Sumber Foto: Aldo Fernando
Oleh: Aldo Fernando*
Apa yang kawan-kawan pikirkan
mengenai gambar di atas? Adakah hal yang aneh? Apakah biasa saja? Oh ya, apakah
kawan-kawan tahu lokasi foto di atas? Jawaban:
Lokasi plang tersebut di pinggir jalan raya sekitar pangkalan damri (pangdam) kampus Unpad Jatinangor. Baiklah, saya
akan menuliskan terlebih dahulu mengenai impresi saya atas foto tersebut.
Bagi saya, foto di atas istimewa karena di dalamnya terdapat lambang A dengan
lingkaran berwarna hitam yang menutupi tulisan larangan berjualan di sekitar
halaman Unpad. Unpad mungkin ingin membuat lingkungannya tetap asri dan
terbebas dari pedagang kaki lima sehingga membuat larangan seperti itu. Namun,
apakah larangan itu sepenuhnya berhasil? Saya tidak bisa memastikan. Menariknya,
ada sebentuk perlawanan terhadap larangan itu, yakni perlawanan dalam bentuk
mencorat-coret plang larangan: dengan membentuk huruf A-dalam lingkaran berwarna hitam. Siapakah yang melakukannya? Saya
tidak bisa memastikan orang atau kelompok yang melakukannya.
Dalam
hal ini, saya tertarik membahas lambang A-dalam lingkaran yang menutupi plang larangan berjualan di atas. Saya berasumsi
bahwa lambang A-dalam lingkaran yang
dibuat oleh anonim tersebut adalah salah
satu lambang Anarkisme. Menurut Buckley (2011: 13), lambang A-dalam lingkaran pertama kali digunakan oleh
para pekerja pada Perang Sipil Spanyol 1936. Ruth Kinna menulis dalam bukunya Anarchism (2005) bahwa simbol A-dalam lingkaran diturunkan dari slogan
‘Anarki adalah keteraturan; pemerintah
adalah perang sipil’, yang dikemukakan oleh Pierre-Joseph Proudhon pada
1848 dan kemudian disimbolisasikan oleh seorang revolusioner Anselme
Bellegarrigue. Selain simbol A-dalam lingkaran,
bendera hitam juga merupakan simbol yang merepresentasikan Anarkisme sejak
1880-an. Makna bendera hitam adalah untuk menendang segala simbol lain yang
berbau negara—yang para anarkis yakini telah memisahkan orang-orang.
Sebelumnya, mungkin kawan-kawan
bertanya-tanya dengan penasaran, “Apa sih
anarkisme itu? Bukankah ia berkaitan dengan aksi kekerasan (aksi anarkis!)
di setiap demonstrasi massa?” Baiklah, pada tulisan ini saya akan membahas secara
singkat mengenai apa itu anarkisme—harapannya, agar kita bisa membangkitkan
diskusi-diskusi mengenai anarkisme di kampus kita, Universitas Padjadjaran.
***
Definisi dan Tujuan Anarkisme
Anarkisme adalah sebuah -isme
yang aneh karena ia sangat sering disalahpahami oleh banyak orang—yakni,
dianggap sebagai semata-mata kekacauan dan tindak kekerasan. Padahal, pada
dasarnya, anarkisme adalah sebuah ajaran yang bertujuan untuk membebaskan orang
dari dominasi politik dan eksploitasi ekonomi dengan mendesak tindakan langsung
yang bersifat non-pemerintah (Kinna, 2005: 3).
Kata ‘anarki’ sendiri berasal
dari bahasa Yunani anarkhia, yang
berarti bertentangan dengan otoritas atau tanpa penguasa. Terma ini pertama
kali digunakan oleh Pierre-Joseph Proudhon untuk menggambarkan ideologi politik
dan sosialnya. Menurut Proudhon, organisasi tanpa pemerintah itu mungkin dan
sungguh diperlukan. Dalam perkembangan ide-ide politik, menurut Colin Ward
(2004), anarkisme bisa dianggap sebagai proyeksi akhir dari baik liberalisme
maupun sosialisme.
Menurut Peter Marshall (1992: 3),
mengajukan definisi murni mengenai anarkisme akan membawa kita pada
kesalahpahaman karena anarkisme tidak menawarkan bangunan doktrin yang baku
yang didasarkan pada satu pandangan-dunia yang partikular. Menurutnya, anarkisme
merupakan “filsafat yang pelik dan subtil, yang merengkuh banyak aliran pemikiran
dan strategi yang beragam.” Anarkisme, meminjam Peter Marshall, “seperti sungai
yang memiliki banyak aliran dan pusaran, yang secara konstan berubah dan
disegarkan kembali oleh gelombang-gelombang baru tetapi selalu bergerak ke arah
samudera kebebasan yang luas”.
Lalu,
mengapa kaum anarkis menentang adanya pemerintah, otoritas atau negara? Karena
menurut mereka penguasa, otoritas atau negara (yang, tentu, mendukung kapitalisme)
itu bersifat memaksa dan melancarkan segala bentuk kekerasan, penipuan dan
kebohongan demi mempertahankan kekuasaannya—hal ini tentu saja bertentangan dengan
tujuan kaum anarkis: menciptakan dunia yang tanpa paksaan, penuh kebebasan dan
menciptakan ketenangan bagi setiap individu-individu dalam masyarakat. Emma Goldman, salah seorang anarkis, menyebut
negara—ia mengutip Nietzsche—sebagai ‘monster dingin’ yang kejam. Negara selalu
berusaha menundukkan orang-orang agar tetap dalam kendalinya—entah dalam bentuk
simbolik ataupun fisik—atas nama stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi,
kesejahteraan masyarakat dan lain sebagainya. Ini adalah bentuk penaklukan
internal negara. Selain melakukan penaklukan dan pemaksaan secara internal,
negara juga melakukan kekerasan dan pemaksaan kekuasaan secara eksternal demi memperkuat dominasi dan pengaruhnya. Seperti menurut
Rothbard (dikutip dari Kinna, 2005: 48), “kecenderungan alamiah dari negara
adalah untuk memperluas kekuasaannya dan ekspansi semacam itu berlangsung
dengan jalan menaklukkan suatu area teritorial tertentu”.
Kemudian, mungkin anda bertanya, “apa
perbedaan antara anarkisme, anarkis dan anarki?” Sederhananya begini. Anarkisme
adalah teori atau ajaran mengenai pembebasan manusia dari kekangan otoritas,
hirarki yang menindas atau pemerintah tertentu. Anarkis adalah orang-orang yang
membantu mempertahankan dan mencoba mewujudkan
ideal-ideal anarkisme. Anarki adalah kondisi yang ingin dicapai atau
tujuan dari para anarkis, yakni masyarakat yang beragam yang hidup tanpa
otoritas atau tanpa pemerintah, tanpa negara, tanpa hirarki, tanpa paksaan, yang
menjunjung tinggi kebebasan, kerjasama antarindividu, kemerdekaan dan
kesetaraan (Kinna, 2005).
Anarkisme dan Kekerasan?
Sebagaimana dikatakan di atas, anarkisme memang sering sekali
disalahpahami. Apakah ia sebuah kekerasan? Bom? Keganasan kaum muda di jalanan?
Alexander Berkman menulis dalam karyanya ABC Anarkisme (2017 [1942]) bahwa
penting untuk menjelaskan terlebih dahulu apa-apa yang bukan anarkisme, karena begitu banyak kekeliruan dan “kebohongan
yang telah disebar mengenai anarkisme”. Ia menulis,
Karenanya, saya mesti mengatakan kepada anda, pertama-tama, apa yang bukan anarkisme.
· Anarkisme bukan bom, ketidakteraturan atau kekacauan.
· Anarkisme bukan perampokan dan pembunuhan.· Anarkisme bukan sebuah perang di antara sedikit melawan semua.· Anarkisme bukan berarti kembali ke barbarisme atau kondisi yang liar manusia.· Anarkisme adalah kebalikan dari semua itu.
Anarkisme memiliki arti bahwa anda harus bebas; bahwa tidak seorang pun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda.
Mengapa
anarkisme sering disalahpahami sebagai dan seolah-olah identik dengan
kekerasan? Menurut Buckley (2011), salah satu alasan penting mengapa anarkisme
sering disalahpahami adalah karena pengaruh pemerintah mengenai bagaimana
sejarah ditulis. Argumentasinya begini: karena pemerintah cenderung
mendefinisikan sejarah dan kebudayaan, sejarah yang diakui secara resmi
cenderung menyajikan informasi mengenai anarkisme secara berat sebelah: para
pendukung dan aksi revolusioner yang paling diwarnai ‘kekerasan’ ditulis
sebagai sesuatu yang keji, sementara pandangan masyarakat yang humanis,
idealis, dan egaliter yang diajukan kaum anarkis seringkali diacuhkan begitu
saja. Tentu saja terdapat beberapa anarkis yang menggunakan kekerasan sebagai
propaganda untuk melawan dominasi pemerintah, seperti pada aksi individual
dalam “propaganda dengan perbuatan” yang berlangsung pada akhir abad ke-19. Ruth
Kinna (2005: 158-164) berpendapat bahwa setelah kemunculan “propaganda dengan
perbuatan”, perdebatan mengenai revolusi anarkis seringkali fokus pada
pertanyaan mengenai kekerasan. Dalam hal ini, para anarkis berbeda pendirian
mengenai bagaimana cara terbaik untuk melakukan aksi anarkis. Tetapi yang
pasti, tidak ada kaum anarkis yang setuju bahwa aksi anarkis didorong oleh
irasionalitas atau ketaatan mesianistik akan kultus penghancuran.
Awal
Sejarah Pergerakan Anarkis
Menurut Ward (2004), secara
historis, anarkisme muncul bukan semata-mata sebagai penjelasan atas jurang
pemisah yang begitu lebar antara orang kaya dan orang miskin di suatu komunitas
tertentu, dan karenanya untuk memberi pendasaran mengapa orang miskin harus
melawan ketidakadilan distribusi kekayaan semacam itu, melainkan juga sebagai
jawaban radikal atas pertanyaan “Apa yang salah?” yang hadir setelah Revolusi
Perancis—dengan munculnya pemerintahan
teror, dan munculnya kasta kaya
yang baru, berikut dengan penguasa barunya: Napoleon Bonaparte.
Memang, anarkisme sebagai sebuah teori yang koheren
baru muncul pada paruh kedua abad ke-19[i]. Namun,
merujuk kepada Clifford Harper dalam bukunya Anarchy (1987), kita dapat melihat sejarah gerakan anarkis sejak
awal abad ke-13, seperti yang dimulai oleh gerakan yang bernama Roh Bebas (The Free Spirit). Roh Bebas merupakan gerakan anarkis pertama
yang berkembang sepanjang Abad Pertengahan di Eropa. Tujuan utama kelompok
tersebut adalah untuk menentang otoritarianisme gereja dan untuk menghadirkan
kebahagiaan surgawi di bumi, disini dan saat ini juga. Tentu saja, gerakan Roh
Bebas tersebut mendapatkan perlawanan dari gereja: dengan dituduh bidah, kemudian
mereka diekskomunikasikan karena dosa besar mereka—yakni, karena mereka bebas
dan menolak perintah gereja. Sebenarnya, selain Roh Bebas, terdapat banyak gerakan serupa seperti Pemberontakan
Petani yang diilhami oleh semangat kaum Roh
Bebas di Inggris pada abad ke-14 M, Ranters
dan Diggers di inggris yang juga
dipengaruhi ide-ide kaum Roh Bebas
pada abad ke-17, dan lain sebagainya.
Sebagaimana dicatat oleh Peter
Marshall (1992), sejarah gerakan anarkis mencapai titik puncaknya pada dua
momen revolusi penting pada abad ke-20, yakni Revolusi Rusia dan Spanyol. Pada Revolusi Rusia, kaum anarkis mencoba
mewujudkan slogan ‘Semua Kuasa bagi Soviet’. Hal ini terjadi sebelum kaum
Bolshevik memusatkan kekuasaan, lewat tangan Trotsky (sebagai kepala Tentara
Merah) yang menghancurkan gerakan anarkis Nestor Makhno di Ukraina dan menekan
pemberontakan para pekerja dan pelaut yang dikenal dengan Pemberontakan
Kronstadt pada 1921, yang akhirnya berhasil meredam gerakan anarkisme di Rusia.
Selain di Rusia, percobaan anarkis terbesar terjadi di Spnayol pada masa
1930an. Pada permulaan Perang Sipil Spanyol, demikian Marshall menulis, para
petani di Andalusia, Aragon dan Valencia membangun dengan penuh semangat
jaringan kolektif di ribuan desa. Selain itu, di Catalunya, para anarkis
mengelola industri melalui kolektif-kolektif pekerja yang didasarkan pada
kaidah-kaidah swa-kelola. Namun kemudian, percobaan anarkis tersebut hancur
akibat intervensi fasis Italia dan Jerman bersama dengan Franco dan para
pemberontaknya, serta para polisi Uni Soviet. Pertempuran itu berhasil
memenangkan Franco dan membuat jutaan anarkis Spanyol harus mengendap-ngendap
untuk kabur dari gempuran Franco.
Para
Pemikir-Pelopor Anarkisme
Sebagaimana ditulis pada paragraf
sebelumnya bahwa baru pada abad ke-19 anarkisme menemukan titik pijak
teoretiknya dan menjadi salah satu gerakan politik yang sangat berpengaruh.
Lalu, siapakah pelopor anarkisme itu? Baiklah, kita akan membahas para pelopor
itu secara singkat berikut ini.
Pertama, William Godwin. (Ia memang
hidup sebelum Proudhon, seorang perumus anarkisme sebagai ajaran politik, namun
saya pikir bermanfaat untuk sedikit dibahas disini.) Ia memang tidak menganggap
dirinya sebagai seorang anarkis, dan bukunya Enquiry Concerning Political Justice yang
diterbitkan pada 1793 tidak menyebut anarkisme, namun buku yang laris terjual
di masanya itu menjadi salah satu bentuk perlawanan anarkis melawan pemerintah,
hukum, properti, dan institusi negara. Lewat buku itu, namanya langsung
membumbung tinggi. Godwin berpendapat bahwa hukum tidak diturunkan dari
kebaikan dan kebijaksanaan pemimpin melainkan dari ambisi dan nafsu mereka,
sehingga hukum-hukum tersebut mengarah kepada ketidakadilan (Buckley, 2011). Ia
berseru untuk merobohkan pemerintah karena pemerintah bukan hanya tidak
diperlukan tetapi juga berbahaya. Jika prinsip pemerintah berikut efek-efeknya
dihilangkan, demikian menurut Godwin, maka pikiran manusia secara sendirinya
akan berkembang menuju akal yang lebih baik dan lebih benar (Harper, 2017).
Kedua, Max Stirner. Menurut Harper (2017), anarkisme
Stirner merupakan pengejawantahan ekstrem dari individualisme atau egoisme.
Stirner berpendapat bahwa individu berada di atas institusi, entah itu
negara,hukum maupun kewajiban. Ia terkenal lewat bukunya The Ego and Its Own, yang menentang tanpa tedeng aling-aling segala
ortodoksi agama, politik maupun filsafat. “Tak ada hal lain yang penting,
kecuali diriku sendiri!” Demikian batu pijakan pemikiran Stirner. Menurut
Stirner, individu harus bisa keluar dari kungkungan otoritas yang represif dan
harus hidup untuk diri mereka sendiri dan juga harus “memperlakukan orang lain
seperti itu juga”. Anarkisme-Individualis Stirner membawa pengaruh besar bagi
anarkisme setelah ia hidup.
Ketiga, Pierre-Joseph Proudhon. Ia
adalah orang pertama yang menggunakan kata anarki
untuk menggambarkan idenya tentang masyarakat dalam karyanya yang terkenal Apa itu Properti? yang ditulis pada
1840. Dalam karyanya tersebut Proudhon berseru bahwa ‘Properti adalah
Pencurian’, tetapi ia juga berpendapat bahwa ‘Properti (dalam hal ini sebagai
kepunyaan) adalah kebebasan'. Apa maksudnya? Begini. Dalam tulisannya tersebut
Proudhon membedakan antara kepunyaan dan properti. Yang pertama (kepunyaan)
berarti kepemilikan barang-barang untuk pemanfaatan personal. Sedangkan yang
terakhir adalah barang-barang yang dapat digunakan untuk mendapatkan
keuntungan, seperti pabrik, alat-alat berat, barang-barang mentah, dlsb.
Properti, menurut Proudhon, harus disingkirkan beserta sistem politik yang
mendukungnya. Proudhon yakin bahwa anarkisme merupakan tahap tertinggi
masyarakat karena mempromosikan keadilan dan kemerdekaan, karena tidak ada
pemerintah yang mengatur dan memaksakan hukum-hukumnya kepada
individu-individu. Siapa yang bertugas untuk membebaskan masyarakat dari
belenggu properti dan otoritas? Proudhon menjawab: “Para pekerja, buruh-buruh,
siapapun kalian, inisiatif untuk perubahan ada pada kalian” (Harper, 2017).
Keempat, Mikhail Bakunin. Ia adalah
keturunan keluarga aristokrasi Rusia. Ia pergi ke berlin untuk belajar filsafat
dan kemudian terpengaruh aliran Hegelian ‘Kiri’. Pada tahun 1844 ia bertemu
dengan Proudhon dan Marx di Paris. Ia terkenal karena pernah berdebat keras
dengan Marx pada Internasionale Pertama pada 1870an. Ia memprediksi akan
datangnya kediktatoran Marxis abad ke-20 masehi. Ia berkata, “kebebasan tanpa
sosialisme adalah privilese dan ketidakadilan, tetapi sosialisme tanpa
kebebasan adalah perbudakan dan kekejaman” (Ward, 2004). Ia dikenal sebagai
pengkritik keras ajaran-ajaran Marxisme yang ia anggap sebagai sebuah ideologi
kelas baru—otoritarianisme—yang menginginkan kekuasaan. Setelah kematiannya
pengaruh Bakunin dalam perkembangan Anarkisme-Kolektivis di Rusia semakin
menguat (Harper, 2017).
Kelima, Peter Kropotkin. Ia terlahir
sebagai seorang pangeran di tahun 1842. Ia mempelajari geografi sehingga
menjadi ahli di disiplin tersebut. Ia suatu waktu berpetualang ke Siberia demi
hasrat penemuan ilmiah. Di sana ia menemukan para tahanan terserang tuberkulosis
dan penyakit kulit yang kemudian menghentak kesadarannya dan mengubah hidupnya
(Harper, 2017). Ia kemudian meninggalkan Rusia untuk pergi ke Eropa Barat. Di
sana ia aktif dalam pergerakan anarkisme dan menulis banyak mengenai anarkisme.
Di Jenewa Kropotkin menbantu mendirikan Le Révolté, sebuah pelopor terbitan anarkis. Selama
hidupnya ia pernah beberapa kali dipenjara, termasuk pada tahun 1880an. Dalam
karya-karyanya, ia membangun anarkisme di atas kaidah-kaidah, ideal-ideal dan
temuan-temuan ilmiah. Kropotkin meninggal pada 8 Februari 1921. Peti matinya
diarak dan diikuti oleh orang-orang sepanjang lima mil. Prosesi pemakamannya
yang hebat tersebut menjadi pertunjukan bendera anarkis pada publik terakhir di
Rusia. Di spanduk hitam kaum anarkis pada prosesi pemakaman Kropotkin tersebut
tertulis kalimat dengan tinta merah: “Selama ada otoritas takkan pernah ada
kebebasan.”
Sejumlah Aliran Utama Anarkisme
Anarkisme mengalami percabangan ke
dalam beberapa aliran pada abad ke-19. Mulanya para anarkis membagi anarkisme
ke dalam dua kelompok besar: komunis dan nonkomunis. Pada 1894 penulis Inggris
Henry Seymour, contohnya, membagi dua jenis anarkisme, yakni mutualistis dan
komunis. Pembagian tersebut didasarkan pada kaidah-kaidah ekonomi dan sosial. Inti
dari ide mutualisme adalah untuk
memastikan semua pekerja menikmati hak atas tanah dan alat produksi yang sama,
dan bahwa monopoli (dalam bentuk sewa, keuntungan, pajak) harus dihapuskan.
Mutualisme mendorong kompetisi antarprodusen, yang berdasarkan pada hukum
pasar. Sebaliknya, pada anarko-komunisme, komunitas mengontrol properti dan
terdapat persamaan kesempatan serta penggunaan alat produksi sesuai kenyamanan
masing-masing individu. Anarko-komunisme mengedepankan semangat kooperasi dan
dukungan timbal balik (Kinna, 2005: 16-17).
Alexander Berkman juga menulis
mengenai perbedaan anarkisme-komunis dan nonkomunis dalam ABC Anarkisme (2017:
53-91). Ia mengatakan bahwa tidak semua kaum anarkis percaya kepada komunisme
sebagai “perencanaan ekonomi yang paling baik dan adil”. Sebelum Berkman
menjelaskan perbedaan utama antara kaum anarkis-komunis dan anarkis nonkomunis
(ia menyebut kaum Individualis dan Mutualis), ia menjelaskan posisinya terlebih
dahulu. Menurut perkiraan Berkman, anarkisme komunis merupakan “bentuk
masyarakat yang paling praktis dan paling diinginkan” karena “hanya di bawah
kondisi komunis, anarkis dapat berhasil baik, dan persamaan kebebasan, keadilan
serta kesejahteraan akan dijamin untuk setiap orang tanpa diskriminasi”. Semua
anarkis, demikian kata Berkman, sepakat pada satu hal: bahwa pemerintah
bersifat menjajah dan menekan perkembangan manusia—karenanya pemerintah arus
dihapuskan. Namun, kaum anarkis tidak bersepakat pada dua hal pokok:
1). tentang cara-cara untuk mewujudkan anarki: Kaum anarkis-komunis percaya bahwa revolusi
sosial akan menghapuskan pemerintah dan membangun anarki, sedangkan kaum
Individualis dan Mutualis percaya pada pelenyapan pemerintah secara bertahap;
2). tentang kepemilikan. Kaum anarkis Individualis dan Mutualis
percaya pada kepemilikan pribadi. Menurut mereka kebebasan berarti “hak setiap orang atas hasil kerja kerasnya”.
Sebaliknya, kaum anarkis komunis berpendapat bahwa “institusi kepemilikan
pribadi sebagai salah satu sumber ketidakadilan dan ketidakmerataan, kemiskinan
dan kesengsaraan”.
Sebenarnya, terdapat banyak
aliran anarkisme sampai hari ini. Namun, demi penghematan ruang, berikut ini saya
akan menuliskan—selain anarkisme komunis, kaum Individualis dan Mutualis yang
telah ditulis di atas—beberapa di antaranya saja (Buckley, 2011: 94-105).
Pertama, anarko-kolektivisme atau anarkisme-kolektivis. Tokoh utama
aliran ini adalah Bakunin. Dalam anarkisme-kolektivis, alat-alat produksi
dikolektifkan, maksudnya bahwa alat-alat tersebut dimiliki bersama oleh suatu
asosiasi pekerja. Tentu ini berbeda dengan mutualisme, yang mana para pekerja
individu memiliki sendiri alat dan produknya. Sama dengan bentuk anarkisme
lainnya, para pekerja dalam sistem anarko-kolektivis berpartisipasi secara
sukarela. Para kumpulan pekerja berkolaboasi secara bebas dengan kolektif
lainnya.
Kedua, sindikalisme atau anarko-sindikalisme. Aliran ini muncul
pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Anarko-sindikalisme merupakan bentuk
utama anarkisme yang dipraktikkan di Spanyol sebelum terjadinya Perang Sipil
Spanyol. Di dalam sistem sindikalis, para pekerja mengorganisir diri mereka ke
dalam kelompok-kelompok yang disebut sindikat. Sindikat-sindikat tersebut
memiliki alat-alat produksi dan produk mereka sendiri. Sindikalisme tidak hanya sebatas sistem
ekonomi, tetapi juga merupakan suatu cara mengorganisir masyarakat ke dalam
komunitas-komunitas sukarela.
Ketiga, anarkisme pasifis. “Karena
sejarah dan media populer cenderung menekankan pada kekerasan anarkisme,”
Buckley menulis, “jenis anarkisme yang menyangkal kekerasan sebagai cara
mencapai tujuan mendapatkan sedikit perhatian”. Sebenarnya, Proudhon telah
menulis mengenai solusi perubahan anarkis yang tanpa kekerasan, tetapi sewaktu
Proudhon menulis idenya tersebut, gagasan itu dianggap sebagai anarkisme saja.
Sama seperti bentuk anarkisme lainnya, anarkisme pasifis mendukung masyarakat
tanpa hirarki, namun mereka tidak menyetujui cara kekerasan untuk mencapai
masyarakat yang bebas. Mereka menekankan pada perubahan bertahap dalam pikiran
dan perilaku. Anarkisme pasifis juga
menyokong gagasan anti-militerisme dan tentu saja menolak eksistensi negara.
Gustav Landauer merupakan tokoh anarkis-pasifis yang berpengaruh. Banyak
penulis juga memasukan Leo Tolstoy sebagai salah satu penyokong anarkisme
pasifis berkat interpretasi radikalnya atas ajaran Kristen—sehingga Tolstoy
juga sering disebut seorang anarkis kristiani. Sebagaimana diketahui, sang
penulis Perang dan Damai dan Anna Karenina tersebut meninggalkan
kekayaan dan privilesenya untuk kemudian menjalani hidup asketis.
Keempat, anarkisme-lingkungan. Tokoh
gerakan ini adalah Murray Bookchin. Ia adalah seorang filsuf yang mencoba
menghubungkan anarkisme dan ekologi. Dalam hal ini, konsepsi anarkisme mengenai
kehidupan yang bebas, holisitik dan egalitarian dipadukan dengan harmonisasi
dengan bumi dan pembagian sumberdaya alamnya. Bookchin menggabungkan ekologi
dan anarkisme ke dalam nama ekologi sosial. Ekologi sosial yang dimaksud adalah
1). kritik radikal yang koheren atas kecenderungan sosial, politis dan
antiekologis dewasa ini; 2). Pendekatan etis, rekonstruktif, ekologis dan
komunitarian terhadap masyarakat. Ekologi sosial mendorong perubahan radikal
dalam hubungan manusia satu sama lain dan dengan bumu, yang menekankan pada cara
hidup yang harmonis bersama alam dan bersama masing-masing individu yang akan
menghasilkan “keteraturan alamiah dan spritualitas yang berkembang secara
alamiah”. Bookchin juga menentang kapitalisme dan sebagala saran bahwa
teknologi dan produk ‘hijau’ bisa menjadi solusi atas krisis iklim.
Kelima, anarkis-feminisme atau anarcha-feminisme. Ia merupakan aliran
pemikiran anarkis yang menggabungkan aspek feminisme dan anarkisme. Aliran ini
berusaha menghapuskan hirarki yang terutama dominasi oleh laki-laki. Menariknya,
tidak seperti cabang anarkisme lainnya yang memberikan posisi atau pendirian
dalam bentuk anarkisme secara keseluruhan, para anarcha-feminis membedakan diri
mereka dengan anarkisme, yang mereka anggap masih berhenti pada struktur yang
didominasi oleh laki-laki. Seperti para anarkis lainnya, anarcha-feminis
melakukan organisasi-diri ke dalam kelompok-kelompok terhubung di setiap negara
yang berbeda untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi mengenai isu gender,
kesehatan perempuan, sejarah perempuan, dan isu-isu politik-sosial tertentu.
***
Di atas sudah dijelaskan secara
singkat mengenai apa itu anarkisme, apa tujuan anarkisme, siapa tokoh-tokohnya,
sampai pada aliran-aliran anarkisme. Barangkali, kawan-kawan masih diliputi
tanda tanya besar mengenai pertanyaan-pertanyaan lain, seperti: apakah
anarkisme masih hidup sampai saat ini, apakah ada seorang tokoh yang tidak mau
dilabeli sebagai anarkis, apakah kaum anarkis pernah berhasil meraih
ideal-idealnya, dan selaksa pertanyaan lainnya. Nah, itu tugas kawan-kawan
untuk mencari lebih jauh mengenai hal tersebut. Semoga tulisan pengantar anarkisme
saya ini dapat memicu kawan-kawan untuk menghidupkan diskusi-diskusi mengenai
anarkisme di kampus kita.
“Apakah anarkisme itu mungkin sama sekali?” tanya seorang mahasiswa
yang sedang menikmati kopinya di salah satu tempat ngopi di dekat kampus.
Kemudian seorang anarkis kampus menjawab dengan merdu:
“You may say I’m a dreamer/But I’m not the only one”
*Penulis adalah anggota LPPMD Unpad. Ia seorang mahasiswa Perkebunan di
Fakultas Pertanian angkatan 2013. Ia hidup di twitterland dengan id
@aldofernandons
[i]
Menarik untuk dicatat bahwa
menurut Marshall (1992: 53-54), sensibilitas anarkis telah pertama kali muncul
di antara kaum Taois di Cina pada sekitar abad ke-6 sebelum masehi. Tao te
ching, menurut Marshall, mungkin bisa dianggap sebagai salah satu karya klasik terbesar.
Para Taois menolak pemerintah dan percaya bahwa semua orang bisa hidup dalam
harmoni alamiah.

Tidak ada komentar: