Sosiologi
: Suatu Pengantar Singkat
oleh Davin Ramon D
Mahasiswa Sosiologi 2014
Sosiologi
merupakan suatu ilmu murni yang membahas mengenai interaksi antar manusia di
dalam suatu masyarakat. Sosiologi berasal dari kata socius yang berarti
pertemanan dan logos yang berarti ilmu. Secara hakikat sosiologi dapat
diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari “pertemanan”. Dalam arti kata
interaksi antara manusia yang dimunculkan melalui interaksi sosial didalam
suatu masyarakat yang tidak terlepas dari struktur-struktur didalam masyarakat
itu sendiri, dari sinilah akar dualitas didalam sosiologi yang acapkali menjadi
suatu bentuk perdebatan antar dua mazhab besar di dalam sosiologi, yang terkait
dengan konsep-konsep mendasar seperti interaksi, struktur-sistem, kelompok dan
institusi sosial.
Sosiologi
sendiri sebagai suatu ilmu, memiliki sifat mendasar satu empiris (berdasarkan
fakta yang ada dilapangan), positivistik (terikat oleh kaidah2 ilmu pengetahuan
dan objektif), non-etis (bersifat bebas nilai dan non-judgemental).
Sosiologi
muncul pada awalnya di perancis dipelopori oleh Auguste Comte. Comte menekankan
pentingnya untuk mendalami gejala-gejala sosial yang muncul di Perancis pada
saat itu tetapi secara singkat gagasan Comte hanyalah merupakan suatu bentuk
pemikiran filsafat dikarenakan pemikirannya hanyalah suatu bentuk abstraksi
semata, melalui pemikiran hukum tiga tahapnya. Hingga kemudian Emile Durkheim,
meresmikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang objektif melalui acuan metodologi
yang bersifat positivistik dan konsep mengenai fakta sosialnya. Selain
Durkheim, terdapat ahli-ahli lain di dalam sosiologi seperti Max Weber dengan
konsepnya mengenai Verstehen,
tindakan sosial dan birokrasi-rasionalisasinya. Karl Marx mengenai
pembahasannya mengenai logika kapitalis dan kapitalismenya yang tidak jauh dari
hubungan Borjuis-Proletar, perjuangan kelas dan alienasinya. dan terakhir,
George Simmel mengenai pembahasannya mengenai jarak sosial dan hubungan dyad-triad. Pemikir-pemikir tersebut
digolongkan dalam pemikir sosiologi klasik.
Memasuki
sosiologi modern, terdapat beberapa perspektif yang ada, yaitu perspektif
Fungsional Struktural, yang menjelaskan bahwa masyarakat merupakan suatu
organisme biologis yang saling mempengaruhi dan beradaptasi sehingga masyarakat
selalu dalam keadaan ekuilibrium. Perspektif konflik yang merupakan antithesis
dari perspektif struktural fungsional, perspektif ini melihat bahwa masyarakat
tersusun atas dinamika konfliktual. Dan perspektif simbolis. Perspektif ini
melihat suatu bentuk masyarakat tersusun atas suatu interaksi simbolis yang
dilakukan oleh aktor. Disini lah suatu bentuk boundary antara sosiologi makro
dan mikro semakin diperjelas.
Untuk
memiliki pemahaman mengenai masyarakat, kembali kepada konsep-konsep mendasar
dalam sosiologi seperti interaksi sosial, kelompok sosial, struktur-sistem
sosial dan institusi sosial. dikarenakan beberapa konsep memerlukan suatu
abstraksi disinilah peran dari imajinasi sosiologi sebagai suatu alat bantu
analisis untuk mendapatkan pemahaman konsep-konsep dalam sosiologi agar lebih mendalam.
Dengan pemahaman konsep, pemahaman teori akan cenderung mudah.
Tentunya
untuk memahami sosiologi agar mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai
suatu masyarakat diperlukan suatu landasan teoritik dan konsep yang kuat. Dan
tentunya juga sosiologi sebagai suatu ilmu yang berparadigma ganda dapat
memberikan banyak landasan untuk melihat suatu fenomena dengan berbagai macam
sudut pandang.
Kita
sebagai suatu kaum intelektual harus memiliki berbagai macam senjata untuk
melakukan analisis terhadap berbagai macam fenomena yang ada didalam
masyarakat. Dalam konteks sosiologis, konsep dan teori sosiologi merupakan
senjata yang kita, sebagai kaum intelektual miliki untuk melakukan analisis
sosiologis. Dengan konsep dan teori sebagai pisau analisis, kita dapat mengkaji
dan menganalisis berbagai macam fenomena yang terdapat di dalam masyarakat dari
fenomena yang klasik seperti masalah sosial di dalam masyarakat (kriminalitas, kemiskinan, masalah pendudukan,
NAPZA), perubahan sosial, solidaritas sosial, relasi sosial bahkan hingga
mengkaji kajian kontemporer seperti musik, sub kultur, film, seni bahkan
teknologi sekalipun.
Kita
sebagai akademisi dan kaum intelektual harus berpikir terbuka dan mengkritisi
berbagai hal bahwa, urgensi suatu hal yang dikaji tidak hanya harus sesuatu hal
yang bersifat problematic, semua hal dapat dikaji dan dianalisis dengan catatan
kita sebagai kaum intelektual harus mampu mengangkat urgensi dari suatu objek
fenomena dengan penelitian-penelitian ilmiah terdahulu seperti jurnal, buku,
prosiding, skripsi, thesis dan disertasi sebagai suatu batu loncatan untuk
mengangkat suatu objek fenomena secara akademis dan ilmiah.

Tidak ada komentar: