LPPMD Unpad

Kamis, 24 September 2015

Kamis, September 24, 2015

Tentang Perempuan

by
Tentang Perempuan


 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad 2012, kader LPPMD Unpad

Jika sudah begini, apalagi yang mesti dilakukan? Menghindar terlalu sayang, diterima pun memalukan. Laki-laki memang bajingan. Mestinya aku berkaca pada sahabatku Mila, yang sebulan lalu melahirkan anak pertamanya tanpa kehadiran orang yang mengeluarkan sperma di rahimnya. Ia begitu menderita, bahkan hampir saja mengguguri kandungannya. Jika bukan karena ayahnya yang tabah, mungkin ia telah melakukan itu. Ayahnya begitu tabah, padahal anak yang dijaga susah-payah olehnya telah dibunuh perlahan. Ayahnya telah ditipu oleh gemerincing harta dan wajah yang benar-benar tampak bertanggung-jawab. Laki-laki memang berganti wajah setiap hari, bahkan mungkin juga setiap detik.
Tapi ayahku tidaklah begitu. Ia begitu marah mendengar adanya manusia yang mulai bersarang di rahimku. Ia pun tak mengenali siapa laki-laki yang telah melakukannya. Aku memang tak pernah mengajaknya untuk mampir ke rumah. Seringkali kami berduaan saja di tempat sepi sambil berpegangan tangan atau yang lainnya. Ia pun sering mengucapkan janji untuk bertanggung-jawab. Aku menuruti saja dan terlena karenanya. Perempuan, begitu malang nasibmu! Jika sempat memilih kembali akan dilahirkan menjadi apa, aku ingin menjadi laki-laki. Bisa kemana pun, melakukan apapun, dan sampai kapan pun. Tak ada omongan darimana-mana. Tapi perempuan? Hanya bisa tabah menerima cacian darimana-mana jika melakukan semua itu.
Ibuku telah seharian menangis di kamarnya. Walau sesekali keluar untuk sekadar mengucapkan bahwa ia akan selalu menyayangiku dan membantuku hingga masalahku selesai. Suaranya begitu lirih ketika berucap tentang itu, tapi dari suara itu pula aku mengetahui kalau ia begitu ikhlas. Mendengarnya aku menangis juga sambil menciumi tangannya yang telah keriput. Aku telah menghancurkan kedua orangtuaku di masa tua yang mestinya mereka nikmati. Salahku, salahku. Seorang anak memang tidak akan luput dari kesalahan pada orangtuanya, tapi adakah yang lebih besar daripada kesalahanku ini? Mengandung tanpa ada yang bertanggung-jawab?
Aku mempercayai Tuhan. Dia maha pemberi jalan keluar, juga pemberi ampunan pada umatnya yang menyalahi aturan. Berkali-kali aku berdoa dengan setulus-tulusnya, tapi bagaimana rasanya ketulusan itu? Air mata yang keluar, mungkin itu juga berarti ketulusan. Berkali-kali, tiada henti sepanjang malam. Banyak orang bilang, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk berdoa, karena di waktu itulah manusia bisa benar-benar fokus menghadap Tuhan-nya. Dia tak pernah tertidur. Selalu sedia dimintai pertolongan. Namun, jawaban tentang tindakan yang mesti kulakukan tak juga muncul. Tak ada tanda apapun. Bagaimana jugalah aku mesti meminta jawaban dari Tuhan yang tidak tampak dan hanya terasa? Lakukan! Lakukan! Apapun yang akan kulakukan mungkin juga telah direstui oleh-Nya tanpa mesti kuketahui.
Telah tiga bulan dan mulai tampak perubahan dari perawakanku. Berkali-kali ketika kulintasi jalan dekat jembatan gantung, orang yang berpapasan denganku berbisik-bisik. Mungkin mereka berbisik tentang perubahan itu. Semula perawakanku dianggap ideal, tapi kini mungkin dianggap menjijikan. Berkali-kali kudengar, hingga akhirnya memandangku pun mereka enggan. Mungkin kabar tentang penyebab perubahan itu telah tersiar kemana-mana, sehingga membuatku sungkan untuk sekadar menginjakkan kaki di halaman rumah. Adakah juga rasa malu yang melebihi ini? Sementara orang yang telah mengeluarkan sperma ke dalam rahimku takkan pernah merasakannya. Justru ia mendapati kehormatan dari orang-orang, karena telah berhasil kabur setelah mengeluarkan sperma di rahim perempuan. Betapa tak adil!
Telah tiga bulan dan aku kembali merindukan masa kanak-kanakku. Ketika aku melihat senyum di setiap wajah saat aku bertingkah. Cantik, pintar, dan lincah, begitulah penilaian terhadapku. Orangtuaku tersenyum bangga, karena semua orang berharap keturunannya sepertiku. Tapi rasa rindu itu perlahan berganti dengan suara jeritanku yang memohon untuk dibebaskan dari rasa sakit karena dekapan laki-laki bersama nafsunya. Cahaya yang sempat muncul, menjadi kegelapan kembali. Masa kanak-kanak begitu menyenangkan. Bagaimanakah caraku untuk mengulangi masa itu? Waktu terus berjalan, matahari terbit dan tenggelam. Ada kebahagiaan dan penderitaan. Tapi adakah penderitaan yang lebih berat daripada apa yang kurasakan saat ini? Kebahagiaan sirna oleh satu peristiwa dan digantikan oleh penderitaan yang mungkin akan selamanya.
Telah tiga bulan dan suatu hari aku bertemu dengan Santi untuk mendengar keluhannya. Saat berjumpa, wajahnya kulihat begitu mirip dengan wajahku sewaktu  berkaca tadi. Wajah yang bimbang untuk beranjak ke detik selanjutnya. Ketika kutanya tentang keluhannya, ia mulai berbicara perlahan sambil sesekali mengusapi air mata yang turun membasahi lesung pipinya yang manis. Masa kanak-kanak kita yang menyenangkan telah berganti menjadi penderitaan, begitulah kalimat pertama yang diucapkan olehnya.
Santi bercerita, bulan lalu sepulang sekolah ia dititah oleh ayahnya berpakaian selayak mungkin untuk bertemu dengan majikan di tempat kerjanya. Ayahnya berpendidikan rendah, sehingga kerjanya pun hanyalah sebagai kuli bangunan yang gajinya tidak seberapa, tapi kerjanya begitu melelahkan. Santi menuruti saja titah ayahnya dan didandani oleh ibunya selayak-layaknya. Meskipun ada pertanyaan juga di dalam hatinya, mengapa mesti berpakaian tidak seperti biasanya untuk menghadap majikan ayah? Padahal, sehari-hari selesai sekolah, ia sering manghantarkan keperluan ayahnya dan dititipkan pada majikannya itu. Saat menghantarkan, ia berpakaian apa adanya saja tanpa mematut diri terlebih dahulu.
Ia pun pergi menuju ke rumah majikan ayahnya menggunakan sebuah mobil sewaan. Santi duduk bersama ibunya di kursi depan bersama supir, sementara ayahnya duduk di belakang. Sepanjang jalan, tak henti-henti ibunya mengelus-ngelus bahunya sambil berkata jangan pernah melupakannya. Ia tentu heran melihat sikap ibunya yang tidak seperti biasanya. Seolah-olah ia akan berpisah dengan ibunya dalam waktu yang lama.
Halaman depan rumah majikan ayahnya tampak begitu megah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berjejer teratur di samping kanan dan kiri. Kolam besar berada di tengahnya yang didalamnya terdapat ikan berwarna-warni, sehingga menambah elok pemandangan di rumah tersebut. Belum lagi cat putih yang nyaris tanpa cacat dan ukiran yang meliuk-liuk membentuk estetika seni tak terbantahkan. Begitu megah dan berbeda dengan rumahnya yang tidak memiliki halaman dan cat yang telah mengelupas di banyak bagian. Ia begitu ingin memiliki rumah seperti ini, tapi kapan?
Di depan pintu telah menanti majikan ayahnya yang duduk di kursi malas sambil membaca koran. Ketika melihat ia datang, ia segera bangkit dan menyambutnya. Tidak seperti biasanya sambutan itu. Gerak-geriknya terasa seperti hewan buas yang kelaparan dan membutuhkan mangsa sesegera mungkin. Santi dibuat bergidik karenanya, tapi senyuman yang terkadang dilontarkan olehnya bisa menenangkannya sesaat.
Ayahnya lekas bercakap-cakap dengan majikannya itu sambil sesekali menoleh ke arah Santi. Ia semakin dibuat kebingungan oleh tingkah mereka. Sementara ibunya masih juga mengelus-ngelus bahunya. Hari mulai sore ketika itu, burung-burung mulai lalu-lalang untuk kembali ke sarangnya. Dan ketika itu pulalah kebingungan yang dirasai olehnya digantikan oleh ketakutan! Ayahnya berkata:
                                                      
“Begini Santi, ayah hendak menikahkan kamu dengan majikan ayah. Kira-kira sebulan ke depan pernikahan tersebut akan dilangsungkan. Kamu mesti menerima, tidak bisa menolak. Mengenai sekolahmu, silahkan dibicarakan nanti dengan majikan ayah. Apabila dikehendaki, kamu boleh melanjutkannya, tapi apabila tidak maka terpaksa kamu mesti berhenti.”

Menikah!? Semudah dan secepat itu? Tanpa ada pilihan untuk menerima atau menolak pula! Percakapan di antara aku dan Santi diselesaikan oleh perkataan ayahnya itu, sebab Santi tak ingin bercerita lebih jauh lagi. Minggu depan, tepat sebulan setelah kejadian dan pernikahan akan dilangsungkan. Santi akan dijadikan istri kedua. Baru sekali ia bertemu dengan istri sebelumnya dan tampaknya ia tak rela. Tatapan sinis dan suara yang ketus begitu melukai hatinya. Sesama perempuan ditakdirkan untuk saling menyakiti, disebabkan oleh gemerincing harta yang dimiliki oleh laki-laki. Apakah gunanya pendidikan jika hanya memberi ilmu pengetahuan dan tidak memberi keberanian untuk menolak? Apakah guna ibu dan ayah yang susah-payah membesarkan jika pada akhirnya membuat anaknya menjadi pelacur? Ditukar oleh gemerincing harta?
Telah empat bulan dan aku membaca buku-buku mengenai gerakan feminisme di berbagai tempat. Sebuah gerakan yang dimaksudkan untuk menyetarakan hak di antara laki-laki dan perempuan. Gerakan ditujukan ke dalam berbagai elemen, tapi yang paling menarik perhatianku adalah gerakan feminisme radikal, yang menganggap budaya patriarki sebagai sumber kesalahan. Kesenjangan dimulai oleh budaya yang telah diciptakan berjuta-juta tahun lalu, entah disengaja atau tidak. Adam dan Hawa mungkin orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang bagaimana proses memulainya, hingga dapat bertahan selama berjuta-juta tahun mendatang, sekaligus juga ditanyai tentang bagaimana cara untuk menghentikannya. Telah terlalu banyak korban. Lihat saja, jika ada permasalahan di antara laki-laki dan perempuan, siapa yang lebih sering bermandikan darah?
Bulan yang sama. Aku berpikir untuk menggugurkan kandunganku. Tapi ibu menolak dengan alasan telah terlanjur menjalani dan sesaat lagi akan berakhir. Menurutku tidak, karena kelahiran nantinya adalah permulaan dari penderitaan. Ibu mungkin takkan terlalu menderita. Aku, akulah yang akan menderita! Biarlah aku dan anakku bertemu di tempat lain. Aku dan Santi memilih untuk mati. Menyerah, keadaan telah memaksaku dan Santi untuk menyerah.
Kamis, September 24, 2015

KEBENARAN?

by
KEBENARAN?


 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD Unpad

Dia tertidur lelap kemarin malam. Baru saat senja datang dia terbangun. Kali ini, ketika matanya terbuka semua tampak berbeda. Lebih cerah dari sebelum dia tertidur dengan memikirkan kejadian kemarin siang. Ada sebuah penyesalan mengingat kembali kejadian itu. Ketika dirinya berada di sebuah ruang diskusi yang pengap, karena dipenuhi asap rokok. Ada suara-suara yang terdengar dari beberapa mulut, sementara sisanya hanya diam berpura-pura mengerti. Pokoknya, semua berbicara tentang perbaikan kehidupan dengan mengutarakan analisis yang berasal dari berbagai teori. Dia telah jenuh dengan semua.
Dahulu, dia paling keras berbicara seperti mereka. Dia pun berpikir hal yang sama dengan mereka. Namun, satu buah pandangan dari seseorang yang dikatakan banyak orang sebagai “pemikir” telah mengubahnya. Dia tak lagi tertarik dengan diskusi tersebut, bahkan cenderung ingin menjauhinya. Tapi jabatan yang telah diembannya membuatnya sulit untuk menjauh. Dia adalah seorang yang patuh pada ucapannya sendiri. Itu dibuktikannya dari sejak masa kecilnya dahulu. Dalam setiap permainan yang membutuhkan keteguhan hati, dialah yang menjadi pemenang. Dia paham betul bahwa seseorang mesti memegang teguh ucapannya, seperti yang sering diutarakan oleh ibunya.
Satu orang saja yang telah mengubahnya. Berasal dari negeri utara sana. Banyak buku-buku yang telah dibacanya, tapi tak pernah hingga seperti ini, hingga mengubah pandangan hidupnya yang dulu begitu vokal dalam berbicara soal kebenaran. Darinya, dia belajar memahami bahwa tidak ada yang pernah benar dalam hidup. Itu menjadi pandangan hidupnya sebelum tertidur lelap kemarin malam.
Tapi mimpinya, menggugah kembali keingintahuannya tentang kebenaran. Samar-samar, dia mendengar perkataan, ada orang yang akan muncul dan membawa kebenaran seperti yang dipertanyakan olehnya belakangan ini. Saat terbangun, pandangannya lebih cerah, tapi otaknya diselimuti oleh mimpi yang baru saja dialaminya. Benarkah ia mesti mempercayai mimpi? Mimpi? Dia hanya percaya pada yang terasa, terlihat, dan terdengar. Semua pikiran tersebut diabaikannya begitu saja. Namun, tetap ada yang berbeda dalam pandangnya sekarang ini. Semuanya berseri-seri, benda hidup dan benda mati.
Kejenuhan kini tak dirasakannya lagi ketika berada di ruang diskusi. Judul yang menarik, yaitu “Orang Pembawa Kebenaran”. Dia akhirnya mengetahui, bahwa semua orang mengalami mimpi yang sama dengannya. Satu orang! Satu kebenaran akan datang! Berbagai elemen saling menanggapi berkaitan dengan hal itu, terutama dari berbagai tokoh agama, paling lantang berbicara bahwa Tuhan-nya telah mengirim seorang utusan dan semua mesti menuruti kehendaknya. Perdebatan tak terelakkan, bahkan perkelahian. Semua ingin berbicara soal kebenarannya masing-masing. Sebagian kecil, yaitu yang menganut sebuah ideologi tertentu jelas berbeda. Mereka mempercayai bahwa tokoh yang dikaguminya akan muncul kembali dengan membeberkan kebenaran yang sebelum mati sempat diusahakan. Berbagai elemen dengan beribu, berjuta, atau bermilyar pengikutnya menanti satu orang yang akan muncul.
Diwartakan, kedatangannya akan disambut oleh gemerlap ratusan bintang yang jatuh di langit malam. Semuanya menanti di luar rumah.

“Sudah tampakkah ratusan bintang yang jatuh itu?”
“Belum.

Bulan dan matahari silih berganti mengisi keindahan langit. Semuanya masih menanti. Barulah seminggu setelah mimpi itu, pada malam hari tepat pukul 00.00 ratusan bintang jatuh bergemerlapan di langit. Harapan baru bagi semua makhluk. Tapi dimanakah orang itu berada sekarang ini? Bagaimanakah wujudnya? Semua paham betul, bumi terlalu luas untuk dikelilingi dan mencari satu orang.
Keingintahuannya tentang kebenaran kembali memuncak. Warta-warta dilihat dan didengarnya dengan sungguh-sungguh. Tapi ratusan tanggapan yang berbeda membuatnya kelimpungan juga. Berbagai elemen telah mengklaim bahwa orang itu telah muncul di tempatnya, dan dalam keadaan yang aman. Wujudnya serupa yang lain, hanya saja ketika muncul orang itu membawa sebuah benda yang dikatakannya bisa membawa kebaikan bagi seluruh makhluk hidup.
Dari ratusan tanggapan, dia akhirnya memilih empat saja. Pemilihan itu didasari dari banyaknya pengikut. Pertama, dari negeri utara sana yang berjenis kelamin pria dengan kulit kemerah-merahan dan hidung mancung. Orang itu membawa sebuah mesin besar yang mengeluarkan kertas berwarna-warni dengan angka-angka yang besar jumlahnya, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Orang itu menamainya Uang. Semua orang bisa menggunakan Uang untuk mengubah kehidupan menuju kebaikan. Akhirnya, tersebarlah Uang di negeri utara sana. Semakin tinggi nominal Uang, maka semakin tinggilah nilainya untuk ditukarkan dengan berbagai barang mentah ataupun jadi. Kedua, dari negeri selatan sana muncul seorang laki-laki juga dengan menggunakan sorban di kepalanya dan pakaian yang menjulur menutupi seluruh tubuhnya. Orang itu membawa benda serupa buku yang berisi tulisan sambung. Tidak ada yang mengerti tulisan itu. Namun, orang itu mengajari siapapun yang ingin mempelajarinya di sebuah gedung megah yang ditandai dengan kubah dan  tanda tambah (plus). Benda itu dinamai Kitab.
Semakin banyak orang yang menggunakan kedua benda tersebut. Sumbernya berasal dari negeri selatan dan utara. Sementara, negeri barat dan timur hanya mengikuti kedua sumber itu saja. Semua orang percaya pada kedua benda yang akan menjadi akhir dari pencarian kebenaran. Tapi kebenaran yang diharapkan, ternyata bukan tunggal, sehingga sering terjadi perselisihan di antara keduanya. Orang-orang yang menggunakan Uang beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal mengisi perut. Uang bisa digunakan untuk ditukar dengan berbagai barang pengisi perut. Sementara, orang-orang yang menggunakan Kitab beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal batin, karena hidup ini tidak sementara, semua orang akan mati dan menjalani kehidupan yang sebenarnya. Maka, Kitab yang memperkaya batinlah yang diperlukan untuk bertindak benar selama hidup.
Kehidupan tak pernah berubah. Kemiskinan, perkelahian, bahkan pembunuhan masih sering terjadi. Kedua orang yang membawa kedua benda itu pun telah hilang entah ke mana, sesaat saja mereka mengajari penggunaannya. Banyak orang yang mulai tampil ke muka seraya berucap sebagai ‘utusan’. Tapi, tentunya perpindahan tampuk kepemimpinan, berarti juga perubahan pandangan. Uang dan Kitab yang mestinya digunakan untuk mencipta keadilan, malah digunakan untuk mencipta kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Semua orang berlomba untuk memuaskan nafsunya.
Dia lagi-lagi tak yakin perihal kebenaran. Mestinya kebenaran itu hanyalah tunggal dan membawa keadilan bagi semuanya. Apakah perbedaan dan ketidakadilan itu sendiri memang merupakan takdir hidup? Jika iya, mengapa manusia mesti bersusah-payah untuk mengubahnya? Berbagai ideologi dan agama yang muncul hanyalah kesia-siaan atau pelipur-lara? Jika bukan takdir pun, bagaimanakah yang benar? Dia memikirkan itu sepanjang malam dan mimpi tentang hidup kembali muncul. Kali ini hanyalah dia yang bermimpi, karena dialah yang gelisah dan tidak mempercayai semua.
Di dalam mimpinya seorang berseru singkat,” Cintailah takdir! Cintailah takdir! Cintailah takdir!”

Senin, 17 Agustus 2015

70 Tahun Merdeka: Apakah Kita Sudah Benar-benar Merdeka?
Oleh: Ucu Feni (Mahasiswi Ilmu Sejarah Unpad 2014, kader LPPMD Unpad)



Setiap tahun bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Secara seremonial, perayaan akan hari lahirnya bangsa ini bersifat megah dan meriah. Semua yang merayakan terlihat benar-benar mengisi hari kemerdekaan dengan berbagai cara. Peringatan hari kemerdekaan tak banyak berubah dari sejak peringatannya di tahun pertama. Di hari agung tersebut, upacara bendera yang dilakukan di berbagai tingkat selalu menjadi salah satu simbol penegas bahwa hal itu merupakan simbol yang mewakili perayaan kemerdekaan. Setelah upacara selesai, biasanya setiap karang taruna telah mengatur kegiatan perlombaan yang bermaksud menyemarakkan hari kemerdekaan. Lantas setelah satu hari penuh hari kemerdekaan dirayakan oleh hampir seluruh warga negara, apa yang terjadi esok harinya? Semua berjalan seperti biasanya, masing-masing individu kembali pada aktivitas hariannya. Peringatan yang meriah hanya berlangsung satu hari saja. Setelah itu, semua kepala dituntun pada pemikiran: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Pertanyaan di atas masih menggelayuti kepala-kepala yang tak bosan dan tak lelah berpikir. Pertanyaan ini telah tercetuskan semenjak awal-awal kemerdekaan, banyak tangan yang mencoba menjatuhkan kembali republik yang baru berdiri ini. Hal ini sangat wajar, mengingat Indonesia diuntungkan oleh momen kekosongan kekuasaan sehingga dapat mendeklarasikan kemerdekaannya. Namun, pihak Sekutu—terutama Belanda—tak mau mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia dan terus melakukan intervensi hingga tahun 1949 melalui Perjanjian Konferensi Meja Bundar. Konferensi Meja Bundar (KMB) merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Belanda untuk merebut Papua Barat dari tangan pemerintah Republik Indonesia. Pencaplokan sebagian wilayah Indonesia ini menunjukkan betapa Indonesia merupakan sebuah negeri yang luas.
Tentulah Indonesia mampu menjadi bangsa yang kuat bila ke seluruh elemen di dalamnya mampu bersatu padu. Bila kekuatan seperti ini tercipta, maka kekuatan asing tak akan mampu mengintervensi lebih jauh lagi. Upaya untuk menjatuhkan Indonesia muda berhasil ditangani dengan baik, berkat kegigihan para pendiri bangsa dalam mempertahankan keutuhan wilayahnya.
Di tahun-tahun berikutnya, intervensi dari pihak luar terus berdesakkan masuk secara perlahan dan meningkat. Di sepuluh tahun usia kemerdekaannya, Indonesia masih “mencari-cari” bentuk pemerintahan yang dibutuhkan oleh negara yang tidak kecil ini. Dunia perpolitikan Indonesia mulai memanas. Indonesia memasuki babak cobaan untuk usianya yang masih seumur jagung melalui perlawanan yang dilakukan oleh sebangsanya sendiri. Banyak pemberontakan yang terjadi yang berpotensi menggoyahkan stabilitas serta keamanan dalam negeri. Pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 merupakan ujian pertama dalam usia kemerdekaan yang masih sangat muda, yaitu tiga tahun. Sementara itu, bangsa Indonesia mulai harus menerima kondisi pailit akibat krisis moneter yang gagal dibendung oleh pemerintahan Sukarno.
Pemberontakan kembali dilakukan oleh PKI pada tahun 1965. Penumpasan yang dilakukan oleh Angkatan Darat pada 1966 merupakan babak penutup eksistensi PKI di Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan pribumi mulai dapat diredam dengan baik selama Suharto berkuasa. Ketika Suharto berkuasa selama 32 tahun—yang mana menyalahi aturan—bangsa Indonesia kembali mempertanyakan kemerdekaannya. Kemerdekaan untuk berkumpul, berserikat, serta mengemukakan pendapat merupakan kemerdekaan yang dicurangi pada masa Suharto.
Gejolak yang tertahan selama 32 tahun tersebut akhirnya pecah dan membuncah dalam sebuah gerakan massa yang berhasil menggulingkan otoritas rezim Suharto. Lengsernya Suharto rupanya hanya memberikan kepuasan dan kelegaan bagi sebagian masyarakat: mahasiswa dan politisi. Banyak masyarakat kecil yang telah merasa dimakmurkan oleh kebijakan ekonomi Suharto, merasa rindu dengan banyak kemudahan akan kesejahteraan yang pernah mereka dapatkan. Masyarakat kecil yang pengetahuannya terbatas pada bagaimana cara melanjutkan hidup esok hari kebanyakan tak mengerti dan tak mengetahui permainan yang berlangsung di balik layar semasa pemerintahan Suharto.
Selepas Suharto turun, bangsa Indonesia langsung dihadapkan pada utang luar negeri yang jumlahnya begitu besar hingga terus menumpuk bersama utang-utang lainnya hingga hari ini. Pada 1998 di masa krisis ekonomi, Suharto melakukan perjanjian dengan International Moneter Fund (IMF) yang menuntun bangsa Indonesia pada perkancahan pasar dunia. Utang yang dilakukan pada masa itu membuat Indonesia tunduk dan terikat pada setiap kebijakan yang dilakukan oleh IMF, salah satunya mengenai penempatan modal asing dalam perekonomian Indonesia. Permasalahan ekonomi merupakan salah satu sektor yang menimbulkan pertanyaan tentang hakikat kemerdekaan kita. Betulkah kita sudah benar-benar merdeka? Permasalahan ekonomi yang beragam saat ini begitu mencekik rakyat Indonesia, semua permasalahan ini merupakan sebab-akibat dari jumlah utang luar negeri. Besarnya jumlah utang per 2015, menyebabkan seperti dikutip dari CNN Indonesia, total utang pemerintah pusat berdasarkan statistik Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan mencapai 2.864 triliun pada penghujung tahun ini.
Sekitar 76 persen dari total utang atau sebesar Rp. 2.171 triliun, berasal dari lelang surat berharga negara atau obligasi di pasar uang. Sementara sisanya sebesar Rp. 693 triliun atau sekitar 24 persen bersumber dari pinjaman dari kredit tur domestik maupun asing. Total utang tersebut merupakan akumulasi dari upaya pemerintah mencari pembiayaan pembangunan sejak negeri ini merdeka, 70 tahun lalu. Hampir semua rezim yang berkuasa punya andil terhadap pembengkakan hutang Indonesia. hampir setiap tahun utang Indonesia membengkak, di mana dalam lima tahun terakhir rata-rata bertambah lebih dari Rp. 230 triliun.
Dikutip dari situs resmi DJPPR pada Senin (17/8), komposisi penerbitan obligasi negara dari hari ke hari semakin mendominasi dan menggerus porsi utang pinjaman. Sebagai catatan, pada 2010 porsi pinjaman itu sebesar 37 persen, sedangkan lelang obligasi negara mencapai 63 persen. Angka pinjaman terus menyusut, sebaliknya penarikan pembiayaan dari pasar obligasi terus meningkat. Berdasarkan perhitungan DJPPR per 30 Juni 2015, utang jatuh tempo pemerintah pada tahun ini sebesar Rp 102 triliun, di mana 67 persen (68 triliun) merupakan jatuh tempo obligasi negara dan 33 persen (34 triliun) merupakan pinjaman yang masuk jadwal pembayaran.
 Kementerian keuangan melalui DJPPR, bahkan telah membuat simulasi utang jatuh tempo Indonesia hingga tahun 2054 atau sampai 39 tahun ke depan. Ledakan terbesar bom utang Indonesia diprediksi akan terjadi dalam 9 tahun mendatang atau pada 2024, di mana nilai utang yang harus dibayar pemerintah pada saat itu akan mencapai Rp 240 triliun. Pada tahun depan (2016) dan 2019 nilai utang jatuh tempo pemerintah Indonesia juga tergolong signifikan, yakni diperkirakan masing-masing mencapai Rp 207 triliun dan 219 triliun.
Membengkaknya utang Indonesia hingga usia kemerdekaan ke-70 menunjukkan bahwa sebetulnya hakikat kemerdekaan itu masih belum dapat dirasakan. Kesulitan dan berbagai permasalahan yang dialami oleh rakyat Indonesia membuktikan bahwa kata merdeka yang gembor diteriakkan pada setiap peringatan kemerdekaan tak lebihnya sebuah slogan belaka. Di balik semua kehebohan dan kemeriahan pesta peringatan kemerdekaan, Indonesia sedang menyimpan banyak permasalahan bangsa yang kian bertambah seiring kebijakan yang dibawa oleh para pemimpin yang baru. Permasalahan ekonomi termasuk permasalahan yang krusial karena berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak. Bila pemerintahan yang sekarang tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ditinggalkan para pemimpin terdahulu (dosa turunan), maka bangsa ini akan tetap dalam kemerdekaan yang semu entah sampai kapan. Terlebih seperti yang telah dapat diprediksikan, bila kebijakan ekonomi dalam pembangunan tidak diambil, maka utang Indonesia akan terus meroket dan dapat diprediksi pula bagaimana kiranya kondisi bangsa ini ketika utang-utang tersebut kian mencekik.
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini boleh disebut sebagai salah satu contoh yang menuntun kita pada pertanyaan: apakah kita sudah benar-benar merdeka? Kemandirian dalam perekonomian Indonesia sudah tak terlihat lagi. Ekonomi berdikari tak lebih hanya gagasan usang yang memang untuk saat ini rasanya sulit untuk diwujudkan. Utang dan perjanjian yang telah dijalin puluhan tahun yang lalu membuat Indonesia terjebak dalam situasi terpuruk ini. Akan tetapi, bukan berarti bangsa Indonesia lantas tak bisa berkutik dan berhenti di titik keterpurukan ini. Diperlukan pemimpin yang mampu menyelesaikan semua permasalahan ini secara bijaksana. Pemimpin yang mampu disegani sehingga tidak akan dicurangi oleh bawahan sendiri. Di samping itu, individu Indonesia pun harus terbuka mulai dari pikiran, berani untuk menemukan identitasnya sehingga tidak takut untuk berdiri sendiri.
Indonesia masih belum merdeka bagi orang-orang yang melihat bentuk-bentuk penjajahan halus dan terselubung yang dilakukan asing untuk kembali mengintervensi bangsa ini. Penjajahan yang tidak akan bisa dilawan oleh orang yang belum memiliki kesadaran. Bangsa ini akan langsung berontak bila ditodong senjata, akan tetapi bila disodori kesenangan, maka akan teralihkan dan tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Seperti halnya dulu, ketika upaya peraihan kemerdekaan Indonesia dilakukan, bangsa Indonesia perlu melakukan upaya dengan semangat yang sama namun dengan cara yang menyesuaikan dengan jiwa zamannya (zeitgeist). Untuk mampu bersatu dan melawan semua bentuk penjajahan ini, diperlukan kepala yang berpikir dengan benar dan telah terhindar dari penjajahan akali pula.[]