PKS VS PDIP: PERTARUNGAN DENGAN KETIMPANGAN KEKUATAN - LPPMD Unpad

Minggu, 27 April 2014

PKS VS PDIP: PERTARUNGAN DENGAN KETIMPANGAN KEKUATAN



PKS VS PDIP: PERTARUNGAN DENGAN KETIMPANGAN KEKUATAN

Oleh: Ikram Azhar Hagi




Menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014, tensi persaingan politik semakin meningkat. Persaingan yang dilakukan oleh para partai yang ikut serta dalam pemilu dilakukan dengan berbagai cara dan di berbagai ranah, dari perdebatan langsung tatap muka dengan juri panel, sampai adu argumen di media sosial. Pertarungan tersebut bertujuan untuk memperoleh kekuasaan dengan tingkatan tertentu baik itu di legislatif, yang ditentukan oleh seberapa banyak kursi yang di dapat, dan di eksekutif yang paling strategis, menjadikan kadernya sebagai salah satu presiden dan wakil presiden di mana membuka peluang sangat luas untuk mencapai kepentingan-kepentingan partai.
Kondisi persaingan partai politik di Indonesia saat ini diwarnai oleh persaingan dengan peta kekuatan dan elektabilitas partai yang berubah dari kondisi saat pemilu 2009. Partai yang mengalami penurunan tajam adalah partai demokrat dan PKS.  Hal itu disebabkan karena kasus korupsi yang dilakukan oleh kader-kader partai demokrat dan PKS yang sangat di sorot di berbagai media. Kasus-kasus tersebut adalah kasus Hambalang, kasus Century, dan kasus suap impor daging sapi.[1] Menurut LSI, Elektabilitas Partai Demokrat hanya mencapai angka 4,7 persen dan PKS di bawah 3,5 persen. Berdasarkan survey LKP yang dilakukan dari 26 Februari 2014 sampai 6 Maret 2014, pemuncak angka elektabilitas partai politik peserta pemilu adalah PDIP dengan 21,8 persen, diikuti oleh Partai Golkar (18,1 %), dan Hanura di posisi ketiga (11,3 %)[2]. PDIP berhasil mendapat elektabilitas yang tinggi disebabkan kader-kader PDIP yang eksepsional dan berkualitas yang menjabat sebagai kepala daerah yang sering disorot oleh media, seperti walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan tentu saja, Gubernur DKI Jakarta yang sekarang menjadi capres, Joko Widodo.
Kondisi tersebut, di mana PDIP memimpin dalam hal elektabilitas hampir di semua hasil survey, membuat pesaing-pesaingnya menggunakan segala upaya untuk menurunkan elektabilitasnya. Salah satu bentuk penyerangan yang diberikan kepada PDIP adalah menyebut Jokowi sebagai capres boneka. Pernyataan tersebut dituduhkan karena Jokowi dianggap sebagai kepanjangan  kepentingan dari Megawati. Megawati menggunakan popularitas Jokowi untuk mendulang suara PDIP dan ‘mengontrol’ Jokowi di balik layar apabila berhasil menjadi presiden. Pernyataan itu diperkuat dengan Jokowi yang melanggar janjinya sendiri untuk memerintah Jakarta selama lima tahun. Dari pihak-pihak dan partai-partai politik yang melakukan penyerangan, saya tertarik dengan penyerangan yang dilakukan oleh PKS.
PKS merupakan partai berbasis Islam yang berawal dari persatuan gerakan-gerakan dakwah kampus di Indonesia.  Dari  persatuan gerakan-gerakan kampus, disepakati untuk membentuk orgnaisasi tersebut menjadi suatu partai politik, yaitu Partai Keadilan yang diketuai oleh Nurmahmudi Isma'il sesuai dengan hasil pemilihan. Partai Keadilan terkenal dengan sistem kaderisasinya yang kuat. Sistem kaderisasi yang dipakai mirip dengan sistem kaderisasi yang dipakai Ikhwanul Muslimin di Mesir. Sistem kaderisasi ini berhasil membentuk kader-kader yang militan dan loyal. Sistem kaderisasi ini juga efektif karena dilakukan dengan jangkauan yang uas, dari organisasi ROHIS di sekolah-sekolah sampai lembaga-lembaga dakwah kampus. Permasalahan mulai muncul ketika Partai Keadilan berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Sistem kaderisasi partai menjadi lebih inklusif, tidak terlalu tertutup dan  menerima kader non-muslim. Penentuan calon kepala daerah yang diusung dan rekrutmen caleg PKS juga tidak mempertimbangkan aspek kualitas kader. Akibatnya, kader-kader berkualitas tinggi di PKS tersingkir dan tidak memiliki posisi strategis di PKS. Selain faktor internal akibat berubahnya sistem kaderisasi dan tidak adanya kesamaan visi, sikap PKS yang mengambil posisi aktif di pemerintahan turut menyumbang citra buruk PKS di mata publik. Puncaknya adalah dengan tertangkapnya ketua PKS, Luthfi Hasan Ishaq karena kasus suap impor daging sapi. Kader-kader militan PKS kemudian gamang dengan PKS. PKS pun kehilangan kader dakwahnya, citra bersih, peduli, tidak lagi tampak di publik sebagaimana Pemilu 2004. Kekecewaan kader-kader militan PKS berdampak pada kurang militannya kader dalam menjalankan mesin politik PKS. Bahkan, tak jarang kader-kader PKS justru pindah haluan ke parpol lain karena alasan kekecewaan terhadap PKS.[3]
PKS saat ini seperti kebakaran jenggot. Elektabilitas PKS yang tidak sampai 3,5% membuat PKS tidak dapat menembuh Presidential Treshold dan akibatnya tidak bisa untuk mendaftarkan calon presidennya pada pemilu nanti. PKS berusaha melakukan segala cara untuk menaikkan kembali popularitasnya. PKS pun ikut serta menyerang PDIP dengan menggunakan serangan pernyataan bahwa Jokowi adalah presiden boneka. Serangan-serangan  tersebut banyak dilakukan di media sosial, terutama twitter. Serangan yang ditujukan kepada PDIP menggunakan pernyataan Jokowi adalah capres boneka dianggap ampuh untuk digunakan sebagai bahan serangan. Namun kenyataannya, kondisi PKS yang sekarang rentan untuk diserang balik. Penyerangan terhadap PDIP dengan menyerang Jokowi terlebih dahulu memicu reaksi tidak hanya dari pendukung PDIP, tapi juga dari pendukung jokowi. Serangan itu dihadapi dengan serangan balik dengan menggunakan pernyataan bahwa PKS sebagai partai Islam sebagai partai ‘munafik’ yang dibuktikan dengan ditangkapnya LHI dengan dakwaan menjadi tersangka kasus korupsi impor daging sapi, yang juga berhubungan dengan Menteri Pertanian, Suswono, yang juga berasal dari PKS. Pernyataan tersebut dibalas oleh para pendukung PKS dengan jawaban PKS tetap menjadi partai bersih dan tidak terpengaruh oleh oknum-oknum tertentu saja. Reaksi pendukung yang lebih radikal menyatakan bahwa menyerang PKS sama saja menyerang Islam dan itu berarti bahwa sama dengan kafir.
Saya amat menyayangkan reaksi yang diberikan oleh para pendukung PKS tersebut yang terjadi di twitter. Apakah benar apabila ketua umumnya bermasalah, tidak mengindikasikan partainya juga bermasalah?  Menurut saya, hal itu menunjukkan pendukung-pendukung PKS ‘sesat pikir’. Sistem kaderisasi PKS saat ini menunjukkan sistem kaderisasi yang berhasil menghasikan kader-kader yang militan, tetapi tidak memiliki kualitas dan kemampuan berpikir kirits dan objektif.  Kader-kader yang dihasilkan malah mempunyai cara berpikir dogmatis, membenarkan semua hal yang dikatakan oleh partai dan dengan kondisi apapun, PKS tetap ‘bersih’. Citra partai kader merupakan wujud dari pencerminanan kader-kader partai. Partai dianggap berkualitas dan berintegritas apabila kader-kadernya mencerminkan sikap itu di dalam kehidupan bermasyarakat.  Lalu, apakah dengan kita menyerang PKS, kita juga menyerang Islam sebagai agama dan umatnya? Kita tidak bisa menggeneralisir secara serampangan seperti itu. PKS memang merupakan partai dengan basis agam Islam, namun bukan berati Islam adalah PKS. Islam sebagai agama sangat luas. Orang yang menyatakan dirinya Islam juga tidak harus selalu terjun ke dunia politik sebagai bentuk komitmen memeluk agama Islam. Dalam praktek berpolitikpun, orang yang beragama Islam tidak harus menjadi kader partai yang berbasis Islam. Berpolitik boleh dengan partai manapun asal dalam penerapan individualnya mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditentukan dalam Islam. Pernyataan-pernyataan tersebut yang digunakan sebagai bahan untuk menangkis serangan-serangan balik yang ditujukan kepada PKS justru menunjukkan sifat sektarianisme yang kuat pada kader-kader PKS. Sifat sektarianisme ini bertentangan dengan prinsip pluralisme yang terkandung dalam pancasila dan membahayakan apabila tumbuh subur di kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralitasnya tinggi. PKS utamanya terciderai oleh perilaku-perilaku yang ditimbukan oleh kader-kadernya sendiri. Serangan pihak luar hanya memperkuat penjatuhan citra PKS. Penggunaan selubung agama Islam untuk menutupi keburukan-keburukan partai tidak dapat diterima dan merupakan usaha yang tidak terpuji. PKS seperti mengulangi ‘dosa’ sejarah yang dilakukan oleh Eropa pada abad pertengahan.
                                                                    



[2] http://www.tempo.co/read/news/2014/02/02/078550360/LSIi-Golkar-dan-PDIP-Calon-Pemenang-Pemilu-2014 diakses pada pukul 11.23 tanggal 7 April 2014
[3] http://www.suarapembaruan.com/home/inilah-akar-kehancuran-pks/50263 diakses pada pukul 12.13 tanggal 7 April 2014

Tidak ada komentar: