Tentang Perempuan - LPPMD Unpad

Kamis, 24 September 2015

Tentang Perempuan



 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad 2012, kader LPPMD Unpad

Jika sudah begini, apalagi yang mesti dilakukan? Menghindar terlalu sayang, diterima pun memalukan. Laki-laki memang bajingan. Mestinya aku berkaca pada sahabatku Mila, yang sebulan lalu melahirkan anak pertamanya tanpa kehadiran orang yang mengeluarkan sperma di rahimnya. Ia begitu menderita, bahkan hampir saja mengguguri kandungannya. Jika bukan karena ayahnya yang tabah, mungkin ia telah melakukan itu. Ayahnya begitu tabah, padahal anak yang dijaga susah-payah olehnya telah dibunuh perlahan. Ayahnya telah ditipu oleh gemerincing harta dan wajah yang benar-benar tampak bertanggung-jawab. Laki-laki memang berganti wajah setiap hari, bahkan mungkin juga setiap detik.
Tapi ayahku tidaklah begitu. Ia begitu marah mendengar adanya manusia yang mulai bersarang di rahimku. Ia pun tak mengenali siapa laki-laki yang telah melakukannya. Aku memang tak pernah mengajaknya untuk mampir ke rumah. Seringkali kami berduaan saja di tempat sepi sambil berpegangan tangan atau yang lainnya. Ia pun sering mengucapkan janji untuk bertanggung-jawab. Aku menuruti saja dan terlena karenanya. Perempuan, begitu malang nasibmu! Jika sempat memilih kembali akan dilahirkan menjadi apa, aku ingin menjadi laki-laki. Bisa kemana pun, melakukan apapun, dan sampai kapan pun. Tak ada omongan darimana-mana. Tapi perempuan? Hanya bisa tabah menerima cacian darimana-mana jika melakukan semua itu.
Ibuku telah seharian menangis di kamarnya. Walau sesekali keluar untuk sekadar mengucapkan bahwa ia akan selalu menyayangiku dan membantuku hingga masalahku selesai. Suaranya begitu lirih ketika berucap tentang itu, tapi dari suara itu pula aku mengetahui kalau ia begitu ikhlas. Mendengarnya aku menangis juga sambil menciumi tangannya yang telah keriput. Aku telah menghancurkan kedua orangtuaku di masa tua yang mestinya mereka nikmati. Salahku, salahku. Seorang anak memang tidak akan luput dari kesalahan pada orangtuanya, tapi adakah yang lebih besar daripada kesalahanku ini? Mengandung tanpa ada yang bertanggung-jawab?
Aku mempercayai Tuhan. Dia maha pemberi jalan keluar, juga pemberi ampunan pada umatnya yang menyalahi aturan. Berkali-kali aku berdoa dengan setulus-tulusnya, tapi bagaimana rasanya ketulusan itu? Air mata yang keluar, mungkin itu juga berarti ketulusan. Berkali-kali, tiada henti sepanjang malam. Banyak orang bilang, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk berdoa, karena di waktu itulah manusia bisa benar-benar fokus menghadap Tuhan-nya. Dia tak pernah tertidur. Selalu sedia dimintai pertolongan. Namun, jawaban tentang tindakan yang mesti kulakukan tak juga muncul. Tak ada tanda apapun. Bagaimana jugalah aku mesti meminta jawaban dari Tuhan yang tidak tampak dan hanya terasa? Lakukan! Lakukan! Apapun yang akan kulakukan mungkin juga telah direstui oleh-Nya tanpa mesti kuketahui.
Telah tiga bulan dan mulai tampak perubahan dari perawakanku. Berkali-kali ketika kulintasi jalan dekat jembatan gantung, orang yang berpapasan denganku berbisik-bisik. Mungkin mereka berbisik tentang perubahan itu. Semula perawakanku dianggap ideal, tapi kini mungkin dianggap menjijikan. Berkali-kali kudengar, hingga akhirnya memandangku pun mereka enggan. Mungkin kabar tentang penyebab perubahan itu telah tersiar kemana-mana, sehingga membuatku sungkan untuk sekadar menginjakkan kaki di halaman rumah. Adakah juga rasa malu yang melebihi ini? Sementara orang yang telah mengeluarkan sperma ke dalam rahimku takkan pernah merasakannya. Justru ia mendapati kehormatan dari orang-orang, karena telah berhasil kabur setelah mengeluarkan sperma di rahim perempuan. Betapa tak adil!
Telah tiga bulan dan aku kembali merindukan masa kanak-kanakku. Ketika aku melihat senyum di setiap wajah saat aku bertingkah. Cantik, pintar, dan lincah, begitulah penilaian terhadapku. Orangtuaku tersenyum bangga, karena semua orang berharap keturunannya sepertiku. Tapi rasa rindu itu perlahan berganti dengan suara jeritanku yang memohon untuk dibebaskan dari rasa sakit karena dekapan laki-laki bersama nafsunya. Cahaya yang sempat muncul, menjadi kegelapan kembali. Masa kanak-kanak begitu menyenangkan. Bagaimanakah caraku untuk mengulangi masa itu? Waktu terus berjalan, matahari terbit dan tenggelam. Ada kebahagiaan dan penderitaan. Tapi adakah penderitaan yang lebih berat daripada apa yang kurasakan saat ini? Kebahagiaan sirna oleh satu peristiwa dan digantikan oleh penderitaan yang mungkin akan selamanya.
Telah tiga bulan dan suatu hari aku bertemu dengan Santi untuk mendengar keluhannya. Saat berjumpa, wajahnya kulihat begitu mirip dengan wajahku sewaktu  berkaca tadi. Wajah yang bimbang untuk beranjak ke detik selanjutnya. Ketika kutanya tentang keluhannya, ia mulai berbicara perlahan sambil sesekali mengusapi air mata yang turun membasahi lesung pipinya yang manis. Masa kanak-kanak kita yang menyenangkan telah berganti menjadi penderitaan, begitulah kalimat pertama yang diucapkan olehnya.
Santi bercerita, bulan lalu sepulang sekolah ia dititah oleh ayahnya berpakaian selayak mungkin untuk bertemu dengan majikan di tempat kerjanya. Ayahnya berpendidikan rendah, sehingga kerjanya pun hanyalah sebagai kuli bangunan yang gajinya tidak seberapa, tapi kerjanya begitu melelahkan. Santi menuruti saja titah ayahnya dan didandani oleh ibunya selayak-layaknya. Meskipun ada pertanyaan juga di dalam hatinya, mengapa mesti berpakaian tidak seperti biasanya untuk menghadap majikan ayah? Padahal, sehari-hari selesai sekolah, ia sering manghantarkan keperluan ayahnya dan dititipkan pada majikannya itu. Saat menghantarkan, ia berpakaian apa adanya saja tanpa mematut diri terlebih dahulu.
Ia pun pergi menuju ke rumah majikan ayahnya menggunakan sebuah mobil sewaan. Santi duduk bersama ibunya di kursi depan bersama supir, sementara ayahnya duduk di belakang. Sepanjang jalan, tak henti-henti ibunya mengelus-ngelus bahunya sambil berkata jangan pernah melupakannya. Ia tentu heran melihat sikap ibunya yang tidak seperti biasanya. Seolah-olah ia akan berpisah dengan ibunya dalam waktu yang lama.
Halaman depan rumah majikan ayahnya tampak begitu megah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berjejer teratur di samping kanan dan kiri. Kolam besar berada di tengahnya yang didalamnya terdapat ikan berwarna-warni, sehingga menambah elok pemandangan di rumah tersebut. Belum lagi cat putih yang nyaris tanpa cacat dan ukiran yang meliuk-liuk membentuk estetika seni tak terbantahkan. Begitu megah dan berbeda dengan rumahnya yang tidak memiliki halaman dan cat yang telah mengelupas di banyak bagian. Ia begitu ingin memiliki rumah seperti ini, tapi kapan?
Di depan pintu telah menanti majikan ayahnya yang duduk di kursi malas sambil membaca koran. Ketika melihat ia datang, ia segera bangkit dan menyambutnya. Tidak seperti biasanya sambutan itu. Gerak-geriknya terasa seperti hewan buas yang kelaparan dan membutuhkan mangsa sesegera mungkin. Santi dibuat bergidik karenanya, tapi senyuman yang terkadang dilontarkan olehnya bisa menenangkannya sesaat.
Ayahnya lekas bercakap-cakap dengan majikannya itu sambil sesekali menoleh ke arah Santi. Ia semakin dibuat kebingungan oleh tingkah mereka. Sementara ibunya masih juga mengelus-ngelus bahunya. Hari mulai sore ketika itu, burung-burung mulai lalu-lalang untuk kembali ke sarangnya. Dan ketika itu pulalah kebingungan yang dirasai olehnya digantikan oleh ketakutan! Ayahnya berkata:
                                                      
“Begini Santi, ayah hendak menikahkan kamu dengan majikan ayah. Kira-kira sebulan ke depan pernikahan tersebut akan dilangsungkan. Kamu mesti menerima, tidak bisa menolak. Mengenai sekolahmu, silahkan dibicarakan nanti dengan majikan ayah. Apabila dikehendaki, kamu boleh melanjutkannya, tapi apabila tidak maka terpaksa kamu mesti berhenti.”

Menikah!? Semudah dan secepat itu? Tanpa ada pilihan untuk menerima atau menolak pula! Percakapan di antara aku dan Santi diselesaikan oleh perkataan ayahnya itu, sebab Santi tak ingin bercerita lebih jauh lagi. Minggu depan, tepat sebulan setelah kejadian dan pernikahan akan dilangsungkan. Santi akan dijadikan istri kedua. Baru sekali ia bertemu dengan istri sebelumnya dan tampaknya ia tak rela. Tatapan sinis dan suara yang ketus begitu melukai hatinya. Sesama perempuan ditakdirkan untuk saling menyakiti, disebabkan oleh gemerincing harta yang dimiliki oleh laki-laki. Apakah gunanya pendidikan jika hanya memberi ilmu pengetahuan dan tidak memberi keberanian untuk menolak? Apakah guna ibu dan ayah yang susah-payah membesarkan jika pada akhirnya membuat anaknya menjadi pelacur? Ditukar oleh gemerincing harta?
Telah empat bulan dan aku membaca buku-buku mengenai gerakan feminisme di berbagai tempat. Sebuah gerakan yang dimaksudkan untuk menyetarakan hak di antara laki-laki dan perempuan. Gerakan ditujukan ke dalam berbagai elemen, tapi yang paling menarik perhatianku adalah gerakan feminisme radikal, yang menganggap budaya patriarki sebagai sumber kesalahan. Kesenjangan dimulai oleh budaya yang telah diciptakan berjuta-juta tahun lalu, entah disengaja atau tidak. Adam dan Hawa mungkin orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang bagaimana proses memulainya, hingga dapat bertahan selama berjuta-juta tahun mendatang, sekaligus juga ditanyai tentang bagaimana cara untuk menghentikannya. Telah terlalu banyak korban. Lihat saja, jika ada permasalahan di antara laki-laki dan perempuan, siapa yang lebih sering bermandikan darah?
Bulan yang sama. Aku berpikir untuk menggugurkan kandunganku. Tapi ibu menolak dengan alasan telah terlanjur menjalani dan sesaat lagi akan berakhir. Menurutku tidak, karena kelahiran nantinya adalah permulaan dari penderitaan. Ibu mungkin takkan terlalu menderita. Aku, akulah yang akan menderita! Biarlah aku dan anakku bertemu di tempat lain. Aku dan Santi memilih untuk mati. Menyerah, keadaan telah memaksaku dan Santi untuk menyerah.

Tidak ada komentar: