(Silahkan Pilih: Kamerad atau Oposan?)
Salam hangat untuk semua tamatan SMA
yang beruntung dibiayai kuliah di Unpad mulai tahun belajar 2017. Beruntunglah
kalian karena tergolong kepada strata berpunya—sebagian lainnya mendapatkan hak
sepenuhnya atas pendidikan gratis. Perkara bisa-tidak bisa kuliah sudah
kawan-kawan lewati, tapi sudahkah kalian
punya alasan matang untuk menempuh pendidikan tinggi sebelumnya?
Impian dan pengharapan lingkungan sosial
kawan-kawan yang berkelit-kelindan agaknya menghasilkan suatu landasan tersebut.
Lantas, apakah motivasi tersebut berupa kesukarelaan untuk melebur bersama
segala status quo atau meninjaunya
kembali, menyingkap sebanyak mungkin keborokannya, lalu dengan gigih memberikan
tawaran-tawaran yang tentu diperjuangkan terus-menerus? Kita diberikan ruang
yang besar oleh keadaan zaman sekarang dengan derasnya arus informasi. Meminjam
istilah Hegel(1837), Zeitgeist(semangat
zaman) sekarang di mana banyak orang doyan
melahap informasi yang banyak, walaupun tidak utuh, dapat kita manfaatkan
untuk mengasah daya kritis kita. Saat kawan-kawan kuliah di unpad ini kita akan
menemui segala hal yang patut ditentang dan kita berikan suatu tawaran
terhadapnya, tapi juga bisa memilih hal sebaliknya.
Sesuatu yang kawan-kawan jumpai di
semester awal dan mestinya tidak luput dari pengamatan kritis adalah ospek. Ketika kalian memutuskan untuk ikut atau tidak
mengikuti ospek, gambaran mengenai apa itu ospek, bagaimana ospek membentuk
suatu relasi sosial antara peserta dan panitia sehingga acara berjalan lancar,
dan mengapa ospek diadakan sebijaknya sudah kawan-kawan miliki. Ospek merupakan
sebuah ajang pengenalan kampus beserta kegiatannya bagi para mahasiswa yang
baru masuk. Karena pelaksanaannya yang diawal masa kuliah, ospek jadi salah
satu penentu awal bagaimana mental para peserta di lingkungan kuliah.
Permasalahannya, praktiknya hari ini justru
sarat dengan senioritas dan pengerdilan nalar para peserta. Itu mewujud pada aturan-aturan
yang tidak berkaitan dengan substansi ospek yang menjadi suatu tradisi karena
saking ajegnya. Budaya ini seterusnya mengatur kita secara langsung atau tidak
langsung pada masa mematangkan kapasitas masing-masing, baik soft skill maupun hard skill, setidaknya pada masa orientasi—ada ospek yang perlu
waktu sekian bulan, bahkan setahun. Sekalinya terdapat peserta pemberani yang
menyatakan pandangan kontra terhadapnya, panitia akan dengan mudah membuatnya
kecil hati dengan kekerasan verbal dan alasan bahwa aturan itu merupakan
pendidikan yang baik bagi peserta. Sungguh paradigma mendidik yang keliru. Di
Unpad, sebagian dari kita mewajarkan ospek macam itu.
Tugas-tugas
yang dibebankan pada kita saat ospek juga mesti dikritisi. Apa yag menjadikan
materi-materi perkuliahan dijadikan tugas ospek secara berlebihan? Jika
peruntukannya adalah menyiapkan kita agar terbiasa dengan tugas kuliah
nantinya, sungguh kita, sebagai mahasiswa tidak dipersilahkan mengatur diri
sendiri. Jika kita melihat dari sudut pandang wewenang penyelenggaraan
pendidikan formal, struktur yang dimiliki ospek jenis itu jelas cacat. Bukankah
jalannya perkuliahan adalah hak bagi mahasiswa dengan program studi alih-alih
suatu lembaga mahasiswa? Hukuman material/non-material, fisik/verbal, atau
sosial/pribadi biasanya didapatkan peserta yang melalaikan tugas tersebut. Kita
dipaksa setuju untuk menyelesaikannya—kerap lewat penandatanganan kontrak non-egaliter.
Salah satu ospek di Unpad memberikan tugas kepada pesertanya hingga berjumlah
sekian belas selama masa orientasi, baik itu pengerjaannya individu maupun
kelompok. Hukuman diberikan kepada seluruh peserta jika sebagian darinya
menghasilkan tugas yang jelek. Peserta ospek ini sebagian mengeluhkan kegiatan
kuliah dan organisasinya yang banyak terganggu oleh ospek. Sebagian malah
mengaku depresi karena tekanan mental dari panitia dan peserta lain yang
anehnya setuju menuruti titah panitia.
Kewajiban menggunakan seragam SMA saat
ospek bagi para peserta semestinya dipertanyakan lagi—bahkan ada ospek yang
mewajibkan peserta memakai seragam saat perkuliahan. Apa tujuannya, mengapa
harus dengan seragam itu, bagaimana pemakaian seragam itu akan membentuk sikap
peserta mesti dipetakan kembali; bisa membuat kawan-kawan lebih siap dengan
masa perkuliahan atau hanya sampah belaka. Begitupun dengan kewajiban mencukur
rambut jadi botak atau cepak bagi peserta laki-laki di beberapa ospek. Setiap
peserta mesti sama satu-sama lain. Bisa dicirikan dengan seragam dan potongan
rambutnya. Individu yang berbeda-beda mau tidak mau mesti sama sejak dari yang
terlihat mata. Kita dilatih untuk terbiasa jadi adonan dari cetakan yang sama.
Kita disiapkan untuk jadi buruh yang seragam tanpa beda kelak, sama-sama tunduk
pada siapapun tuan kita!
Ada semacam kecenderungan konyol lembaga
mahasiswa penyelenggara ospek. Semakin meriah acaranya, kampusnya semakin bagus
dibanding kampus lainnya. Semakin keras nan berat ospeknya, semakin punya
kualitas SDM yang lebih baik dibanding lembaga lainnya. Kebanggaan ini di dunia
kampus identik dengan warna tertentu; merah, hijau, biru, oranye, coklat, dan
banyak lagi. Apakah kita sebegitu gampangnya menanamkan kebanggaan? Inilah rasa
bangga yang tidak tepat. Kebiasaan yang jika dibiarkan malah melanggengkan
ketidakadilan, dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya. Contohnya apa yang
terjadi antara para nasionalis tukang jargon dan rakyat Papua yang haus
kesejahteraan sebagai yang terpinggirkan.
Kita jangan sampai ragu menyatakan isi
pikiran kita, terlebih soal penindasan! Kawan-kawan sudah sadar akan adanya
superioritas atas kalian, sayangnya kita kerap melakukan penyesuaian yang tidak
perlu—menengok sekeliling untuk memastikan apakah ada yang sependapat. Jika tidak
ada, kita lebih memilih diam(spiral of
silence). Keadaan itu jadi suatu yang ideal bagi keberlanjutan acara
besutan panitia ini. Tugas-tugas dan kewajiban ospek lainnya beserta hukuman
bisa dijejalkan pada kita tanpa hambatan.
Saat berargumen, kita jangan sampai jadi
kerdil karena disudutkan panitia atau ditatap peserta ospek lainnya dengan
sinis. Teruslah berdilaketika soal masalah ini. Spiral of silence yang terjadi pada para peserta lah pemicu tatapan
sinis itu, sejatinya banyak dari mereka pun kontra. Diskusikan ini dengan
peserta ospek lainnya di warung kopi, kamar kos, ruang kuliah, kantin, taman,
dimanapun itu. Kita ajak mereka agar sepakat dan paham betul bahwa
ketidakadilan punya bobot berat di ospek. Selanjutnya, kita bisa bantah segala
aturan-aturan ospek yang kacau itu. Sikap kita akan ospek macam ini
merefleksikan seberapa kritis kita akan realitas.
Ujian
berat selanjutnya
Perkuliahan
kawan-kawan di Unpad masih panjang. Di sini, dengan akses akan ilmu pengetahuan
dan informasi yang memadai, kita bisa melihat berbagai sistem besar bekerja,
terutama pendidikan. Apapun program studi yang kita tempuh, selalu saja ada
permasalahan struktural yang menghambat terselenggaranya perkuliahan kita agar
sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi. Apapun organisasi dan komunitas yang
kawan-kawan ikuti, kita tak bisa menghindari bahwa setiap organisasi dipaksa
ikut-serta dalam parade pendidikan liberal. Paradigma yang selalu mencetak
lebih banyak pecundang dibanding pemenang.
Pilihan kawan-kawan membaca sebanyak
mungkin buku, jurnal, essai, dan artikel tentang pentingnya pendidikan gratis, sesuai dengan
undang-undang dasar 1945 ayat 1, untuk sadar betapa bengisnya liberalisasi
pendidikan atau tidak sama sekali. Terserah kawan-kawan juga mau menjadikan
sastra dan seni sekedar untuk dinikmati kala ada senja dan secangkir kopi atau
berkawan dengannya dalam perlawanan. Tidak masalah buat kawan-kawan menulis
setiap kritik dan gagasan tentang tiap ilmu pengetahuan yang saat ini disisipkan
semangat kapitalisme atau membiarkan kedua tangan menulis setiap kalimat dosen
di ruang kuliah. Bebas bagi kawan-kawan untuk berteriak dengan lantang saat
kecemasan kita akan tergusurnya petani dari rumah dan kehidupan subsistennya
membuncah atau memandang pembangunan dan modernitas sebagai kehendak tuhan yang
mutlak dan selalu baik buat kehidupan.
Yang jelas, jika kawan-kawan lebih
memilih untuk menentang segala penindasan tandanya perlawanan terhadapnya masih
terus diperjuangkan dan bisa dimenangkan. Semangat kamerad!
“I am speaking the truth.
And the truth is savage and dangerous.”
Nawal El-Saadawi- Women at
point zero.

Tidak ada komentar: