Sosiologi: Suatu Pengantar Singkat - LPPMD Unpad

Kamis, 15 Maret 2018

Sosiologi: Suatu Pengantar Singkat

Sosiologi : Suatu Pengantar Singkat
oleh Davin Ramon D
Mahasiswa Sosiologi 2014


Sosiologi merupakan suatu ilmu murni yang membahas mengenai interaksi antar manusia di dalam suatu masyarakat. Sosiologi berasal dari kata socius yang berarti pertemanan dan logos yang berarti ilmu. Secara hakikat sosiologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari “pertemanan”. Dalam arti kata interaksi antara manusia yang dimunculkan melalui interaksi sosial didalam suatu masyarakat yang tidak terlepas dari struktur-struktur didalam masyarakat itu sendiri, dari sinilah akar dualitas didalam sosiologi yang acapkali menjadi suatu bentuk perdebatan antar dua mazhab besar di dalam sosiologi, yang terkait dengan konsep-konsep mendasar seperti interaksi, struktur-sistem, kelompok dan institusi sosial.
Sosiologi sendiri sebagai suatu ilmu, memiliki sifat mendasar satu empiris (berdasarkan fakta yang ada dilapangan), positivistik (terikat oleh kaidah2 ilmu pengetahuan dan objektif), non-etis (bersifat bebas nilai dan non-judgemental).
Sosiologi muncul pada awalnya di perancis dipelopori oleh Auguste Comte. Comte menekankan pentingnya untuk mendalami gejala-gejala sosial yang muncul di Perancis pada saat itu tetapi secara singkat gagasan Comte hanyalah merupakan suatu bentuk pemikiran filsafat dikarenakan pemikirannya hanyalah suatu bentuk abstraksi semata, melalui pemikiran hukum tiga tahapnya. Hingga kemudian Emile Durkheim, meresmikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang objektif melalui acuan metodologi yang bersifat positivistik dan konsep mengenai fakta sosialnya. Selain Durkheim, terdapat ahli-ahli lain di dalam sosiologi seperti Max Weber dengan konsepnya mengenai Verstehen, tindakan sosial dan birokrasi-rasionalisasinya. Karl Marx mengenai pembahasannya mengenai logika kapitalis dan kapitalismenya yang tidak jauh dari hubungan Borjuis-Proletar, perjuangan kelas dan alienasinya. dan terakhir, George Simmel mengenai pembahasannya mengenai jarak sosial dan hubungan  dyad-triad. Pemikir-pemikir tersebut digolongkan dalam pemikir sosiologi klasik.
Memasuki sosiologi modern, terdapat beberapa perspektif yang ada, yaitu perspektif Fungsional Struktural, yang menjelaskan bahwa masyarakat merupakan suatu organisme biologis yang saling mempengaruhi dan beradaptasi sehingga masyarakat selalu dalam keadaan ekuilibrium. Perspektif konflik yang merupakan antithesis dari perspektif struktural fungsional, perspektif ini melihat bahwa masyarakat tersusun atas dinamika konfliktual. Dan perspektif simbolis. Perspektif ini melihat suatu bentuk masyarakat tersusun atas suatu interaksi simbolis yang dilakukan oleh aktor. Disini lah suatu bentuk boundary antara sosiologi makro dan mikro semakin diperjelas.
Untuk memiliki pemahaman mengenai masyarakat, kembali kepada konsep-konsep mendasar dalam sosiologi seperti interaksi sosial, kelompok sosial, struktur-sistem sosial dan institusi sosial. dikarenakan beberapa konsep memerlukan suatu abstraksi disinilah peran dari imajinasi sosiologi sebagai suatu alat bantu analisis untuk mendapatkan pemahaman konsep-konsep dalam sosiologi agar lebih mendalam. Dengan pemahaman konsep, pemahaman teori akan cenderung mudah.
Tentunya untuk memahami sosiologi agar mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu masyarakat diperlukan suatu landasan teoritik dan konsep yang kuat. Dan tentunya juga sosiologi sebagai suatu ilmu yang berparadigma ganda dapat memberikan banyak landasan untuk melihat suatu fenomena dengan berbagai macam sudut pandang.
Kita sebagai suatu kaum intelektual harus memiliki berbagai macam senjata untuk melakukan analisis terhadap berbagai macam fenomena yang ada didalam masyarakat. Dalam konteks sosiologis, konsep dan teori sosiologi merupakan senjata yang kita, sebagai kaum intelektual miliki untuk melakukan analisis sosiologis. Dengan konsep dan teori sebagai pisau analisis, kita dapat mengkaji dan menganalisis berbagai macam fenomena yang terdapat di dalam masyarakat dari fenomena yang klasik seperti masalah sosial di dalam masyarakat  (kriminalitas, kemiskinan, masalah pendudukan, NAPZA), perubahan sosial, solidaritas sosial, relasi sosial bahkan hingga mengkaji kajian kontemporer seperti musik, sub kultur, film, seni bahkan teknologi sekalipun.

Kita sebagai akademisi dan kaum intelektual harus berpikir terbuka dan mengkritisi berbagai hal bahwa, urgensi suatu hal yang dikaji tidak hanya harus sesuatu hal yang bersifat problematic, semua hal dapat dikaji dan dianalisis dengan catatan kita sebagai kaum intelektual harus mampu mengangkat urgensi dari suatu objek fenomena dengan penelitian-penelitian ilmiah terdahulu seperti jurnal, buku, prosiding, skripsi, thesis dan disertasi sebagai suatu batu loncatan untuk mengangkat suatu objek fenomena secara akademis dan ilmiah.

Tidak ada komentar: