saling membunuh suatu hari nanti, tapi itu bisa diubah. Jangan
membunuh, lekaslah kembali pada pangkuan alam. Pada akhirnya, yang menjadi
pemenang adalah mereka yang terbiasa dengan kelaparan, keheningan, dan
berdiskusi pada jiwa…
Tidak ada komentar: