KEBENARAN? - LPPMD Unpad

Kamis, 24 September 2015

KEBENARAN?



 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD Unpad

Dia tertidur lelap kemarin malam. Baru saat senja datang dia terbangun. Kali ini, ketika matanya terbuka semua tampak berbeda. Lebih cerah dari sebelum dia tertidur dengan memikirkan kejadian kemarin siang. Ada sebuah penyesalan mengingat kembali kejadian itu. Ketika dirinya berada di sebuah ruang diskusi yang pengap, karena dipenuhi asap rokok. Ada suara-suara yang terdengar dari beberapa mulut, sementara sisanya hanya diam berpura-pura mengerti. Pokoknya, semua berbicara tentang perbaikan kehidupan dengan mengutarakan analisis yang berasal dari berbagai teori. Dia telah jenuh dengan semua.
Dahulu, dia paling keras berbicara seperti mereka. Dia pun berpikir hal yang sama dengan mereka. Namun, satu buah pandangan dari seseorang yang dikatakan banyak orang sebagai “pemikir” telah mengubahnya. Dia tak lagi tertarik dengan diskusi tersebut, bahkan cenderung ingin menjauhinya. Tapi jabatan yang telah diembannya membuatnya sulit untuk menjauh. Dia adalah seorang yang patuh pada ucapannya sendiri. Itu dibuktikannya dari sejak masa kecilnya dahulu. Dalam setiap permainan yang membutuhkan keteguhan hati, dialah yang menjadi pemenang. Dia paham betul bahwa seseorang mesti memegang teguh ucapannya, seperti yang sering diutarakan oleh ibunya.
Satu orang saja yang telah mengubahnya. Berasal dari negeri utara sana. Banyak buku-buku yang telah dibacanya, tapi tak pernah hingga seperti ini, hingga mengubah pandangan hidupnya yang dulu begitu vokal dalam berbicara soal kebenaran. Darinya, dia belajar memahami bahwa tidak ada yang pernah benar dalam hidup. Itu menjadi pandangan hidupnya sebelum tertidur lelap kemarin malam.
Tapi mimpinya, menggugah kembali keingintahuannya tentang kebenaran. Samar-samar, dia mendengar perkataan, ada orang yang akan muncul dan membawa kebenaran seperti yang dipertanyakan olehnya belakangan ini. Saat terbangun, pandangannya lebih cerah, tapi otaknya diselimuti oleh mimpi yang baru saja dialaminya. Benarkah ia mesti mempercayai mimpi? Mimpi? Dia hanya percaya pada yang terasa, terlihat, dan terdengar. Semua pikiran tersebut diabaikannya begitu saja. Namun, tetap ada yang berbeda dalam pandangnya sekarang ini. Semuanya berseri-seri, benda hidup dan benda mati.
Kejenuhan kini tak dirasakannya lagi ketika berada di ruang diskusi. Judul yang menarik, yaitu “Orang Pembawa Kebenaran”. Dia akhirnya mengetahui, bahwa semua orang mengalami mimpi yang sama dengannya. Satu orang! Satu kebenaran akan datang! Berbagai elemen saling menanggapi berkaitan dengan hal itu, terutama dari berbagai tokoh agama, paling lantang berbicara bahwa Tuhan-nya telah mengirim seorang utusan dan semua mesti menuruti kehendaknya. Perdebatan tak terelakkan, bahkan perkelahian. Semua ingin berbicara soal kebenarannya masing-masing. Sebagian kecil, yaitu yang menganut sebuah ideologi tertentu jelas berbeda. Mereka mempercayai bahwa tokoh yang dikaguminya akan muncul kembali dengan membeberkan kebenaran yang sebelum mati sempat diusahakan. Berbagai elemen dengan beribu, berjuta, atau bermilyar pengikutnya menanti satu orang yang akan muncul.
Diwartakan, kedatangannya akan disambut oleh gemerlap ratusan bintang yang jatuh di langit malam. Semuanya menanti di luar rumah.

“Sudah tampakkah ratusan bintang yang jatuh itu?”
“Belum.

Bulan dan matahari silih berganti mengisi keindahan langit. Semuanya masih menanti. Barulah seminggu setelah mimpi itu, pada malam hari tepat pukul 00.00 ratusan bintang jatuh bergemerlapan di langit. Harapan baru bagi semua makhluk. Tapi dimanakah orang itu berada sekarang ini? Bagaimanakah wujudnya? Semua paham betul, bumi terlalu luas untuk dikelilingi dan mencari satu orang.
Keingintahuannya tentang kebenaran kembali memuncak. Warta-warta dilihat dan didengarnya dengan sungguh-sungguh. Tapi ratusan tanggapan yang berbeda membuatnya kelimpungan juga. Berbagai elemen telah mengklaim bahwa orang itu telah muncul di tempatnya, dan dalam keadaan yang aman. Wujudnya serupa yang lain, hanya saja ketika muncul orang itu membawa sebuah benda yang dikatakannya bisa membawa kebaikan bagi seluruh makhluk hidup.
Dari ratusan tanggapan, dia akhirnya memilih empat saja. Pemilihan itu didasari dari banyaknya pengikut. Pertama, dari negeri utara sana yang berjenis kelamin pria dengan kulit kemerah-merahan dan hidung mancung. Orang itu membawa sebuah mesin besar yang mengeluarkan kertas berwarna-warni dengan angka-angka yang besar jumlahnya, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Orang itu menamainya Uang. Semua orang bisa menggunakan Uang untuk mengubah kehidupan menuju kebaikan. Akhirnya, tersebarlah Uang di negeri utara sana. Semakin tinggi nominal Uang, maka semakin tinggilah nilainya untuk ditukarkan dengan berbagai barang mentah ataupun jadi. Kedua, dari negeri selatan sana muncul seorang laki-laki juga dengan menggunakan sorban di kepalanya dan pakaian yang menjulur menutupi seluruh tubuhnya. Orang itu membawa benda serupa buku yang berisi tulisan sambung. Tidak ada yang mengerti tulisan itu. Namun, orang itu mengajari siapapun yang ingin mempelajarinya di sebuah gedung megah yang ditandai dengan kubah dan  tanda tambah (plus). Benda itu dinamai Kitab.
Semakin banyak orang yang menggunakan kedua benda tersebut. Sumbernya berasal dari negeri selatan dan utara. Sementara, negeri barat dan timur hanya mengikuti kedua sumber itu saja. Semua orang percaya pada kedua benda yang akan menjadi akhir dari pencarian kebenaran. Tapi kebenaran yang diharapkan, ternyata bukan tunggal, sehingga sering terjadi perselisihan di antara keduanya. Orang-orang yang menggunakan Uang beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal mengisi perut. Uang bisa digunakan untuk ditukar dengan berbagai barang pengisi perut. Sementara, orang-orang yang menggunakan Kitab beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal batin, karena hidup ini tidak sementara, semua orang akan mati dan menjalani kehidupan yang sebenarnya. Maka, Kitab yang memperkaya batinlah yang diperlukan untuk bertindak benar selama hidup.
Kehidupan tak pernah berubah. Kemiskinan, perkelahian, bahkan pembunuhan masih sering terjadi. Kedua orang yang membawa kedua benda itu pun telah hilang entah ke mana, sesaat saja mereka mengajari penggunaannya. Banyak orang yang mulai tampil ke muka seraya berucap sebagai ‘utusan’. Tapi, tentunya perpindahan tampuk kepemimpinan, berarti juga perubahan pandangan. Uang dan Kitab yang mestinya digunakan untuk mencipta keadilan, malah digunakan untuk mencipta kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Semua orang berlomba untuk memuaskan nafsunya.
Dia lagi-lagi tak yakin perihal kebenaran. Mestinya kebenaran itu hanyalah tunggal dan membawa keadilan bagi semuanya. Apakah perbedaan dan ketidakadilan itu sendiri memang merupakan takdir hidup? Jika iya, mengapa manusia mesti bersusah-payah untuk mengubahnya? Berbagai ideologi dan agama yang muncul hanyalah kesia-siaan atau pelipur-lara? Jika bukan takdir pun, bagaimanakah yang benar? Dia memikirkan itu sepanjang malam dan mimpi tentang hidup kembali muncul. Kali ini hanyalah dia yang bermimpi, karena dialah yang gelisah dan tidak mempercayai semua.
Di dalam mimpinya seorang berseru singkat,” Cintailah takdir! Cintailah takdir! Cintailah takdir!”

Tidak ada komentar: