Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD Unpad
Dia tertidur
lelap kemarin malam. Baru saat senja datang dia terbangun. Kali ini, ketika
matanya terbuka semua tampak berbeda. Lebih cerah dari sebelum dia tertidur
dengan memikirkan kejadian kemarin siang. Ada sebuah penyesalan mengingat kembali
kejadian itu. Ketika dirinya berada di sebuah ruang diskusi yang pengap, karena
dipenuhi asap rokok. Ada suara-suara yang terdengar dari beberapa mulut,
sementara sisanya hanya diam berpura-pura mengerti. Pokoknya, semua berbicara
tentang perbaikan kehidupan dengan mengutarakan analisis yang berasal dari
berbagai teori. Dia telah jenuh dengan semua.
Dahulu, dia
paling keras berbicara seperti mereka. Dia pun berpikir hal yang sama dengan
mereka. Namun, satu buah pandangan dari seseorang yang dikatakan banyak orang
sebagai “pemikir” telah mengubahnya. Dia tak lagi tertarik dengan diskusi
tersebut, bahkan cenderung ingin menjauhinya. Tapi jabatan yang telah
diembannya membuatnya sulit untuk menjauh. Dia adalah seorang yang patuh pada
ucapannya sendiri. Itu dibuktikannya dari sejak masa kecilnya dahulu. Dalam
setiap permainan yang membutuhkan keteguhan hati, dialah yang menjadi pemenang.
Dia paham betul bahwa seseorang mesti memegang teguh ucapannya, seperti yang
sering diutarakan oleh ibunya.
Satu orang saja
yang telah mengubahnya. Berasal dari negeri utara sana. Banyak buku-buku yang
telah dibacanya, tapi tak pernah hingga seperti ini, hingga mengubah pandangan
hidupnya yang dulu begitu vokal dalam berbicara soal kebenaran. Darinya, dia
belajar memahami bahwa tidak ada yang pernah benar dalam hidup. Itu menjadi
pandangan hidupnya sebelum tertidur lelap kemarin malam.
Tapi mimpinya,
menggugah kembali keingintahuannya tentang kebenaran. Samar-samar, dia
mendengar perkataan, ada orang yang akan muncul dan membawa kebenaran seperti
yang dipertanyakan olehnya belakangan ini. Saat terbangun, pandangannya lebih
cerah, tapi otaknya diselimuti oleh mimpi yang baru saja dialaminya. Benarkah
ia mesti mempercayai mimpi? Mimpi? Dia hanya percaya pada yang terasa, terlihat,
dan terdengar. Semua pikiran tersebut diabaikannya begitu saja. Namun, tetap
ada yang berbeda dalam pandangnya sekarang ini. Semuanya berseri-seri, benda
hidup dan benda mati.
Kejenuhan kini tak
dirasakannya lagi ketika berada di ruang diskusi. Judul yang menarik, yaitu
“Orang Pembawa Kebenaran”. Dia akhirnya mengetahui, bahwa semua orang mengalami
mimpi yang sama dengannya. Satu orang! Satu kebenaran akan datang! Berbagai
elemen saling menanggapi berkaitan dengan hal itu, terutama dari berbagai tokoh
agama, paling lantang berbicara bahwa Tuhan-nya telah mengirim seorang utusan
dan semua mesti menuruti kehendaknya. Perdebatan tak terelakkan, bahkan
perkelahian. Semua ingin berbicara soal kebenarannya masing-masing. Sebagian
kecil, yaitu yang menganut sebuah ideologi tertentu jelas berbeda. Mereka
mempercayai bahwa tokoh yang dikaguminya akan muncul kembali dengan membeberkan
kebenaran yang sebelum mati sempat diusahakan. Berbagai elemen dengan beribu,
berjuta, atau bermilyar pengikutnya menanti satu orang yang akan muncul.
Diwartakan,
kedatangannya akan disambut oleh gemerlap ratusan bintang yang jatuh di langit
malam. Semuanya menanti di luar rumah.
“Sudah tampakkah
ratusan bintang yang jatuh itu?”
“Belum.”
Bulan dan
matahari silih berganti mengisi keindahan langit. Semuanya masih menanti.
Barulah seminggu setelah mimpi itu, pada malam hari tepat pukul 00.00 ratusan
bintang jatuh bergemerlapan di langit. Harapan baru bagi semua makhluk. Tapi dimanakah
orang itu berada sekarang ini? Bagaimanakah wujudnya? Semua paham betul, bumi
terlalu luas untuk dikelilingi dan mencari satu orang.
Keingintahuannya
tentang kebenaran kembali memuncak. Warta-warta dilihat dan didengarnya dengan
sungguh-sungguh. Tapi ratusan tanggapan yang berbeda membuatnya kelimpungan
juga. Berbagai elemen telah mengklaim bahwa orang itu telah muncul di
tempatnya, dan dalam keadaan yang aman. Wujudnya serupa yang lain, hanya saja
ketika muncul orang itu membawa sebuah benda yang dikatakannya bisa membawa
kebaikan bagi seluruh makhluk hidup.
Dari ratusan
tanggapan, dia akhirnya memilih empat saja. Pemilihan itu didasari dari
banyaknya pengikut. Pertama, dari negeri utara sana yang berjenis kelamin pria
dengan kulit kemerah-merahan dan hidung mancung. Orang itu membawa sebuah mesin
besar yang mengeluarkan kertas berwarna-warni dengan angka-angka yang besar
jumlahnya, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Orang itu menamainya Uang.
Semua orang bisa menggunakan Uang untuk mengubah kehidupan menuju kebaikan.
Akhirnya, tersebarlah Uang di negeri utara sana. Semakin tinggi nominal Uang,
maka semakin tinggilah nilainya untuk ditukarkan dengan berbagai barang mentah
ataupun jadi. Kedua, dari negeri selatan sana muncul seorang laki-laki juga
dengan menggunakan sorban di kepalanya dan pakaian yang menjulur menutupi
seluruh tubuhnya. Orang itu membawa benda serupa buku yang berisi tulisan
sambung. Tidak ada yang mengerti tulisan itu. Namun, orang itu mengajari
siapapun yang ingin mempelajarinya di sebuah gedung megah yang ditandai dengan kubah
dan tanda tambah (plus). Benda itu
dinamai Kitab.
Semakin banyak
orang yang menggunakan kedua benda tersebut. Sumbernya berasal dari negeri
selatan dan utara. Sementara, negeri barat dan timur hanya mengikuti kedua
sumber itu saja. Semua orang percaya pada kedua benda yang akan menjadi akhir
dari pencarian kebenaran. Tapi kebenaran yang diharapkan, ternyata bukan
tunggal, sehingga sering terjadi perselisihan di antara keduanya. Orang-orang
yang menggunakan Uang beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal mengisi perut.
Uang bisa digunakan untuk ditukar dengan berbagai barang pengisi perut.
Sementara, orang-orang yang menggunakan Kitab beranggapan bahwa kehidupan ini
hanyalah soal batin, karena hidup ini tidak sementara, semua orang akan mati
dan menjalani kehidupan yang sebenarnya. Maka, Kitab yang memperkaya batinlah
yang diperlukan untuk bertindak benar selama hidup.
Kehidupan tak
pernah berubah. Kemiskinan, perkelahian, bahkan pembunuhan masih sering
terjadi. Kedua orang yang membawa kedua benda itu pun telah hilang entah ke
mana, sesaat saja mereka mengajari penggunaannya. Banyak orang yang mulai
tampil ke muka seraya berucap sebagai ‘utusan’. Tapi, tentunya perpindahan
tampuk kepemimpinan, berarti juga perubahan pandangan. Uang dan Kitab yang
mestinya digunakan untuk mencipta keadilan, malah digunakan untuk mencipta
kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Semua orang berlomba untuk
memuaskan nafsunya.
Dia lagi-lagi
tak yakin perihal kebenaran. Mestinya kebenaran itu hanyalah tunggal dan
membawa keadilan bagi semuanya. Apakah perbedaan dan ketidakadilan itu sendiri
memang merupakan takdir hidup? Jika iya, mengapa manusia mesti bersusah-payah
untuk mengubahnya? Berbagai ideologi dan agama yang muncul hanyalah kesia-siaan
atau pelipur-lara? Jika bukan takdir pun, bagaimanakah yang benar? Dia
memikirkan itu sepanjang malam dan mimpi tentang hidup kembali muncul. Kali ini
hanyalah dia yang bermimpi, karena dialah yang gelisah dan tidak mempercayai
semua.
Di dalam
mimpinya seorang berseru singkat,” Cintailah takdir! Cintailah takdir!
Cintailah takdir!”
Tidak ada komentar: