LPPMD Unpad

Rabu, 10 Juni 2015

Fragmen-Fragmen Pembangkangan


 Oleh: Aldo Fernando Nasir, Agroteknologi 2013

Jiwa ini terkadang dianggap liar dalam persepsi orang lain yang menilainya dengan cara begitu buruk dan memberinya hukuman konyol, irrasional dan membingungkan. Jiwa yang menyedihkan. Inilah jiwa si pembangkang. Ia sedang menjalani kehidupan yang cukup membingungkan: sebuah jalan yang berliku —masa SMA. Tidak ada satupun gambaran dalam pikirannya bahwa masa ini merupakan hal yang paling ‘putih abu-abu’ dan paling mengesankan.
Baginya, semua berjalan sangat buruk, menjijikkan, penuh pembualan kata, penuh pemonopolian dan ketidakbenaran sistem sudut pandang. Ia hanya menjadi seekor kelinci percobaan modern yang berpedoman pada kekunoan pemimpinnya yang tidak pernah memperhatikan segi kebenaran prosesnya. Begitulah ia, si pembangkang, yang memiliki jiwa yang cukup taat untuk setiap peraturan yang dihadapkan pada pemikirannya.
“Aku belum pernah mengerti sebelumnya jika Bapak adalah seorang yang cukup menyedihkan, membelitkan permasalahan dasar, dan membunuh setiap pemikiran bawahan,” lantang Jerry.
“Tidak pantas kamu berbicara seperti itu. Dasar anak kurang ajar kamu!” seru Anton.
“Aku sudah muak dan merasa jijik ketika semuanya menyudutkan sikap dan pemikiranku. Haruskah semua berjalan demikian? Haruskah semua memberiku sebuah rasa muak? Tidakkah Anda bosan mengatur sistem yang sedemikian buruk menunjukkan kecongkakannya? Anda menyedihkan!” Jerry berseru penuh rasa marah.
“Dan mungkin kamu sendiri yang telah memberimu rasa sakit itu yang menyebabkan setiap ucapan tak teroganisir dari pemikiranmu itu meledak-ledak dan menyedihkan. Kamu belum tahu bagaimana menyikapi setiap bola panas yang menghampirimu,” Anton menduga.
“Semoga Bapak mengerti seberapa buruk sistem yang Bapak hamparkan di depan mataku, mata pemikiranku. Sebuah sistem dengan kedalaman yang dangkal, keruh dan congkak yang menggambarkan sikap ego dan paham egosentris dalam kepemimpinan egois dan ortodoks,” Jerry terbawa emosi.
Bagi Anton tidak ada pemikiran seorang siswa yang benar-benar membuatnya terhenyak dalam kurun waktu dua puluh lima tahun ia mengajar dan memimpin SMAN 1 Harapan Terang, kecuali Jerry Grandao, Siswa kelas XI IPA 1. Seorang siswa yang menjadi ‘Most Wanted’ di SMA tersebut. Jerry ini memiliki penampilan yang keren, bertubuh tinggi kurus, bergigi rapi, berkulit putih, berambut semi bergelombang. Ia tampak seperti orang gila yang beruntung karena banyak wanita yang menggilainya.

“Keluar kamu dari ruangan saya!” titah Anton penuh amarah.

Jerry pun membalikkan badannya dan tanpa sepatah apapun dari mulutnya ia pergi meninggalkan ruang Kepala Sekolah beserta empunya, Anton Sudarwanto. Ia menuju tempat favoritnya, duduk di kursinya sembari membunuh pemikiran orang-orang yang menyedihkan dalam pemikiran liar anak usia tujuh belas tahun itu.
Ia mengingat sebuah kisah yang ia buat sendiri di dalam pemikirannya setiap ia kembali dalam permasalahan liarnya. Beberapa prinsip yang dipegang olehnya kini bergeser ke arah yang buruk dan semakin membuatnya berada pada dua persimpangan jalan yang aneh, penuh misteri, penuh kebodohan spiritual dan kegilaan yang dangkal yang membuatnya kembali kepada prinsip kebrutalan keputusan.
“Mungkinkah kita bisa memutuskan sesuatu sebelum kita benar-benar yakin? dan apakah kita mampu menjadi hal penting bagi sesuatu yang kita benci ketika kita telah benar-benar mencapai puncak kemuakan terhadapnya? inilah yang aku pikirkan dalam  perenunganku akhir-akhir ini,” Jerry berkata dengan pemikirannya.
Ke-tidak-ada-an seorang teman sepemikiran membuat Jerry selalu bertingkah bodoh dan berlagak pilon disaat bersama para temannya. Ia tidak ingin mereka banyak mengetahui dan bahkan mengikuti semua gaya miliknya yang khas. Ia selalu menyembunyikan hal yang paling dalam dan khas miliknya dari para temannya dengan cara yang begitu bodoh darinya dan sangat menyedihkan seperti nyanyian malam yang dianggap angin lalu bagi unsur dalam sistemnya. Ia akan menjadi kebodohan paradoksal yang selalu dibenci para guru yang melihat sosok menjijikkan dalam dirinya.
Matahari berada di atas posisi yang adekuat untuk memulangkan siswa SMAN 1 Harapan Jaya.  Bel sekolah pun berbunyi mengisyaratkan jam sekolah telah berakhir.

“Grand, loe mau ikut gue, enggak?” Baron Steven, sahabat Jerry, mengajak Jerry.
Baron memiliki deskripsi diri yang cukup baik. Ia berpostur tinggi kurus (lebih tinggi daripada Jerry), berkulit sawo matang, berambut model tentara. Ia seorang anak yang ramah. Satu hal yang membuatnya terkenal adalah sikap playboy khas miliknya.

Jerry menjawab dengan tidak bersemangat,
“Ke mana? Gue lagi pengin cepat balik ke rumah, Ron.”
“Ke cafe biasa. Oke lah kalau begitu,” Baron menjawab lalu pergi.

Sejurus dengan itu, Jerry pun langsung bergegas pulang.

Di kamar sederhana miliknya, Jerry merebahkan diri di atas kasur yang ia anggap keras dan nyaman (apakah Jerry menganalogikan kasur miliknya dengan kepemimpinan Soeharto di Indonesia?).

“Hidup ini adalah hidup ini adalah ... tanpa jawaban,” Jerry memulai kontemplasinya.
Jerry mengambil sebuah ballpoint dan buku kosong (semoga Jerry belum memahami konsep tabula rasa[1] John Locke!). Ia sepertinya akan menulis sesuatu.

EGOSENTRISME ANTON!

Anton Sudarwanto. Siapa sih dia? Sebuah kebusukan intrik? Aku, Fernann, seorang yang (nyata ada dalam catatan ini) muak dengannya! Mengapa? Karena orang itu telah mencoba membunuh eksistensi Jerry di sekolah. Lalu, siapa Jerry? Jerry adalah penulis catatan ini. Jerry yang berkuasa atas pemikiranku di catatan ini. Dengarkan aku! Baca pemikiranku! Ayolah ... Jerry telah mencoba memberikanku peran brutal di dalam catatan ini.
“Jerry, saya harus memberikanmu larangan memasuki ruangan saya mulai saat ini!”
Itulah perkataan Kepala Sekolah SMAN 1 Harapan Jaya kepada Jerry. Tampaknya, Anton begitu egois untuk hal ini (Jerry pun sebenarnya telah terjebak dalam boomerang miliknya sendiri: Jerry sama egoisnya dengan Pak Anton). Aku sudah seringkali memperingatkan  Anton untuk mencoba mawas diri. Namun, sayang sekali, aku hanya berkuasa di dalam catatan Jerry. Jerry terlihat begitu sulit melawan kekuasaan Anton Sudarwanto di sekolah. Jerry memang payah!
Sekarang, aku harus memberi tahu para pembaca bahwa Jerry begitu baik kepadaku dengan menjadikanku berani mengkritisi penulis (Jerry) di dalam catatannya sendiri. Aku tidak tahu apa motif Jerry untuk catatan ini. Sepertinya, ia membutuhkan perawatan medis! Anak yang malang. Dia sudah gila!
Sayang sekali, ‘eksistensi’ milikku harus berakhir cepat di catatan ini. Ya, Jerry sepertinya sudah jengah membaca tulisanku yang dibuat olehnya sendiri. Catatan ini!
Aku, Fernann, memberikan ultimatum kepada Anton (Jerry benar-benar membuatku menjadi tidak sopan dengan memperlihatkan tulisanku dalam catatan ini yang tanpa menggunakan sebutan ‘pak’ untuk nama Kepala Sekolahnya sendiri)!
Anton ... Anda menyedihkan, Bung!

Jerry lalu menutup buku catatannya dan tertidur.

“Jerry, kau dikeluarkan dari sekolah ini!”
“Bagaimana bisa Anda dengan mudahnya menggunakan peribahasa ‘membalikkan telapak tangan’ mengenai hak bersekolah saya? Anda adalah ego busuk Anda!”
“Aku berhak menggunakan peribahasa itu untuk siswa macam kamu, Jerry! Tidak ada untungnya SMA ini memiliki kamu!”
“Aku akan keluar dari ...”

Jerry langsung terbangun dari tidurnya.

“Ini adalah mimpi yang menjijikkan. Ah! Pak Anton memang harus bertemu Fernann lagi!” ucap Jerry sementara ia mengumpulkan ‘nyawa’nya yang bertebaran akibat tertidur.

Anton dalam Mimpi Jerry?
Aku kembali hadir untuk mengkritisi Anda, Anton. (Jerry memang tega membuatku tidak sopan. Payah!) Aku baru mendapat kabar jika Anda memasuki alam mimpi Jerry. Anda tidak sopan, Bung! Anda harus memahami bahwa tidak ada hukum gravitasi di dalam mimpi Jerry. Ah Anda telah membuatku menjadi berbicara sok pintar mengenai fisika. Sudahlah.
Aku tidak tahu apa motif Anda untuk memaki-maki Jerry lewat mimpinya. Anda ini telah membuat Jerry berprasangka buruk terhadap Anda. Sialnya, dia pun membawa saya ke masalah mimpi ini. Apakah dia mengira aku adalah seorang ahli tafsir mimpi? Dasar anak muda!
Begini saja, aku ingin memberitahu kepada Anda bahwa anak ini (Jerry) adalah anak yang tidak ingin melihat Anda menggunakan kekuasaan Anda di sekolah dengan seenaknya. Anda harus ingat ini!
                                                     
“Sudah cukup aku menulis catatan ini,” Jerry berkata dalam hati.

Kedua bola mata Jerry menjelajahi setiap sudut kamarnya yang sempit. Ia pun berkata dengan lirih,

“Diriku tersudut di sudut tak bersudut.”

Lalu, ia beranjak dari kamar menuju dapur untuk makan. Setibanya di dapur, di hadapan sepiring nasi dan lauk, Ia pun kembali berkata,

“Diriku tersudut di sudut tak bersudut.”

Kemudian, ia mulai memakan makanannya.

Malam mulai menyergap Bumi dan ia akan membuat manusia mampu melihat masa lalu. Ya, dengan memandangi bintang-gemintang di hamparan tubuh gelapnya.

“Bintang malam ini adalah bukan bintang malam ini. Bintang masa lalu yang jejak cahayanya baru sampai di mataku. Oh, betapa baiknya kau bintang! Apakah ini pesan kau terakhir kepada manusia sebelum kau berdansa menuju kematian? Manusia yang tidak memahami perjalanan cahaya kau niscaya tidak akan menghargai usaha indah kau ini. Untung saja Galileo mampu membuka mata pengetahuan manusia yang terkenal angkuh,” ujar Jerry dalam keheningan malam di sebuah bukit yang terletak di belakang rumahnya.
Jerry mengeluarkan buku catatan dan ballpoint miliknya dari dalam tas kecil miliknya.


Bintang dan Masa Sejarah

Bintang ...
Kau yang bersejarah ...
Kau yang memiliki cahaya ...
0.000000003335640952!
Aku tersenyum kepada jejak-jejak misteri milik kau ...
Kau indah dalam keindahan yang misteri ...
Basuh mataku! Basuh mataku dengan cerita kau, bintang!
Aku kesepian dalam kewarasanku!
Bintang ...

Kemudian, setelah malam semakin larut, Jerry turun dari bukit itu dan menuju rumahnya.

“Aku pikir, aku harus kembali ke gua yang kelam itu untuk memulai perburuan esok hari: menuju tak terbatas menggilai dunia,” ucap Jerry di kegelapan malam.

Esok paginya, kebetulan hari Minggu, Jerry berangkat menuju toko buku langganannya. Seperti biasa, ia mencari buku-buku filsafat. Ia memang anak yang aneh. Sepertinya, hanya Fernann yang mampu membuatnya bahagia.

“Apa itu dunia? Apa itu kebenaran? Apa itu apa?” Jerry mengucap pertanyaan-pertanyaan filosofis selama perjalanan menuju toko buku langganannya.


TOKO BUKU FREAKS!
Menjual Buku-buku Filsafat!

Tulisan besar yang berada di tembok depan bagian atas menandakan nama toko tersebut. Kemudian, setelah melihat tulisan besar tersebut, Jerry pun seketika menghentikan laju sepeda motor dan memarkirnya tepat di depan toko tersebut.
“Pak, ada buku milik Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris?” Jerry bertanya kepada pemilik toko, namanya Irsyad.
“Oh ada, Bang. Ini,” Irsyad berbicara sembari memberikan buku yang Jerry inginkan.

Sementara Jerry sedang memerhatikan buku yang ia cari, Budi Santosa, seorang filsuf yang juga mantan dosen di Universitas Rasio Jaya, bertanya dengan Irsyad, sang pemilik toko,

“Pak, ada milik Felix Baghi, Alteritas? Dan juga buku milik Nietzsche, Also Sprach Zarathustra dan The Gay Science?”
“Kebetulan ketiganya ada di sini, Pak,” Irsyad dengan senyum ramah.

Budi Santosa ini berumur 52 tahun. Ia memiliki penampilan seperti Don Juan milik Mozart yang sudah tidak waras lagi, bertubuh tinggi dan besar, berkumis hitam tebal, berkulit putih, berambut panjang hitam-beruban, dan berjenggot panjang. Ia tampak beribawa dengan gaya so calm miliknya.

“Pak Budi, anak ini juga menyukai filsafat sama seperti Bapak. Namanya Jerry,” Irsyad berbicara dengan Budi sembari menepuk pundak Jerry.
“Oh ya? Sudah kuliah kamu, Jerry?” Budi memandang ke arah Jerry.
“Iya, Pak. Hehe ... Saya masih berada di kelas XI SMA, Pak,” Jerry membalas dengan malu-malu.
“Kamu anak IPS?” Budi bertanya kembali.

Sementara Budi dan Jerry sedang berbincang, Irsyad kembali sibuk dengan para pelanggannya.
“Saya anak IPA, Pak.”
“Wah. Anak IPA suka filsafat? Salam kenal ya? Ini kartu nama saya jika kamu ingin menghubungi saya,” Budi berkata sembari menyodorkan kartu nama kepada Jerry.
“Hehe iya, Pak. Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak,” Jerry sumringah.
“Sama-sama. Jerry, why is there something than nothing?” Budi melemparkan kalimat berbau ontologis-filosofis kepada Jerry dan lalu langsung pergi meninggalkan toko itu (dengan keadaan sudah membayar buku-buku yang telah ia dapatkan).
“Hmm ... Apa maksudnya, Pa... Pak?” Jerry bingung. Pertanyaan yang sepertinya sangat aneh.

Jerry terlihat belum mampu mencerna pertanyaan milik Budi Santosa. Ia pun memutuskan untuk membayar buku yang ia cari dan langsung bergegas pulang.

Why is there something than nothing?” Jerry mengulangi pertanyaan Budi yang membuat lidahnya kelu di toko buku tadi di atas sepeda motornya.
“Sepertinya aku belum pernah membaca buku yang membahas pertanyaan ontologis seperti itu. Apa ya kira-kira jawabannya? Mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada? Mengapa aku memikirkan ‘mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada’ ketika aku sudah selalu ada di sini dan sekarang? Benar saja Socrates pernah berkata bahwa,‘semua yang saya tahu adalah bahwa saya tetap tidak mengetahui  apa-apa’. Aneh. Dunia semakin aneh saja!” Jerry kembali bertanya-tanya dengan sendirinya.

Jerry memutuskan untuk mendatangi rumah Baron, sahabat yang paling dekat dengannya. Ia mengetuk pintu rumah Baron dan beberapa saat kemudian Baron membuka pintu. Sepertinya ia baru saja terbangun dari tidur siang.
“Ada apa, Grand?” ia bertanya kepada Jerry.
“Gue pengin cerita nih ama loe,” Jerry berbicara sembari berjalan memasuki rumah Baron.
Baron menunda berbicara terlebih dahulu untuk mengajak Jerry mengobrol di kamarnya. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar.
“Cerita apa nih? Filsafat?” Baron sepertinya telah memahami isi kepala Jerry.
“ Gue baru saja bertemu seorang tua, namanya Budi. Ia menyukai filsafat juga. Tapi, gue belum tahu tentang asal usul perjalanan hidupnya,”
“Lalu, intinya?” Baron penasaran.
“Sebelum ia meninggalkan toko, ia memberikan kartu namanya ke gue. Satu hal yang membuat gue bingung adalah ia juga melempar pertanyaan filosofis-aneh seperti ini,‘why is there something than nothing?’ Gue belum pernah menemukan pertanyaan begitu di buku-buku gue,” Jerry mencoba menjelaskan.
“Wah. Gue mana ngerti begituan, Bro? Haha ... Sepertinya, loe harus terus membaca buku-buku filsafat. Gue yakin loe akan memahami pertanyaan gila seperti itu,” Baron menjawab.
Jerry terdiam setelah mendengar kalimat milik Baron. Baron lalu mengatakan kepada Jerry bahwa ia akan menemui temannya di sekolah. Praktis, Jerry sekarang sendirian di rumah Baron. Beberapa saat setelah Baron pergi, ia mengeluarkan buku catatan miliknya dan mulai menulis.


Why Is There Something than Nothing?
Jerry sepertinya sedang diserang oleh sebuah pertanyaan filsafat yang menohok, seperti judul catatan ini —why is there something than nothing?. Aku turut berduka atas kesedihan isi kepalamu yang tidak mampu mencerna kalimat ontologis ini. Jerry, kamu anak yang kritis. Sayangnya, kamu masih terlalu muda untuk mampu mencerap banyak pengetahuan mengenai filsafat. Sabarlah! Percayalah! Buktikanlah! Kamu butuh semangat itu. Kamu kan sudah membaca tentang kesudian kita untuk mengakui tapal batas pegetahuan kita. Aku bukan ingin menyarankan kepadamu untuk puas dengan pencapaianmu. Dengarkan aku! Kamu harus melanjutkan pembacaan filsafat. Kamu tahu bahwa seorang filsuf itu tidak puas dengan apa yang ada, apa yang tampak. Seorang filsuf harus selalu bertanya, bertanya, dan bertanya yang juga diiringi dengan pembacaan, pemahaman, dan perenungan secara sistematis dan runtut. Aku pikir kamu belum mencoba mendalami beberapa buku pengantar filsafat. Jadi, inilah hasilnya: pondasi belum dikokohkan dan bangunan terancam runtuh!
Kamu harus temui Pak Budi itu. Kamu harus berguru!

Salam hangat dari sahabat imajinasimu,

Fernann


Jerry menutup buku catatannya dan lalu, memasukkannya kembali ke tas.
“Ron, di mana loe? Gue mau balik nih,” Jerry menghubungi Baron via telepon selulernya.
“Nih lagi di perjalanan balik, bro. Tunggu ya?” Jawab Baron.
“Oke,”
Jerry menutup telepon.

“Sebenarnya, apa sih Ada itu? Mengapa Ada cenderung ada daripada tidak Ada? Aku harus membaca mengenai hal itu. Tetapi, tidak untuk sekarang. Aku masih banyak hal yang belum aku selesaikan. Aku juga masih terlalu jauh untuk melampaui diriku sendiri,” Jerry berbicara dengan isi kepalanya.

“Assalamualaikum. Grand... Grand... ,” Baron mengetuk pintu.
“Waalaikum salam. Tunggu sebentar,” Jerry menyahut.

Lalu, Jerry membuka pintu dan sekaligus ia ingin pamit pulang,

“Gue balik ya, bro?”
“Oke hati-hati, bro,” Jawab Baron.
“Sip,”

Jerry menghidupkan sepeda motornya dan kemudian meninggalkan rumah Baron. Jerry nampaknya begitu sulit untuk melepaskan kalimat terakhir milik Budi Santosa dari ingatannya. Semakin dipikirkan semakin membuatnya gila. Ia pun sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke kamar karena kebetulan pintu rumahnya tidak dikunci. Mungkin ibunya sedang berada di dapur.
“Filsafat fragmentaris? Hmm... Judul buku yang menarik sekaligus rumit bagi orang gila dan bodoh sepertiku. Tidak ada kebenaran mutlak manusia!” ucap Jerry yang sedang membuka pelapis plastik buku Filsafat fragmentaris miliknya.
“Ini buku yang aku butuhkan. Aku tahu filsafat merupakan sebuah pengembaraan makna terus-menerus. Aku tidak akan berhenti di buku ini! Di mana ya buku pengantar filsafatku? Fernann telah mengingatkan tentang hal ini: pondasi yang kokoh untuk bangunan yang dahsyat. Aku masih perlu banyak membaca.”
Tiba-tiba Jerry teringat sesuatu.
“Oh ya... Besok hari senin dan aku harus kembali ke institusi yang otoriter itu. Institusi yang memaksaku menghafal banyak hal dan lalu memuntahkannya kembali dalam bentuk yang sama. Apakah memang harus demikian?”

Jerry membaca sampai larut malam. Sampai ia lupa mengerjakan tugas fisika yang harus dikumpulkan esok hari. Ia sepertinya tidak akan mengerjakan tugas itu. Ya, seperti biasa, ia akan menyalin jawaban temannya. Ia memang aneh. Ia bermain boomerang dengan para guru-guru yang tidak disukainya. Seperti kalimat yang dilontarkan di atas, ia ingin mengikuti cara gurunya —setidaknya hal ini dilakukan sebelum ia benar-benar telah mampu menghantam sendi-sendi kemunafikan pendidikan— dan menunjukkan cara yang sama seperti gurunya sebagai pembalasan: dengan memuntahkan kembali dalam bentuk yang sama. Api dibalas api.
“Aku harus mengistirahatkan kedua mata fisikku ini,” ucap Jerry sesaat sebelum tertidur.

Jerry Grandao, kau pemuda yang malang, nak. Kau terlalu cerdas untuk anak seumuran kau. Kau terlalu berani menghantam sendi-sendi busuk sekolah kau. Kau hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk membuktikan kedahsyatan isi kepala kau. Tidurlah kau dalam kegelapan malam ini.
“Jerry ... Jerry ... Bangun, nak. Sudah jam setengah tujuh,” suara Lina Marlin, ibu Jerry mencoba membangunkan Jerry sembari mengetuk pintu kamar Jerry.
“Iya bu ...  Aku sudah bangun. Nih mau mandi dulu,” Sahut Jerry dari dalam kamar.
“Ya. Nanti sarapan ya?”
“Oke ...”

Setelah sarapan, Jerry bergegas ke sekolah dengan mengendarai sepeda motornya. Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju ke kelas, kemudian mengambil topi sma miliknya dan menuju lapangan luas milik sekolah untuk mengikuti upacara penaikan bendera hari senin.

“Upacara yang indah. Di sinilah aku, si orang aneh, berdiri menghormati jasa kau, Bung. Kau adalah tokoh paling dahsyat bagiku. Aku sangat menyukai kalimatmu yang ini, ‘Jangan mengeluh! Keluh adalah tanda kelemahan jiwa!’ Kalimat yang sangat melekat kuat di dalam hatiku. Kau sang putra fajar, Ir. Soekarno,” ucap Jerry dengan lirih di sela-sela pelaksanaan upacara.

Setelah hampir satu jam, pelaksanaan upacara penaikan bendera pun selesai. Murid-murid mulai berhamburan menuju ruang kelasnya masing-masing, kecuali Jerry. Ya, Jerry, si pembangkang yang aneh. Ia masih terpaku dengan tiang dan bendera merah-putih.

“Inikah penghormatan kami yang tulus untuk kalian, para pahlawan tanah air ini? Inikah yang dinamakan upacara? Ah! Ini hanyalah bentuk kemunafikan, keterpaksaan, dan komedi yang menjijikkan di setiap sekolah. Kami yang bodoh seperti unta-unta yang selalu siap diberi beban dan mereka para pendidik yang memakai topeng berwajah memelas-tegas untuk membuat kami patuh. Ini harus diubah! Buang semua topeng komedi!” tiba-tiba Jerry menjerit mengucapkan kalimat dengan keras.

Tidak ada yang peduli. Tidak satu pun. Jerry datang terlalu cepat, sedangkan mereka belum meyadari ke-komedi-an ini. Jerry akan tetap menjerit dalam kemuakan isi kepalanya. Jerry lalu masuk ke dalam kelas untuk berpura-pura mengikuti pelajaran. Ia lebih senang memenuhi buku catatannya dengan menulis pemikiran miliknya daripada menyalin semua kemunafikan guru matematikanya.

Inilah Gue!
Gue pernah memiliki sebuah hubungan cinta yang cukup lama dengan pacar (mantan) gue. Sebut saja namanya Dina. Hal itu terjadi sewaktu gue duduk di bangku smp (sepertinya gue duduk di meja deh karena tidak membayar uang spp), tepatnya kelas sembilan smp. Cinta yang disebut C-I-N-T-A-M-O-N-Y-E-T itu merupakan sebuah kisah semu yang dipaksakan menjadi nyata yang gue pikir sebagai hubungan yang tidak jelas. Ya, sebuah hubungan dimana keserasian diabaikan dan lalu melupakan semua hal yang seharusnya menjadi lem perekat hal-hal terkecil dalam cinta. Dia menganggap ketikadaan gue merupakan ke-ada-an gue yang nyata di hatinya. Boleh-boleh saja sih. Tetapi, dia terlalu memaksakan hal yang harusnya ada di imajinasi. Dia menganggap semua ada dalam setiap hitungan detiknya.

“Sayang, kata nenekku kamu manis loh ...”

Perkataan dia di atas merupakan salah satu pemaksaan fisik dimana gue yang terlahir dengan wajah yang tidak cocok menjadi seorang bintang film dipaksakan sedimikian rupa dengan kebohongan yang menambal tiap milimeter lubang ketidaknyataannya. Sebenarnya, gue tidak ingin dia menipu kemampuan visualnya walaupun dia mempunyai dalih bahwa dia mencintai gue dengan sepenuh hati dan karena itulah dia menganggap gue menjadi HSC-boy (handsome, sweet, and cute) yang gue pikir malah lebih seperti boyband yang gagal terkenal dan berubah menjadi banci di traffic lights. Ini memalukan.
Inilah gue! Inilah gue yang tampil apa adanya. Inilah gue yang pas-pasan. Inilah gue yang bukan HSC-boy. Inilah gue, seorang buruk-aneh, yang menata cinta bukan dengan gaya hedonisme perkotaan. Inilah gue yang sudi mengakui kekurangan gue. TERIMALAH KEKURANGAN GUE... (Kenapa gue malah seperti calon artis FTV yang gagal lolos casting?!).
Terlepas dari semua ke-lebay-an (lebay: sikap yang berlebihan) gue dan dia, hubungan cinta gue dan dia pun berakhir. Ya, berakhir karena satu faktor: Dina memiliki hubungan dekat dengan seorang teman gue, sebut saja Doni. Mereka dekat satu sama lain dalam sebuah hubungan yang spesial tepat ketika gue dan Dina masih berpacaran. Lunas! Bagaimana bisa kita membiarkan kisah cinta kita dimanipulasi dengan cara yang begitu menjijikkan: layangan ditarik dan diulur sebelum dihajar dengan layangan lain yang lebih kuat dan menarik! Tetapi ya sudahlah. Toh, gue tidak berpikir dan mengharapkan bahwa dia memang sosok yang terbaik untuk gue. Gue berpacaran dengan Dina sekitar 18 bulan. Bukan waktu yang sebentar untuk sekadar membuang asap dari cerobong pabrik. Gue tidak mau melanjutkan catatan ini. Biarkan rusak tak bermakna!

“Jer... Jerry... Gue minjem catatan lo dong yang tadi dijelasin Pak Margono?” Shinta memecah keheningan Jerry yang asyik dengan kisah catatan cintanya.
“Hah?... Apa, Shin?” Jerry menjawab dengan agak kaget.
“Iya, gue mau minjem catatan matematika yang lo tulis tadi dong?”
“Sial! Memerhatikan saja tidak, apalagi menulisnya ke dalam sebuah catatan,”
“Haha... So, lo nulis apaan?”
“Kisah masa lalu,”
“Galau, Pak? Haha kasian deh lo,”
“Ya beginilah nasib orang keren. Omong-omong, pelajaran matematika sudah selesai?”
“Dari tadi! Huh... Dasar!” Shinta pun langsung pergi meninggalkan Jerry, mejanya, catatannya beserta kebingungannya yang tidak mampu memahami relativitas waktu.  Dan waktu terus berputar dengan angkuhnya tanpa pedulikan siapapun, termasuk Jerry Grandao.
Setelah berhasil melewati jam-jam di sekolah, Jerry dengan segera mengendarai sepeda motornya dan menuju ke rumah. Tetapi, di perjalanan pulang, pemuda tampan yang aneh ini tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya.

“Pak Budi... Ya, aku harus menemui Pak Budi sekarang. Nah ini kartu namanya. Aku harus cari alamat ini,” ucap Jerry dengan lirih sementara tangan kanannya membuka dompet untuk mencari kartu nama Budi Santosa.

Jalan Mawar no.7 desa Hening Cinta

“Ya, aku tahu alamat ini. Sekitar dua kilometer dari sini,”

Seketika, Jerry langsung memacu sepeda motornya dengan kencang menuju rumah pemilik pertanyaan: Why is there something than nothing? —Budi Santosa.

“Assalamualaikum... Tok... Tok...” Jerry mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah Budi Santosa.
“Waalaikum salam ...” terdengar suara menyahut dari dalam rumah, kemudian membuka pintu.
Pemilik rumah tersebut berkata kembali,
“Jerry, ya?”
“Iya, Pak. Saya Jerry,” Jerry menjawab dengan wajah yang ramah.
“Silakan masuk, Jer...”
“Baik, Pak.”

Di dalam rumah yang luas tersebut, sembari berjalan menuju ruang tamu Jerry memerhatikan detail-detail seisi rumah tersebut. Jerry melihat sebuah patung yang mirip dengan filsuf yunani, Aristoteles, berdiri tegak, lalu Jerry memerhatikan lukisan-lukisan bergambar wajah filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Ada juga lukisan filsuf lainnya seperti Hegel, Kant, Spinoza, Schopenhauer, dan Karl Jaspers. Jerry memandangi dengan penuh takjub. Kemudian ia berkata dengan lirih,
“Begitu dahsyatnya si Nietzsche itu! Kehendak kuasa! —‘What doesn’t kill me makes me stronger.’”
“Silakan duduk di sini, Jer,” Budi memecah ketakjuban Jerry.
“Oh ehm ... Iya, Pak.” Jerry menyahut dengan sedikit kaget.
“Bagaimana kabarmu? Baik, kan?”
“Baik, Pak. Setidaknya setelah melewati jam-jam melelahkan di sekolah. Lalu, bagaimana dengan Bapak?,” Jerry menjawab dengan senyum khasnya.
“Baik juga. Ada apa dengan sekolahmu, Jer?” Budi memasang wajah penasaran.
“Sekolah adalah institusi penuh kemunafikan, Pak,” Jerry menjawab dengan semangat.
“Kamu bermasalah dengan salah satu gurumu?”
“Ya, dan terpenting dengan kepala sekolah, Pak,”
“Bagaimana bisa, Jer?”
“Saya dianggap pengacau, orang aneh, orang tolol hanya karena saya berani mengkritisi keotoriteran beliau yang sangat mudah menutup pintu kritik bagi kinerjanya,”
“Mungkin, beliau menganggap kritikmu sedikit kurang ajar, Jer. Kamu harus melakukan refleksi-diri juga. Ya, walaupun beliau menutup pintu kritik seperti yang kamu katakan baru saja. Sepertinya ia perlu membaca tindakan komunikatif Jürgen Habermas. Tunggu dulu, jika kamu bertanya mengenai Habermas, kamu tidak akan mendapati sebuah jawaban mengenainya dan pemikirannya. Kamu masih perlu banyak belajar, membaca dan berusaha! Let the time will answer it.”
“Baik, Pak. Saya memang perlu melakukan kritik-diri. Bapak sangat tepat dan cepat  untuk menghalangi pertanyaan saya. It’s okay,”
“Haha... Itu untuk membuatmu tidak terburu-buru menyusun pondasimu, Jer,”
“Baik, Pak. Hehe ... Oh ya, Pak. Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa tidak memikirkan hal itu,”
“Hal apakah itu?”
“Pertanyaan Bapak sewaktu kita bertemu di toko buku: why is there something than nothing?
“Wah? Kamu masih mengingat pertanyaan itu? Itulah pertanyaan ontologis. Saya tidak akan menjelaskan hal itu kepadamu. Itu akan membutuhkan pembacaan yang sabar dan pemahaman yang runtut. Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada? Pusing ya?”
“Iya, Pak. Baik. Saya akan mencari jawaban ini hingga waktu mampu mengumpulkan pemahaman dan pengalaman saya atas dunia,”
“Ya! Kamu masih muda, beda, dan berbahaya!”
“Terima kasih, Pak. Itu seperti lirik lagu Superman Is Dead, ya Pak?”
“Haha ... Benar. Saya menyukai lagu-lagu S.I.D, seperti Punk Hari ini, Kuat Kita Bersinar, Jika Kami Bersama, dll.”
“Keren.”
“Kamu menyukai lagu milik band mana?”
“Salah satunya Captain Jack, Pak. Bagi saya lirik-liriknya begitu tajam dan dahsyat mendongkel sendi-sendi kemunafikan dan keangkuhan manusia, seperti lagu Hati Hitam, Sempurna, Tak Sama adalah Pilihan, Bukan Sahabat, Musuhku di dalam Cermin, Kupu-kupu Baja, dll. Mengagumkan,”
“Wah, Keren. Anak muda yang energik!”
“Maaf, apa pekerjaan Bapak?”
“Saya dahulu bekerja sebagai seorang dosen di Universitas Rasio Jaya, Jer,”
“Mantan dosen, begitu?”
“Tepat. Saya pernah mengajar sebagai dosen ilmu politik,”
“Saya malah mengira bahwa Bapak seorang mantan dosen filsafat,”
“Saya sangat menggemari pembacaan filsafat, Jer. Filsafat memberikan kita pandangan hidup yang luas, kritis, dan juga unik, tetapi sayang, di negara kita, Indonesia, filsafat belum menjadi semacam tradisi dan di negara kita ini cenderung masih terlalu terpaku pada bidang pendidikan untuk menjadi ilmuwan, pengusaha, politisi, dan sebagainya. Ya, pendidikan untuk menjadi filsuf pun terkesan diabaikan dan malah dianggap aneh. Saya curiga bahwa banyak dari kita menganut pandangan ‘pakai dulu, efek belakangan’. Apalagi, di era kemajuan pesat ilmu pengetahuan lewat teknologi yang semakin sophisticated ini. Saya kira dewasa ini sebagian besar masyarakat kita telah sedang akan terjangkiti apa yang disebut oleh salah seorang pemikir Mahzab Frankfurt, Herbert Marcuse, sebagai ‘rasionalitas teknologis’.  Masyarakat di zaman kita ini seperti telah diperbudak oleh keangkuhan teknologi yang menyelimuti realitas. Tetapi, jangan percaya pendapat saya dan Marcuse sepenuhnya!,”
“ Hmm... Baik, Pak. Oh ya... Mengapa Bapak berkata bahwa saya tidak boleh percaya oleh argumen Bapak dan Marcuse?” Jerry bertanya penuh penasaran.
“Karena kritik yang dilancarkan Herbert Marcuse masih mendapatkan kritik dari seorang pemikir Mahzab Frankfurt lainnya, Jürgen Habermas. Habermas berpendapat bahwa Marcuse —meskipun Habermas tidak sepenuhnya menolak pendapat milik Marcuse— belum mampu memahami secara lebih dalam dan komprehensif mengenai proses rasionalisasi masyarakat modern. Marcuse masih mereduksi bagian lain dari proses rasionalisasi itu yang malah, menurut Habermas, membuat kritik Marcuse terhadap rasionalitas modern yang ia anggap berfungsi sebagai ideologi dan dominasi menemui jalan buntu,” Budi Santosa mencoba menerangkan.
“Habermas? Saya semakin penasaran dengan orang ini,”
“Ya, benar. Jangan terburu-buru, nak! Kamu masih memiliki banyak waktu untuk menempa mental dan kemampuan isi kepalamu. Dan kamu pun perlu memahami bahwa seorang pemikir tidak pernah berhenti bertanya sebelum waktu menjemput jiwanya. Kritik atas kritik,”
“Tetapi, mengapa Bapak tadi melontarkan argumen dengan pengandaian bahwa Bapak setuju dengan apa yang Marcuse sebut sebagai ‘rasionalitas teknologis’ jika Bapak pada kalimat selanjutnya malah berupaya menjelaskan pendapat Habermas mengenai kebuntuan alur kritik Marcuse?” Jerry nampaknya masih terus mencoba mengkritisi Budi Santosa.
“Anak yang cukup kritis! Saya sepertinya melakukan kesalahan dengan secara sengaja melupakan penjelasan mengenai kritik Habermas kepada Marcuse sebelum kamu melontarkan pertanyaan ‘Mengapa Bapak berkata bahwa saya tidak boleh percaya oleh argumen Bapak dan Marcuse?’. Tetapi, At least, kamu bisa mendapatkan sedikit pengantar mengenai pemikiran Habermas dan Marcuse,”
“Terima kasih, Pak. Saya akan mencoba membangun pondasi yang kokoh sebelum saya mampu mendirikan bangunan pemikiran yang mencakar langit kehidupan,”
“Bagus. Oh ya... Saya hampir lupa menawarkan minuman. Kamu mau minum apa, Jer?”
“Apa saja, Pak,”
“Bi... Tolong, buatkan dua cangkir teh, Ya?” Budi Santosa memanggil seorang pembantu di rumahnya.
“Baik, Pak,” terdengar suara menyahut dari pembantu tersebut.
“Pak, apa kesibukan Bapak sekarang setelah berhenti menjadi dosen?” Jerry memulai kembali percakapan.
“Sekarang saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersama istri saya dan dalam beberapa kesempatan mengisi kolom di sejumlah surat kabar,”
“Pasti Bapak sudah memiliki cucu, ya?”
“Saya dan istri tidak memiliki anak, Jer. Pun tidak pernah mencoba mengadopsi seorang anak,”
Suasana menjadi hening. Jerry menundukkan kepalanya ke arah lantai. Begitu pun Budi Santosa dengan mata berkaca-kaca ia menundukkan kepalanya. Sepertinya, Jerry menjadi merasa bersalah. Selang beberapa kemudian, Jerry kembali membuka percakapan.
“Hmm... Maaf ya, Pak. Saya tidak mengetahui hal ini,”
“Iya, tidak apa-apa, Jer. Mungkin saya dan istri terlalu sedih atas keguguran tiap kali istri saya mengandung. Ya, tiga kali keguguran,” Budi menjawab dengan suara yang agak berat menahan kesedihan.
“Ini teh dan kuenya, Pak, Mas. Silakan dinikmati,” Pembantu rumah datang dan menyuguhkan minuman dan sekaleng kue untuk Budi dan Jerry, lalu ia bergegas pergi kembali ke dapur.
“Oh... Iya, Bi. Terima kasih ya?” sahut Budi.
“Makasih, Bi,” Jerry pun menimpali.
“Jer, ayo diminum dan dicicipi teh dan kuenya,”
“Baik, Pak.”
Jerry dan Budi Santosa pun mulai meminum teh dan mencicipi kue yang dibawakan oleh pembantu Budi.
“Maaf, Pak. Istri Bapak sedang berada di mana saat ini?”
“Sedang berada di kamar, Jer. Ada apa?”
“Oh tidak apa-apa, Pak.”
“Oke, oh ya. Bagaimana pendapatmu tentang atmosfer politik Indonesia saat ini, Jer?”
Jerry dan Budi semakin asyik berbincang. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari dunia perpolitikan Indonesia, isu-isu global, masalah lingkungan, sampai merambah ke dunia pendidikan —di sinilah Jerry mulai naik darah! Ia mula-mula menceritakan apa yang telah ia didapatkan, dan ia harus lakukan di SMA selama ini. Lalu, ia sampai pada pernyataan:
“Saya sudah terlalu muak dengan model pendidikan yang saya terima di sekolah: mencatat semua hal, harus mampu menjadi ‘mesin fotokopi’ sang guru, harus membeo sama seperti sang guru! Bla bla bla,”
“Benar. Tetapi, kamu harus berhati-hati dalam melontarkan kritik, Jer. Jika tidak, kamu malah akan mendapat suatu efek boomerang yang dahsyat dari kritikmu sendiri,”
Jerry terdiam sejenak. Ia merasa bahwa pendapat Budi benar. Ia harus mencari kritik yang damai. Kemudian ia berkata kembali,
“Hmm... Saya mulai merasa bahwa kritik saya selama ini mengambil jalan yang gila,”
“Ya saya rasa memang begitu,”
“Jadi, menurut Bapak, saya harus bagaimana?”
Budi Santosa terdiam sejenak setelah mendengar kalimat Jerry. Kemudian ia berkata,
“Jer, tunggu sebentar, ya? Saya mau ambilkan sesuatu untukmu,”
“Baik, Pak.”

Setelah selang beberapa waktu Budi kembali.
“Nih, ada dua buku terjemahan milik Paulo Freire, pemikir asal Brazil: Pendidikan Kaum Tertindas; dan  Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Kamu boleh membawa dan membacanya di rumah,” Budi berkata sembari memberikan dua buku miliknya ke tangan Jerry.
“Wah? Terima kasih banyak, ya, Pak? Saya akan membacanya,” Jerry menjawab dengan raut wajah yang berseri-seri.
“Ia seorang tokoh pejuang pendidikan yang ramah dan menghargai pendapat orang lain. Oh ya... Besok kamu datang lagi ya kemari? Saya mau berikan sebuah tulisan untuk kamu berikan kepada Pak Anton,”
“Baik, Pak. Saya akan kemari besok,” jawab Jerry tanpa basa-basi.
“Oke,”
“Oh ya... Saya mau pamit dulu, Pak. Terima kasih untuk bukunya, Pak.”
“Sama-sama, ya. Hati-hati, Jer,”
“Baik, Pak,”
Setelah pamit, kemudian Jerry keluar dari rumah Budi Santosa dan menghidupkan sepeda motornya. Thus, go home!

“Seorang yang baik. Andai guru-guruku sepertinya: menghargai pendapat orang lain, memberikan solusi yang baik dan bersahabat,” gumam Jerry di atas motornya.


Surat Budi untuk Kepala Sekolah Jerry:


Pendidikan?

Kepada Bapak Anton Sudarwanto yang budiman. Perkenalkan, aku Tony, sahabat dari penulis tulisan ini, Budi Santosa. Akulah yang sering menemani Budi dalam beberapa tulisan kritik miliknya (yang dibalut dalam sebuah cerita aneh seperti ini, ya seperti ini!). Aku ditugaskan oleh Budi untuk sedikit memberikan kritik terhadap gaya mengajar dalam sebuah institusi pendidikan (sekolah) yang perlu diperbaiki.
Pendidikan memang merupakan suatu masalah yang tidak pernah selesai. Selalu ada banyak masalah dan tawaran-tawaran pemecahan masalahnya. Sebenarnya, hal ini adalah konsekuensi dari sifat dasar manusia: tidak pernah puas. Ya, manusia selalu ingin melampaui dirinya. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus akan lebih baik dari hari ini demikian bunyi sebuah pepatah yang mewakili sifat selalu ingin menaiki anak tangga yang lebih tinggi dalam perjalanan hidupnya. Inilah mengapa aku melakukan kritik!
Kembali ke masalah pendidikan. Aku akan mencoba memberikan definisi mengenai pendidikan (mudah-mudahan tidak banyak nada-nada sinis yang akan menggerutu atas definisi yang  aku coba tulis ini). Pendidikan merupakan bagian dari kerja (usaha) dan juga proses komunikasi manusia untuk menumbuhkan, memacu, dan mengembangkan daya-daya ledak yang dalam isi kepala dan hati, jasmani dan rohani (peserta didik); untuk mengaktualisasikan dan —yang terpenting— melestarikan hidupnya. Secara sederhana, pendidikan juga bisa disebut sebagai sebuah metode pengembangan diri.
Baik, Aku ingin mencoba mengkritisi metode dan sikap pengajar terhadap  muridnya di kelas. Aku telah diberitahu Budi bahwa Jerry mendapat perlakuan yang kurang adil di sekolah ini. Apakah benar? Ia mengatakan seringkali dicap seorang pemberontak dan sering dianggap bodoh di kelas, kemudian ia mengeluh mengapa murid harus membeo sama seperti ucapan gurunya. Bahkan, ia sampai berkata bahwa murid harus menjadi ‘mesin fotokopi’ gurunya. Aku tahu Jerry tidak menganggap semua guru demikian, namun Jerry pernah mengatakan bahwa Bapak adalah aktor yang harus bertanggungjawab atas beberapa hal yang Jerry rasakan di sekolah. Bapak, kata Jerry, tidak menanggapi keluhan halus Jerry mengenai metode pengajaran di kelas. Ini terjadi berulang kali hingga Jerry naik pitam. Ya, kejadian di ruang Anda. Jerry bukannya dianggap tepat dengan lontaran kritik tajamnya terhadap Bapak. Tidak! Budi sudah memberikan saran terhadap Jerry mengenai kritiknya.
Bapak sudah seharusnya menanggapi keluhan murid mengenai kinerja guru. Murid bukan mesin fotokopi, bukan? Pendidikan bukanlah bagaimana guru memberi informasi dan lalu harus dicerna oleh murid dan dimuntahkannya kembali dengan bentuk dan jumlah yang sama. Atau Anda menginginkan murid menjadi sebuah kebudayaan bisu[1] seperti kata Freire? Yang mana masyarakat, khususnya murid (dalam tulisan ini), dibuat tidak berdaya dan tidak mampu mengeluarkan daya-daya isi kepalanya (pemikirannya) sendiri. Silakan Bapak membaca buku Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Bapak juga boleh membaca karya Freire termahsyur, Pendidikan Kaum Tertindas. Di dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, Bapak akan menemukan pengertian mengenai apa itu konsep pendidikan Gaya Bank[2] di mana murid seolah disamakan seperti benda yang menurut, atau dalam bahasa Jerry, sebuah mesin fotokopi! Inilah salah satu keluhan Jerry untuk sekolah ini!
Aku, sesuai dengan perintah Budi, ingin mencoba menjadi mediator atas konflik Bapak dengan Jerry. Mengenai metode pembelajaran yang, seperti kata Freire, berkonsep gaya Bank harus diganti dengan metode pembelajaran yang dialogis-komunikatif dan bebas dari kekuasaan (meminjam istilah Habermas dengan penyesuaian konteks) dan keangkeran guru. Pendidikan ‘fotokopi’ tidak akan membuat anak berpikir kreatif! Aku akan setuju dengan pendidikan kritis-komunikatif seperti yang telah banyak pemikir katakan, termasuk Freire. Tidak ada dominasi simbolik (meminjam istilah bourdieu) seorang guru di dalam kelas. Tampunglah semua pertanyaan, aspirasi, keluhan dari si murid bahkan dalam bentuk paling aneh sekalipun! Kita coba menciptakan metode dialektis: timbal balik antara si guru dan si murid (guru dan murid secara bersama-sama memecahkan suatu permasalahan seperti gagasan Freire). Aku takut akan terjadi situasi di mana murid meneriakkan protes-protes kemuakan atas gurunya seperti di dalam lirik lagu Another Brick in The wall part 2 milik Band legendaris, Pink Floyd.

"We don't need no education 
We don't need no thought control 
No dark sarcasm in the classroom 
Teacher leave them kids alone 
Hey, teacher, leave them kids alone! 
All in all it's just another brick in the wall 
All in all you're just another brick in the wall"

Terakhir, aku ingin memberikan saran kepada Bapak bahwa Konsep Pendidikan gaya Bank (meminjam istilah Freire) harus disingkirkan. Efek-efek gila dari gaya itu sudah membusuk ditelan sang kala. Dan sebagai gantinya aku menganjurkan sebuah konsep Pendidikan yang bebas yaitu yang menjunjung komunikasi bebas penguasaan, dialog intersubyektif: sebuah  dialog-timbal-balik-antara-guru-dan-murid!
Aku, mewakili Budi, Jerry dan seluruh murid di negeri ini, meneriakkan,

“Kami tidak butuh kontrol pemikiran! Kami butuh kebebasan dialog. Kepentingan kami adalah kepentingan emansipatoris isi kepala: kepentingan untuk membebaskan kreativitas kami! Biarkanlah kami untuk menjadi manusia yang becoming dengan tarian “ya” paling indah!”

Terima kasih.


[1] Lih. Paulo Freire, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan, Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, (Yogyakarta: ReäD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar,2004), hlm. Vii.
[2] Selanjutnya, pembaca yang budiman dapat membaca buku Paulo Freire untuk memahami konsep pendidikan Gaya Bank ini. Buku ini telah diterbitkan dalam versi terjemahan Indonesia. Lih. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Tim Redaksi pustaka LP3ES, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2008), hlm. 51-74.
 

FANA, Sepintas Cerita


Oleh: Rachmadi Rasyad, Sastra Indonesia 2012
                                                       
Kendaraan-kendaraan saling mendahului pagi ini. Makian-makian terdengar beberapakali saja. Semuanya demi kedisiplinan atau bentuk penghargaan pada waktu yang tak kenal ampun. Asap kendaraan besar beroda empat yang berwarna hitam pun ikut mengusik kesabaran. Wajah-wajah yang telah dihiasi sedemikian rupa akhirnya hanya berhiaskan keringat. Bau parfum yang sebelumnya menyengat digantikan pula oleh bau khas orang jalanan. Semua menjadi sama, kecuali mereka yang duduk di kendaraan yang dilindungi kaca.
Menuju kampus. Poster-poster kegiatan seolah meminta perhatian untuk dipelototi. Tapi hari masih pagi! Terpelajar-terpelajar melintas memikul tas yang tampak menggelembung karena diisi buku-buku. Langkah mereka seperti biasanya tanpa keraguan. Seolah telah siap benar menyongsong kebahagiaan setelah lulus. Aktivis-aktivis pun telah tampak dengan almamater ditubuhnya, bersiap untuk bersuara di hadapan orang yang akan mereka tuntut. Demi rakyat! Spanduk-spanduk bertuliskan tuntutan yang berwarna merah-hitam dan berlatar putih dikibas-kibaskan pula. Juga, terdengar orasi sesaat dari seseorang berisikan ajakan dan makian pada mereka yang terlalu patuh pada akademik.
Sementara, terpelajar yang lain masih sibuk mengisi perut. Pedagang-pedagang berlomba mematut dagangannya agar tampak menarik. Poster-poster bertuliskan larangan berjualan di pinggir jalan diabaikan. Juga, poster mengenai kesehatan yang ditempeli di tembok-tembok oleh terpelajar Fakultas Kedokteran. Pengemis-pengemis pun masih tertidur tanpa beralaskan apapun di depan sebuah warung. Raut wajahnya mengisyaratkan perjuangan yang melebihi semua! Membutuhkan perjuangan keras untuk meminta sedikit rezeki dari orang yang kelebihan hartanya, apalagi di zaman modern seperti ini. Di mana tiap orang saling berebut untuk jadi nomor satu. Ah, terlalu individualistis.
Gedung megah tempat berkumpulnya pejabat kampus masih sepi. Beberapa penjaga saja yang telah tampak di beberapa tempat mengatur jalan. Kendaraan-kendaraan mewah melintas beberapakali, membuat siapapun terkagum tanpa berpikir darimana asal uang untuk membeli itu. Bunga-bunga di pelataran gedung disirami agar mekar dan membuat nyaman penglihatan. Semua peraturan di kawasan ini berasal dari otak pejabat yang ada di gedung itu. Kelahiran terpelajar pembaik dan penghancur pula!
Bendera merah-putih masih berkibar di depan gedung megah itu seolah pengamat yang setia memperhatikan tiap kejadian yang ada disitu. Jika dapat berkata, apa yang akan dikatakannya? Mungkin ia hanya akan mengeluh tentang makna kehadirannya, karena hanya saat-saat tertentu saja ia memiliki makna. Rentang waktu hingga ia bermakna terlalu jauh. Lantas, mengapa dibiarkan? Lebih baik diturunkan jika benda mati itu memang dihormati!
Para pekerja kebersihan mengayun-ngayunkan sapu menyisikan sisa daun gugur kemarin siang. Obrolan-obrolan tentang masa depan terdengar dari mulut mereka. Atau bahkan tentang masa kini, ketika kelaparan, pendidikan anak, dan perabot rumah tangga mengingati di setiap ayunan sapu. Orang-orang melintas membuang sisa makanan dari kendaraan. Mereka berlari, begitu cekatan demi membuat nyaman penglihatan orang-orang yang sebenarnya telah buta. Dan kelelahan mendera walau hari masih pagi. Air minum diteguk beberapakali. Yang lainnya bahkan tertidur pulas di sudut gedung tempat pencarian ilmu pengetahuan. Matahari mulai menampakkan wujudnya dengan sinar kekuningan. Mereka terbangun, berlari-lari lagi menyisikan sisa daun gugur atau sisa makanan-minuman yang dibuang. Begitu seterusnya berpuluh, beratus, atau beribu tahun mendatang.
Pembangunan disekitaran kampus makin ramai. Lahan-lahan pertanian diratakan. Masyarakat sekitar mengantri di sana demi perbaikan nasib. Kian kemari, yang dipecat darisana pun semakin ramai pula. Mencari tanah lagi, menyesali, dan mengutuki slogan pembangunan yang tak pernah berhenti. Zaman reformasi pun adalah zaman persaingan modal. Tak memiliki modal berarti disisihkan atau dianggap penghambat pembangunan.
Para aktivis pun makin bersuara memecah keramaian untuk melakukan pembelaan. Namun, peluru yang ditembakkan itu tak berhenti di titik tengah. Menyamping, jauh menyamping, karena mereka pun korban pembangunan. Atau karena idealisme yang semu: kapalsuan suara yang didasari dari kepentingan pemilik modal! Sehingga pendidikan bukan lagi dimaksudkan untuk memanusiakan manusia. Semuanya demi uang saja. Ya, manusia memang membutuhkan itu dan menyampingkan peradaban – nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Kampus semakin hidup. Para aktivis keagamaan menyerukan kebenaran yang mendamaikan. Ayat-ayat dalam kitab diucapkan beberapakali untuk meyakinkan. Sementara, diskusi-diskusi ilmu pengetahuan menggerogoti otak mereka yang mengikutinya. Buku-buku dari berbagai bidang keilmuan dirujuk sebagai gagasan untuk meyakinkan pula. Akal dan akhlak. Namun, penghisapan darah manusia oleh manusia terus berlangsung. Kematian dan kehidupan. Apa sesungguhnya tujuan dari hidup?
Hari-hari yang gelisah. Realistis atau kritis. Seolah jalan hanya antara kanan dan kiri. Langit pun tak pernah memberi kepastian, sehingga manusia mesti berdiri di atas kakinya sendiri. Dan langit akhirnya menangis. Semua aktivitas yang mulai hidup tadi dibubarkan oleh tangisnya. Walau adapula yang masih di tempat melawan tangisan langit. Rambut dan pakaian yang basah seolah tak menggubris keluarnya kata-kata dari mulut. Wajah-wajah dengan kerutan di kening, wajah-wajah yang menderita. Mereka itukah yang sedang menuju kebenaran hakiki?