Plang Larangan Berjualan dan Anarkisme - LPPMD Unpad

Jumat, 03 Maret 2017

Plang Larangan Berjualan dan Anarkisme

Sumber Foto: Aldo Fernando


Oleh: Aldo Fernando*


Apa yang kawan-kawan pikirkan mengenai gambar di atas? Adakah hal yang aneh? Apakah biasa saja? Oh ya, apakah kawan-kawan tahu lokasi foto di atas?  Jawaban: Lokasi plang tersebut di pinggir jalan raya sekitar pangkalan damri (pangdam) kampus Unpad Jatinangor. Baiklah, saya akan menuliskan terlebih dahulu mengenai impresi saya atas foto tersebut.

Bagi saya, foto di atas istimewa  karena di dalamnya terdapat lambang A dengan lingkaran berwarna hitam yang menutupi tulisan larangan berjualan di sekitar halaman Unpad. Unpad mungkin ingin membuat lingkungannya tetap asri dan terbebas dari pedagang kaki lima sehingga membuat larangan seperti itu. Namun, apakah larangan itu sepenuhnya berhasil? Saya tidak bisa memastikan. Menariknya, ada sebentuk perlawanan terhadap larangan itu, yakni perlawanan dalam bentuk mencorat-coret plang larangan: dengan membentuk huruf A-dalam lingkaran berwarna hitam. Siapakah yang melakukannya? Saya tidak bisa memastikan orang atau kelompok yang melakukannya. 

Dalam hal ini, saya tertarik membahas lambang A-dalam lingkaran yang menutupi  plang larangan berjualan di atas. Saya berasumsi bahwa lambang A-dalam lingkaran yang dibuat oleh anonim tersebut  adalah salah satu lambang Anarkisme. Menurut Buckley (2011: 13), lambang A-dalam lingkaran pertama kali digunakan oleh para pekerja pada Perang Sipil Spanyol 1936. Ruth Kinna menulis dalam bukunya Anarchism (2005) bahwa simbol A-dalam lingkaran diturunkan dari slogan ‘Anarki adalah keteraturan; pemerintah adalah perang sipil’, yang dikemukakan oleh Pierre-Joseph Proudhon pada 1848 dan kemudian disimbolisasikan oleh seorang revolusioner Anselme Bellegarrigue. Selain simbol A-dalam lingkaran, bendera hitam juga merupakan simbol yang merepresentasikan Anarkisme sejak 1880-an. Makna bendera hitam adalah untuk menendang segala simbol lain yang berbau negara—yang para anarkis yakini telah memisahkan orang-orang.

Sebelumnya, mungkin kawan-kawan bertanya-tanya dengan penasaran, “Apa sih anarkisme itu? Bukankah ia berkaitan dengan aksi kekerasan (aksi anarkis!) di setiap demonstrasi massa?” Baiklah, pada tulisan ini saya akan membahas secara singkat mengenai apa itu anarkisme—harapannya, agar kita bisa membangkitkan diskusi-diskusi mengenai anarkisme di kampus kita, Universitas Padjadjaran.

***

Definisi dan Tujuan Anarkisme

Anarkisme adalah sebuah -isme yang aneh karena ia sangat sering disalahpahami oleh banyak orang—yakni, dianggap sebagai semata-mata kekacauan dan tindak kekerasan. Padahal, pada dasarnya, anarkisme adalah sebuah ajaran yang bertujuan untuk membebaskan orang dari dominasi politik dan eksploitasi ekonomi dengan mendesak tindakan langsung yang bersifat non-pemerintah (Kinna, 2005: 3).

Kata ‘anarki’ sendiri berasal dari bahasa Yunani anarkhia, yang berarti bertentangan dengan otoritas atau tanpa penguasa. Terma ini pertama kali digunakan oleh Pierre-Joseph Proudhon untuk menggambarkan ideologi politik dan sosialnya. Menurut Proudhon, organisasi tanpa pemerintah itu mungkin dan sungguh diperlukan. Dalam perkembangan ide-ide politik, menurut Colin Ward (2004), anarkisme bisa dianggap sebagai proyeksi akhir dari baik liberalisme maupun sosialisme. 

Menurut Peter Marshall (1992: 3), mengajukan definisi murni mengenai anarkisme akan membawa kita pada kesalahpahaman karena anarkisme tidak menawarkan bangunan doktrin yang baku yang didasarkan pada satu pandangan-dunia yang partikular. Menurutnya, anarkisme merupakan “filsafat yang pelik dan subtil, yang merengkuh banyak aliran pemikiran dan strategi yang beragam.” Anarkisme, meminjam Peter Marshall, “seperti sungai yang memiliki banyak aliran dan pusaran, yang secara konstan berubah dan disegarkan kembali oleh gelombang-gelombang baru tetapi selalu bergerak ke arah samudera kebebasan yang luas”.

Lalu, mengapa kaum anarkis menentang adanya pemerintah, otoritas atau negara? Karena menurut mereka penguasa, otoritas atau negara (yang, tentu, mendukung kapitalisme) itu bersifat memaksa dan melancarkan segala bentuk kekerasan, penipuan dan kebohongan demi mempertahankan kekuasaannya—hal ini tentu saja bertentangan dengan tujuan kaum anarkis: menciptakan dunia yang tanpa paksaan, penuh kebebasan dan menciptakan ketenangan bagi setiap individu-individu dalam masyarakat.  Emma Goldman, salah seorang anarkis, menyebut negara—ia mengutip Nietzsche—sebagai ‘monster dingin’ yang kejam. Negara selalu berusaha menundukkan orang-orang agar tetap dalam kendalinya—entah dalam bentuk simbolik ataupun fisik—atas nama stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan lain sebagainya. Ini adalah bentuk penaklukan internal negara. Selain melakukan penaklukan dan pemaksaan secara internal, negara juga melakukan kekerasan dan pemaksaan kekuasaan secara eksternal demi memperkuat  dominasi dan pengaruhnya. Seperti menurut Rothbard (dikutip dari Kinna, 2005: 48), “kecenderungan alamiah dari negara adalah untuk memperluas kekuasaannya dan ekspansi semacam itu berlangsung dengan jalan menaklukkan suatu area teritorial tertentu”.

Kemudian, mungkin anda bertanya, “apa perbedaan antara anarkisme, anarkis dan anarki?” Sederhananya begini. Anarkisme adalah teori atau ajaran mengenai pembebasan manusia dari kekangan otoritas, hirarki yang menindas atau pemerintah tertentu. Anarkis adalah orang-orang yang membantu mempertahankan dan mencoba mewujudkan  ideal-ideal anarkisme. Anarki adalah kondisi yang ingin dicapai atau tujuan dari para anarkis, yakni masyarakat yang beragam yang hidup tanpa otoritas atau tanpa pemerintah, tanpa negara, tanpa hirarki, tanpa paksaan, yang menjunjung tinggi kebebasan, kerjasama antarindividu, kemerdekaan dan kesetaraan (Kinna, 2005).

Anarkisme dan Kekerasan?
Sebagaimana dikatakan di atas, anarkisme memang sering sekali disalahpahami. Apakah ia sebuah kekerasan? Bom? Keganasan kaum muda di jalanan? Alexander Berkman menulis dalam karyanya ABC Anarkisme (2017 [1942]) bahwa penting untuk menjelaskan terlebih dahulu apa-apa yang bukan anarkisme, karena begitu banyak kekeliruan dan “kebohongan yang telah disebar mengenai anarkisme”. Ia menulis,

Karenanya, saya mesti mengatakan kepada anda, pertama-tama, apa yang bukan anarkisme.

·         Anarkisme bukan bom, ketidakteraturan atau kekacauan.

·         Anarkisme bukan perampokan dan pembunuhan.
·         Anarkisme bukan sebuah perang di antara sedikit melawan semua.
·         Anarkisme bukan berarti kembali ke barbarisme atau kondisi yang liar manusia.
·         Anarkisme adalah kebalikan dari semua itu.

Anarkisme memiliki arti bahwa anda harus bebas; bahwa tidak seorang pun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda.


Mengapa anarkisme sering disalahpahami sebagai dan seolah-olah identik dengan kekerasan? Menurut Buckley (2011), salah satu alasan penting mengapa anarkisme sering disalahpahami adalah karena pengaruh pemerintah mengenai bagaimana sejarah ditulis. Argumentasinya begini: karena pemerintah cenderung mendefinisikan sejarah dan kebudayaan, sejarah yang diakui secara resmi cenderung menyajikan informasi mengenai anarkisme secara berat sebelah: para pendukung dan aksi revolusioner yang paling diwarnai ‘kekerasan’ ditulis sebagai sesuatu yang keji, sementara pandangan masyarakat yang humanis, idealis, dan egaliter yang diajukan kaum anarkis seringkali diacuhkan begitu saja. Tentu saja terdapat beberapa anarkis yang menggunakan kekerasan sebagai propaganda untuk melawan dominasi pemerintah, seperti pada aksi individual dalam “propaganda dengan perbuatan” yang berlangsung pada akhir abad ke-19. Ruth Kinna (2005: 158-164) berpendapat bahwa setelah kemunculan “propaganda dengan perbuatan”, perdebatan mengenai revolusi anarkis seringkali fokus pada pertanyaan mengenai kekerasan. Dalam hal ini, para anarkis berbeda pendirian mengenai bagaimana cara terbaik untuk melakukan aksi anarkis. Tetapi yang pasti, tidak ada kaum anarkis yang setuju bahwa aksi anarkis didorong oleh irasionalitas atau ketaatan mesianistik akan kultus penghancuran.
Awal Sejarah Pergerakan Anarkis
Menurut Ward (2004), secara historis, anarkisme muncul bukan semata-mata sebagai penjelasan atas jurang pemisah yang begitu lebar antara orang kaya dan orang miskin di suatu komunitas tertentu, dan karenanya untuk memberi pendasaran mengapa orang miskin harus melawan ketidakadilan distribusi kekayaan semacam itu, melainkan juga sebagai jawaban radikal atas pertanyaan “Apa yang salah?” yang hadir setelah Revolusi Perancis—dengan munculnya pemerintahan  teror, dan  munculnya kasta kaya yang baru, berikut dengan penguasa barunya: Napoleon Bonaparte.

Memang,  anarkisme sebagai sebuah teori yang koheren baru muncul pada paruh kedua abad ke-19[i]. Namun, merujuk kepada Clifford Harper dalam bukunya Anarchy (1987), kita dapat melihat sejarah gerakan anarkis sejak awal abad ke-13, seperti yang dimulai oleh gerakan yang bernama Roh Bebas (The Free Spirit).  Roh Bebas merupakan gerakan anarkis pertama yang berkembang sepanjang Abad Pertengahan di Eropa. Tujuan utama kelompok tersebut adalah untuk menentang otoritarianisme gereja dan untuk menghadirkan kebahagiaan surgawi di bumi, disini dan saat ini juga. Tentu saja, gerakan Roh Bebas tersebut mendapatkan perlawanan dari gereja: dengan dituduh bidah, kemudian mereka diekskomunikasikan karena dosa besar mereka—yakni, karena mereka bebas dan menolak perintah gereja. Sebenarnya, selain Roh Bebas, terdapat banyak gerakan serupa seperti Pemberontakan Petani yang diilhami oleh semangat kaum Roh Bebas di Inggris pada abad ke-14 M, Ranters dan Diggers di inggris yang juga dipengaruhi ide-ide kaum Roh Bebas pada abad ke-17, dan lain sebagainya.

Sebagaimana dicatat oleh Peter Marshall (1992), sejarah gerakan anarkis mencapai titik puncaknya pada dua momen revolusi penting pada abad ke-20, yakni Revolusi Rusia dan Spanyol.  Pada Revolusi Rusia, kaum anarkis mencoba mewujudkan slogan ‘Semua Kuasa bagi Soviet’. Hal ini terjadi sebelum kaum Bolshevik memusatkan kekuasaan, lewat tangan Trotsky (sebagai kepala Tentara Merah) yang menghancurkan gerakan anarkis Nestor Makhno di Ukraina dan menekan pemberontakan para pekerja dan pelaut yang dikenal dengan Pemberontakan Kronstadt pada 1921, yang akhirnya berhasil meredam gerakan anarkisme di Rusia. Selain di Rusia, percobaan anarkis terbesar terjadi di Spnayol pada masa 1930an. Pada permulaan Perang Sipil Spanyol, demikian Marshall menulis, para petani di Andalusia, Aragon dan Valencia membangun dengan penuh semangat jaringan kolektif di ribuan desa. Selain itu, di Catalunya, para anarkis mengelola industri melalui kolektif-kolektif pekerja yang didasarkan pada kaidah-kaidah swa-kelola. Namun kemudian, percobaan anarkis tersebut hancur akibat intervensi fasis Italia dan Jerman bersama dengan Franco dan para pemberontaknya, serta para polisi Uni Soviet. Pertempuran itu berhasil memenangkan Franco dan membuat jutaan anarkis Spanyol harus mengendap-ngendap untuk kabur dari gempuran Franco.


Para Pemikir-Pelopor Anarkisme
Sebagaimana ditulis pada paragraf sebelumnya bahwa baru pada abad ke-19 anarkisme menemukan titik pijak teoretiknya dan menjadi salah satu gerakan politik yang sangat berpengaruh. Lalu, siapakah pelopor anarkisme itu? Baiklah, kita akan membahas para pelopor itu secara singkat berikut ini.

Pertama, William Godwin. (Ia memang hidup sebelum Proudhon, seorang perumus anarkisme sebagai ajaran politik, namun saya pikir bermanfaat untuk sedikit dibahas disini.) Ia memang tidak menganggap dirinya sebagai seorang anarkis, dan bukunya  Enquiry Concerning Political Justice yang diterbitkan pada 1793 tidak menyebut anarkisme, namun buku yang laris terjual di masanya itu menjadi salah satu bentuk perlawanan anarkis melawan pemerintah, hukum, properti, dan institusi negara. Lewat buku itu, namanya langsung membumbung tinggi. Godwin berpendapat bahwa hukum tidak diturunkan dari kebaikan dan kebijaksanaan pemimpin melainkan dari ambisi dan nafsu mereka, sehingga hukum-hukum tersebut mengarah kepada ketidakadilan (Buckley, 2011). Ia berseru untuk merobohkan pemerintah karena pemerintah bukan hanya tidak diperlukan tetapi juga berbahaya. Jika prinsip pemerintah berikut efek-efeknya dihilangkan, demikian menurut Godwin, maka pikiran manusia secara sendirinya akan berkembang menuju akal yang lebih baik dan lebih benar (Harper, 2017).

Kedua,  Max Stirner. Menurut Harper (2017), anarkisme Stirner merupakan pengejawantahan ekstrem dari individualisme atau egoisme. Stirner berpendapat bahwa individu berada di atas institusi, entah itu negara,hukum maupun kewajiban. Ia terkenal lewat bukunya The Ego and Its Own, yang menentang tanpa tedeng aling-aling segala ortodoksi agama, politik maupun filsafat. “Tak ada hal lain yang penting, kecuali diriku sendiri!” Demikian batu pijakan pemikiran Stirner. Menurut Stirner, individu harus bisa keluar dari kungkungan otoritas yang represif dan harus hidup untuk diri mereka sendiri  dan juga harus “memperlakukan orang lain seperti itu juga”. Anarkisme-Individualis Stirner membawa pengaruh besar bagi anarkisme setelah ia hidup.

Ketiga, Pierre-Joseph Proudhon. Ia adalah orang pertama yang menggunakan kata anarki untuk menggambarkan idenya tentang masyarakat dalam karyanya yang terkenal Apa itu Properti? yang ditulis pada 1840. Dalam karyanya tersebut Proudhon berseru bahwa ‘Properti adalah Pencurian’, tetapi ia juga berpendapat bahwa ‘Properti (dalam hal ini sebagai kepunyaan) adalah kebebasan'. Apa maksudnya? Begini. Dalam tulisannya tersebut Proudhon membedakan antara kepunyaan dan properti. Yang pertama (kepunyaan) berarti kepemilikan barang-barang untuk pemanfaatan personal. Sedangkan yang terakhir adalah barang-barang yang dapat digunakan untuk mendapatkan keuntungan, seperti pabrik, alat-alat berat, barang-barang mentah, dlsb. Properti, menurut Proudhon, harus disingkirkan beserta sistem politik yang mendukungnya. Proudhon yakin bahwa anarkisme merupakan tahap tertinggi masyarakat karena mempromosikan keadilan dan kemerdekaan, karena tidak ada pemerintah yang mengatur dan memaksakan hukum-hukumnya kepada individu-individu. Siapa yang bertugas untuk membebaskan masyarakat dari belenggu properti dan otoritas? Proudhon menjawab: “Para pekerja, buruh-buruh, siapapun kalian, inisiatif untuk perubahan ada pada kalian” (Harper, 2017).

Keempat, Mikhail Bakunin. Ia adalah keturunan keluarga aristokrasi Rusia. Ia pergi ke berlin untuk belajar filsafat dan kemudian terpengaruh aliran Hegelian ‘Kiri’. Pada tahun 1844 ia bertemu dengan Proudhon dan Marx di Paris. Ia terkenal karena pernah berdebat keras dengan Marx pada Internasionale Pertama pada 1870an. Ia memprediksi akan datangnya kediktatoran Marxis abad ke-20 masehi. Ia berkata, “kebebasan tanpa sosialisme adalah privilese dan ketidakadilan, tetapi sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kekejaman” (Ward, 2004). Ia dikenal sebagai pengkritik keras ajaran-ajaran Marxisme yang ia anggap sebagai sebuah ideologi kelas baru—otoritarianisme—yang menginginkan kekuasaan. Setelah kematiannya pengaruh Bakunin dalam perkembangan Anarkisme-Kolektivis di Rusia semakin menguat (Harper, 2017).

Kelima, Peter Kropotkin. Ia terlahir sebagai seorang pangeran di tahun 1842. Ia mempelajari geografi sehingga menjadi ahli di disiplin tersebut. Ia suatu waktu berpetualang ke Siberia demi hasrat penemuan ilmiah. Di sana ia menemukan para tahanan terserang tuberkulosis dan penyakit kulit yang kemudian menghentak kesadarannya dan mengubah hidupnya (Harper, 2017). Ia kemudian meninggalkan Rusia untuk pergi ke Eropa Barat. Di sana ia aktif dalam pergerakan anarkisme dan menulis banyak mengenai anarkisme. Di Jenewa Kropotkin menbantu mendirikan Le Révolté, sebuah pelopor terbitan anarkis. Selama hidupnya ia pernah beberapa kali dipenjara, termasuk pada tahun 1880an. Dalam karya-karyanya, ia membangun anarkisme di atas kaidah-kaidah, ideal-ideal dan temuan-temuan ilmiah. Kropotkin meninggal pada 8 Februari 1921. Peti matinya diarak dan diikuti oleh orang-orang sepanjang lima mil. Prosesi pemakamannya yang hebat tersebut menjadi pertunjukan bendera anarkis pada publik terakhir di Rusia. Di spanduk hitam kaum anarkis pada prosesi pemakaman Kropotkin tersebut tertulis kalimat dengan tinta merah: “Selama ada otoritas takkan pernah ada kebebasan.”

Sejumlah Aliran Utama Anarkisme
Anarkisme mengalami percabangan ke dalam beberapa aliran pada abad ke-19. Mulanya para anarkis membagi anarkisme ke dalam dua kelompok besar: komunis dan nonkomunis. Pada 1894 penulis Inggris Henry Seymour, contohnya, membagi dua jenis anarkisme, yakni mutualistis dan komunis. Pembagian tersebut didasarkan pada kaidah-kaidah ekonomi dan sosial. Inti dari ide mutualisme  adalah untuk memastikan semua pekerja menikmati hak atas tanah dan alat produksi yang sama, dan bahwa monopoli (dalam bentuk sewa, keuntungan, pajak) harus dihapuskan. Mutualisme mendorong kompetisi antarprodusen, yang berdasarkan pada hukum pasar. Sebaliknya, pada anarko-komunisme, komunitas mengontrol properti dan terdapat persamaan kesempatan serta penggunaan alat produksi sesuai kenyamanan masing-masing individu. Anarko-komunisme mengedepankan semangat kooperasi dan dukungan timbal balik (Kinna, 2005: 16-17).

Alexander Berkman juga menulis mengenai perbedaan anarkisme-komunis dan nonkomunis dalam ABC Anarkisme (2017: 53-91). Ia mengatakan bahwa tidak semua kaum anarkis percaya kepada komunisme sebagai “perencanaan ekonomi yang paling baik dan adil”. Sebelum Berkman menjelaskan perbedaan utama antara kaum anarkis-komunis dan anarkis nonkomunis (ia menyebut kaum Individualis dan Mutualis), ia menjelaskan posisinya terlebih dahulu. Menurut perkiraan Berkman, anarkisme komunis merupakan “bentuk masyarakat yang paling praktis dan paling diinginkan” karena “hanya di bawah kondisi komunis, anarkis dapat berhasil baik, dan persamaan kebebasan, keadilan serta kesejahteraan akan dijamin untuk setiap orang tanpa diskriminasi”. Semua anarkis, demikian kata Berkman, sepakat pada satu hal: bahwa pemerintah bersifat menjajah dan menekan perkembangan manusia—karenanya pemerintah arus dihapuskan. Namun, kaum anarkis tidak bersepakat pada dua hal pokok:

1). tentang cara-cara untuk mewujudkan anarki:  Kaum anarkis-komunis percaya bahwa revolusi sosial akan menghapuskan pemerintah dan membangun anarki, sedangkan kaum Individualis dan Mutualis percaya pada pelenyapan pemerintah secara bertahap;

2). tentang kepemilikan. Kaum anarkis Individualis dan Mutualis percaya pada kepemilikan pribadi. Menurut mereka kebebasan berarti  “hak setiap orang atas hasil kerja kerasnya”. Sebaliknya, kaum anarkis komunis berpendapat bahwa “institusi kepemilikan pribadi sebagai salah satu sumber ketidakadilan dan ketidakmerataan, kemiskinan dan kesengsaraan”.

Sebenarnya, terdapat banyak aliran anarkisme sampai hari ini. Namun, demi penghematan ruang, berikut ini saya akan menuliskan—selain anarkisme komunis, kaum Individualis dan Mutualis yang telah ditulis di atas—beberapa di antaranya saja (Buckley, 2011: 94-105).

Pertama, anarko-kolektivisme atau anarkisme-kolektivis. Tokoh utama aliran ini adalah Bakunin. Dalam anarkisme-kolektivis, alat-alat produksi dikolektifkan, maksudnya bahwa alat-alat tersebut dimiliki bersama oleh suatu asosiasi pekerja. Tentu ini berbeda dengan mutualisme, yang mana para pekerja individu memiliki sendiri alat dan produknya. Sama dengan bentuk anarkisme lainnya, para pekerja dalam sistem anarko-kolektivis berpartisipasi secara sukarela. Para kumpulan pekerja berkolaboasi secara bebas dengan kolektif lainnya.

Kedua, sindikalisme atau anarko-sindikalisme. Aliran ini muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Anarko-sindikalisme merupakan bentuk utama anarkisme yang dipraktikkan di Spanyol sebelum terjadinya Perang Sipil Spanyol. Di dalam sistem sindikalis, para pekerja mengorganisir diri mereka ke dalam kelompok-kelompok yang disebut sindikat. Sindikat-sindikat tersebut memiliki alat-alat produksi dan produk mereka sendiri.  Sindikalisme tidak hanya sebatas sistem ekonomi, tetapi juga merupakan suatu cara mengorganisir masyarakat ke dalam komunitas-komunitas sukarela. 

Ketiga, anarkisme pasifis. “Karena sejarah dan media populer cenderung menekankan pada kekerasan anarkisme,” Buckley menulis, “jenis anarkisme yang menyangkal kekerasan sebagai cara mencapai tujuan mendapatkan sedikit perhatian”. Sebenarnya, Proudhon telah menulis mengenai solusi perubahan anarkis yang tanpa kekerasan, tetapi sewaktu Proudhon menulis idenya tersebut, gagasan itu dianggap sebagai anarkisme saja. Sama seperti bentuk anarkisme lainnya, anarkisme pasifis mendukung masyarakat tanpa hirarki, namun mereka tidak menyetujui cara kekerasan untuk mencapai masyarakat yang bebas. Mereka menekankan pada perubahan bertahap dalam pikiran dan perilaku.  Anarkisme pasifis juga menyokong gagasan anti-militerisme dan tentu saja menolak eksistensi negara. Gustav Landauer merupakan tokoh anarkis-pasifis yang berpengaruh. Banyak penulis juga memasukan Leo Tolstoy sebagai salah satu penyokong anarkisme pasifis berkat interpretasi radikalnya atas ajaran Kristen—sehingga Tolstoy juga sering disebut seorang anarkis kristiani. Sebagaimana diketahui, sang penulis Perang dan Damai dan Anna Karenina tersebut meninggalkan kekayaan dan privilesenya untuk kemudian menjalani hidup asketis.

Keempat, anarkisme-lingkungan. Tokoh gerakan ini adalah Murray Bookchin. Ia adalah seorang filsuf yang mencoba menghubungkan anarkisme dan ekologi. Dalam hal ini, konsepsi anarkisme mengenai kehidupan yang bebas, holisitik dan egalitarian dipadukan dengan harmonisasi dengan bumi dan pembagian sumberdaya alamnya. Bookchin menggabungkan ekologi dan anarkisme ke dalam nama ekologi sosial. Ekologi sosial yang dimaksud adalah 1). kritik radikal yang koheren atas kecenderungan sosial, politis dan antiekologis dewasa ini; 2). Pendekatan etis, rekonstruktif, ekologis dan komunitarian terhadap masyarakat. Ekologi sosial mendorong perubahan radikal dalam hubungan manusia satu sama lain dan dengan bumu, yang menekankan pada cara hidup yang harmonis bersama alam dan bersama masing-masing individu yang akan menghasilkan “keteraturan alamiah dan spritualitas yang berkembang secara alamiah”. Bookchin juga menentang kapitalisme dan sebagala saran bahwa teknologi dan produk ‘hijau’ bisa menjadi solusi atas krisis iklim.

Kelima, anarkis-feminisme atau anarcha-feminisme. Ia merupakan aliran pemikiran anarkis yang menggabungkan aspek feminisme dan anarkisme. Aliran ini berusaha menghapuskan hirarki yang terutama dominasi oleh laki-laki. Menariknya, tidak seperti cabang anarkisme lainnya yang memberikan posisi atau pendirian dalam bentuk anarkisme secara keseluruhan, para anarcha-feminis membedakan diri mereka dengan anarkisme, yang mereka anggap masih berhenti pada struktur yang didominasi oleh laki-laki. Seperti para anarkis lainnya, anarcha-feminis melakukan organisasi-diri ke dalam kelompok-kelompok terhubung di setiap negara yang berbeda untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi mengenai isu gender, kesehatan perempuan, sejarah perempuan, dan isu-isu politik-sosial tertentu.

***

Di atas sudah dijelaskan secara singkat mengenai apa itu anarkisme, apa tujuan anarkisme, siapa tokoh-tokohnya, sampai pada aliran-aliran anarkisme. Barangkali, kawan-kawan masih diliputi tanda tanya besar mengenai pertanyaan-pertanyaan lain, seperti: apakah anarkisme masih hidup sampai saat ini, apakah ada seorang tokoh yang tidak mau dilabeli sebagai anarkis, apakah kaum anarkis pernah berhasil meraih ideal-idealnya, dan selaksa pertanyaan lainnya. Nah, itu tugas kawan-kawan untuk mencari lebih jauh mengenai hal tersebut. Semoga tulisan pengantar anarkisme saya ini dapat memicu kawan-kawan untuk menghidupkan diskusi-diskusi mengenai anarkisme di kampus kita. 

“Apakah anarkisme itu mungkin sama sekali?” tanya seorang mahasiswa yang sedang menikmati kopinya di salah satu tempat ngopi di dekat kampus. Kemudian seorang anarkis kampus menjawab dengan merdu: 

You may say I’m a dreamer/But I’m not the only one




*Penulis adalah anggota LPPMD Unpad. Ia seorang mahasiswa Perkebunan di Fakultas Pertanian angkatan 2013. Ia hidup di twitterland dengan id @aldofernandons


[i] Menarik untuk dicatat bahwa menurut Marshall (1992: 53-54), sensibilitas anarkis telah pertama kali muncul di antara kaum Taois di Cina pada sekitar abad ke-6 sebelum masehi. Tao te ching, menurut Marshall, mungkin bisa dianggap sebagai salah satu karya klasik terbesar. Para Taois menolak pemerintah dan percaya bahwa semua orang bisa hidup dalam harmoni alamiah.





Tidak ada komentar: