LPPMD Unpad

Kamis, 24 September 2015

Demos Pasca-Orde Baru (Percikan Refleksi)


Oleh: Aldo Fernando Nasir, Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian, kader LPPMD Unpad

Tulisan pendek ini berangkat dari hasil pembacaan penulis terhadap karya Pak “Franky” Budi Hardiman, Dalam Moncong Oligarki (2013)[1]—terutama pada bagian prolog (hlm. 7-10). Di dalam kesempatan ini, penulis mencoba mengajak kawan-kawan untuk merefleksikan kembali posisi dan peran demos pasca-Orde Baru (dan pasca-reformasi).
Sebagaimana kita ketahui, Orde Baru (Orba) yang dipimpin oleh Suharto (yang naik ke tampuk kekuasaan setelah Sukarno lengser akibat peristiwa Gerakan 30 September 1965) telah menguasai pemerintahan Republik Indonesia dalam rentang masa 32 tahun (1966-1998). Di era kepemimpinannya Suharto berupaya untuk membuat dirinya diakui dan dihormati sebagai  seorang “Bapak Tunggal” di hadapan para rakyatnya (demos). Suharto berupaya menjadi pusat dari “totalitas organis” yang disebut “rakyat” (lih. Hardiman, 2013: 8-9).
Konsep negara yang diupayakan oleh rezim Orde Baru ini  menjelma dalam bentuk negara yang bersifat kekeluargaan[2], yang mana—mengulang istilah di atas—Suharto menjadi seorang “Bapak Tunggal”, seorang kepala keluarga dari keluarga yang begitu besar dan jamak. Rakyat Indonesia harus menaati sejumlah perintah, wejangan, dan larangan yang dikeluarkan oleh sang “Bapak Tunggal”, Suharto. Apabila rakyat berani melawan dan menghujat sang Bapak, niscaya rakyat, sebagai anak-yang-jamak, akan mendapatkan sejumlah hukuman (yang bisa saja setara ataupun tidak). Pokoknya, rakyat harus menuruti sang kepala keluarga, Suharto.
Rakyat di era Orde Baru tidaklah mendapat ruang kebebasan yang cukup untuk sekadar, misalnya, meluapkan segala uneg-unegnya untuk pemerintah. Pemerintahan Suharto di Orde Baru berhasil mereduksi kompleksitas realitas yang diisi oleh demos yang jamak ke dalam sebuah sistem politik tunggal—sistem otokrasi—yang berpusat di presiden[3]. Rezim Orde Baru benar-benar melakukan sensor dan represi terhadap setiap wacana dan aksi perlawanan dari rakyat, sehingga rakyat seolah-olah diberi peringatan untuk tidak usah mengeluarkan banyak energi untuk cuap-cuap menentang ketidakberesan jalannya politik. Rakyat cukup diam, duduk, mendengarkan, dan menuruti sang “Bapak Tunggal”.
Kita dapat menganalogikan rezim Orde Baru dengan bagian tubuh manusia. Rakyat sebagai tubuh dan Suharto (yang dibantu oleh para menterinya) sebagai satu set organ. Tanpa kinerja organ, tubuh tidak akan mampu beraktivitas, tak akan produktif. Dan juga sebaliknya, organ tanpa tubuh tidak akan pernah mampu melaksanakan tugasnya, karena organ membutuhkan tubuh sebagai media untuk melakukan kerja sebagaimana mestinya. Antara tubuh dan organ harus terjadi sebuah simbiosis mutualisme, suatu gerak timbal-balik yang saling memengaruhi satu sama lain.
Akan tetapi, sang tubuh (yakni, demos) terlalu dikendalikan oleh sang organ sedemikian rupa sehingga pada akhirnya sang tubuh harus tunduk di hadapan sang organ. Sang organ Orde Baru seolah-olah ingin menahbiskan dirinya di atas sang tubuh (demos). Sang organ sadar akan kontribusinya terhadap tubuh dan kemudian memaksa tubuh untuk mengakui kekuasannya atas tubuh itu sendiri.
Apakah kekuasaan organ atas tubuh akan terjadi selamanya? Tidak. Sejarah mencatat bahwa akhirnya sang organ Orde Baru pun ditumpas oleh sang tubuh, yakni para aktivis ’98. Suharto (sebagai sang pusat organ) digulingkan oleh para mahasiswa dan tokoh reformis di tahun 1998, yang kemudian menandai berakhirnya rezim Orde Baru.
Kekuasaan sang organ yang mendominasi sang tubuh pun akhirnya dilumpuhkan untuk kemudian dikurangi daya otoriternya. Semenjak pasca-Orde Baru, sang tubuh—yakni, rakyat—memiliki kebebasannya sendiri untuk mengisi hidupnya secara lebih kreatif ketimbang di era kepemimpinan Suharto, sang organ-otoriter.


Sang Tubuh yang Kekurangan Organ Otoriter
Dengan tidak adanya suatu organ yang menjadi “raja” otoriter di atas sang tubuh—akibat peristiwa 1998—, tentu sang tubuh tidak bisa lagi mengharapkan sebuah organ yang dapat memerintah, melarang, mengawasi sang tubuh secara satu arah. Saat ini, sang tubuh harus berani mengisi hidupnya, mengisi kebebasannya, tanpa terlalu mendasarkan diri pada sang organ.
Inilah kondisi demos pasca-Orde Baru. Demos yang harus lebih berani mengisi kebebasannya. Demos yang tanpa pusat; demos yang tanpa sang organ otoriter; anak-anak yang tanpa “Bapak Tunggal”, karena sekarang terdapat banyak bapak (dan juga ibu) yang kekuasannya sudah terbagi-bagi, kekuasaannya sudah dikebiri secara sah yang diatur dalam undang-undang dan hukum, sehingga para anak harus berjuang lebih keras demi kehidupannya. Inilah yang disebut demokrasi (demos: rakyat, kratein: memerintah) pasca-Suharto: sebuah demokrasi yang niscaya tidak mengizinkan presiden memiliki kekuasaan otoriter terhadap rakyat (demos).
Tantangan demos di era pasca-reformasi (pasca-Suharto): demos harus berbagi peran dan posisi dengan jalan: sejumlah kecil demos harus menjadi organ baru, sebagai pengganti sang organ otoriter era Orde Baru, yang mampu menyeimbangkan diri dengan sang tubuh yang besar (demos yang lebih besar).
Namun, dalam perjalanannya, demokrasi yang dijalankan oleh demos (Pemilu 2004-2014)  ini diwarnai sejumlah ketimpangan, sejumlah intrik-intrik busuk. 
1.      Demos-yang-besar[4] terjebak dalam sistem demokrasi elektoral; sehingga
2.      Demos-yang-besar cenderung hanya menjadi para voters (para pemberi suara).
3.      Kehendak dan daya politik Demos-yang-besar seringkali dikendalikan oleh segelintir demos-yang-kecil (jika masih boleh dikatakan sebagai demos), yakni para oligark-oligark[5] politik, yang membujuk Demos-yang-besar, sebagai voters, untuk mau memberikan hak suara (sebagai condition sine qua non bagi demokrasi elektoral), kehendak, dan kepercayaan politiknya kepada mereka—agar mereka naik di tampuk kekuasaan yang—walau tak otoriter seperti era Suharto—menjanjikan kepada mereka keuntungan-keuntungan yang berlimpah, baik dalam hal material maupun yang menyangkut harga diri.
                                 
Lantas, apa yang perlu dipahami dan dilakukan oleh Demos-yang-besar? Sebagai penutup tulisan ringkas ini—penulis mengharapkan tanggapan dari kawan-kawan—penulis menawarkan sejumlah gagasan awal bagi kita bersama:
1.      Kita perlu mengupayakan diri untuk berjuang membela hak Demos-yang-besar untuk benar-benar memiliki kedaulatan untuk memerintah (dalam pengertian bahwa Demos-yang-besar harus ikut serta dalam kegiatan politik negara, misalnya, ikut memengaruhi pembuatan kebijakan dengan jalan mengadakan diskusi-diskusi di ruang publik [public sphere] yang memberikan efek politik yang besar dalam memengaruhi kinerja pemerintah; mengajak pemerintah untuk menghargai hasil diskusi ruang publik untuk dapat dipertimbangkan dalam setiap gagasan pemerintah).
2.      Kita perlu selalu menegaskan bahwa kita bukan sekadar voters dalam demokrasi! Kita adalah sumberdaya demokrasi yang harus menjadi penggerak demokrasi.
3.      Kita bersama-sama dengan KPK dan para LSM yang bergerak dalam bidang anti-korupsi harus terus berupaya untuk membabat habis para koruptor dan menekan pergerakan para oligark politik yang dapat melumpuhkan kekuatan Demos-yang-besar (rakyat mayoritas) agar demokrasi di Indonesia terus menuju arah yang lebih baik.

“Berpikir berarti menciptakan” (To think is to create)
—Gilles Deleuze
“Orang-orang menuntut kebebasan berbicara sebagai kompensasi atas kebebasan berpikir yang jarang mereka gunakan”
(People demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use)
—Søren Kierkegaard


                                                                   ****          


[1] F. Budi Hardiman, Dalam Moncong Oligarki: Skandal Demokrasi di Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2013).
[2] Ibid., hlm. 9.                                              
[3] Ibid., hlm. 79.
[4] Saya memberikan istilah Demos-yang-besar untuk membedakannya dengan para demos-yang-kecil, seperti presiden, para menteri, para anggota MD3 (MPR, DPR, DPD, dan DPRD), para pejabat negara, maupun para oligark-politik.
[5] Oligark adalah aktor yang berperan dalam sistem pemerintahan politik, yang disebut oleh Aristoteles dengan, oligarki. Oligarki, bagi Aristoteles, merupakan “pemerintahan demi keuntungan orang-orang kaya”; atau merupakan pemerintahan yang dilakukan oleh segelintir orang—terhadap banyak orang—semata-mata demi keuntungan beberapa orang itu Lih. Hardiman, op. cit, hlm. 10.
Kamis, September 24, 2015

Tentang Perempuan

by
Tentang Perempuan


 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad 2012, kader LPPMD Unpad

Jika sudah begini, apalagi yang mesti dilakukan? Menghindar terlalu sayang, diterima pun memalukan. Laki-laki memang bajingan. Mestinya aku berkaca pada sahabatku Mila, yang sebulan lalu melahirkan anak pertamanya tanpa kehadiran orang yang mengeluarkan sperma di rahimnya. Ia begitu menderita, bahkan hampir saja mengguguri kandungannya. Jika bukan karena ayahnya yang tabah, mungkin ia telah melakukan itu. Ayahnya begitu tabah, padahal anak yang dijaga susah-payah olehnya telah dibunuh perlahan. Ayahnya telah ditipu oleh gemerincing harta dan wajah yang benar-benar tampak bertanggung-jawab. Laki-laki memang berganti wajah setiap hari, bahkan mungkin juga setiap detik.
Tapi ayahku tidaklah begitu. Ia begitu marah mendengar adanya manusia yang mulai bersarang di rahimku. Ia pun tak mengenali siapa laki-laki yang telah melakukannya. Aku memang tak pernah mengajaknya untuk mampir ke rumah. Seringkali kami berduaan saja di tempat sepi sambil berpegangan tangan atau yang lainnya. Ia pun sering mengucapkan janji untuk bertanggung-jawab. Aku menuruti saja dan terlena karenanya. Perempuan, begitu malang nasibmu! Jika sempat memilih kembali akan dilahirkan menjadi apa, aku ingin menjadi laki-laki. Bisa kemana pun, melakukan apapun, dan sampai kapan pun. Tak ada omongan darimana-mana. Tapi perempuan? Hanya bisa tabah menerima cacian darimana-mana jika melakukan semua itu.
Ibuku telah seharian menangis di kamarnya. Walau sesekali keluar untuk sekadar mengucapkan bahwa ia akan selalu menyayangiku dan membantuku hingga masalahku selesai. Suaranya begitu lirih ketika berucap tentang itu, tapi dari suara itu pula aku mengetahui kalau ia begitu ikhlas. Mendengarnya aku menangis juga sambil menciumi tangannya yang telah keriput. Aku telah menghancurkan kedua orangtuaku di masa tua yang mestinya mereka nikmati. Salahku, salahku. Seorang anak memang tidak akan luput dari kesalahan pada orangtuanya, tapi adakah yang lebih besar daripada kesalahanku ini? Mengandung tanpa ada yang bertanggung-jawab?
Aku mempercayai Tuhan. Dia maha pemberi jalan keluar, juga pemberi ampunan pada umatnya yang menyalahi aturan. Berkali-kali aku berdoa dengan setulus-tulusnya, tapi bagaimana rasanya ketulusan itu? Air mata yang keluar, mungkin itu juga berarti ketulusan. Berkali-kali, tiada henti sepanjang malam. Banyak orang bilang, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk berdoa, karena di waktu itulah manusia bisa benar-benar fokus menghadap Tuhan-nya. Dia tak pernah tertidur. Selalu sedia dimintai pertolongan. Namun, jawaban tentang tindakan yang mesti kulakukan tak juga muncul. Tak ada tanda apapun. Bagaimana jugalah aku mesti meminta jawaban dari Tuhan yang tidak tampak dan hanya terasa? Lakukan! Lakukan! Apapun yang akan kulakukan mungkin juga telah direstui oleh-Nya tanpa mesti kuketahui.
Telah tiga bulan dan mulai tampak perubahan dari perawakanku. Berkali-kali ketika kulintasi jalan dekat jembatan gantung, orang yang berpapasan denganku berbisik-bisik. Mungkin mereka berbisik tentang perubahan itu. Semula perawakanku dianggap ideal, tapi kini mungkin dianggap menjijikan. Berkali-kali kudengar, hingga akhirnya memandangku pun mereka enggan. Mungkin kabar tentang penyebab perubahan itu telah tersiar kemana-mana, sehingga membuatku sungkan untuk sekadar menginjakkan kaki di halaman rumah. Adakah juga rasa malu yang melebihi ini? Sementara orang yang telah mengeluarkan sperma ke dalam rahimku takkan pernah merasakannya. Justru ia mendapati kehormatan dari orang-orang, karena telah berhasil kabur setelah mengeluarkan sperma di rahim perempuan. Betapa tak adil!
Telah tiga bulan dan aku kembali merindukan masa kanak-kanakku. Ketika aku melihat senyum di setiap wajah saat aku bertingkah. Cantik, pintar, dan lincah, begitulah penilaian terhadapku. Orangtuaku tersenyum bangga, karena semua orang berharap keturunannya sepertiku. Tapi rasa rindu itu perlahan berganti dengan suara jeritanku yang memohon untuk dibebaskan dari rasa sakit karena dekapan laki-laki bersama nafsunya. Cahaya yang sempat muncul, menjadi kegelapan kembali. Masa kanak-kanak begitu menyenangkan. Bagaimanakah caraku untuk mengulangi masa itu? Waktu terus berjalan, matahari terbit dan tenggelam. Ada kebahagiaan dan penderitaan. Tapi adakah penderitaan yang lebih berat daripada apa yang kurasakan saat ini? Kebahagiaan sirna oleh satu peristiwa dan digantikan oleh penderitaan yang mungkin akan selamanya.
Telah tiga bulan dan suatu hari aku bertemu dengan Santi untuk mendengar keluhannya. Saat berjumpa, wajahnya kulihat begitu mirip dengan wajahku sewaktu  berkaca tadi. Wajah yang bimbang untuk beranjak ke detik selanjutnya. Ketika kutanya tentang keluhannya, ia mulai berbicara perlahan sambil sesekali mengusapi air mata yang turun membasahi lesung pipinya yang manis. Masa kanak-kanak kita yang menyenangkan telah berganti menjadi penderitaan, begitulah kalimat pertama yang diucapkan olehnya.
Santi bercerita, bulan lalu sepulang sekolah ia dititah oleh ayahnya berpakaian selayak mungkin untuk bertemu dengan majikan di tempat kerjanya. Ayahnya berpendidikan rendah, sehingga kerjanya pun hanyalah sebagai kuli bangunan yang gajinya tidak seberapa, tapi kerjanya begitu melelahkan. Santi menuruti saja titah ayahnya dan didandani oleh ibunya selayak-layaknya. Meskipun ada pertanyaan juga di dalam hatinya, mengapa mesti berpakaian tidak seperti biasanya untuk menghadap majikan ayah? Padahal, sehari-hari selesai sekolah, ia sering manghantarkan keperluan ayahnya dan dititipkan pada majikannya itu. Saat menghantarkan, ia berpakaian apa adanya saja tanpa mematut diri terlebih dahulu.
Ia pun pergi menuju ke rumah majikan ayahnya menggunakan sebuah mobil sewaan. Santi duduk bersama ibunya di kursi depan bersama supir, sementara ayahnya duduk di belakang. Sepanjang jalan, tak henti-henti ibunya mengelus-ngelus bahunya sambil berkata jangan pernah melupakannya. Ia tentu heran melihat sikap ibunya yang tidak seperti biasanya. Seolah-olah ia akan berpisah dengan ibunya dalam waktu yang lama.
Halaman depan rumah majikan ayahnya tampak begitu megah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berjejer teratur di samping kanan dan kiri. Kolam besar berada di tengahnya yang didalamnya terdapat ikan berwarna-warni, sehingga menambah elok pemandangan di rumah tersebut. Belum lagi cat putih yang nyaris tanpa cacat dan ukiran yang meliuk-liuk membentuk estetika seni tak terbantahkan. Begitu megah dan berbeda dengan rumahnya yang tidak memiliki halaman dan cat yang telah mengelupas di banyak bagian. Ia begitu ingin memiliki rumah seperti ini, tapi kapan?
Di depan pintu telah menanti majikan ayahnya yang duduk di kursi malas sambil membaca koran. Ketika melihat ia datang, ia segera bangkit dan menyambutnya. Tidak seperti biasanya sambutan itu. Gerak-geriknya terasa seperti hewan buas yang kelaparan dan membutuhkan mangsa sesegera mungkin. Santi dibuat bergidik karenanya, tapi senyuman yang terkadang dilontarkan olehnya bisa menenangkannya sesaat.
Ayahnya lekas bercakap-cakap dengan majikannya itu sambil sesekali menoleh ke arah Santi. Ia semakin dibuat kebingungan oleh tingkah mereka. Sementara ibunya masih juga mengelus-ngelus bahunya. Hari mulai sore ketika itu, burung-burung mulai lalu-lalang untuk kembali ke sarangnya. Dan ketika itu pulalah kebingungan yang dirasai olehnya digantikan oleh ketakutan! Ayahnya berkata:
                                                      
“Begini Santi, ayah hendak menikahkan kamu dengan majikan ayah. Kira-kira sebulan ke depan pernikahan tersebut akan dilangsungkan. Kamu mesti menerima, tidak bisa menolak. Mengenai sekolahmu, silahkan dibicarakan nanti dengan majikan ayah. Apabila dikehendaki, kamu boleh melanjutkannya, tapi apabila tidak maka terpaksa kamu mesti berhenti.”

Menikah!? Semudah dan secepat itu? Tanpa ada pilihan untuk menerima atau menolak pula! Percakapan di antara aku dan Santi diselesaikan oleh perkataan ayahnya itu, sebab Santi tak ingin bercerita lebih jauh lagi. Minggu depan, tepat sebulan setelah kejadian dan pernikahan akan dilangsungkan. Santi akan dijadikan istri kedua. Baru sekali ia bertemu dengan istri sebelumnya dan tampaknya ia tak rela. Tatapan sinis dan suara yang ketus begitu melukai hatinya. Sesama perempuan ditakdirkan untuk saling menyakiti, disebabkan oleh gemerincing harta yang dimiliki oleh laki-laki. Apakah gunanya pendidikan jika hanya memberi ilmu pengetahuan dan tidak memberi keberanian untuk menolak? Apakah guna ibu dan ayah yang susah-payah membesarkan jika pada akhirnya membuat anaknya menjadi pelacur? Ditukar oleh gemerincing harta?
Telah empat bulan dan aku membaca buku-buku mengenai gerakan feminisme di berbagai tempat. Sebuah gerakan yang dimaksudkan untuk menyetarakan hak di antara laki-laki dan perempuan. Gerakan ditujukan ke dalam berbagai elemen, tapi yang paling menarik perhatianku adalah gerakan feminisme radikal, yang menganggap budaya patriarki sebagai sumber kesalahan. Kesenjangan dimulai oleh budaya yang telah diciptakan berjuta-juta tahun lalu, entah disengaja atau tidak. Adam dan Hawa mungkin orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang bagaimana proses memulainya, hingga dapat bertahan selama berjuta-juta tahun mendatang, sekaligus juga ditanyai tentang bagaimana cara untuk menghentikannya. Telah terlalu banyak korban. Lihat saja, jika ada permasalahan di antara laki-laki dan perempuan, siapa yang lebih sering bermandikan darah?
Bulan yang sama. Aku berpikir untuk menggugurkan kandunganku. Tapi ibu menolak dengan alasan telah terlanjur menjalani dan sesaat lagi akan berakhir. Menurutku tidak, karena kelahiran nantinya adalah permulaan dari penderitaan. Ibu mungkin takkan terlalu menderita. Aku, akulah yang akan menderita! Biarlah aku dan anakku bertemu di tempat lain. Aku dan Santi memilih untuk mati. Menyerah, keadaan telah memaksaku dan Santi untuk menyerah.
Kamis, September 24, 2015

KEBENARAN?

by
KEBENARAN?


 Oleh: Rachmadi Rasyad, mahasiswa Sastra Indonesia 2012, kader LPPMD Unpad

Dia tertidur lelap kemarin malam. Baru saat senja datang dia terbangun. Kali ini, ketika matanya terbuka semua tampak berbeda. Lebih cerah dari sebelum dia tertidur dengan memikirkan kejadian kemarin siang. Ada sebuah penyesalan mengingat kembali kejadian itu. Ketika dirinya berada di sebuah ruang diskusi yang pengap, karena dipenuhi asap rokok. Ada suara-suara yang terdengar dari beberapa mulut, sementara sisanya hanya diam berpura-pura mengerti. Pokoknya, semua berbicara tentang perbaikan kehidupan dengan mengutarakan analisis yang berasal dari berbagai teori. Dia telah jenuh dengan semua.
Dahulu, dia paling keras berbicara seperti mereka. Dia pun berpikir hal yang sama dengan mereka. Namun, satu buah pandangan dari seseorang yang dikatakan banyak orang sebagai “pemikir” telah mengubahnya. Dia tak lagi tertarik dengan diskusi tersebut, bahkan cenderung ingin menjauhinya. Tapi jabatan yang telah diembannya membuatnya sulit untuk menjauh. Dia adalah seorang yang patuh pada ucapannya sendiri. Itu dibuktikannya dari sejak masa kecilnya dahulu. Dalam setiap permainan yang membutuhkan keteguhan hati, dialah yang menjadi pemenang. Dia paham betul bahwa seseorang mesti memegang teguh ucapannya, seperti yang sering diutarakan oleh ibunya.
Satu orang saja yang telah mengubahnya. Berasal dari negeri utara sana. Banyak buku-buku yang telah dibacanya, tapi tak pernah hingga seperti ini, hingga mengubah pandangan hidupnya yang dulu begitu vokal dalam berbicara soal kebenaran. Darinya, dia belajar memahami bahwa tidak ada yang pernah benar dalam hidup. Itu menjadi pandangan hidupnya sebelum tertidur lelap kemarin malam.
Tapi mimpinya, menggugah kembali keingintahuannya tentang kebenaran. Samar-samar, dia mendengar perkataan, ada orang yang akan muncul dan membawa kebenaran seperti yang dipertanyakan olehnya belakangan ini. Saat terbangun, pandangannya lebih cerah, tapi otaknya diselimuti oleh mimpi yang baru saja dialaminya. Benarkah ia mesti mempercayai mimpi? Mimpi? Dia hanya percaya pada yang terasa, terlihat, dan terdengar. Semua pikiran tersebut diabaikannya begitu saja. Namun, tetap ada yang berbeda dalam pandangnya sekarang ini. Semuanya berseri-seri, benda hidup dan benda mati.
Kejenuhan kini tak dirasakannya lagi ketika berada di ruang diskusi. Judul yang menarik, yaitu “Orang Pembawa Kebenaran”. Dia akhirnya mengetahui, bahwa semua orang mengalami mimpi yang sama dengannya. Satu orang! Satu kebenaran akan datang! Berbagai elemen saling menanggapi berkaitan dengan hal itu, terutama dari berbagai tokoh agama, paling lantang berbicara bahwa Tuhan-nya telah mengirim seorang utusan dan semua mesti menuruti kehendaknya. Perdebatan tak terelakkan, bahkan perkelahian. Semua ingin berbicara soal kebenarannya masing-masing. Sebagian kecil, yaitu yang menganut sebuah ideologi tertentu jelas berbeda. Mereka mempercayai bahwa tokoh yang dikaguminya akan muncul kembali dengan membeberkan kebenaran yang sebelum mati sempat diusahakan. Berbagai elemen dengan beribu, berjuta, atau bermilyar pengikutnya menanti satu orang yang akan muncul.
Diwartakan, kedatangannya akan disambut oleh gemerlap ratusan bintang yang jatuh di langit malam. Semuanya menanti di luar rumah.

“Sudah tampakkah ratusan bintang yang jatuh itu?”
“Belum.

Bulan dan matahari silih berganti mengisi keindahan langit. Semuanya masih menanti. Barulah seminggu setelah mimpi itu, pada malam hari tepat pukul 00.00 ratusan bintang jatuh bergemerlapan di langit. Harapan baru bagi semua makhluk. Tapi dimanakah orang itu berada sekarang ini? Bagaimanakah wujudnya? Semua paham betul, bumi terlalu luas untuk dikelilingi dan mencari satu orang.
Keingintahuannya tentang kebenaran kembali memuncak. Warta-warta dilihat dan didengarnya dengan sungguh-sungguh. Tapi ratusan tanggapan yang berbeda membuatnya kelimpungan juga. Berbagai elemen telah mengklaim bahwa orang itu telah muncul di tempatnya, dan dalam keadaan yang aman. Wujudnya serupa yang lain, hanya saja ketika muncul orang itu membawa sebuah benda yang dikatakannya bisa membawa kebaikan bagi seluruh makhluk hidup.
Dari ratusan tanggapan, dia akhirnya memilih empat saja. Pemilihan itu didasari dari banyaknya pengikut. Pertama, dari negeri utara sana yang berjenis kelamin pria dengan kulit kemerah-merahan dan hidung mancung. Orang itu membawa sebuah mesin besar yang mengeluarkan kertas berwarna-warni dengan angka-angka yang besar jumlahnya, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Orang itu menamainya Uang. Semua orang bisa menggunakan Uang untuk mengubah kehidupan menuju kebaikan. Akhirnya, tersebarlah Uang di negeri utara sana. Semakin tinggi nominal Uang, maka semakin tinggilah nilainya untuk ditukarkan dengan berbagai barang mentah ataupun jadi. Kedua, dari negeri selatan sana muncul seorang laki-laki juga dengan menggunakan sorban di kepalanya dan pakaian yang menjulur menutupi seluruh tubuhnya. Orang itu membawa benda serupa buku yang berisi tulisan sambung. Tidak ada yang mengerti tulisan itu. Namun, orang itu mengajari siapapun yang ingin mempelajarinya di sebuah gedung megah yang ditandai dengan kubah dan  tanda tambah (plus). Benda itu dinamai Kitab.
Semakin banyak orang yang menggunakan kedua benda tersebut. Sumbernya berasal dari negeri selatan dan utara. Sementara, negeri barat dan timur hanya mengikuti kedua sumber itu saja. Semua orang percaya pada kedua benda yang akan menjadi akhir dari pencarian kebenaran. Tapi kebenaran yang diharapkan, ternyata bukan tunggal, sehingga sering terjadi perselisihan di antara keduanya. Orang-orang yang menggunakan Uang beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal mengisi perut. Uang bisa digunakan untuk ditukar dengan berbagai barang pengisi perut. Sementara, orang-orang yang menggunakan Kitab beranggapan bahwa kehidupan ini hanyalah soal batin, karena hidup ini tidak sementara, semua orang akan mati dan menjalani kehidupan yang sebenarnya. Maka, Kitab yang memperkaya batinlah yang diperlukan untuk bertindak benar selama hidup.
Kehidupan tak pernah berubah. Kemiskinan, perkelahian, bahkan pembunuhan masih sering terjadi. Kedua orang yang membawa kedua benda itu pun telah hilang entah ke mana, sesaat saja mereka mengajari penggunaannya. Banyak orang yang mulai tampil ke muka seraya berucap sebagai ‘utusan’. Tapi, tentunya perpindahan tampuk kepemimpinan, berarti juga perubahan pandangan. Uang dan Kitab yang mestinya digunakan untuk mencipta keadilan, malah digunakan untuk mencipta kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Semua orang berlomba untuk memuaskan nafsunya.
Dia lagi-lagi tak yakin perihal kebenaran. Mestinya kebenaran itu hanyalah tunggal dan membawa keadilan bagi semuanya. Apakah perbedaan dan ketidakadilan itu sendiri memang merupakan takdir hidup? Jika iya, mengapa manusia mesti bersusah-payah untuk mengubahnya? Berbagai ideologi dan agama yang muncul hanyalah kesia-siaan atau pelipur-lara? Jika bukan takdir pun, bagaimanakah yang benar? Dia memikirkan itu sepanjang malam dan mimpi tentang hidup kembali muncul. Kali ini hanyalah dia yang bermimpi, karena dialah yang gelisah dan tidak mempercayai semua.
Di dalam mimpinya seorang berseru singkat,” Cintailah takdir! Cintailah takdir! Cintailah takdir!”