LPPMD Unpad

Minggu, 14 Juni 2015

Untuk kawanku, Bung Aldo! (Sebuah Sapaan Hangat)
Oleh: Difa Ghiblartar, mahasiswa Ilmu Hukum UNPAD 2013, kader LPPMD


Salam Pembebasan !

Sebab manusia adalah Homo actor mundi, menjadi aktor yang 
merajut jalan sejarahnya sendiri, maka sudah sepantasnya untuk 
mencintai takdir kita. Amor fati!

Mungkin, kalimat amor fati bukanlah hal yang asing bagi jiwamu. 
Dan amor fati juga bukan tempat pelarian dari ketidak-mampuan 
untuk mengatakan "YA" pada kehidupan. Itu tidaklah seperti 
kalimat "It's ok" yang sering diucapkan orang untuk menutupi 
rasa sakitnya, yang Derrida maksud sebagai contradictory coherence.

Takdir, terkadang hal itu terdengar begitu menyebalkan apabila 
ia berasal dari luar kesadaranku. Sama menyebalkannya ketika 
terpaksa bertindak rasional dan akibatnya hal itu mampu 
menegasikan diriku sendiri, hasratku. - Aku harap kamu mengerti.

Ya, aku harap kamu mengerti! kenapa aku selalu mengelak bila 
ada orang yang memintaku untuk menulis. Dan itu hal yang 
sulit. Lebih sulit dari pada untuk memahami apakah kata yang 
keluar dari mulutku ini sesuai dengan yang dikehendaki oleh 
diriku sendiri, sesuai dengan kesadaranku, sesuai dengan apa 
yang tadinya aku maksudkan.

Aku paham, salah satu cara untuk merajut jalan sejarah manusia 
ialah dengan tulisan. Namun bukankah Nietzsche begitu 
mencintai orang yang menulis dengan darahnya sendiri? Ya, aku 
pun ingin menulis dengan darahku. Jiwaku masuk kedalam relung 
kata-kata. Hasratku menari-nari di sela-sela huruf. Dan 

Akhirnya aku pun tak melihat diriku sendiri, selain berwujud 
tulisan. Berhentilah mengatakan subjektivitas Kawan! biarkan 
aku hidup dan membiarkan hidup.

Namun, kamu tak perlu khawatir apabila dalam diriku sudah tak 
tersisa lagi semangat pembebasan. Aku paham. Meskipun, terlalu
banyak pertanyaan eksistensialis yang menjeratku dan juga 
kesemerawutan ontologis yang aku hadapi. Percayalah, semangat 
pembebasan itu masih ada.

Saat ini pun aku masih berjuang untuk kebebasan bagi 
diriku sendiri. karena aku percaya, perjuangan pembebasan itu 
tidak hanya bertujuan untuk kebebasan yang berada diluar 
dirinya sendiri, seperti; ekonomi, politik ataupun budaya, 
tetapi juga kebebasan dalam dirinya sendiri.

SALING BERBALAS


Oleh Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD UNPAD

Modernisasi entah telah mencapai puncaknya atau pun belum. Aku tak peduli. Keramaian di antara orang-orang yang sedang berkegiatan pun tidak kupedulikan. Aku masih juga berada dalam keheningan, ketiadaan. Namun, otakku masih berpikir tentang manusia. Pertanyaan-pertanyaan mengupasi tema-tema sederhana yang muncul dalam otak. Semua makin membuatku berada di dalam keheningan. Semakin membuat ketidakinginan melakukan apapun, terutama seperti apa yang dilakukan mereka. Aku jelas berbeda dari semua yang tampak. Aku adalah aku. Seorang yang menginginkan berinteraksi dengan jiwa dan menjalani hidup penuh kebebasan. Sesuai dengan kehendak dari jiwa yang berbicara, yang selama ini terasing di antara ilusi.
Pohon tua besar menemani keheningan ini dengan suara gemericiknya karena diterpa angin. Ia bertanya padaku,”Mengapa tiap manusia berebut untuk menebangku? Apakah aku merupakan halangan bagi mereka? Mengapa tiap makhluk hidup tidak dibiarkan hidup hingga saatnya mati sesuai kehendak Illahi?”. Dan aku menjawab,”Tak pernah ada keabadian dalam hidup. Bahkan, manusia yang kau takuti itu sesungguhnya saling membunuh pula. Jika kau ingin hidup lebih lama, lawanlah manusia itu dengan cara yang harus kau pikirkan setelah aku memberitahumu. Berilah mereka penderitaan!”.
Langit yang ditemani matahari menerpa sebagian kaki, tangan dan wajahku. Ia pun bertanya,”Mengapa manusia menyerangku dari bawah sana dengan teknologinya? Asap-asap yang ditimbulkannya membuat keluasan dan keabadian yang mestinya kumiliki jadi tak berarti. Jika aku mati dan jatuh di antara mereka, mereka pun akan mati. Namun, bagaimana nasibnya bumi yang indah ini? Manusia seolah makhluk yang paling merusak di antara makhluk yang lain. Jangan biarkan aku mati, aku memiliki kekuasaan atas pula atas kematian manusia,”. Dan aku menjawab,”Kau harus melawan kesewenang-wenangan mereka, Wahai Langit. Berilah mereka penderitaan dengan apapun yang bisa kau lakukan. Maafkan mereka dan bertahanlah dari penderitaanmu”.
Seperti Nabi atau Tuhan aku memerintah mereka. Hingga aku tersadar kembali bahwa aku adalah aku. Keheningan berganti menjadi keramaian kembali. Beberapa langkah saja dari tempatku bentakan-bentakan terdengar dan cepat berganti menjadi suara pukulan. Perkelahian sedang berlangsung, tangan beradu dengan wajah. Di sekelilingnya semua tampak memperhatikan dengan serius setiap gerakan. Semua sedang belajar berkelahi. Kudengar pula di media massa bahwa pertikaian antar-manusia yang dikotak-kotakkan diprediksi akan berlangsung dalam waktu dekat. Semua sedang berlatih untuk membunuh demi menjadi pemenang. Walaupun, di antara perkelahian itu masih kudengar lantunan ayat kitab suci. Ah, bukankah antarkitab suci itu pun akan berusaha untuk saling menjadi pemenang?
Kepanasan mendera. Buku-buku yang telah kusam kuambil satu dan kubacai. Debu pun berhamburan tak beraturan. Itu tampak melalui sinar cahaya yang menembusi celah jendela. Buku itu ditulis oleh seorang pengarang besar yang begitu meninggikan nilai-nilai kemanusiaan dalam tiap karyanya. Dia menganalisa dengan cermat tiap ketidakadilan yang berlangsung, sekaligus melakukan pembelaan. Pengarang itu telah tiada. Dan apa yang akan dikatakannya sekarang? Ketika yang dituliskannya ternyata tak berarti apapun? Senjata! Ternyata manusia belum bisa mengendalikan barang itu. Seolah jika manusia sudah memegangnya, maka semua yang baik tak berarti. Sifat dasar membunuhnya muncul. Satu sifat yang dipertanyakan oleh malaikat ketika penciptaannya.
Aku mesti ikut membunuh. Kupersiapkan alat apapun yang kupunya untuk berlatih. Di depan sana, sebagian besar masih berdiri tegak memegang senjata dan sebagian kecilnya telah tumbang terjerembab di tanah. Seorang yang berdiri lebih tinggi dari yang lain – mungkin seorang panglima perang– menyatakan bahwa dirinya tak membutuhkan orang-orang yang lemah! Dia membutuhkan orang-orang yang kuat terkena bazooka sekalipun! Mendengar itu, aku mundur kembali ke tempat semula. Dalam pikiranku, perang berarti dilakukan bersama-sama yang hanya sekedar menimbulkan darah di tubuh musuh. Tak ada kemungkinan untuk kehilangan nyawa sendiri. Namun, aku baru berpikir pula bahwa perang berarti saling berbalas. Ada yang dibunuh, pastilah ada yang terbunuh.
Kudengar suara kicauan burung yang khawatir terbang di langit sana. Pembidik mengarahkan senjata ke arahnya. Dar! Satu tembakan dan burung itu pun jatuh ke tanah. Kekhawatiran yang sesaat saja dirasakannya seolah berarti juga pembenaran akan terjadinya sesuatu terhadapnya. Pembidik memakan bangkai itu tanpa digoreng atau dibakar. Kelaparan memang menjadi kebiasaan disaat keadaan sebelum perang seperti ini. Ketika semua harta dan kekayaan dijual demi senjata dan peluru. Semua berpikir bahwa kemenangan lebih penting daripada perut yang kosong. Tapi, nyatanya kelaparan juga penting. Sepanjang penglihatan tampak orang-orang berebut memakan bangkai hewan atau manusia sekalipun. Semua yang berpikir tampak tidak pernah berpikir.
Yang paling bersemangat dalam perang adalah si miskin. Walaupun hanya bersenjatakan pisau dan tombak, mereka berlatih tanpa takut mati. Kudengar di media massa, mereka berperang dengan tujuan untuk meruntuhkan dominasi si kaya, tidak berkepentingan membela wilayah atau apapun. Mereka ingin mencapai kesamarataan manusia. Semuanya mesti dimulai lagi dari awal, karena kesenjangan sekarang ini telah begitu menyengsarakan. Yang bermodal terlalu bebas melahap semua yang tersedia. Mereka telah lelah ditipu dengan dijadikan bawahan. Maka, dengan pernyataan mereka itu media massa beranggapan bahwa perang kali ini akan sangat menarik untuk diliput, karena akan banyak orang dengan macam-macam kepentingan yang terlibat. Selanjutnya, kudengar lagi dari kabar angin bahwa media massa yang meliput pernyataan di miskin itupun akhirnya kantornya dibakar karena si miskin beranggapan media massa pun tempat berkumpulnya si kaya.
Perang dengan berbagai kepentingan pun berlangsung. Suara ledakan terdengar di semua penjuru. Aku berlindung di samping sebuah lemari yang telah rapuh. Teriakan-teriakan bayi dan wanita terdengar beberapakali juga. Panglima perang menyerukan “Bunuh! Bunuh musuhmu!”. Aku pun tersentak dan berjalan menuju depan menatap langit dan pohon yang masih juga diam. Kuharap pembalasan segera mereka lakukan sekarang, ketika keadaan manusia sedang goyah seperti ini.
Langit mendung, suara pohon tumbang. Semua orang menengadah ke langit dan menunjukkan wajah kebingungan. Hujan pun turun disertai petir. Beberapa orang tersambar petir dan tertimpa pohon yang tumbang. Perang dihentikan sejenak untuk memahami apa yang sedang terjadi di luar mereka. Ketika itu, panglima perang tampak menangis dan ia berkata,”Yang kuasa sedang mengamuk! Ada yang lebih kuasa!”. Dan senjata-senjata yang baru sesaat saja digunakan itu terlepas dari genggaman. Semua orang melihat dan merenungi keadaan yang telah porak-poranda.
Mayat-mayat dikesampingkan. Perang diputuskan untuk dihentikan. Semua orang digerayangi ketakutan yang sangat dahsyat. Mereka baru saja lupa atas kekuatan yang lebih besar, yang dipercayainya sejak beribu-ribu tahun lampau. Senyuman pun kembali tampak menghiasi wajah tiap orang. Keadaan yang sempat porak-poranda mulai di tata-ulang kembali. Tema “Revolusi” menghiasi pula di berbagai media massa. Orang-orang mulai menata kembali yang sempat hilang.
Tapi kehidupan yang mulai ditata itu tidak dibarengi dengan kemunculan kembali pepohonan dan sinar matahari. Mereka seolah tidak mau lagi singgah di bumi. Semua orang merindukan mereka, sumber kehidupan. Tapi tak pernah ada tanda-tanda kemunculannya puluhan tahun mendatang. Manusia hidup dalam kegelapan. Ribuan manusia telah mati dan pembalasan masih juga berlangsung.
Kita memang akan saling membunuh suatu hari nanti, tapi itu bisa diubah. Jangan membunuh, lekaslah kembali pada pangkuan alam. Pada akhirnya, yang menjadi pemenang adalah mereka yang terbiasa dengan kelaparan, keheningan, dan berdiskusi pada jiwa…

Kamis, 11 Juni 2015

Percikan Tulisan Roy Voragen mengenai Nietzsche


Oleh: Aldo Fernando Nasir, kader LPPMD Unpad

“Semua evaluasi dibentuk dari suatu perspektif tertentu...”
                                                                  —Nietzsche
“Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya”
—Nietzsche                   

                           
Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)

Tulisan pendek ini barangkali hanya akan menjadi semacam tulisan “parasit”—atau meminjam bahasa biologi, tulisan-“parasit obligat”, i.e. ia hanya bisa “hidup” dalam sebuah tulisan yang “hidup”—untuk essay milik Mr. Roy Voragen[1], Art of Living as a Tragic Fate: An autobigraphical reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo, yang dipublikasikan di Jurnal Melintas Universitas Katolik Parahyangan edisi 25.3.2009 (hlm. 313-338).
Di dalam tulisan ini saya hanya akan mencoba menyoroti sejumlah titik “pinggiran” yang ada di dalam tulisan Mr. Roy karena keterbatasan waktu dan tempat (serta karena tulisan ini barangkali—mengulangi kalimat di muka—hanya akan menjadi tulisan parasit).[2]
***
Roy Voragen mengawali tulisannya dengan menyatakan sejumlah motif dan pertanyaan dasar mengapa ia menulis sebuah tulisan mengenai Nietzsche (1844-1900). Ia menulis, di dalam kalimat awal, bahwa ia ingin memaknai kembali setiap pembacaan (personal) dan pengajarannya mengenai Nietzsche (di masa ketika ia menulis essai tersebut) dengan jalan menulis essai mengenai pembacaan personalnya atas Ecce Homo[3] milik Nietzsche—dan ia mengaku bahwa ia telah sekitar satu dekade (dan akan terus berlanjut) membaca, menulis, berpikir mengenai (dan bersama) Nietzsche.[4]
Baik, langsung to the point.
Tulisan sebagai pergulatan personal. Bagi Roy, Nietzsche merupakan seorang filsuf yang mengedepankan tulisan sebagai suatu usaha personal (Voragen, 2009: 313). Dengan jalan menulis dan membaca seseorang akan mampu terus bergerak mengatasi dirinya, menciptakan sejumput makna baru. Menulis merupakan kekuatan personal dalam diri sang aku yang harus dimaksimalkan dengan keutuhan kehendak. Barangkali, ini adalah salah satu hal yang menginspirasi Roy dalam setiap pergulatannya bersama Nietzsche.
Gadis asal Dresden dan pertemuan pertama dengan “Nietzsche”. Roy mengaku bahwa ia pertama kali berkenalan dengan pemikiran Nietzsche sewaktu ia bertemu dengan seorang gadis asal Dresden di Israel. Namun, oleh karena ia tidak familiar—dan tidak memiliki resonansi pemikiran—dengan Nietzsche waktu itu, ia merasa sulit untuk memahami Nietzsche.
Nietzsche: sebuah multitafsir. Nietzsche merupakan pemikir yang unik, idosinkratik, dan cerdas. Ia adalah seorang nabi kesepian yang mau “memekakkan telinga” orang-orang di zamannya, zaman modern. Ia menulis dengan gaya bahasa yang indah, kritik-kritik tajam, penuh paradoks, penuh olok-olok sekaligus penuh kesucian. Karya-karyanya mulai dari The Birth of Tragedy sampai The Will to Power merupakan bentuk pengejewantahan-diri; rangkaian karya seni yang mencoba memaknai hidup secara “Ya”—kumpulan saripati pemikiran yang kaya akan pengalaman hidup yang sepi, gelap dan mengerikan. Dengan gaya menulis yang non-akademis—penuh aforisme yang indah dan putik—seperti yang tertuang di dalam sejumlah besar karya-karyanya membawa Nietzsche menjadi sebuah multitafsir: Ia menginspirasi Michel Foucault (seorang pemikir Perancis yang sering dilabeli poststrukturalis. Foucault mengaku menimba gagasan genealogi milik Nietzsche yang ia gunakan di sejumlah karya besarnya), Gilles Deleuze (seorang poststrukturalis Perancis. Deleuze merupakan sahabat Michel Foucault. Deleuze merupakan salah seorang pemikir garis Nietzschean yang jenius dan dahsyat. Ia menulis buku bagus mengenai Nietzsche, Nietzsche and Philosophy [1962]), Jacques Derrida (seorang pemikir Perancis yang mahsyur dengan dekonstruksi dan diffĂ©rance-nya), Gianni Vattimo (seorang pemikir postmo Italia), Richard Rorty (neo-pragmatis Amerika), eksistensialis (Albert Camus—sang penulis The Stranger, Sampar—dan Jean-Paul Sartre, salah seorang guru filsuf kontemporer Prancis; penulis traktat Being and Nothingness, Nausea), bahkan tulisannya menghasilkan tafsiran “salah kaprah” seperti yang dilakukan NAZI—dan dibantu oleh Elisabeth Forster, saudara perempuan Nietzsche.
Pengalaman sakit sebagai bentuk pemaknaan-diri bersama Nietzsche. Roy bercerita mengenai pengalaman pahitnya ketika di Amsterdam, Belanda. Ia menulis bahwa ia pernah dihajar tanpa alasan hingga menyebabkan ia cedera raham bawah, yang membuatnya harus mengerang kesakitan, berdiet dan beristirahat sejenak dari aktivitas akademis selama beberapa waktu. Pengalaman itu membuatnya dihantu kecemasan dan ketakutan. Ia kemudian menulis lusinan puisi untuk memaknai angst-nya itu. Ia mencoba memahami gagasan Nietzsche mengenai penguasaan-diri (self-mastery), belas-kasihan (pity), amor fati (cintailah nasib!), kehendak untuk berkuasa (will to power), kekembalian yang sama secara abadi (the eternal recurrence of the same). Dan lalu ia menulis, “Pity is a form of appropriation.  It is lack of self-sufficiency to need suffering of others. According Nietzsche, it is a virtue to overcome pity. So why did I need pity? Clearly a lack of self-mastery” (Ibid., 2009: 321).
Ketidakpastian Ontologis. Nietzsche adalah seorang filsuf yang mewanti-wanti orang untuk menyadari bahwa ketidakpastian ontologis dapat menyebabkan kecemasan eksistensial bahkan sejenis kekerasan tertentu. Karenanya, kita harus melibatkan-diri, demikian Roy menafsirkan gagasan Nietzsche, ke dalam “kontingensi, pertentangan, indeterminasi, inkonsistensi, inkoherensi, ketidakharmonisan, ambivalensi, heterogenitas, kejamakan, opasitas, paradoks, risiko,  dan ketidakpastian” (Ibid., 2009: 316). 
Kritik atas Plato(n). “Plato itu pengecut di hadapan realitas, karenanya ia melarikan diri menuju yang-ideal...”Demikian kata Nietzsche ketika ia mengkritik Plato(n) yang ia anggap sebagai sang pendamba stabilitas-pejal, kebenaran-akhir, ketepatan, kejernihan dari segala hal! Plato tidak berani menghadapi realitas yang sungguh chaos (kacau), kata Nietzsche. Realitas yang kaotik di-kosmos-kan oleh manusia, yang mengintervensi dan menata realitas chaos lewat konsep-konsep pemikiran yang manusia punyai. Konsep, bagi Nietzsche, adalah upaya mengidentikkan sesuatu yang tidak identik. Semacam suatu pemaksaan (forcing, kalau meminjam istilah Alain Badiou sebagaimana yang dielaborasi oleh Bung Martin Suryajaya lewat bukunya, 2011) ke dalam realitas.
Kritik atas Kant.. Kant berpikir bahwa kita bisa sadar akan semua intensi dan insting kita, karenanya Kant memiliki suatu pandangan yang mengafirmasi kehendak bebas (free will). Nietzsche mengkritik pandangan Kantian itu. Menurut Nietzsche kita tidak bisa memisahkan antara pemikiran rasional dengan insting dan hasrat di dalam dunia yang sensibel. Drive kita mewujud ke dalam bentuk kehendak kuasa (will to power) di dalam kehadiran dunia di sini dan sekarang, bukan dunia yang penuh dengan malaikat dan Tuhan berjenggot yang keberadaannya entah di mana.
Zarathustra pun bersabda: “Aku mohon kepada kau, saudara-saudaraku, tetaplah setia kepada bumi dan janganlah percaya kepada mereka yang bicara padamu mengenai harapan-harapan di luar bumi! Mereka itulah pencampur racun, sengaja atau tidak sengaja.”
Katakan “Ya” pada hidup! Menurut pandangan Roy, Nietzsche mengajarkan kepada kita untuk mengafirmasi hidup, untuk mengatakan “ya!” di hadapan gejolak kehidupan. Nietzsche mengajak kita untuk mencintai nasib kita—“amor fati!” kata Nietzsche—dengan apa adanya (tetapi tidak pasif di hadapan nasib—atau fatalistik—melainkan bersikap aktif dengan mengubahnya secara penuh kewaspadaan dan penuh “ya”; berani mencipta dan mentransfigurasi pelbagai  hal di dalam realitas); untuk menari dengan aktif di tepi jurang tak berdasar. Nietzsche mau kita menerima apa yang datang di hadapan kita secara polos dan waspada sehingga kita dapat mengenali secara jernih dan penuh keingintahuan apa yang hadir sebagai realitas di depan kita (saya dalam hal ini sedang mengafirmasi tafsiran Romo Setyo [Dr. A. Setyo Wibowo] atas Nietzsche di dalam karyanya yang sangat bernas, Gaya Filsafat Nietzsche [2004]). Roy menulis bahwa “aku menjadi aku sebagaimana adanya” (subjudul Ecce Homo) bukan berarti aku yang selalu mengupayakan sejumlah hal baik, dan yang menendang apa saja yang buruk, yang lemah—atau meminjam bahasa Nietzsche—yang dekaden, akan tetapi aku yang menerima secara afirmatif segala hal yang menghampar di “wajah”-ku: kebaikan, kejahatan, dosa, kesalahan, keburukan, penderitaan, kenikmatan, kejayaan, kesenangan, kegagalan, kesakitan. Nietzsche juga menginginkan kita menerima tragedi dengan mengucap “Ya”—Nietzsche mengatakan bahwa tragedi sebagai salah satu bagian seni kehidupan yang tak bisa dinafikan begitu saja. Saya kutip kalimat milik Roy: “We should, according to Nietzsche, devote ourselves to tragedy, because it teaches us the art of living through affirming all aspects of life, including our suffering” (Ibid., hlm. 322).
Menurut Roy, amor fati milik Nietzsche merupakan sebuah afirmasi tak-bersyarat di hadapan realitas. Dengan demikian, kita dituntut untuk tidak mengutuki realitas secara terburu-buru dan penuh kelemahan kehendak. Singkatnya, kita harus mencipta secara aktif, penuh kemenjadian, untuk menghadapi realitas yang chaos. To create is our fate,” demikian tulis Roy.
                                                                          ***


[1] Roy Voragen adalah seorang dosen filsafat di Universitas Katolik Parahyangan. Ia adalah seorang berdarah Belanda yang pindah ke Indonesia, tepatnya di Bandung—ia menjelaskan mengenai alasan kepindahannya ke Bandung dalam beberapa baris kata di dalam tulisannya yang akan saya coba sedot pada kesempatan kali ini. Roy menulis: “If the painter R.E. Hartanto would not have been my neighbor in Amsterdam, I would not have moved to Bandung. My fate, my lucky fate.” Lih. Roy Voragen. 2009. Art of Living as a Tragic Fate: An autobigraphical reading of Friedrich Nietzsche’s Ecce Homo. Jurnal Melintas edisi 25.3.2009. Hlm. 322.
[2] Dan, untuk sedikit menegaskan, oleh karena Nietzsche telah mengajarkan kita mengenai perspektivisme, saya pun berpikir bahwa tulisan ini hanyalah sebuah perspektif terbatas atas jalinan tulisan yang lain, dalam hal ini tulisan Mr. Roy.
[3] Ecce Homo (Lihatlah Manusia) merupakan sebuah karya  autobiografis milik Nietzsche yang indah, narsistik, dan cerdas—atau meminjam bahasa Roy—, sebuah  self-proclamation” dari Nietzsche. Ecce Homo ditulis oleh Nietzsche pada tahun 1888 dan diterbitkan setelah kematiannya pada 1908. Ecce Homo berisi sejumlah penafsiran Nietzsche terhadap perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. Lih. Walter Kaufmann, “Editor's Introduction” in Ecce Homo, in Friedrich Nietzsche. 1989. On The Genealogy of Morals and Ecce Homo (edited and translated by W. Kaufmann and R.J. Hollingdale; and with commentary by  W. Kaufmann). New York: Vintage Books. Pages 201.
[4]For a decade or so I have struggled with Nietzsche; I read his books, I wrote essays and I taught on Nietzsche.” Lih. Ibid., hlm. 313-4.