Intelektual vs Libidinal: Eksistensi “Ayam Kampus” sebagai Wajah Distorsi Budaya - LPPMD Unpad

Senin, 21 Desember 2015

Intelektual vs Libidinal: Eksistensi “Ayam Kampus” sebagai Wajah Distorsi Budaya



Oleh: Ucu Feni, kader LPPMD UNPAD


Kampus memiliki citra sebagai medium penyampaian pesan. Hal ini melahirkan realita budaya kampus, yaitu sebagai tempat pertukaran ide (diskusi) serta didominasi oleh kekuatan intelektual. Realitas kampus tersebut melahirkan perspektif bahwa akademisi yang berada di kampus memiliki intelektualitas yang baik. Dengan kata lain, intelektual merupakan salah satu citra yang dimiliki oleh kampus. Namun, telah terjadi pergeseran dalam realitas budaya kampus ke arah ekstesi dan histeria. Realitas budaya kampus digantikan oleh kekuatan gaya dan pertukaran citra.  Kampus yang semula berfungsi sebagai medium citra, perlahan bertransformasi menjadi citra itu sendiri.
Ekstesi (mabuk), histeria (berlebih-lebihan), libidinal (gairah), seduction (rayuan) muncul menjadi gaya hidup mahasiswa sekaligus menjadi atmosfir budaya kampus. Dominasi intelektual yang mulai luntur dan tergantikan oleh budaya tersebut mencerminkan adanya fenomena ‘absurditas budaya’. Jean Baudrillard dalam In The Shadow of the Silent Majorities menggunakan istilah ‘patafisika budaya’ untuk menyebut kondisi dunia kampus yang kini mulai didonimasi oleh kekuatan citra. Patafisika budaya, absurditas budaya, serta realita kampus yang baru menunjukkan gejala adanya distorsi budaya di dalam kampus. Distorsi budaya yang paling disoroti adalah aspek libidinal yang menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa kini. Seksualitas menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan, terlebih ketika seksualitas menjadi salah satu bagian dari atmosfir budaya kampus.
Persoalan seksualitas yang terjadi di dalam kampus sangat beragam, sehingga penelitian akan kehidupan seksual di dalam kampus menjadi salah satu hal yang menarik. Belakangan telah dilakukan penelitian terhadap praktik seksual mahasiswa, dan hasilnya cukup mencengangkan.[1] Praktik seksual yang bersifat sakral seolah luntur kesakralannya bila melihat kehidupan seksualitas mahasiswa. Salah satu fenomena yang sudah menjadi rahasia umum adalah eksistensi “ayam kampus”. Fenomena ayam kampus menunjukkan telah terjadi degradasi moral di dalam kampus, melahirkan kontradiksi akan citra kampus yang memiliki dominasi intelektual. Eksistensi ayam kampus ini sangat disayangkan terjadi di dunia yang semestinya menjadi tempat bertukar ide dengan iklim akademis. Ayam kampus menjadi salah satu  catatan hitam di dalam dunia kampus, di samping catatan-catatan hitam lainnya yang terjadi di dalam kampus terkait persoalan seksualitas.[2]
Eksistensi ayam kampus lahir bersamaan dengan masuknya budaya ekstesi dan histeria di dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Penelitian terhadap gaya clubbing di kalangan mahasiswa menunjukkan adanya ruang dan kesempatan untuk melakukan praktik seksual.[3] Aspek libidinal yang menjadi salah satu atmosfir budaya kampus telah mendukung eksistensi ayam kampus. Mengapa ayam kampus ada dan menjadi salah satu cerita yang mewarnai kehidupan kampus? Eksistensi ayam kampus menunjukkan ada yang salah dengan kehidupan kampus, telah terjadi pergeseran besar-besaran di dalam budaya kampus. Sebuah hal yang sangat kontradiktif dengan peran dan citra yang dimiliki kampus pada awalnya. Eksistensi ayam kampus bukan hanya menodai citra kampus yang sesungguhnya, lebih dari itu, eksistensi ayam kampus telah menodai kesakralan seksualitas serta derajat para pelakunya.
Fenomena ayam kampus sebagai salah satu wajah distorsi budaya di kampus tentunya memiliki latar belakang. Seperti halnya pergeseran makna kampus, kehadiran ayam kampus dan budaya kampus yang lainnya merupakan fenomena yang sengaja dilahirkan; budaya yang sengaja diciptakan. Siapa yang sengaja melahirkan dan membudayakan fenomena tersebut? Berbicara mengenai kajian budaya, praktik kebudayaan selalu terkait dengan praktik kekuasaan. Budaya kampus yang eksis hari ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang biasa dianut karena masuknya gaya kehidupan baru seiring terbukanya jendela globalisasi. Arus globalisasi membawa gaya hidup Barat ke dalam tatanan budaya kita, melahirkan banyak akulturasi—dan tak jarang adopsi kultur tanpa filtrisasi sedikitpun, sebagai imbas dari keterbukaan informasi.
Globalisasi bukan hanya soal ekonomi, namun juga terkait dengan masalah makna kultural. Kendati nilai dan makna yang melekat pada suatu  tempat tetap berarti, kita semakin terjerat dalam jaringan yang meluas jauh ke luar lokasi fisik kita. Kita tentu saja bukan bagian dari negara dunia atau kebudayaan dunia yang satu, namun kita dapat mengidentifikasikan proses kultural global, integrasi dan disintegrasi  kultural, yang terlepas dari hubungan antarnegara.[4]
Peran globalisasi dalam mengubah makna kultural turut melahirkan banyak kultur baru yang diadopsi dari gaya hidup Barat, salah satunya aspek libidinal yang kini menjadi bagian dari kehidupan dunia kampus. Di samping pengaruh globalisasi, kekuatan penguasa pun menjadi pendorong lahirnya budaya kampus tersebut. Kampus memiliki peran dalam melahirkan budaya tersebut, karena kekuatan yang dimiliki oleh para birokrat kampus yang telah melakukan persekongkolan dengan kapitalis. Arah pendidikan tinggi telah berubah seiring munculnya kebijakan yang meyiratkan bahwa dunia pendidikan tak ubahnya sebuah pasar yang akan melahirkan komoditas. Pada perkembangannya, hal tersebut dipertegas dengan kebijakan PTN BH yang dirancang mulai tahun 2007. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa kampus memiliki wewenang sendiri yang terlepas dari kebijakan pemerintah. Tak mengherankan bila kini orientasi nilai dalam dunia pendidikan bergerak ke arah nilai pasar, bukan nilai kehidupan atau nilai moral.
Pergeseran orientasi ini turut mendukung lahirnya iklim libidinal sebagai pengganti iklim akademis di dalam kampus. Hal ini merupakan salah satu sisi gelap modernitas yang dibawa oleh arus globalisasi. Ayam kampus hadir menjadi salah satu bentuk distorsi budaya seiring pergeseran nilai budaya sebagai imbas hadirnya modernitas di era globalisasi. Modernisme menolak ide tentang kemungkinan mempresentasikan ‘keadaan sebenarnya’ secara lugas.[5] Hal tersebut menggiring pada ‘kesadaran palsu’ karena representasi yang ditampilkan bukanlah tentang ‘keadaan yang sebenarnya’. Arus globalisasi yang begitu deras ditambah kuasa penguasa dalam menetapkan budaya mana yang mesti dipertahankan atau dihapuskan membuat berbagai nilai atau budaya tergerus digantikan kepentingan untuk dapat bersaing dalam era globalisasi.


SUMBER REFERENSI:




Barker, Chris. 2009 (cet V). Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Darmaningtyas, dkk.. 2009. Tirani Kapital dalam Pendidikan: Menolak UU BHP. Damar Press.
Dienaputra, Reiza D. 2007. Sejarah Lisan: Metode dan Penelitian. Bandung: Balatin Pratama.
Lessig, Lawrence. 2004. Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas. KUNCI Cultural Studies Center.






[1] Penelitian ini dilakukan oleh tim yang terdiri dari beberapa orang dosen Fikom Unpad, mereka menemukan banyak sampah kondom yang tersebar di sekitar kampus yang terbawa arus hujan. Frekuensi sampah kondom ini meningkat di hari libur (weekend).
[2] Persoalan seksualitas di dalam kampus sangat beragam; fenomena ayam kampus merupakan salah satu hal yang paling populer di antara fenomena seksualitas lainnya. Ayam kampus merupakan istilah untuk menyebut mahasiswi yang memperjualbelikan tubuhnya demi kepentingan yang dimiliki. Bentuk transaksi ini beragam  jenisnya, tak hanya terkait persoalan uang. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa praktik seksual di dalam kampus bisa juga berkaitan dengan persoalan nilai akademis. Di samping itu, praktik seksual di dalam kampus bukan hanya menyangkut hubungan seksualitas antar lawan jenis. Telah ditemukan beberapa kasus yang menunjukkan telah terjadi pelecehan seksual sesama lawan jenis yang dilakukan baik oleh sesama mahasiswa, maupun yang dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswa. Adapula kasus pelecehan seksual saat kegiatan ospek.
[3] Penelitian dilakukan oleh mahasiswa Sejarah Unpad.
[4][4] Chris Barker, Cultural Studies, 2000. h. 120
[5] Op.cit, h. 144

Tidak ada komentar: