Oleh: Aldo Fernando Nasir, Agroteknologi 2013
Jiwa ini terkadang dianggap liar dalam persepsi orang lain yang menilainya
dengan cara begitu buruk dan memberinya hukuman konyol, irrasional dan
membingungkan. Jiwa yang menyedihkan. Inilah jiwa si pembangkang. Ia sedang
menjalani kehidupan yang cukup membingungkan: sebuah jalan yang berliku —masa
SMA. Tidak ada satupun gambaran dalam pikirannya bahwa masa ini merupakan hal
yang paling ‘putih abu-abu’ dan paling mengesankan.
Baginya, semua berjalan sangat buruk, menjijikkan, penuh pembualan kata,
penuh pemonopolian dan ketidakbenaran sistem sudut pandang. Ia hanya menjadi
seekor kelinci percobaan modern yang berpedoman pada kekunoan pemimpinnya yang
tidak pernah memperhatikan segi kebenaran prosesnya. Begitulah ia, si
pembangkang, yang memiliki jiwa yang cukup taat untuk setiap peraturan yang
dihadapkan pada pemikirannya.
“Aku belum pernah
mengerti sebelumnya jika Bapak adalah seorang yang cukup menyedihkan, membelitkan
permasalahan dasar, dan membunuh setiap pemikiran bawahan,” lantang Jerry.
“Tidak pantas kamu
berbicara seperti itu. Dasar anak kurang ajar kamu!” seru Anton.
“Aku sudah muak dan
merasa jijik ketika semuanya menyudutkan sikap dan pemikiranku. Haruskah semua
berjalan demikian? Haruskah semua memberiku sebuah rasa muak? Tidakkah Anda
bosan mengatur sistem yang sedemikian buruk menunjukkan kecongkakannya? Anda
menyedihkan!” Jerry berseru penuh rasa marah.
“Dan mungkin kamu sendiri
yang telah memberimu rasa sakit itu yang menyebabkan setiap ucapan tak
teroganisir dari pemikiranmu itu meledak-ledak dan menyedihkan. Kamu belum tahu
bagaimana menyikapi setiap bola panas yang menghampirimu,” Anton menduga.
“Semoga Bapak
mengerti seberapa buruk sistem yang Bapak hamparkan di depan mataku, mata
pemikiranku. Sebuah sistem dengan kedalaman yang dangkal, keruh dan congkak
yang menggambarkan sikap ego dan paham egosentris dalam kepemimpinan egois dan
ortodoks,” Jerry terbawa emosi.
Bagi
Anton tidak ada pemikiran seorang siswa yang benar-benar membuatnya terhenyak dalam
kurun waktu dua puluh lima tahun ia mengajar dan memimpin SMAN 1 Harapan
Terang, kecuali Jerry Grandao, Siswa kelas XI IPA 1. Seorang siswa yang menjadi
‘Most Wanted’ di SMA tersebut. Jerry
ini memiliki penampilan yang keren, bertubuh tinggi kurus, bergigi rapi,
berkulit putih, berambut semi bergelombang. Ia tampak seperti orang gila yang
beruntung karena banyak wanita yang menggilainya.
“Keluar kamu
dari ruangan saya!” titah Anton penuh amarah.
Jerry
pun membalikkan badannya dan tanpa sepatah apapun dari mulutnya ia pergi
meninggalkan ruang Kepala Sekolah beserta empunya, Anton Sudarwanto. Ia menuju
tempat favoritnya, duduk di kursinya sembari membunuh pemikiran orang-orang yang
menyedihkan dalam pemikiran liar anak usia tujuh belas tahun itu.
Ia
mengingat sebuah kisah yang ia buat sendiri di dalam pemikirannya setiap ia
kembali dalam permasalahan liarnya. Beberapa prinsip yang dipegang olehnya kini
bergeser ke arah yang buruk dan semakin membuatnya berada pada dua persimpangan
jalan yang aneh, penuh misteri, penuh kebodohan spiritual dan kegilaan yang
dangkal yang membuatnya kembali kepada prinsip kebrutalan keputusan.
“Mungkinkah kita
bisa memutuskan sesuatu sebelum kita benar-benar yakin? dan apakah kita mampu
menjadi hal penting bagi sesuatu yang kita benci ketika kita telah benar-benar mencapai
puncak kemuakan terhadapnya? inilah yang aku pikirkan dalam perenunganku akhir-akhir ini,” Jerry berkata
dengan pemikirannya.
Ke-tidak-ada-an
seorang teman sepemikiran membuat Jerry selalu bertingkah bodoh dan berlagak
pilon disaat bersama para temannya. Ia tidak ingin mereka banyak mengetahui dan
bahkan mengikuti semua gaya miliknya yang khas. Ia selalu menyembunyikan hal
yang paling dalam dan khas miliknya dari para temannya dengan cara yang begitu
bodoh darinya dan sangat menyedihkan seperti nyanyian malam yang dianggap angin
lalu bagi unsur dalam sistemnya. Ia akan menjadi kebodohan paradoksal yang
selalu dibenci para guru yang melihat sosok menjijikkan dalam dirinya.
Matahari
berada di atas posisi yang adekuat untuk memulangkan siswa SMAN 1 Harapan Jaya. Bel sekolah pun berbunyi mengisyaratkan jam
sekolah telah berakhir.
“Grand, loe mau
ikut gue, enggak?” Baron Steven, sahabat Jerry, mengajak Jerry.
Baron memiliki
deskripsi diri yang cukup baik. Ia berpostur tinggi kurus (lebih tinggi
daripada Jerry), berkulit sawo matang, berambut model tentara. Ia seorang anak
yang ramah. Satu hal yang membuatnya terkenal adalah sikap playboy khas miliknya.
Jerry menjawab
dengan tidak bersemangat,
“Ke mana? Gue
lagi pengin cepat balik ke rumah, Ron.”
“Ke cafe biasa.
Oke lah kalau begitu,” Baron menjawab lalu pergi.
Sejurus dengan
itu, Jerry pun langsung bergegas pulang.
Di
kamar sederhana miliknya, Jerry merebahkan diri di atas kasur yang ia anggap
keras dan nyaman (apakah Jerry menganalogikan kasur miliknya dengan kepemimpinan
Soeharto di Indonesia?).
“Hidup ini adalah hidup ini adalah ... tanpa jawaban,” Jerry memulai kontemplasinya.
Jerry mengambil
sebuah ballpoint dan buku kosong (semoga
Jerry belum memahami konsep tabula rasa[1]
John Locke!). Ia sepertinya akan menulis sesuatu.
EGOSENTRISME ANTON!
Anton
Sudarwanto. Siapa sih dia? Sebuah kebusukan intrik? Aku, Fernann, seorang yang
(nyata ada dalam catatan ini) muak dengannya! Mengapa? Karena orang itu telah
mencoba membunuh eksistensi Jerry di sekolah. Lalu, siapa Jerry? Jerry adalah
penulis catatan ini. Jerry yang berkuasa atas pemikiranku di catatan ini.
Dengarkan aku! Baca pemikiranku! Ayolah ... Jerry telah mencoba memberikanku
peran brutal di dalam catatan ini.
“Jerry,
saya harus memberikanmu larangan memasuki ruangan saya mulai saat ini!”
Itulah
perkataan Kepala Sekolah SMAN 1 Harapan Jaya kepada Jerry. Tampaknya, Anton
begitu egois untuk hal ini (Jerry pun sebenarnya telah terjebak dalam boomerang
miliknya sendiri: Jerry sama egoisnya dengan Pak Anton). Aku sudah seringkali
memperingatkan Anton untuk mencoba mawas
diri. Namun, sayang sekali, aku hanya berkuasa di dalam catatan Jerry. Jerry
terlihat begitu sulit melawan kekuasaan Anton Sudarwanto di sekolah. Jerry
memang payah!
Sekarang,
aku harus memberi tahu para pembaca bahwa Jerry begitu baik kepadaku dengan
menjadikanku berani mengkritisi penulis (Jerry) di dalam catatannya sendiri.
Aku tidak tahu apa motif Jerry untuk catatan ini. Sepertinya, ia membutuhkan
perawatan medis! Anak yang malang. Dia sudah gila!
Sayang
sekali, ‘eksistensi’ milikku harus berakhir cepat di catatan ini. Ya, Jerry sepertinya
sudah jengah membaca tulisanku yang dibuat olehnya sendiri. Catatan ini!
Aku,
Fernann, memberikan ultimatum kepada Anton (Jerry benar-benar membuatku menjadi
tidak sopan dengan memperlihatkan tulisanku dalam catatan ini yang tanpa
menggunakan sebutan ‘pak’ untuk nama Kepala Sekolahnya sendiri)!
Anton
... Anda menyedihkan, Bung!
Jerry
lalu menutup buku catatannya dan tertidur.
“Jerry,
kau dikeluarkan dari sekolah ini!”
“Bagaimana
bisa Anda dengan mudahnya menggunakan peribahasa ‘membalikkan telapak tangan’
mengenai hak bersekolah saya? Anda adalah ego busuk Anda!”
“Aku
berhak menggunakan peribahasa itu untuk siswa macam kamu, Jerry! Tidak ada
untungnya SMA ini memiliki kamu!”
“Aku
akan keluar dari ...”
Jerry
langsung terbangun dari tidurnya.
“Ini
adalah mimpi yang menjijikkan. Ah! Pak Anton memang harus bertemu Fernann lagi!”
ucap Jerry sementara ia mengumpulkan ‘nyawa’nya yang bertebaran akibat
tertidur.
Anton dalam Mimpi
Jerry?
Aku
kembali hadir untuk mengkritisi Anda, Anton. (Jerry memang tega membuatku tidak
sopan. Payah!) Aku baru mendapat kabar jika Anda memasuki alam mimpi Jerry.
Anda tidak sopan, Bung! Anda harus memahami bahwa tidak ada hukum gravitasi di
dalam mimpi Jerry. Ah Anda telah membuatku menjadi berbicara sok pintar mengenai fisika. Sudahlah.
Aku
tidak tahu apa motif Anda untuk memaki-maki Jerry lewat mimpinya. Anda ini
telah membuat Jerry berprasangka buruk terhadap Anda. Sialnya, dia pun membawa
saya ke masalah mimpi ini. Apakah dia mengira aku adalah seorang ahli tafsir
mimpi? Dasar anak muda!
Begini
saja, aku ingin memberitahu kepada Anda bahwa anak ini (Jerry) adalah anak yang
tidak ingin melihat Anda menggunakan kekuasaan Anda di sekolah dengan
seenaknya. Anda harus ingat ini!
“Sudah
cukup aku menulis catatan ini,” Jerry berkata dalam hati.
Kedua
bola mata Jerry menjelajahi setiap sudut kamarnya yang sempit. Ia pun berkata
dengan lirih,
“Diriku
tersudut di sudut tak bersudut.”
Lalu,
ia beranjak dari kamar menuju dapur untuk makan. Setibanya di dapur, di hadapan
sepiring nasi dan lauk, Ia pun kembali berkata,
“Diriku
tersudut di sudut tak bersudut.”
Kemudian,
ia mulai memakan makanannya.
Malam
mulai menyergap Bumi dan ia akan membuat manusia mampu melihat masa lalu. Ya,
dengan memandangi bintang-gemintang di hamparan tubuh gelapnya.
“Bintang
malam ini adalah bukan bintang malam ini. Bintang masa lalu yang jejak cahayanya
baru sampai di mataku. Oh, betapa baiknya kau bintang! Apakah ini pesan kau
terakhir kepada manusia sebelum kau berdansa menuju kematian? Manusia yang
tidak memahami perjalanan cahaya kau niscaya tidak akan menghargai usaha indah
kau ini. Untung saja Galileo mampu membuka mata pengetahuan manusia yang
terkenal angkuh,” ujar Jerry dalam keheningan malam di sebuah bukit yang
terletak di belakang rumahnya.
Jerry
mengeluarkan buku catatan dan ballpoint
miliknya dari dalam tas kecil miliknya.
Bintang dan Masa
Sejarah
Bintang
...
Kau
yang bersejarah ...
Kau
yang memiliki cahaya ...
0.000000003335640952!
Aku
tersenyum kepada jejak-jejak misteri milik kau ...
Kau
indah dalam keindahan yang misteri ...
Basuh
mataku! Basuh mataku dengan cerita kau, bintang!
Aku
kesepian dalam kewarasanku!
Bintang
...
Kemudian,
setelah malam semakin larut, Jerry turun dari bukit itu dan menuju rumahnya.
“Aku
pikir, aku harus kembali ke gua yang kelam itu untuk memulai perburuan esok
hari: menuju tak terbatas menggilai dunia,” ucap Jerry di kegelapan malam.
Esok
paginya, kebetulan hari Minggu, Jerry berangkat menuju toko buku langganannya.
Seperti biasa, ia mencari buku-buku filsafat. Ia memang anak yang aneh.
Sepertinya, hanya Fernann yang mampu membuatnya bahagia.
“Apa
itu dunia? Apa itu kebenaran? Apa itu apa?” Jerry mengucap
pertanyaan-pertanyaan filosofis selama perjalanan menuju toko buku
langganannya.
TOKO BUKU FREAKS!
Menjual Buku-buku
Filsafat!
Tulisan
besar yang berada di tembok depan bagian atas menandakan nama toko tersebut.
Kemudian, setelah melihat tulisan besar tersebut, Jerry pun seketika menghentikan
laju sepeda motor dan memarkirnya tepat di depan toko tersebut.
“Pak,
ada buku milik Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris?” Jerry bertanya kepada
pemilik toko, namanya Irsyad.
“Oh
ada, Bang. Ini,” Irsyad berbicara sembari memberikan buku yang Jerry inginkan.
Sementara
Jerry sedang memerhatikan buku yang ia cari, Budi Santosa, seorang filsuf yang
juga mantan dosen di Universitas Rasio Jaya, bertanya dengan Irsyad, sang
pemilik toko,
“Pak,
ada milik Felix Baghi, Alteritas? Dan juga buku milik Nietzsche, Also Sprach Zarathustra dan The Gay Science?”
“Kebetulan
ketiganya ada di sini, Pak,” Irsyad dengan senyum ramah.
Budi
Santosa ini berumur 52 tahun. Ia memiliki penampilan seperti Don Juan milik Mozart yang sudah tidak
waras lagi, bertubuh tinggi dan besar, berkumis hitam tebal, berkulit putih,
berambut panjang hitam-beruban, dan berjenggot panjang. Ia tampak beribawa
dengan gaya so calm miliknya.
“Pak
Budi, anak ini juga menyukai filsafat sama seperti Bapak. Namanya Jerry,”
Irsyad berbicara dengan Budi sembari menepuk pundak Jerry.
“Oh
ya? Sudah kuliah kamu, Jerry?” Budi memandang ke arah Jerry.
“Iya,
Pak. Hehe ... Saya masih berada di kelas XI SMA, Pak,” Jerry membalas dengan
malu-malu.
“Kamu
anak IPS?” Budi bertanya kembali.
Sementara
Budi dan Jerry sedang berbincang, Irsyad kembali sibuk dengan para
pelanggannya.
“Saya
anak IPA, Pak.”
“Wah.
Anak IPA suka filsafat? Salam kenal ya? Ini kartu nama saya jika kamu ingin
menghubungi saya,” Budi berkata sembari menyodorkan kartu nama kepada Jerry.
“Hehe
iya, Pak. Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak,” Jerry sumringah.
“Sama-sama.
Jerry, why is there something than
nothing?” Budi melemparkan kalimat berbau ontologis-filosofis kepada Jerry
dan lalu langsung pergi meninggalkan toko itu (dengan keadaan sudah membayar
buku-buku yang telah ia dapatkan).
“Hmm
... Apa maksudnya, Pa... Pak?” Jerry bingung. Pertanyaan yang sepertinya sangat
aneh.
Jerry
terlihat belum mampu mencerna pertanyaan milik Budi Santosa. Ia pun memutuskan
untuk membayar buku yang ia cari dan langsung bergegas pulang.
“Why is there something than nothing?”
Jerry mengulangi pertanyaan Budi yang membuat lidahnya kelu di toko buku tadi
di atas sepeda motornya.
“Sepertinya
aku belum pernah membaca buku yang membahas pertanyaan ontologis seperti itu.
Apa ya kira-kira jawabannya? Mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada? Mengapa
aku memikirkan ‘mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada’ ketika aku sudah
selalu ada di sini dan sekarang? Benar saja Socrates pernah berkata
bahwa,‘semua yang saya tahu adalah bahwa saya tetap tidak mengetahui apa-apa’. Aneh. Dunia semakin aneh saja!”
Jerry kembali bertanya-tanya dengan sendirinya.
Jerry
memutuskan untuk mendatangi rumah Baron, sahabat yang paling dekat dengannya.
Ia mengetuk pintu rumah Baron dan beberapa saat kemudian Baron membuka pintu.
Sepertinya ia baru saja terbangun dari tidur siang.
“Ada
apa, Grand?” ia bertanya kepada Jerry.
“Gue
pengin cerita nih ama loe,” Jerry berbicara sembari berjalan memasuki rumah
Baron.
Baron
menunda berbicara terlebih dahulu untuk mengajak Jerry mengobrol di kamarnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar.
“Cerita
apa nih? Filsafat?” Baron sepertinya telah memahami isi kepala Jerry.
“
Gue baru saja bertemu seorang tua, namanya Budi. Ia menyukai filsafat juga.
Tapi, gue belum tahu tentang asal usul perjalanan hidupnya,”
“Lalu,
intinya?” Baron penasaran.
“Sebelum
ia meninggalkan toko, ia memberikan kartu namanya ke gue. Satu hal yang membuat
gue bingung adalah ia juga melempar pertanyaan filosofis-aneh seperti ini,‘why is there something than nothing?’
Gue belum pernah menemukan pertanyaan begitu di buku-buku gue,” Jerry mencoba
menjelaskan.
“Wah.
Gue mana ngerti begituan, Bro? Haha ... Sepertinya, loe harus terus membaca
buku-buku filsafat. Gue yakin loe akan memahami pertanyaan gila seperti itu,”
Baron menjawab.
Jerry
terdiam setelah mendengar kalimat milik Baron. Baron lalu mengatakan kepada
Jerry bahwa ia akan menemui temannya di sekolah. Praktis, Jerry sekarang
sendirian di rumah Baron. Beberapa saat setelah Baron pergi, ia mengeluarkan
buku catatan miliknya dan mulai menulis.
Why Is There
Something than Nothing?
Jerry sepertinya sedang diserang oleh sebuah
pertanyaan filsafat yang menohok, seperti judul catatan ini —why is there something than nothing?.
Aku turut berduka atas kesedihan isi kepalamu yang tidak mampu mencerna kalimat
ontologis ini. Jerry, kamu anak yang kritis. Sayangnya, kamu masih terlalu muda
untuk mampu mencerap banyak pengetahuan mengenai filsafat. Sabarlah!
Percayalah! Buktikanlah! Kamu butuh semangat itu. Kamu kan sudah membaca
tentang kesudian kita untuk mengakui tapal batas pegetahuan kita. Aku bukan
ingin menyarankan kepadamu untuk puas dengan pencapaianmu. Dengarkan aku! Kamu
harus melanjutkan pembacaan filsafat. Kamu tahu bahwa seorang filsuf itu tidak
puas dengan apa yang ada, apa yang tampak. Seorang filsuf harus selalu
bertanya, bertanya, dan bertanya yang juga diiringi dengan pembacaan,
pemahaman, dan perenungan secara sistematis dan runtut. Aku pikir kamu belum
mencoba mendalami beberapa buku pengantar filsafat. Jadi, inilah hasilnya: pondasi
belum dikokohkan dan bangunan terancam runtuh!
Kamu
harus temui Pak Budi itu. Kamu harus berguru!
Salam hangat dari sahabat imajinasimu,
Fernann
Jerry
menutup buku catatannya dan lalu, memasukkannya kembali ke tas.
“Ron,
di mana loe? Gue mau balik nih,” Jerry menghubungi Baron via telepon
selulernya.
“Nih
lagi di perjalanan balik, bro. Tunggu ya?” Jawab Baron.
“Oke,”
Jerry
menutup telepon.
“Sebenarnya,
apa sih Ada itu? Mengapa Ada cenderung ada daripada tidak Ada? Aku harus
membaca mengenai hal itu. Tetapi, tidak untuk sekarang. Aku masih banyak hal
yang belum aku selesaikan. Aku juga masih terlalu jauh untuk melampaui diriku
sendiri,” Jerry berbicara dengan isi kepalanya.
“Assalamualaikum.
Grand... Grand... ,” Baron mengetuk pintu.
“Waalaikum
salam. Tunggu sebentar,” Jerry menyahut.
Lalu,
Jerry membuka pintu dan sekaligus ia ingin pamit pulang,
“Gue
balik ya, bro?”
“Oke
hati-hati, bro,” Jawab Baron.
“Sip,”
Jerry
menghidupkan sepeda motornya dan kemudian meninggalkan rumah Baron. Jerry nampaknya
begitu sulit untuk melepaskan kalimat terakhir milik Budi Santosa dari
ingatannya. Semakin dipikirkan semakin membuatnya gila. Ia pun sampai di
rumahnya. Ia langsung masuk ke kamar karena kebetulan pintu rumahnya tidak
dikunci. Mungkin ibunya sedang berada di dapur.
“Filsafat
fragmentaris? Hmm... Judul buku yang menarik sekaligus rumit bagi orang gila
dan bodoh sepertiku. Tidak ada kebenaran mutlak manusia!” ucap Jerry yang
sedang membuka pelapis plastik buku Filsafat fragmentaris miliknya.
“Ini
buku yang aku butuhkan. Aku tahu filsafat merupakan sebuah pengembaraan makna
terus-menerus. Aku tidak akan berhenti di buku ini! Di mana ya buku pengantar
filsafatku? Fernann telah mengingatkan tentang hal ini: pondasi yang kokoh
untuk bangunan yang dahsyat. Aku masih perlu banyak membaca.”
Tiba-tiba
Jerry teringat sesuatu.
“Oh
ya... Besok hari senin dan aku harus kembali ke institusi yang otoriter itu.
Institusi yang memaksaku menghafal banyak hal dan lalu memuntahkannya kembali
dalam bentuk yang sama. Apakah memang harus demikian?”
Jerry
membaca sampai larut malam. Sampai ia lupa mengerjakan tugas fisika yang harus
dikumpulkan esok hari. Ia sepertinya tidak akan mengerjakan tugas itu. Ya,
seperti biasa, ia akan menyalin jawaban temannya. Ia memang aneh. Ia bermain boomerang
dengan para guru-guru yang tidak disukainya. Seperti kalimat yang dilontarkan
di atas, ia ingin mengikuti cara gurunya —setidaknya hal ini dilakukan sebelum ia
benar-benar telah mampu menghantam sendi-sendi kemunafikan pendidikan— dan
menunjukkan cara yang sama seperti gurunya sebagai pembalasan: dengan
memuntahkan kembali dalam bentuk yang sama. Api dibalas api.
“Aku
harus mengistirahatkan kedua mata fisikku ini,” ucap Jerry sesaat sebelum
tertidur.
Jerry
Grandao, kau pemuda yang malang, nak. Kau terlalu cerdas untuk anak seumuran
kau. Kau terlalu berani menghantam sendi-sendi busuk sekolah kau. Kau hanya
membutuhkan waktu yang tepat untuk membuktikan kedahsyatan isi kepala kau.
Tidurlah kau dalam kegelapan malam ini.
“Jerry
... Jerry ... Bangun, nak. Sudah jam setengah tujuh,” suara Lina Marlin, ibu
Jerry mencoba membangunkan Jerry sembari mengetuk pintu kamar Jerry.
“Iya
bu ... Aku sudah bangun. Nih mau mandi
dulu,” Sahut Jerry dari dalam kamar.
“Ya.
Nanti sarapan ya?”
“Oke
...”
Setelah
sarapan, Jerry bergegas ke sekolah dengan mengendarai sepeda motornya.
Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju ke kelas, kemudian mengambil topi sma
miliknya dan menuju lapangan luas milik sekolah untuk mengikuti upacara penaikan
bendera hari senin.
“Upacara
yang indah. Di sinilah aku, si orang aneh, berdiri menghormati jasa kau, Bung.
Kau adalah tokoh paling dahsyat bagiku. Aku sangat menyukai kalimatmu yang ini,
‘Jangan mengeluh! Keluh adalah tanda kelemahan jiwa!’ Kalimat yang sangat melekat
kuat di dalam hatiku. Kau sang putra fajar, Ir. Soekarno,” ucap Jerry dengan
lirih di sela-sela pelaksanaan upacara.
Setelah
hampir satu jam, pelaksanaan upacara penaikan bendera pun selesai. Murid-murid
mulai berhamburan menuju ruang kelasnya masing-masing, kecuali Jerry. Ya,
Jerry, si pembangkang yang aneh. Ia masih terpaku dengan tiang dan bendera
merah-putih.
“Inikah
penghormatan kami yang tulus untuk kalian, para pahlawan tanah air ini? Inikah
yang dinamakan upacara? Ah! Ini hanyalah bentuk kemunafikan, keterpaksaan, dan
komedi yang menjijikkan di setiap sekolah. Kami yang bodoh seperti unta-unta
yang selalu siap diberi beban dan mereka para pendidik yang memakai topeng
berwajah memelas-tegas untuk membuat kami patuh. Ini harus diubah! Buang semua
topeng komedi!” tiba-tiba Jerry menjerit mengucapkan kalimat dengan keras.
Tidak
ada yang peduli. Tidak satu pun. Jerry datang terlalu cepat, sedangkan mereka
belum meyadari ke-komedi-an ini. Jerry akan tetap menjerit dalam kemuakan isi
kepalanya. Jerry lalu masuk ke dalam kelas untuk berpura-pura mengikuti
pelajaran. Ia lebih senang memenuhi buku catatannya dengan menulis pemikiran
miliknya daripada menyalin semua kemunafikan guru matematikanya.
Inilah Gue!
Gue
pernah memiliki sebuah hubungan cinta yang cukup lama dengan pacar (mantan)
gue. Sebut saja namanya Dina. Hal itu terjadi sewaktu gue duduk di bangku smp
(sepertinya gue duduk di meja deh karena tidak membayar uang spp), tepatnya
kelas sembilan smp. Cinta yang disebut C-I-N-T-A-M-O-N-Y-E-T itu merupakan
sebuah kisah semu yang dipaksakan menjadi nyata yang gue pikir sebagai hubungan
yang tidak jelas. Ya, sebuah hubungan dimana keserasian diabaikan dan lalu melupakan
semua hal yang seharusnya menjadi lem perekat hal-hal terkecil dalam cinta. Dia
menganggap ketikadaan gue merupakan ke-ada-an gue yang nyata di hatinya.
Boleh-boleh saja sih. Tetapi, dia terlalu memaksakan hal yang harusnya ada di
imajinasi. Dia menganggap semua ada dalam setiap hitungan detiknya.
“Sayang,
kata nenekku kamu manis loh ...”
Perkataan
dia di atas merupakan salah satu pemaksaan fisik dimana gue yang terlahir
dengan wajah yang tidak cocok menjadi seorang bintang film dipaksakan
sedimikian rupa dengan kebohongan yang menambal tiap milimeter lubang
ketidaknyataannya. Sebenarnya, gue tidak ingin dia menipu kemampuan visualnya
walaupun dia mempunyai dalih bahwa dia mencintai gue dengan sepenuh hati dan
karena itulah dia menganggap gue menjadi HSC-boy (handsome, sweet, and cute)
yang gue pikir malah lebih seperti boyband yang gagal terkenal dan berubah
menjadi banci di traffic lights. Ini
memalukan.
Inilah
gue! Inilah gue yang tampil apa adanya. Inilah gue yang pas-pasan. Inilah gue yang bukan HSC-boy. Inilah gue, seorang
buruk-aneh, yang menata cinta bukan dengan gaya hedonisme perkotaan. Inilah gue
yang sudi mengakui kekurangan gue. TERIMALAH KEKURANGAN GUE... (Kenapa gue
malah seperti calon artis FTV yang gagal lolos casting?!).
Terlepas
dari semua ke-lebay-an (lebay: sikap
yang berlebihan) gue dan dia, hubungan cinta gue dan dia pun berakhir. Ya,
berakhir karena satu faktor: Dina memiliki hubungan dekat dengan seorang teman
gue, sebut saja Doni. Mereka dekat satu sama lain dalam sebuah hubungan yang
spesial tepat ketika gue dan Dina masih berpacaran. Lunas! Bagaimana bisa kita
membiarkan kisah cinta kita dimanipulasi dengan cara yang begitu menjijikkan:
layangan ditarik dan diulur sebelum dihajar dengan layangan lain yang lebih
kuat dan menarik! Tetapi ya sudahlah. Toh,
gue tidak berpikir dan mengharapkan bahwa dia memang sosok yang terbaik untuk
gue. Gue berpacaran dengan Dina sekitar 18 bulan. Bukan waktu yang sebentar
untuk sekadar membuang asap dari cerobong pabrik. Gue tidak mau melanjutkan
catatan ini. Biarkan rusak tak bermakna!
“Jer...
Jerry... Gue minjem catatan lo dong yang tadi dijelasin Pak Margono?” Shinta
memecah keheningan Jerry yang asyik dengan kisah catatan cintanya.
“Hah?...
Apa, Shin?” Jerry menjawab dengan agak kaget.
“Iya,
gue mau minjem catatan matematika yang lo tulis tadi dong?”
“Sial!
Memerhatikan saja tidak, apalagi menulisnya ke dalam sebuah catatan,”
“Haha...
So, lo nulis apaan?”
“Kisah
masa lalu,”
“Galau,
Pak? Haha kasian deh lo,”
“Ya
beginilah nasib orang keren. Omong-omong, pelajaran matematika sudah selesai?”
“Dari
tadi! Huh... Dasar!” Shinta pun langsung pergi meninggalkan Jerry, mejanya, catatannya
beserta kebingungannya yang tidak mampu memahami relativitas waktu. Dan waktu terus berputar dengan angkuhnya
tanpa pedulikan siapapun, termasuk Jerry Grandao.
Setelah
berhasil melewati jam-jam di sekolah, Jerry dengan segera mengendarai sepeda
motornya dan menuju ke rumah. Tetapi, di perjalanan pulang, pemuda tampan yang
aneh ini tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya.
“Pak
Budi... Ya, aku harus menemui Pak Budi sekarang. Nah ini kartu namanya. Aku
harus cari alamat ini,” ucap Jerry dengan lirih sementara tangan kanannya
membuka dompet untuk mencari kartu nama Budi Santosa.
Jalan Mawar no.7
desa Hening Cinta
“Ya,
aku tahu alamat ini. Sekitar dua kilometer dari sini,”
Seketika,
Jerry langsung memacu sepeda motornya dengan kencang menuju rumah pemilik
pertanyaan: Why is there something than
nothing? —Budi Santosa.
“Assalamualaikum...
Tok... Tok...” Jerry mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah Budi Santosa.
“Waalaikum
salam ...” terdengar suara menyahut dari dalam rumah, kemudian membuka pintu.
Pemilik
rumah tersebut berkata kembali,
“Jerry,
ya?”
“Iya,
Pak. Saya Jerry,” Jerry menjawab dengan wajah yang ramah.
“Silakan
masuk, Jer...”
“Baik,
Pak.”
Di
dalam rumah yang luas tersebut, sembari berjalan menuju ruang tamu Jerry
memerhatikan detail-detail seisi rumah tersebut. Jerry melihat sebuah patung
yang mirip dengan filsuf yunani, Aristoteles, berdiri tegak, lalu Jerry
memerhatikan lukisan-lukisan bergambar wajah filsuf Jerman, Friedrich
Nietzsche. Ada juga lukisan filsuf lainnya seperti Hegel, Kant, Spinoza,
Schopenhauer, dan Karl Jaspers. Jerry memandangi dengan penuh takjub. Kemudian
ia berkata dengan lirih,
“Begitu
dahsyatnya si Nietzsche itu! Kehendak kuasa! —‘What doesn’t kill me makes me stronger.’”
“Silakan
duduk di sini, Jer,” Budi memecah ketakjuban Jerry.
“Oh
ehm ... Iya, Pak.” Jerry menyahut dengan sedikit kaget.
“Bagaimana
kabarmu? Baik, kan?”
“Baik,
Pak. Setidaknya setelah melewati jam-jam melelahkan di sekolah. Lalu, bagaimana
dengan Bapak?,” Jerry menjawab dengan senyum khasnya.
“Baik
juga. Ada apa dengan sekolahmu, Jer?” Budi memasang wajah penasaran.
“Sekolah
adalah institusi penuh kemunafikan, Pak,” Jerry menjawab dengan semangat.
“Kamu
bermasalah dengan salah satu gurumu?”
“Ya,
dan terpenting dengan kepala sekolah, Pak,”
“Bagaimana
bisa, Jer?”
“Saya
dianggap pengacau, orang aneh, orang tolol hanya karena saya berani mengkritisi
keotoriteran beliau yang sangat mudah menutup pintu kritik bagi kinerjanya,”
“Mungkin,
beliau menganggap kritikmu sedikit kurang ajar, Jer. Kamu harus melakukan
refleksi-diri juga. Ya, walaupun beliau menutup pintu kritik seperti yang kamu
katakan baru saja. Sepertinya ia perlu membaca tindakan komunikatif Jürgen Habermas.
Tunggu dulu, jika kamu bertanya mengenai Habermas, kamu tidak akan mendapati
sebuah jawaban mengenainya dan pemikirannya. Kamu masih perlu banyak belajar,
membaca dan berusaha! Let the time will
answer it.”
“Baik,
Pak. Saya memang perlu melakukan kritik-diri. Bapak sangat tepat dan cepat untuk menghalangi pertanyaan saya. It’s okay,”
“Haha...
Itu untuk membuatmu tidak terburu-buru menyusun pondasimu, Jer,”
“Baik,
Pak. Hehe ... Oh ya, Pak. Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa tidak
memikirkan hal itu,”
“Hal
apakah itu?”
“Pertanyaan
Bapak sewaktu kita bertemu di toko buku: why
is there something than nothing?”
“Wah?
Kamu masih mengingat pertanyaan itu? Itulah pertanyaan ontologis. Saya tidak
akan menjelaskan hal itu kepadamu. Itu akan membutuhkan pembacaan yang sabar
dan pemahaman yang runtut. Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada? Pusing ya?”
“Iya,
Pak. Baik. Saya akan mencari jawaban ini hingga waktu mampu mengumpulkan
pemahaman dan pengalaman saya atas dunia,”
“Ya!
Kamu masih muda, beda, dan berbahaya!”
“Terima
kasih, Pak. Itu seperti lirik lagu Superman
Is Dead, ya Pak?”
“Haha
... Benar. Saya menyukai lagu-lagu S.I.D, seperti Punk Hari ini, Kuat Kita
Bersinar, Jika Kami Bersama, dll.”
“Keren.”
“Kamu
menyukai lagu milik band mana?”
“Salah
satunya Captain Jack, Pak. Bagi saya lirik-liriknya begitu tajam dan dahsyat
mendongkel sendi-sendi kemunafikan dan keangkuhan manusia, seperti lagu Hati
Hitam, Sempurna, Tak Sama adalah Pilihan, Bukan Sahabat, Musuhku di dalam
Cermin, Kupu-kupu Baja, dll. Mengagumkan,”
“Wah,
Keren. Anak muda yang energik!”
“Maaf,
apa pekerjaan Bapak?”
“Saya
dahulu bekerja sebagai seorang dosen di Universitas Rasio Jaya, Jer,”
“Mantan
dosen, begitu?”
“Tepat.
Saya pernah mengajar sebagai dosen ilmu politik,”
“Saya
malah mengira bahwa Bapak seorang mantan dosen filsafat,”
“Saya
sangat menggemari pembacaan filsafat, Jer. Filsafat memberikan kita pandangan
hidup yang luas, kritis, dan juga unik, tetapi sayang, di negara kita,
Indonesia, filsafat belum menjadi semacam tradisi dan di negara kita ini
cenderung masih terlalu terpaku pada bidang pendidikan untuk menjadi ilmuwan,
pengusaha, politisi, dan sebagainya. Ya, pendidikan untuk menjadi filsuf pun
terkesan diabaikan dan malah dianggap aneh. Saya curiga bahwa banyak dari kita
menganut pandangan ‘pakai dulu, efek belakangan’. Apalagi, di era kemajuan
pesat ilmu pengetahuan lewat teknologi yang semakin sophisticated ini. Saya kira dewasa ini sebagian besar masyarakat
kita telah sedang akan terjangkiti apa yang disebut oleh salah seorang pemikir
Mahzab Frankfurt, Herbert Marcuse, sebagai ‘rasionalitas teknologis’. Masyarakat di zaman kita ini seperti telah diperbudak
oleh keangkuhan teknologi yang menyelimuti realitas. Tetapi, jangan percaya
pendapat saya dan Marcuse sepenuhnya!,”
“
Hmm... Baik, Pak. Oh ya... Mengapa Bapak berkata bahwa saya tidak boleh percaya
oleh argumen Bapak dan Marcuse?” Jerry bertanya penuh penasaran.
“Karena
kritik yang dilancarkan Herbert Marcuse masih mendapatkan kritik dari seorang
pemikir Mahzab Frankfurt lainnya, Jürgen Habermas. Habermas berpendapat bahwa
Marcuse —meskipun Habermas tidak sepenuhnya menolak pendapat milik Marcuse— belum
mampu memahami secara lebih dalam dan komprehensif mengenai proses
rasionalisasi masyarakat modern. Marcuse masih mereduksi bagian lain dari
proses rasionalisasi itu yang malah, menurut Habermas, membuat kritik Marcuse
terhadap rasionalitas modern yang ia anggap berfungsi sebagai ideologi dan
dominasi menemui jalan buntu,” Budi Santosa mencoba menerangkan.
“Habermas?
Saya semakin penasaran dengan orang ini,”
“Ya,
benar. Jangan terburu-buru, nak! Kamu masih memiliki banyak waktu untuk menempa
mental dan kemampuan isi kepalamu. Dan kamu pun perlu memahami bahwa seorang
pemikir tidak pernah berhenti bertanya sebelum waktu menjemput jiwanya. Kritik
atas kritik,”
“Tetapi,
mengapa Bapak tadi melontarkan argumen dengan pengandaian bahwa Bapak setuju
dengan apa yang Marcuse sebut sebagai ‘rasionalitas teknologis’ jika Bapak pada
kalimat selanjutnya malah berupaya menjelaskan pendapat Habermas mengenai
kebuntuan alur kritik Marcuse?” Jerry nampaknya masih terus mencoba mengkritisi
Budi Santosa.
“Anak
yang cukup kritis! Saya sepertinya melakukan kesalahan dengan secara sengaja
melupakan penjelasan mengenai kritik Habermas kepada Marcuse sebelum kamu
melontarkan pertanyaan ‘Mengapa Bapak berkata bahwa saya tidak boleh percaya
oleh argumen Bapak dan Marcuse?’. Tetapi, At
least, kamu bisa mendapatkan sedikit pengantar mengenai pemikiran Habermas
dan Marcuse,”
“Terima
kasih, Pak. Saya akan mencoba membangun pondasi yang kokoh sebelum saya mampu
mendirikan bangunan pemikiran yang mencakar langit kehidupan,”
“Bagus.
Oh ya... Saya hampir lupa menawarkan minuman. Kamu mau minum apa, Jer?”
“Apa
saja, Pak,”
“Bi...
Tolong, buatkan dua cangkir teh, Ya?” Budi Santosa memanggil seorang pembantu
di rumahnya.
“Baik,
Pak,” terdengar suara menyahut dari pembantu tersebut.
“Pak,
apa kesibukan Bapak sekarang setelah berhenti menjadi dosen?” Jerry memulai
kembali percakapan.
“Sekarang
saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersama istri saya dan dalam
beberapa kesempatan mengisi kolom di sejumlah surat kabar,”
“Pasti
Bapak sudah memiliki cucu, ya?”
“Saya
dan istri tidak memiliki anak, Jer. Pun tidak pernah mencoba mengadopsi seorang
anak,”
Suasana
menjadi hening. Jerry menundukkan kepalanya ke arah lantai. Begitu pun Budi
Santosa dengan mata berkaca-kaca ia menundukkan kepalanya. Sepertinya, Jerry menjadi
merasa bersalah. Selang beberapa kemudian, Jerry kembali membuka percakapan.
“Hmm...
Maaf ya, Pak. Saya tidak mengetahui hal ini,”
“Iya,
tidak apa-apa, Jer. Mungkin saya dan istri terlalu sedih atas keguguran tiap
kali istri saya mengandung. Ya, tiga kali keguguran,” Budi menjawab dengan
suara yang agak berat menahan kesedihan.
“Ini
teh dan kuenya, Pak, Mas. Silakan dinikmati,” Pembantu rumah datang dan
menyuguhkan minuman dan sekaleng kue untuk Budi dan Jerry, lalu ia bergegas
pergi kembali ke dapur.
“Oh...
Iya, Bi. Terima kasih ya?” sahut Budi.
“Makasih,
Bi,” Jerry pun menimpali.
“Jer,
ayo diminum dan dicicipi teh dan kuenya,”
“Baik,
Pak.”
Jerry
dan Budi Santosa pun mulai meminum teh dan mencicipi kue yang dibawakan oleh
pembantu Budi.
“Maaf,
Pak. Istri Bapak sedang berada di mana saat ini?”
“Sedang
berada di kamar, Jer. Ada apa?”
“Oh
tidak apa-apa, Pak.”
“Oke,
oh ya. Bagaimana pendapatmu tentang atmosfer politik Indonesia saat ini, Jer?”
Jerry
dan Budi semakin asyik berbincang. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari dunia
perpolitikan Indonesia, isu-isu global, masalah lingkungan, sampai merambah ke
dunia pendidikan —di sinilah Jerry mulai naik darah! Ia mula-mula menceritakan
apa yang telah ia didapatkan, dan ia harus lakukan di SMA selama ini. Lalu, ia
sampai pada pernyataan:
“Saya
sudah terlalu muak dengan model pendidikan yang saya terima di sekolah:
mencatat semua hal, harus mampu menjadi ‘mesin fotokopi’ sang guru, harus
membeo sama seperti sang guru! Bla bla bla,”
“Benar.
Tetapi, kamu harus berhati-hati dalam melontarkan kritik, Jer. Jika tidak, kamu
malah akan mendapat suatu efek boomerang yang dahsyat dari kritikmu sendiri,”
Jerry
terdiam sejenak. Ia merasa bahwa pendapat Budi benar. Ia harus mencari kritik
yang damai. Kemudian ia berkata kembali,
“Hmm...
Saya mulai merasa bahwa kritik saya selama ini mengambil jalan yang gila,”
“Ya
saya rasa memang begitu,”
“Jadi,
menurut Bapak, saya harus bagaimana?”
Budi
Santosa terdiam sejenak setelah mendengar kalimat Jerry. Kemudian ia berkata,
“Jer,
tunggu sebentar, ya? Saya mau ambilkan sesuatu untukmu,”
“Baik,
Pak.”
Setelah
selang beberapa waktu Budi kembali.
“Nih,
ada dua buku terjemahan milik Paulo Freire, pemikir asal Brazil: Pendidikan
Kaum Tertindas; dan Politik Pendidikan:
Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Kamu boleh membawa dan membacanya di
rumah,” Budi berkata sembari memberikan dua buku miliknya ke tangan Jerry.
“Wah?
Terima kasih banyak, ya, Pak? Saya akan membacanya,” Jerry menjawab dengan raut
wajah yang berseri-seri.
“Ia
seorang tokoh pejuang pendidikan yang ramah dan menghargai pendapat orang lain.
Oh ya... Besok kamu datang lagi ya kemari? Saya mau berikan sebuah tulisan
untuk kamu berikan kepada Pak Anton,”
“Baik,
Pak. Saya akan kemari besok,” jawab Jerry tanpa basa-basi.
“Oke,”
“Oh
ya... Saya mau pamit dulu, Pak. Terima kasih untuk bukunya, Pak.”
“Sama-sama,
ya. Hati-hati, Jer,”
“Baik,
Pak,”
Setelah
pamit, kemudian Jerry keluar dari rumah Budi Santosa dan menghidupkan sepeda
motornya. Thus, go home!
“Seorang
yang baik. Andai guru-guruku sepertinya: menghargai pendapat orang lain,
memberikan solusi yang baik dan bersahabat,” gumam Jerry di atas motornya.
Surat Budi untuk Kepala Sekolah Jerry:
Pendidikan?
Kepada Bapak Anton Sudarwanto
yang budiman. Perkenalkan, aku Tony, sahabat dari penulis tulisan ini, Budi
Santosa. Akulah yang sering menemani Budi dalam beberapa tulisan kritik
miliknya (yang dibalut dalam sebuah cerita aneh seperti ini, ya seperti ini!).
Aku ditugaskan oleh Budi untuk sedikit memberikan kritik terhadap gaya mengajar
dalam sebuah institusi pendidikan (sekolah) yang perlu diperbaiki.
Pendidikan memang merupakan
suatu masalah yang tidak pernah selesai. Selalu ada banyak masalah dan
tawaran-tawaran pemecahan masalahnya. Sebenarnya, hal ini adalah konsekuensi
dari sifat dasar manusia: tidak pernah puas. Ya, manusia selalu ingin melampaui
dirinya. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus akan
lebih baik dari hari ini demikian bunyi sebuah pepatah yang mewakili sifat
selalu ingin menaiki anak tangga yang lebih tinggi dalam perjalanan hidupnya.
Inilah mengapa aku melakukan kritik!
Kembali ke masalah
pendidikan. Aku akan mencoba memberikan definisi mengenai pendidikan
(mudah-mudahan tidak banyak nada-nada sinis yang akan menggerutu atas definisi
yang aku coba tulis ini). Pendidikan
merupakan bagian dari kerja (usaha) dan juga proses komunikasi manusia untuk
menumbuhkan, memacu, dan mengembangkan daya-daya ledak yang dalam isi kepala
dan hati, jasmani dan rohani (peserta didik); untuk mengaktualisasikan dan —yang
terpenting— melestarikan hidupnya. Secara sederhana, pendidikan juga bisa
disebut sebagai sebuah metode pengembangan diri.
Baik, Aku ingin
mencoba mengkritisi metode dan sikap pengajar terhadap muridnya di kelas. Aku telah diberitahu Budi
bahwa Jerry mendapat perlakuan yang kurang adil di sekolah ini. Apakah benar?
Ia mengatakan seringkali dicap seorang pemberontak dan sering dianggap bodoh di
kelas, kemudian ia mengeluh mengapa murid harus membeo sama seperti ucapan
gurunya. Bahkan, ia sampai berkata bahwa murid harus menjadi ‘mesin fotokopi’
gurunya. Aku tahu Jerry tidak menganggap semua guru demikian, namun Jerry
pernah mengatakan bahwa Bapak adalah aktor yang harus bertanggungjawab atas
beberapa hal yang Jerry rasakan di sekolah. Bapak, kata Jerry, tidak menanggapi
keluhan halus Jerry mengenai metode pengajaran di kelas. Ini terjadi berulang
kali hingga Jerry naik pitam. Ya, kejadian di ruang Anda. Jerry bukannya
dianggap tepat dengan lontaran kritik tajamnya terhadap Bapak. Tidak! Budi
sudah memberikan saran terhadap Jerry mengenai kritiknya.
Bapak sudah seharusnya
menanggapi keluhan murid mengenai kinerja guru. Murid bukan mesin fotokopi,
bukan? Pendidikan bukanlah bagaimana guru memberi informasi dan lalu harus
dicerna oleh murid dan dimuntahkannya kembali dengan bentuk dan jumlah yang
sama. Atau Anda menginginkan murid menjadi sebuah kebudayaan bisu[1]
seperti kata Freire? Yang mana masyarakat, khususnya murid (dalam tulisan ini),
dibuat tidak berdaya dan tidak mampu mengeluarkan daya-daya isi kepalanya
(pemikirannya) sendiri. Silakan Bapak membaca buku Paulo Freire, Politik
Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Bapak juga boleh membaca
karya Freire termahsyur, Pendidikan Kaum Tertindas. Di dalam buku Pendidikan
Kaum Tertindas, Bapak akan menemukan pengertian mengenai apa itu konsep
pendidikan Gaya Bank[2]
di mana murid seolah disamakan seperti benda yang menurut, atau dalam bahasa
Jerry, sebuah mesin fotokopi! Inilah salah satu keluhan Jerry untuk sekolah ini!
Aku, sesuai dengan perintah
Budi, ingin mencoba menjadi mediator atas konflik Bapak dengan Jerry. Mengenai
metode pembelajaran yang, seperti kata Freire, berkonsep gaya Bank harus
diganti dengan metode pembelajaran yang dialogis-komunikatif dan bebas dari
kekuasaan (meminjam istilah Habermas dengan penyesuaian konteks) dan keangkeran
guru. Pendidikan ‘fotokopi’ tidak akan membuat anak berpikir kreatif! Aku akan
setuju dengan pendidikan kritis-komunikatif seperti yang telah banyak pemikir
katakan, termasuk Freire. Tidak ada dominasi simbolik (meminjam istilah
bourdieu) seorang guru di dalam kelas. Tampunglah semua pertanyaan, aspirasi,
keluhan dari si murid bahkan dalam bentuk paling aneh sekalipun! Kita coba
menciptakan metode dialektis: timbal balik antara si guru dan si murid (guru
dan murid secara bersama-sama memecahkan suatu permasalahan seperti gagasan
Freire). Aku takut akan terjadi situasi di mana murid meneriakkan protes-protes
kemuakan atas gurunya seperti di dalam lirik lagu Another Brick in The wall
part 2 milik Band legendaris, Pink Floyd.
"We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teacher leave them kids alone
Hey, teacher, leave them kids alone!
All in all it's just another brick in the wall
All in all you're just another brick in the wall"
Terakhir, aku ingin memberikan saran kepada Bapak bahwa
Konsep Pendidikan gaya Bank (meminjam istilah
Freire) harus disingkirkan. Efek-efek gila dari gaya itu sudah membusuk ditelan
sang kala. Dan sebagai gantinya aku
menganjurkan sebuah konsep Pendidikan yang bebas yaitu yang
menjunjung komunikasi bebas penguasaan, dialog intersubyektif: sebuah dialog-timbal-balik-antara-guru-dan-murid!
Aku, mewakili Budi, Jerry dan
seluruh murid di negeri ini, meneriakkan,
“Kami tidak butuh
kontrol pemikiran! Kami butuh kebebasan dialog. Kepentingan kami adalah kepentingan
emansipatoris isi kepala: kepentingan untuk membebaskan kreativitas kami!
Biarkanlah kami untuk menjadi manusia yang becoming dengan tarian “ya” paling
indah!”
Terima kasih.
[1] Lih.
Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan
Pembebasan,
Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, (Yogyakarta: ReäD bekerjasama
dengan Pustaka Pelajar,2004), hlm. Vii.
[2] Selanjutnya,
pembaca yang budiman dapat membaca buku Paulo Freire untuk memahami konsep
pendidikan Gaya Bank ini. Buku ini telah diterbitkan dalam versi terjemahan
Indonesia. Lih. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Tim Redaksi pustaka
LP3ES, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2008), hlm. 51-74.