Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad 2012, kader LPPMD Unpad
Jika sudah
begini, apalagi yang mesti dilakukan? Menghindar terlalu sayang, diterima pun
memalukan. Laki-laki memang bajingan. Mestinya aku berkaca pada sahabatku Mila,
yang sebulan lalu melahirkan anak pertamanya tanpa kehadiran orang yang
mengeluarkan sperma di rahimnya. Ia begitu menderita, bahkan hampir saja
mengguguri kandungannya. Jika bukan karena ayahnya yang tabah, mungkin ia telah
melakukan itu. Ayahnya begitu tabah, padahal anak yang dijaga susah-payah olehnya
telah dibunuh perlahan. Ayahnya telah ditipu oleh gemerincing harta dan wajah
yang benar-benar tampak bertanggung-jawab. Laki-laki memang berganti wajah
setiap hari, bahkan mungkin juga setiap detik.
Tapi ayahku
tidaklah begitu. Ia begitu marah mendengar adanya manusia yang mulai bersarang
di rahimku. Ia pun tak mengenali siapa laki-laki yang telah melakukannya. Aku
memang tak pernah mengajaknya untuk mampir ke rumah. Seringkali kami berduaan
saja di tempat sepi sambil berpegangan tangan atau yang lainnya. Ia pun sering
mengucapkan janji untuk bertanggung-jawab. Aku menuruti saja dan terlena
karenanya. Perempuan, begitu malang nasibmu! Jika sempat memilih kembali akan
dilahirkan menjadi apa, aku ingin menjadi laki-laki. Bisa kemana pun, melakukan
apapun, dan sampai kapan pun. Tak ada omongan darimana-mana. Tapi perempuan?
Hanya bisa tabah menerima cacian darimana-mana jika melakukan semua itu.
Ibuku telah
seharian menangis di kamarnya. Walau sesekali keluar untuk sekadar mengucapkan
bahwa ia akan selalu menyayangiku dan membantuku hingga masalahku selesai.
Suaranya begitu lirih ketika berucap tentang itu, tapi dari suara itu pula aku
mengetahui kalau ia begitu ikhlas. Mendengarnya aku menangis juga sambil
menciumi tangannya yang telah keriput. Aku telah menghancurkan kedua orangtuaku
di masa tua yang mestinya mereka nikmati. Salahku, salahku. Seorang anak memang
tidak akan luput dari kesalahan pada orangtuanya, tapi adakah yang lebih besar
daripada kesalahanku ini? Mengandung tanpa ada yang bertanggung-jawab?
Aku mempercayai
Tuhan. Dia maha pemberi jalan keluar, juga pemberi ampunan pada umatnya yang
menyalahi aturan. Berkali-kali aku berdoa dengan setulus-tulusnya, tapi
bagaimana rasanya ketulusan itu? Air mata yang keluar, mungkin itu juga berarti
ketulusan. Berkali-kali, tiada henti sepanjang malam. Banyak orang bilang,
malam hari merupakan waktu yang tepat untuk berdoa, karena di waktu itulah
manusia bisa benar-benar fokus menghadap Tuhan-nya. Dia tak pernah tertidur.
Selalu sedia dimintai pertolongan. Namun, jawaban tentang tindakan yang mesti
kulakukan tak juga muncul. Tak ada tanda apapun. Bagaimana jugalah aku mesti
meminta jawaban dari Tuhan yang tidak tampak dan hanya terasa? Lakukan!
Lakukan! Apapun yang akan kulakukan mungkin juga telah direstui oleh-Nya tanpa
mesti kuketahui.
Telah tiga bulan
dan mulai tampak perubahan dari perawakanku. Berkali-kali ketika kulintasi
jalan dekat jembatan gantung, orang yang berpapasan denganku berbisik-bisik.
Mungkin mereka berbisik tentang perubahan itu. Semula perawakanku dianggap ideal,
tapi kini mungkin dianggap menjijikan. Berkali-kali kudengar, hingga akhirnya
memandangku pun mereka enggan. Mungkin kabar tentang penyebab perubahan itu
telah tersiar kemana-mana, sehingga membuatku sungkan untuk sekadar
menginjakkan kaki di halaman rumah. Adakah juga rasa malu yang melebihi ini?
Sementara orang yang telah mengeluarkan sperma ke dalam rahimku takkan pernah
merasakannya. Justru ia mendapati kehormatan dari orang-orang, karena telah berhasil
kabur setelah mengeluarkan sperma di rahim perempuan. Betapa tak adil!
Telah tiga bulan
dan aku kembali merindukan masa kanak-kanakku. Ketika aku melihat senyum di
setiap wajah saat aku bertingkah. Cantik, pintar, dan lincah, begitulah
penilaian terhadapku. Orangtuaku tersenyum bangga, karena semua orang berharap
keturunannya sepertiku. Tapi rasa rindu itu perlahan berganti dengan suara
jeritanku yang memohon untuk dibebaskan dari rasa sakit karena dekapan
laki-laki bersama nafsunya. Cahaya yang sempat muncul, menjadi kegelapan
kembali. Masa kanak-kanak begitu menyenangkan. Bagaimanakah caraku untuk
mengulangi masa itu? Waktu terus berjalan, matahari terbit dan tenggelam. Ada
kebahagiaan dan penderitaan. Tapi adakah penderitaan yang lebih berat daripada
apa yang kurasakan saat ini? Kebahagiaan sirna oleh satu peristiwa dan
digantikan oleh penderitaan yang mungkin akan selamanya.
Telah tiga bulan
dan suatu hari aku bertemu dengan Santi untuk mendengar keluhannya. Saat
berjumpa, wajahnya kulihat begitu mirip dengan wajahku sewaktu berkaca tadi. Wajah yang bimbang untuk
beranjak ke detik selanjutnya. Ketika kutanya tentang keluhannya, ia mulai
berbicara perlahan sambil sesekali mengusapi air mata yang turun membasahi
lesung pipinya yang manis. Masa kanak-kanak kita yang menyenangkan telah
berganti menjadi penderitaan, begitulah kalimat pertama yang diucapkan olehnya.
Santi bercerita,
bulan lalu sepulang sekolah ia dititah oleh ayahnya berpakaian selayak mungkin
untuk bertemu dengan majikan di tempat kerjanya. Ayahnya berpendidikan rendah,
sehingga kerjanya pun hanyalah sebagai kuli bangunan yang gajinya tidak
seberapa, tapi kerjanya begitu melelahkan. Santi menuruti saja titah ayahnya
dan didandani oleh ibunya selayak-layaknya. Meskipun ada pertanyaan juga di
dalam hatinya, mengapa mesti berpakaian tidak seperti biasanya untuk menghadap
majikan ayah? Padahal, sehari-hari selesai sekolah, ia sering manghantarkan
keperluan ayahnya dan dititipkan pada majikannya itu. Saat menghantarkan, ia
berpakaian apa adanya saja tanpa mematut diri terlebih dahulu.
Ia pun pergi
menuju ke rumah majikan ayahnya menggunakan sebuah mobil sewaan. Santi duduk
bersama ibunya di kursi depan bersama supir, sementara ayahnya duduk di
belakang. Sepanjang jalan, tak henti-henti ibunya mengelus-ngelus bahunya
sambil berkata jangan pernah melupakannya. Ia tentu heran melihat sikap ibunya
yang tidak seperti biasanya. Seolah-olah ia akan berpisah dengan ibunya dalam
waktu yang lama.
Halaman depan
rumah majikan ayahnya tampak begitu megah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi
berjejer teratur di samping kanan dan kiri. Kolam besar berada di tengahnya yang
didalamnya terdapat ikan berwarna-warni, sehingga menambah elok pemandangan di
rumah tersebut. Belum lagi cat putih yang nyaris tanpa cacat dan ukiran yang
meliuk-liuk membentuk estetika seni tak terbantahkan. Begitu megah dan berbeda
dengan rumahnya yang tidak memiliki halaman dan cat yang telah mengelupas di
banyak bagian. Ia begitu ingin memiliki rumah seperti ini, tapi kapan?
Di depan pintu
telah menanti majikan ayahnya yang duduk di kursi malas sambil membaca koran.
Ketika melihat ia datang, ia segera bangkit dan menyambutnya. Tidak seperti
biasanya sambutan itu. Gerak-geriknya terasa seperti hewan buas yang kelaparan
dan membutuhkan mangsa sesegera mungkin. Santi dibuat bergidik karenanya, tapi
senyuman yang terkadang dilontarkan olehnya bisa menenangkannya sesaat.
Ayahnya lekas bercakap-cakap
dengan majikannya itu sambil sesekali menoleh ke arah Santi. Ia semakin dibuat
kebingungan oleh tingkah mereka. Sementara ibunya masih juga mengelus-ngelus
bahunya. Hari mulai sore ketika itu, burung-burung mulai lalu-lalang untuk
kembali ke sarangnya. Dan ketika itu pulalah kebingungan yang dirasai olehnya
digantikan oleh ketakutan! Ayahnya berkata:
“Begini Santi,
ayah hendak menikahkan kamu dengan majikan ayah. Kira-kira sebulan ke depan
pernikahan tersebut akan dilangsungkan. Kamu mesti menerima, tidak bisa
menolak. Mengenai sekolahmu, silahkan dibicarakan nanti dengan majikan ayah.
Apabila dikehendaki, kamu boleh melanjutkannya, tapi apabila tidak maka
terpaksa kamu mesti berhenti.”
Menikah!?
Semudah dan secepat itu? Tanpa ada pilihan untuk menerima atau menolak pula!
Percakapan di antara aku dan Santi diselesaikan oleh perkataan ayahnya itu, sebab
Santi tak ingin bercerita lebih jauh lagi. Minggu depan, tepat sebulan setelah
kejadian dan pernikahan akan dilangsungkan. Santi akan dijadikan istri kedua.
Baru sekali ia bertemu dengan istri sebelumnya dan tampaknya ia tak rela.
Tatapan sinis dan suara yang ketus begitu melukai hatinya. Sesama perempuan ditakdirkan
untuk saling menyakiti, disebabkan oleh gemerincing harta yang dimiliki oleh
laki-laki. Apakah gunanya pendidikan jika hanya memberi ilmu pengetahuan dan
tidak memberi keberanian untuk menolak? Apakah guna ibu dan ayah yang
susah-payah membesarkan jika pada akhirnya membuat anaknya menjadi pelacur?
Ditukar oleh gemerincing harta?
Telah empat
bulan dan aku membaca buku-buku mengenai gerakan feminisme di berbagai tempat.
Sebuah gerakan yang dimaksudkan untuk menyetarakan hak di antara laki-laki dan
perempuan. Gerakan ditujukan ke dalam berbagai elemen, tapi yang paling menarik
perhatianku adalah gerakan feminisme radikal, yang menganggap budaya patriarki
sebagai sumber kesalahan. Kesenjangan dimulai oleh budaya yang telah diciptakan
berjuta-juta tahun lalu, entah disengaja atau tidak. Adam dan Hawa mungkin
orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang bagaimana proses memulainya,
hingga dapat bertahan selama berjuta-juta tahun mendatang, sekaligus juga
ditanyai tentang bagaimana cara untuk menghentikannya. Telah terlalu banyak
korban. Lihat saja, jika ada permasalahan di antara laki-laki dan perempuan,
siapa yang lebih sering bermandikan darah?
Bulan yang sama.
Aku berpikir untuk menggugurkan kandunganku. Tapi ibu menolak dengan alasan
telah terlanjur menjalani dan sesaat lagi akan berakhir. Menurutku tidak,
karena kelahiran nantinya adalah permulaan dari penderitaan. Ibu mungkin takkan
terlalu menderita. Aku, akulah yang akan menderita! Biarlah aku dan anakku
bertemu di tempat lain. Aku dan Santi memilih untuk mati. Menyerah, keadaan
telah memaksaku dan Santi untuk menyerah.