SALING BERBALAS - LPPMD Unpad

Minggu, 14 Juni 2015

SALING BERBALAS



Oleh Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD UNPAD

Modernisasi entah telah mencapai puncaknya atau pun belum. Aku tak peduli. Keramaian di antara orang-orang yang sedang berkegiatan pun tidak kupedulikan. Aku masih juga berada dalam keheningan, ketiadaan. Namun, otakku masih berpikir tentang manusia. Pertanyaan-pertanyaan mengupasi tema-tema sederhana yang muncul dalam otak. Semua makin membuatku berada di dalam keheningan. Semakin membuat ketidakinginan melakukan apapun, terutama seperti apa yang dilakukan mereka. Aku jelas berbeda dari semua yang tampak. Aku adalah aku. Seorang yang menginginkan berinteraksi dengan jiwa dan menjalani hidup penuh kebebasan. Sesuai dengan kehendak dari jiwa yang berbicara, yang selama ini terasing di antara ilusi.
Pohon tua besar menemani keheningan ini dengan suara gemericiknya karena diterpa angin. Ia bertanya padaku,”Mengapa tiap manusia berebut untuk menebangku? Apakah aku merupakan halangan bagi mereka? Mengapa tiap makhluk hidup tidak dibiarkan hidup hingga saatnya mati sesuai kehendak Illahi?”. Dan aku menjawab,”Tak pernah ada keabadian dalam hidup. Bahkan, manusia yang kau takuti itu sesungguhnya saling membunuh pula. Jika kau ingin hidup lebih lama, lawanlah manusia itu dengan cara yang harus kau pikirkan setelah aku memberitahumu. Berilah mereka penderitaan!”.
Langit yang ditemani matahari menerpa sebagian kaki, tangan dan wajahku. Ia pun bertanya,”Mengapa manusia menyerangku dari bawah sana dengan teknologinya? Asap-asap yang ditimbulkannya membuat keluasan dan keabadian yang mestinya kumiliki jadi tak berarti. Jika aku mati dan jatuh di antara mereka, mereka pun akan mati. Namun, bagaimana nasibnya bumi yang indah ini? Manusia seolah makhluk yang paling merusak di antara makhluk yang lain. Jangan biarkan aku mati, aku memiliki kekuasaan atas pula atas kematian manusia,”. Dan aku menjawab,”Kau harus melawan kesewenang-wenangan mereka, Wahai Langit. Berilah mereka penderitaan dengan apapun yang bisa kau lakukan. Maafkan mereka dan bertahanlah dari penderitaanmu”.
Seperti Nabi atau Tuhan aku memerintah mereka. Hingga aku tersadar kembali bahwa aku adalah aku. Keheningan berganti menjadi keramaian kembali. Beberapa langkah saja dari tempatku bentakan-bentakan terdengar dan cepat berganti menjadi suara pukulan. Perkelahian sedang berlangsung, tangan beradu dengan wajah. Di sekelilingnya semua tampak memperhatikan dengan serius setiap gerakan. Semua sedang belajar berkelahi. Kudengar pula di media massa bahwa pertikaian antar-manusia yang dikotak-kotakkan diprediksi akan berlangsung dalam waktu dekat. Semua sedang berlatih untuk membunuh demi menjadi pemenang. Walaupun, di antara perkelahian itu masih kudengar lantunan ayat kitab suci. Ah, bukankah antarkitab suci itu pun akan berusaha untuk saling menjadi pemenang?
Kepanasan mendera. Buku-buku yang telah kusam kuambil satu dan kubacai. Debu pun berhamburan tak beraturan. Itu tampak melalui sinar cahaya yang menembusi celah jendela. Buku itu ditulis oleh seorang pengarang besar yang begitu meninggikan nilai-nilai kemanusiaan dalam tiap karyanya. Dia menganalisa dengan cermat tiap ketidakadilan yang berlangsung, sekaligus melakukan pembelaan. Pengarang itu telah tiada. Dan apa yang akan dikatakannya sekarang? Ketika yang dituliskannya ternyata tak berarti apapun? Senjata! Ternyata manusia belum bisa mengendalikan barang itu. Seolah jika manusia sudah memegangnya, maka semua yang baik tak berarti. Sifat dasar membunuhnya muncul. Satu sifat yang dipertanyakan oleh malaikat ketika penciptaannya.
Aku mesti ikut membunuh. Kupersiapkan alat apapun yang kupunya untuk berlatih. Di depan sana, sebagian besar masih berdiri tegak memegang senjata dan sebagian kecilnya telah tumbang terjerembab di tanah. Seorang yang berdiri lebih tinggi dari yang lain – mungkin seorang panglima perang– menyatakan bahwa dirinya tak membutuhkan orang-orang yang lemah! Dia membutuhkan orang-orang yang kuat terkena bazooka sekalipun! Mendengar itu, aku mundur kembali ke tempat semula. Dalam pikiranku, perang berarti dilakukan bersama-sama yang hanya sekedar menimbulkan darah di tubuh musuh. Tak ada kemungkinan untuk kehilangan nyawa sendiri. Namun, aku baru berpikir pula bahwa perang berarti saling berbalas. Ada yang dibunuh, pastilah ada yang terbunuh.
Kudengar suara kicauan burung yang khawatir terbang di langit sana. Pembidik mengarahkan senjata ke arahnya. Dar! Satu tembakan dan burung itu pun jatuh ke tanah. Kekhawatiran yang sesaat saja dirasakannya seolah berarti juga pembenaran akan terjadinya sesuatu terhadapnya. Pembidik memakan bangkai itu tanpa digoreng atau dibakar. Kelaparan memang menjadi kebiasaan disaat keadaan sebelum perang seperti ini. Ketika semua harta dan kekayaan dijual demi senjata dan peluru. Semua berpikir bahwa kemenangan lebih penting daripada perut yang kosong. Tapi, nyatanya kelaparan juga penting. Sepanjang penglihatan tampak orang-orang berebut memakan bangkai hewan atau manusia sekalipun. Semua yang berpikir tampak tidak pernah berpikir.
Yang paling bersemangat dalam perang adalah si miskin. Walaupun hanya bersenjatakan pisau dan tombak, mereka berlatih tanpa takut mati. Kudengar di media massa, mereka berperang dengan tujuan untuk meruntuhkan dominasi si kaya, tidak berkepentingan membela wilayah atau apapun. Mereka ingin mencapai kesamarataan manusia. Semuanya mesti dimulai lagi dari awal, karena kesenjangan sekarang ini telah begitu menyengsarakan. Yang bermodal terlalu bebas melahap semua yang tersedia. Mereka telah lelah ditipu dengan dijadikan bawahan. Maka, dengan pernyataan mereka itu media massa beranggapan bahwa perang kali ini akan sangat menarik untuk diliput, karena akan banyak orang dengan macam-macam kepentingan yang terlibat. Selanjutnya, kudengar lagi dari kabar angin bahwa media massa yang meliput pernyataan di miskin itupun akhirnya kantornya dibakar karena si miskin beranggapan media massa pun tempat berkumpulnya si kaya.
Perang dengan berbagai kepentingan pun berlangsung. Suara ledakan terdengar di semua penjuru. Aku berlindung di samping sebuah lemari yang telah rapuh. Teriakan-teriakan bayi dan wanita terdengar beberapakali juga. Panglima perang menyerukan “Bunuh! Bunuh musuhmu!”. Aku pun tersentak dan berjalan menuju depan menatap langit dan pohon yang masih juga diam. Kuharap pembalasan segera mereka lakukan sekarang, ketika keadaan manusia sedang goyah seperti ini.
Langit mendung, suara pohon tumbang. Semua orang menengadah ke langit dan menunjukkan wajah kebingungan. Hujan pun turun disertai petir. Beberapa orang tersambar petir dan tertimpa pohon yang tumbang. Perang dihentikan sejenak untuk memahami apa yang sedang terjadi di luar mereka. Ketika itu, panglima perang tampak menangis dan ia berkata,”Yang kuasa sedang mengamuk! Ada yang lebih kuasa!”. Dan senjata-senjata yang baru sesaat saja digunakan itu terlepas dari genggaman. Semua orang melihat dan merenungi keadaan yang telah porak-poranda.
Mayat-mayat dikesampingkan. Perang diputuskan untuk dihentikan. Semua orang digerayangi ketakutan yang sangat dahsyat. Mereka baru saja lupa atas kekuatan yang lebih besar, yang dipercayainya sejak beribu-ribu tahun lampau. Senyuman pun kembali tampak menghiasi wajah tiap orang. Keadaan yang sempat porak-poranda mulai di tata-ulang kembali. Tema “Revolusi” menghiasi pula di berbagai media massa. Orang-orang mulai menata kembali yang sempat hilang.
Tapi kehidupan yang mulai ditata itu tidak dibarengi dengan kemunculan kembali pepohonan dan sinar matahari. Mereka seolah tidak mau lagi singgah di bumi. Semua orang merindukan mereka, sumber kehidupan. Tapi tak pernah ada tanda-tanda kemunculannya puluhan tahun mendatang. Manusia hidup dalam kegelapan. Ribuan manusia telah mati dan pembalasan masih juga berlangsung.
Kita memang akan saling membunuh suatu hari nanti, tapi itu bisa diubah. Jangan membunuh, lekaslah kembali pada pangkuan alam. Pada akhirnya, yang menjadi pemenang adalah mereka yang terbiasa dengan kelaparan, keheningan, dan berdiskusi pada jiwa…

Tidak ada komentar: