LPPMD Unpad

Kamis, 21 November 2019

#ArisanLiterasi - Senyum Karyamin Mengkritik Soeharto?

Sumber: https://images.app.goo.gl/9nZEAZjyvSajgJS47

 
Oleh: Dinda Adistia Meliani


Resensi Cerpen

Cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari menceritakan kehidupan seorang pengumpul batu sungai bernama Karyamin. Karyamin adalah seorang pengumpul batu sungai profesional. Ia mampu menyeimbangkan berat beban dan tubuhnya pada saat mengangkat batu dari tepi sungai ke pangkalan material.

Namun pada hari itu, tubuhnya tidak seperti biasanya, fokusnya hilang, ia jadi lebih sering tergelincir dan jatuh. Di tempat kerjanya, ia tidak sendirian. Ia ditemani beberapa rekannya yang juga bekerja sebagai pengumpul batu. Melihat Karyamin tergelincir, mereka lebih senang menertawakannya. Hiburan, katanya. Berkali-kali Karyamin membawa batu dari tepi sungai ke pangkalan material, ada saja yang membuatnya tergelincir dan jatuh. Terutama burung paruh udang. Ingin sekali ia membabat burung itu, namun niatnya diurungkan.

Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa melakukan hal itu di saat kondisi matanya berkunang-kunang, perutnya kelaparan dan kepalanya pusing, sampai-sampai ia tidak begitu menggubris celotehan rekannya mengenai perempuan yang sedang menyebrang, “Ikan putih-putih sebesar paha”. Seperti biasa, ia hanya tersenyum. Baginya senyum dan tawa adalah hal yang sama, sama-sama sebuah alat pertahanan terakhir.

Setelah cukup lama terdiam, Karyamin beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia tahu bahwa keranjangnya tak penuh terisi batu, hanya mencapai seperempat kubik, tapi ia tetap memutuskan untuk pulang. Ia tahu bahwa di rumahnya pun tidak akan ada makanan, bayarannya yang lalu belum juga dibayar oleh tengkulak, tapi ia tetap memutuskan untuk pulang untuk menemani isterinya yang sedang meriang.

Karyamin pulang dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan, bibirnya membiru dan kedua telapak tangannya pucat. Melihat kondisi itu, Bu Saidah, seorang penjual pecel lele, menawarkan makan pada Karyamin. Namun, Karyamin langsung menolaknya dan ia hanya meminta minum. Setelah meneguk segelas air, tenggorokan dan lambungnya terasa hangat.

Karyamin melanjutkan perjalanannya ke rumah. Di perjalanan, ia melihat beberapa buah yang berserakan di tanah. Salak, salah satunya.  Karyamin mengambilnya, lalu menggitanya. Namun baru saja gigitan pertama, dilemparkannya buah tersebut. Seperti air tuba rasanya. Mentah. Karyamin mempercepat langkahnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia melihat dua buah sepeda jengki terparkir di halaman rumahnya. Makin terpikirlah kondisi isterinya yang pasti tidak akan mampu membayar hutang-hutang itu.  Tetapi, ia juga merasa tidak akan bisa menolong isterinya menghadapi dua penagih hutang tersebut. Pelan-pelan Karyamin membalikan tubuhnya, siap untuk pergi menjauh dari rumahnya. Dengan tidak sengaja, seorang laki-laki yang menggunakan batik dan kopeah berdiri tak jauh darinya. Pak Pamong namanya. Karyamin dipanggil dan ditagihnya sumbangan uang dana Afrika. Secara tidak sadar, Karyamin menyunggingkan senyum. Pak Pamong marah melihat senyum itu, ia pikir itu adalah ejekan untuknya.  Sekali lagi, Pak Pamong menangih iuran tersebut pada Karyamin. Tawa Karyamin tiba-tiba meledak yang menyebabkan keseimbangan tubuhnya goyah dan jatuhlah Karyamin ke dalam lembah. Sayang, Pak Pamong gagal menyelamatkannya.

Emosi yang Dibangun

Pembangunan emosi dalam cerpen ini membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh utama, Karyamin. Dengan menggunakan objek burung paruh udang dan tindakan bu Sadri, pembaca jadi ikut merasakan bagaimana kesulitan hidup Karyamin. Burung paruh udang digambarkan memberikan kesialan pada tokoh utama. Karyamin sebagai tokoh utama pun mengaggap objek tersebut sebagai pengganggu. Namun dengan berjalannya waktu, sang tokoh utama dapat menerima dan mengambil hikmah dari burung paruh udang yang di awal memberikannya kesialan. Lalu, pembangunan emosi di sini ada pada saat Karyamin meneguk air minum yang ia minta kepada Bu Saidah. Kalimat “Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya” merupakan kalimat yang memberikan perasaan kasih sayang. Pembaca dibuat nyes, betapa kelaparannya Karyamin.

Satire terhadap Orde Baru

Dalam cerita ini dijumpai beberapa objek yang cukup menarik perhatian. Objek-objek yang dirasa menujuk pada keadaan masyarakat dimasa rezim Soeharto. Hal ini menarik karena terlihat adanya kritik tersirat dari penulis kepada salah satu kebijakan Soeharto pada masa orde baru.

Objek senyum memiliki banyak sekali penafsiran. Secara representament senyum menggambarkan suasana hati. Namun secara interpretament pemaknaan senyum menjadi beragam, ia dapat sebagai alat perlindungan atau pertahanan terakhir (terdapat dalam teks cerita), sebuah objek yang dijadikan frame dalam menggambarkan kesatuan cerita atau inti cerita, dan yang paling menarik ialah persepsi objek senyum menggambarkan “The Similling General”, Soeharto. Bahwa senyum yang paling monumental pada masa orde baru ialah senyum sang jendral, yaitu Jendral Seoharto. The Smilling General ini merupakan julukan yang diberikan oleh seorang penulis asal Jerman Barat, O. G. Roeder, yang menulis buku biografi Soeharto dengan judul “The Smilling General”. Dalam pengkaitannya ini tidak semata-mata hanya objek “senyum” itu sendiri. Penafsiran ini muncul dikarenakan berkaitan dengan perkiraan latar waktu kejadian dalam cerpen Senyum Karyamin.

Dana Afrika dalam Pusaran Kemiskinan dan Hutang

Cerita ini diperkirakan berlatar waktu tahun 1985. Sebagaimana di dalam cerita terdapat kalimat “… hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana….”. Dana Afrika adalah suatu program Soeharto yang ia cetuskan dalam pidatonya di FAO (Food and Agriculture Organization) pada 14 November 1985, di Roma, Italia. Sebenarnya program tersebut tidak bernama Dana Afrika, melainkan bantuan 100 ribu ton beras. Di balik frasa Dana Afrika ini, ada kritik yang tersirat yaitu kritik kepada pemerintah yang melakukan bantuan kepada negara lain tapi tidak mempedulikan masyarakat di negara sendiri, meminta bantuan dari orang kelaparan untuk membantu orang kelaparan. Namun ada yang mengganjal juga. Pidato Soeharto di FAO merupakan pidato yang merujuk pada petani, namun dalam cerita ini Karyamin bukanlah seorang petani, melaikan seorang pengumpul batu sungai.

Kemudian, objek hutang. Hutang di sini memberikan dua makna. Yang pertama, hutang yang dimaksud adalah hutang Karyamin. Hutang yang hadir akibat kemiskinan yang melanda hidup sang tokoh utama. Lalu yang kedua, pemaknaan hutang ini menunjuk pada hutang Indonesia yang begitu menumpuk pada zaman pemerintahan Soeharto. Dalam cerita pun diulas mengenai Karyamin yang pergi meninggalkan rumahnya pada saat ada dua penagih hutang datang ke rumahnya yang menimbulkan persepsi Indonesia memilih untuk “kabur” dari hutang-hutangnya.

Cerpen karya Ahmad Tohari ini berhasil mengungkap realitas rakyat kecil yang memiliki beban kerja yang berat dan penuh resiko. Selain beban kerja, kondisi kelaparan dan kemiskinan pun turut menghantui sang tokoh utama dari cerpen ini. Kerja untuk mendapatkan makanan dengan kondisi kelaparan, sambil menunggu uang bayaran dari tengkulak yang tidak kunjung cair. Satu-satunya hal yang bisa rakyat kecil lakukan adalah tersenyum. Betapa getirnya senyum Karyamin ketika ia harus membayar ‘dana Afrika’ untuk disumbangkan kepada orang-orang miskin dan kelaparan di Afrika. Sungguh, hebatnya senyuman The Smiling General []

Selasa, 13 Agustus 2019

Penangkapan Robertus Robet, Dwi Fungsi Militer, dan Ancaman Demokrasi
Sumber: Jawa Pos

Daftar Pustaka



Rabu, 29 Agustus 2018

Ospek: Kaderisasi atau Dehumanisasi?

Oleh: Muhammad Fakhri

Oleh: M. Ridwan
"The great humanistic and historical task of the opressed:
to liberate themselves and their oprressor as well.
The Opressors, who oppress, exploit, and rape by virtue of their power,
cannot find in this power the strength to liberate either the oppresed or
themselves". 
-Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1971)


Perkenalan adalah kata sederhana dalam rutinitas sehari-hari. Tetapi ia menjadi berbeda ketika dihubungkan dengan suatu institusi pendidikan tinggi: kampus. Kita mengenalnya dengan sebutan Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Dalam Ospek, perkenalan tidak hanya berjabat tangan, mengucap sapa, saling bercakap-cakap untuk mengenal lingkungan sekitar. Saat memasuki kampus, mahasiswa baru akan dikenalkan dengan lingkungan sekitarnya yang tidak sedikit, beragam, dan tidak jarang juga sulit dikenali. Sebab, Lingkungan kampus tidak hanya terdiri dari infrastruktur fisik, seperti gedung, perpustakaan, masjid, dll, tetapi juga dipenuhi oleh berbagai macam mahasiswa yang latar belakang berbeda-beda. Selain itu, kampus memiliki sistem pembelajaran, sistem birokrasi, dan budaya akademiknya sendiri. Jika diturunkan lagi, kampus memiliki unit-unit kecil di bawahnya yang memiliki otonomi tersendiri seperti fakultas dan jurusan. Pada tahap ini, fakultas dan jurusan juga merasa berkepentingan untuk mengenalkan nilai-nilainya sendiri. 

 Di sisi lain, mahasiswa juga mempunyai organisasi intra kampus yang menjadi wadah untuk melakukan berbagai kegiatan, sebut saja BEM, BPM, HIMA, UKM, dll. Maka, organisasi ini pun juga mempunyai irisan kepentingan untuk memperkenalkan nilai-nilainya sendiri. Ditambah lagi, organisasi memerlukan kader-kader baru untuk melanjutkan jalannya organisasi dari waktu ke waktu. Maka, pada titik ini, ada kepentingan ganda yang menyelinap dalam Ospek. Yang pertama ialah kepentingan untuk mengenalkan kehidupan dan lingkungan kampus beserta turunannya. Kedua ialah kepentingan organ intra mahasiswa untuk mendapatkan kader-kader baru demi keberlanjutan organisasi tersebut. Kedua hal ini sering kali tercampur baur, sehingga sulit dideteksi pangkal dan ujungnya.

 Jika kita berhenti sejenak pada kepentingan pertama, maka kita sebetulnya tidak akan menemukan problem berarti dalam Ospek. Sebab, kegiatan yang berhubungan dengan pengenalan pada dasarnya tidaklah rumit. Mahasiswa pertama dikenalkan dengan lingkungan sosialnya: teman seangkatan, kakak tingkat, dosen, staff, dan civitas akademika lainnya. Kedua, mahasiswa juga akan dikenalkan dengan berbagai aktivitas, kegiatan, dan organisasi yang ada di kampus. Ketiga, mahasiswa akan diperkenalkan dengan berbagai macam infrastruktur yang ada: gedung, perpustakaan, masjid, dll. Dalam hal ini, Ospek pada tingkat Universitas setidaknya dapat memenuhi kriteria tersebut. Sebab, dalam konteks Ospek di Kampus Indonesia, Ospek pada tingkat universitas sebenarnya tidak hanya soal pengenalan, tetapi juga eksistensi, kebanggaan, dan prestis. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika acaranya akan dibuat semegah, sebesar, dan semeriah mungkin demi menunjukkan tidak hanya kepada mahasiswa baru betapa besarnya kampusnya, tetapi juga ditujukan kepada publik yang menyaksikan yang biasanya dibagikan di media sosial kampus tersebut.

 Masalah akan mulai muncul ketika kepentingan kedua mulai menyelinap di dalam kegiatan Ospek, yaitu kaderisasi. Kaderisasi menjadi justifikasi tindakan-tindakan yang dalam kerangka Freire disebut sebagai dehumanisasi. Tulisan ini akan mencoba memproblematisir kaderisasi yang memiliki arwah dehumanisasi. Tulisan ini mengggunakan perspektif pendidikan kritis untuk mengungkap fenomena penindasan dalam kaderisasi yang dipayungi oleh kegiatan Ospek. 

 Berbicara mengenai kaderisasi, setidaknya kita dapat menyederhanakannya sebagai proses untuk menciptakan kader. Kader berguna untuk melanjutkan jalannya organisasi. Untuk itu, tiap organisasi memiliki kepentingan untuk 'menciptakan' kader yang handal. Dalam proses 'menciptakan' kader inilah, para pemangku organisasi bersama dengan panitianya mengadakan pendidikan pengkaderan. Berbagai cara diusahakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Proses pengkaderan selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang diterima begitu saja: hal yang diulang dari tahun ke tahun. Hal ini diakibatkan karena pendidikan dalam pengkaderan pada dasarnya merupakan cermin kecil dari salah satu roh dalam praktik pendidikan Indonesia. Dan Ospek menjadi arena pertama bagi mahasiswa baru untuk mengulangi kembali pendidikan dehumanistik di kampus, sebelum kemungkinan besar akan mengalaminya kembali di dalam kelas.

 Di samping itu, tulisan ini pada dasarnya tidak sedang mengungkap dan menjelaskan kekerasan (baik fisik dan psikologis) di dalam ospek. Ikhwal ini sudah ditulis dengan sangat apik oleh Aldo Fernando di laman web LPPMD 2014 yang lalu. Walau begitu, tulisan tersebut masih relevan untuk menjelaskan bagaimana ospek menjadi suatu bentuk mitos (dalam analisis Hokheimer dan Adorno) sekaligus ia sebut sebagai bentuk 'ambivelansi' (Fernando, 2014). Tanpa mengabaikan argumen Aldo Fernando, saya bermaksud untuk menunjukkan kritik radikal dari Pendidikan kritis yang masih bersemayam di dalam kaderisasi berkedok Ospek. Bahwa selain kekerasan fisik dan verbal, mahasiswa baru juga tertindas (oppresive) dalam relasi penindas-tertindas yang mendehumanisasi kedua belah pihak. Kebaharuan tulisan ini terletak pada argumen bahwa ospek yang berkedok kaderisasi ini menjadi suatu bentuk penindasan (dehumanisasi) dalam kerangka pendidikan kritis Freirean.

 Apa maksudnya Ospek berkedok Kaderisasi? seperti yang sudah dipaparkan di atas, kepentingan kaderisasi berhimpitan dengan kepentingan pengenalan lingkungan kampus. Dua tujuan berbeda ini akhirnya dicampuradukkan di dalam satu kegiatan yang sama. Akibatnya, kerap kali kegiatan yang dibuat tidak lagi sesuai dengan esensi yang sebenarnya. Indikasi ini semakin menguat ketika berbagai Organ Mahasiswa (Ormawa) mulai menerapkan peraturan bahwa untuk memasuki atau menjadi anggota Ormawa tersebut, maka diperlukan semacam tanda kelulusan dari panitia Ospek yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan adanya link and match antara Ospek dan Organ Mahasiswa. Dari indikasi tersebut, tidaklah mengherankan jika berbagai Ormawa menghabiskan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk menyiapkan Ospek untuk kaderisasi tersebut.

 Apa itu dehumanisasi? "Dehumanization, which marks not only those whose humanity has been stolen but also (though in a different way) those who have stolen it, is a distortion of the vocation of becoming more fully human", tulis Freire. Maksud Friere, dehumanisasi, yang tidak hanya ditandai dengan dirampasnya kemanusiaan seseorang tetapi juga bagi mereka yang merampasnya, adalah suatu bentuk penyelewengan (distorsi) dari usaha-usaha untuk menjadi manusia seutuhnya. Lalu, apa makna dari manusia seutuhnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Heschel (1965) dalam Who is Man memaparkan dengan apa yang ia sebut "modus-modus esensial manusia" yang jika diabaikan, maka dehumanisasi akan terjadi. Modus-modus esensial tersebut adalah keberhagaan (preciousness), keunikan (uniqueness), kesempatan (opportunity), tidak pernah final (nonfinality), proses dan peristiwa (events), keheningan (solitude), ketimbalbalikan (reciprocity), dan kekudusan (sanctity). 

 Dalam kerangka pemikiran Freire mengenai pedagogi kaum tertindas, ia membaca bahwa terdapat manifestasi konkrit dari dehumanisasi: kaum penindas dan kaum tertindas. Salah satu elemen utama hubungan antara penindas dan tertindas adalah prescription atau diterjemahkan bebas menjadi 'resep'. Resep ini bertuliskan hal-hal yang mau tidak mau harus dilakukan oleh seseorang guna membentuk kesadaran yang tertindas sesuai dengan kesadaran yang tertindas. Maka, prilaku yang tertindas adalah prilaku yang sudah ditentukan sesuai arahan dari penindas. Kaum tertindas, yang sudah meninternalisasikan gambaran penindas dan mengikuti arahannya, takut akan kebebasan. Kebebasan membutuhkan penolakan atas gambaran gambaran tersebut dan menggantinya dengan otonomi serta tanggungjawab. Di sisi lain, para penindas juga takut kehilangan 'kebebasan' untuk menindas. Jadi, tidak usah kaget lingkaran setan ini sulit diputus, karena kedua belah pihak pada dasarnya SECARA TIDAK SADAR melanggengkan sistem yang ada.

 Pada tataran objektifnya, kondisi di atas terjadi juga pada kondisi kaderisasi di dalam kampus. Pengkader adalah kaum penindas dan (calon) kader adalah kaum tertindas. Pengkader memulai dengan kepentingan egoistiknya--suatu keegoisan yang dibungkus oleh jubah kebaikan yang salah: paternalisme--lalu membuat si kader menjadi objek dari humanitarianisme yang akhirnya melanggengkan penindasan.  Kita mungkin pernah dengar slogan-slogan, "ini demi kebaikan kalian (kader atau mahasiswa baru) semua" dan sebagainya. Ujaran paternalistik seperti ini adalah senjata awal dehumanisasi.

 Pada tahap yang paling ekstrem dimana kontrol penindas semakin besar, maka semakin besar usaha mereka untuk membuat yang tertindas menjadi ('benda') mati. Jika manusia sudah dianggap benda, maka ia akan menjadi objek yang layak menjadi apapun sesuai subjek yang 'memilikinya'. Kekerasan-kekerasan fisik dan mental yang terjadi dapat dijelaskan dengan cara ini. Freire mengutip Erich Fromm dala  The Heart of Man yang mengatakan bahwa kenikmataan dari dominasi atas orang lain (makhluk hidup lain) adalah roh utama dari dorongan sadistik. Dengan kata lain, tujuan dari sadisme adalah usaha mengubah manusia menjad benda, sesuatu yang hidup menjadi sesuatu yang mati. Dengan kontrol absolut tersebut, maka seseorang akan kehilangan satu kualitas pokok kehidupan: kebebasan (Fromm, 1966).

 Untuk semakin memperjelas, Freire mengambarkan karakter lainnya dari kaum tertindas, yaitu self-depreciation atau depresiasi diri. Karakter ini dikendarai dari internalisasi dari opini, ide, dan ujaran dari penindas kepada mereka. Dalam perjalanan kaderisasi Ospek, kamu tidak jarang dilabel sebagai yang tidak tahu, tidak dapat belajar sesuatu, selalu salah, dan lain-lain. Di lain sisi, para pengkader adalah orang tahu, paham, dan mengerti. Maka, dengarkanlah, ikuti, dan jangan membantah.
 Dalam relasi-relasi di atas, Freire mencoba menggambarkan relasi antara guru-siswa yang ia sebut pendidikan gaya bank (banking concept of education). Pendidikan gaya bank ini ini merefekleksikan masyarakat yang ditindas. Freire (1971) mendaftar setidaknya sepuluh praktik pendidikan gaya bank ini:
1. Guru mengajar dan siswa diajar
2. Guru mengetahui segalanya dan siswa tidak tahu apa-apa
3. Guru berpikir dan siswa yang dipikir
4. Guru berbicara dan siswa mendengar
5. Guru menghukum dan siswa dihukum
6. Guru memilih dan melakukan pilihannya, dan siswa menuruti
7. Guru bertindak dan siswa seolah bertindak melalui tindakan guru
8. Guru memilih bahan ajar, dan siswa berdapatsi dan mengikutinya
9. Guru sulit membedakan antar otoritas pengetahuannya dan ortoritas profesinya yang akhirnya membatasi kebebasan siswa
10. Guru adalah sujek dari proses belajar, sementara siswa hanya objek semata.

 Dalam konteks kaderisasi yang berlandaskan pedagogi, praktik-praktik seperti ini juga terjadi antara pengkader dan (calon) kader. Hal ini terjadi karena sejak awal praktik pendidikan di Indonesia masih menempatkan siswa sebagai objek pendidikan. Realitas tersebut terjadi dan diterima bahkan berusaha dilanggengkan begitu saja. Karenanya, ketika mahasiswa melakukan proses pedagogi dalam kaderisasi, tidaklah mengherankan paradigma pendidikan seperti ini masih diterapkan. 

 Para panitia kaderisasi Ospek ketika mendapat kritik atas berbagai hal yang dianggap kurang pas, maka kita akan segera mendapat jawaban: "bagaimana jika tahun depan kamu ubah (ospek) sesuai pandanganmu!". Ujaran ini pada dasarnya selain suatu bentuk sikap anti-kritik, juga dalam kacamata Freire, tindakan seperti ini juga punya andil dalam pelanggengan sistem, alih-alih mengubahnya. Para kader yang sudah masuk ke dalam lingkaran ini sulit sekali bisa mengubah sistem yang ada. Sebab, pada tahap awal perjuangannya, para (calon) penindas ini bukannya berjuang untuk membebaskan, malahan cenderung menjadi penindas atau sub opopressor. Hal ini terjadi karena mekanisme psikologis 'fear of freedom' segera aktif setelah seseorang mulai berjuang untuk kebebasannya. Kebebasannya pada dasarnya tidak hanya diancam oleh penindas, tetapi juga sesama yang tertindas yang takut akan mendapatkan represi yang lebih besar lagi.  

 Lalu, bagaimana melampaui sistem yang seperti ini? Freire menyodorkan satu istilah kunci dari pendidikan kritisnya: conscientizacao. Conscientizacao merujuk pada belajar untuk membaca kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, dan untuk mengambil tindakan melawan realitas yang menindas (Freire, 1971). Bangunnya kesadaran kritis mengantarkan pada ekspresi ketidakpuasaan atas kondisi sosial dengan tepat karena ketidakpuasaan ini adalah komponen nyata dari situasi yang menindas. Kutipan di awal tulisan ini menjadi jawaban juga dari pertanyaan di awal paragraf ini: tugas humanistik dan historis terbesar dari kaum tertindas adalah untuk membebaskan dirinya dan penindasnya juga. Penindas, yang menindas, mengeksploitasi, dan memaksa dengan kekuasannya, tidak dapat menemukan kekuatan untuk membebaskan baik yang tertindas, maupun dirinya. Jadi, tidak usah berharap banyak pada para pengkader yang menganggapmu sebagai objek, bahkan sebagai benda saja. Karena kamu adalah subjek bagi dirimu sendiri, kamu layak untuk mendapatkan kebebasan. Kebebasan untuk berpendapat, besuara, menyatakan pilihan, dan kebebasan untuk tidak mengikuti Ospek!

 Tulisan ini sejak awal ingin menunjukkan bahwa Ospek sudah kehilangan esensi semenjak ia digunakan menjadi kendaraan kaderisasi. Ia tidak hanya menjadi perkenalan lignkungan kampus, tetapi ajang kaderisasi sampai mampus. Kaderisasi jadinya kehilangan roh pedagoginya, malah mengarah kepada demagogi. Waktu Ospek yang tidak terlalu lama tersebut akhirnya harus dibajak untuk mendapatkan kader-kader baru. Pada hakikatnya, kaderisasi adalah kerja-kerja organisasi tanpa henti dengan konsistensi, bukan sebuah event beberapa hari. Dapat dipahami ini bisa terjadi jika paradigma pendidikan dalam kaderisasi masih menganggap manusia tidak punya kehendak diri. Untuk para pelajar (bukan mahasiswa!), lawan penindasan sejak dalam Universitas!


Salam Pembebasan!

Referensi:
Freire, Paulo. (1971). Pedagogy of th Opressed. New York: Continuum.
Fernando, Aldo. Ospek: Sebuah Pencerahan atau Sebuah Ambivalensi. http://lppmdunpad.com/2014/06/ospek-sebuah-pencerahan-atau-sebuah.html?m=1
Heschel, Abraham Joshua. (1965). Who is Man?. Stanford: Stanford University Press.